
Sebulan sudah pasca kejadian pembullyan di tempat PKL Anin. Dia memutuskan untuk masuk kembali ke sekolah. Atas usaha Jonathan, Anin mendapat perhatian khusus untuk belajar dari rumah saja. Perkara PKL juga akan diusahakan oleh Guntur selaku wali kelasnya.
Sebagai tanggung jawab seorang wali kelas, Guntur sudah berulang kali mencoba menemui Anin di mansion ayah tirinya namun Anin selalu menolak untuk bertemu. Apalagi kalau bukan karena dia masih belum nyaman bersama dengan orang asing.
"Maaf pak, putri saya belum bisa bertemu dengan orang asing, apalagi seorang pria." Jawab Karina siang itu saat menemui Guntur. Guntur menghela nafas panjang, mau tak mau dia harus kembali dengan kecewa.
Separah itukah traumanya hingga belum bisa bertemu dengan orang asing? Batin Guntur menahan kekecewaan. Padahal sudah dua minggu pasca kejadian, namun tampaknya itu tak cukup untuk membuat Anin segera sembuh.
Guntur datang setelah satu minggu pasca kejadian. Dia tersentak saat melihat siapa gerangan yang membukakan pintu mansion besar itu. Dia mirip Anin tapi bukan Anin, apakah dia ibunya? Batin Guntur melongo melihat wajah wanita berhijab yang tersenyum manis itu.
"Permisi, saya Guntur, wali kelas Anin." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan berkenalan.
Karina menatap Guntur intens, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Guntur memang menghubunginya tadi akan datang ke mansionnya bertemu dengan putrinya. Karina kita Guntur seorang pria paruh baya yang matang, dengan wajah yang mungkin sudah seumuran dirinya.
Namun tak menyangka, Guntur wali kelas putrinya seorang pria muda, yang mungkin usianya lebih tua lima tahun dari putrinya. Apalagi saat melihat penampilan guru itu layaknya idol K-Pop Korea.
"Maaf.." Guntur mencoba memecah keheningan karena ditatap seintens itu oleh seorang wanita cantik yang berhijab, yang terlihat menawan di matanya meski sudah berumur.
"Ah, masuk pak. Maaf... saya gak ngira kalau wali kelas putri saya masih sangat muda." Jawab Karina ceplas-ceplos.
Guntur terdiam, entah kenapa dia merasa tersindir. Memang kalau masih muda tak bisa jadi guru begitu? Batin Guntur mengikuti langkah Karina masuk ke dalam ruang tamu. Karena tadi Karina sudah janjian dengan guru tersebut, Karina pun membukakan pintu sendiri untuk guru itu.
"Sebelumnya maaf pak, tadi saya sudah bicara dengan putri saya. Untuk saat ini dia belum siap bertemu dengan orang asing. Maaf." Ucap Karina menyesal.
"Baiklah bu, saya akan memberikan waktu untuk Anin. Bagaimana pun juga Anin sudah kelas dua belas. Ujian juga semakin dekat setelah PKL. Bagaimana kalau Anin sambil belajar dari rumah saja, agar tidak ketinggalan pelajaran?" Saran Guntur membuat Karina tersenyum simpul.
Entah kenapa dia melihat sedikit perasaan tak biasa dari pemuda di hadapannya ini.
"Itu lebih baik, saya akan membujuk putri saya nanti." Jawab Karina tersenyum manis.
***
Guntur duduk di kursi kerja di kantor sekolah tempat dia mengajar. Berkali-kali dia menghela nafas berat. Entah kenapa perasaannya sedikit gelisah setelah pulang dari mansion anak didiknya. Dia belum melihat lagi setelah membopongnya ke klinik perusahaan itu. Keburu sang papa tiri Anin membawanya pergi. Bahkan dia mendapat bogem mentah dari pria bule itu.
Meski sekarang memarnya sudah sembuh. Entah kenapa hatinya masih gelisah tak karuan. Rasa hati ingin melihat keadaan Anin secara langsung tak membuahkan hasil. Padahal dia sudah berusaha mencari-cari alasan untuk bertemu dengan anak didiknya itu yang sempat membuatnya kacau.
Dia berharap dengan bertemu langsung bisa meredam kegelisahan, namun nyatanya dia menolak bertemu. Bahkan ibunya tadi bilang kalau Anin tak mau menemui siapapun kecuali keluarganya di dalam mansion. Itupun harus selalu didampingi ibunya. Guntur lagi-lagi menghela nafasnya.
__ADS_1
"Maaf pak Guntur .." Sela seorang rekan sesama guru yang berada di ruangan yang sama.
"Iya Bu." Jawab Guntur membuyarkan lamunannya.
"Dipanggil ke ruangan pak kepala sekolah." Ucap guru setengah baya itu.
"Iya Bu, terima kasih." Guntur langsung berdiri sambil membenahi penampilannya.
Dia tak mungkin ke ruang kepala sekolah dengan tampilan yang sedikit berantakan itu meski masih terlihat tampan.
***
"Oh, Pak Guntur..." Sapa kepala sekolah yang sudah ada di luar ruangannya.
"Bapak memanggil saya?" Tanya Guntur menatap kepala sekolah tersenyum senang.
"Masuk saja! Ada yang ingin bertemu denganmu." Jawab kepala sekolah itu.
"Siapa pak?" Tanya Guntur lagi mengernyit penasaran.
"Masuklah cepat! Jangan membuatnya menunggu." Titah kepala sekolah itu mendorong Guntur untuk masuk ke dalam ruangannya yang malah kepala sekolah itu pergi dari situ.
Cklek
Pintu terbuka dan Guntur masuk ke dalam, seorang pria sedang duduk di sofa membelakanginya.
"Selamat siang, saya Guntur. Kata kepala..."
"Duduklah!" Titah pria itu yang langsung memotong ucapan Guntur.
Tanpa banyak bicara lagi, Guntur pun duduk di sofa sebelah pria yang belum dia ketahui siapa itu.
"Tuan... anda..." Belum sempat Guntur mendaratkan pantatnya, dia tersentak seketika langsung berdiri lagi.
"Duduklah!" Titah pria itu sambil menunjuk sofa yang hendak diduduki Guntur itu dengan dagunya.
"Ah, iya .." Guntur terdiam, dia tak tahu kenapa dia dipanggil menghadap padanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf." Ucap Jo, ya. Jo yang ingin bertemu dengan Guntur.
"Ya?" Guntur mendongak menatap pria bule yang seminggu lalu memperkenalkan diri sebagai ayah tiri Anin.
Juga pria yang tiba-tiba memukulnya tanpa tahu kebenarannya.
"Aku salah paham terhadapmu. Aku tak bisa berpikir jernih saat mendengar kabar tentang pembullyan putriku." Ucap Jo lagi menunduk menyesal.
"Itu bukan apa-apa tuan. Saya pun akan melakukan hal yang sama jika saya di posisi anda." Jawab Guntur tersenyum ramah.
"Terima kasih juga sudah menolongnya di saat terdesak saat saya tak bisa melakukannya sendiri." Ucap Jo lagi dengan wajah sendu dan senyum getir.
"Sudah menjadi kewajiban saya menolong orang, apalagi Anin adalah murid di kelas saya. Saya pun akan melakukan hal yang sama jika terjadi pada murid lain." Terang Guntur merendah.
Jo tampak menghela nafas penyesalan. Bukan karena sikap gegabahnya pada Guntur kemarin, tapi juga dirinya tak bisa menolongnya di saat putrinya membutuhkan pertolongan.
"Kalau saja anda tidak ada, mungkin putri saya akan lebih parah." Ucap Jo sendu.
Guntur hanya diam tak merespon menunggu kata-kata yang mungkin akan diucapkan lagi oleh orang yang dianggap penting oleh kepala sekolahnya itu. Yang dia ketahui sebagai donatur tetap di yayasan tersebut.
"Dia pernah mengalami hal buruk dulu, sehingga traumanya terdahulu belum sembuh benar. Bahkan setiap seminggu tiga kali saya harus mengantarnya ke dokternya." Jelas Jo lagi menatap Guntur sendu yang terlihat terkejut mendengar kenyataan itu.
Entah kenapa dadanya sesak tak biasa mendengar gadis pendiam itu pernah mengalami hal yang sama yang membuatnya trauma sampai menjadi gadis ansos dan introvert.
"Anak itu selalu menolak, saya harus sedikit memaksanya agar tetap menemui dokternya demi dapat bermain tanpa rasa cemas dan takut." Jelas Jo lagi. Guntur masih diam terus menyimak.
"Terima kasih sekali lagi. Mungkin putri saya akan izin lebih lama lagi." Ucap Jo menatap Guntur lekat.
"Ah, begitu ya. Saya pun sudah menyarankan putri anda untuk sekolah dari rumah saja, agar tidak ketinggalan pelajaran karena bagaimanapun dia sudah kelas dua belas apalagi sebentar lagi ujian kelulusan." Terang Guntur yang diangguk-angguki Guntur.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak
Beri rate, like dan vote nya
Makasih 🙏
__ADS_1
Maafkan typo