
Indra memarkirkan mobilnya di halaman restoran makanan jepang yang tak jauh dari kantor mereka. Karina sedikit gugup menatap restoran yang terlihat mewah dan mahal itu. Pasalnya dia yang akan mentraktir mereka makan karena janjinya tadi pagi.
Apalagi dirinya harus sedikit berhemat untuk keperluan rumah tangga serta kebutuhan putrinya yang entah akan mendapat jatah bulanan dari suaminya lagi atau tidak. Mengingat hubungan keduanya kini.
Karina pasrah jika suaminya sudah tidak menafkahi lagi mereka. Untuk itulah dirinya harus berjuang keras untuk menghidupi kehidupan mereka dengan sedikit menghemat pengeluarannya.
"Ayo, aku sudah pesan tempat karena disini kadang ramai saat jam makan siang!" ajak Indra turun dari mobil Indra.
"Baik pak."
"Bisakah jangan memanggilku dengan formal seperti itu saat tidak di kantor?" pinta Indra menatap Karina memelas.
"I..itu..."
"Sudahlah, ayo masuk!" potong Indra masuk ke dalam restoran diikuti Karina dengan langkah ragu.
"Selamat datang, pesanan atas nama siapa pak!" sapa seorang pelayan ramah dengan penuh senyuman yang selalu berdiri di depan restoran yang bertugas menunjukkan tempat duduk jika sudah memesan atau yang belum.
"Atas nama Indra." jawab Indra.
"Mari silahkan pak!" jawab pelayan itu ramah sambil mempersilahkan keduanya masuk dengan sopan.
Mereka pun duduk di meja yang ada di dekat jendela pintu masuk restoran itu.
"Tunggu sebentar ya pak!" ucap pelayan tadi dengan senyum ramah tak pernah luntur dari bibirnya. Indra hanya mengangguk.
"Pak..." ucap Karina memecah keheningan.
"Ya?"
"Apa sebaiknya kita tidak makan di tempat lain saja?" tanya Karina ragu merasa tak enak hati.
"Kenapa? Ah, apa karena ini restoran mahal?" Karina tersenyum kecut mendengar tebakan atasannya ini benar.
"Itu bapak tahu... hehehe..." jawab Karina tersenyum tipis.
"Tenang saja, ini saya yang bayar sekalian mau menukar voucher restoran yang saya dapatkan beberapa waktu lalu. Voucher hanya berlaku terhadap tamu yang berpasangan. Jadi mumpung kau akan mengajakku makan siang sekalian saja. Dan lain kali saja traktiranmu." jelas Indra tersenyum sumringah.
Karina menatap sanksi, dia takut jika ada yang memergoki keduanya dan berpikir macam-macam tentang keduanya, bagaimanapun juga mereka sama-sama sudah memiliki pasangan meski Indra sudah dalam proses perceraian tapi dirinya bukan wanita single.
__ADS_1
"Tapi pak, saya takut ada yang melihat kita dan berpikir macam-macam tentang kita." tanya Karina sungkan.
"Kenapa memangnya?"
"Apa maksud bapak kenapa?"
"Silahkan!" kedatangan pelayan mengantarkan makanan pada mereka membuat obrolan keduanya terhenti.
Dan mau tak mau Karina menelan kembali pertanyaannya. Mereka mulai menikmati makan siangnya.
**
Di sisi lain, Jonathan tampak canggung menikmati makan siangnya dengan orang tua Jane. Apalagi Jane terus saja merecoki dirinya dengan banyak bicara dan menawarkan berbagai macam makanan yang disediakan di meja. Jo ingin sekali mengumpat dan meninggalkan privat room di restoran yang sudah dipesan kedua orang tua Jane.
"Makanlah ini sayang, kau harus makan banyak. Kau terlalu bekerja keras saat di kantor bahkan kau lupa untuk makan." ucap Jane saat makan sambil meletakkan beberapa macam masakan pada piring kekasihnya.
Kalau saja Jo tak mengingat bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua sesuai ajaran sang mama, Jo pasti akan pergi meninggalkan privat room itu. Jo mulai jengah karena Jane tak henti-hentinya mengajaknya mengobrol padahal dia ingin makan siang dengan tenang.
"Jane, biarkan Jo makan dulu, kau juga makanlah! Jo bahkan bingung untuk makan karena kau mengajaknya ngobrol terus." tegur mama Jane tersenyum hangat menatap Jo yang terdiam karena mama Jane mengetahui canggungnya dirinya.
"Baiklah." ucap Jane cemberut.
**
Mata Karina memicing saat dari arah ruang privat restoran itu muncul seseorang yang tidak ingin ditemuinya. Karina menutup wajahnya dengan kedua tangannya menghindari pandangannya pria atasannya itu yang mengganggunya tadi.
"Kau kenapa Karin?" tanya Indra yang sudah tiba setelah membayar tagihan.
"Ah, tidak apa-apa." jawab Karina tersenyum datar celingukan melihat pria yang diyakini sebagai atasannya yang terlibat one night stand.
"Kau mencari siapa?" tanya Indra melihat Karina celingukan.
"Ah, bukan siapa-siapa." Karina berdiri dari duduknya.
"Ah, ternyata bukan padaku saja ya, kau men ja*lang?" suara bariton dari arah belakang keduanya membuat Karina tersentak dan menegang.
Karina tampak mengepalkan tangannya menahan amarahnya. Namun saat sadar dirinya berada di tempat umum, Karina berusaha mengendalikan dirinya.
"Loh, Jo?" sapa Indra berbalik menatap ke arah suara yang ternyata mereka saling mengenal.
__ADS_1
"Indra?" tanya Jo keheranan melihat sepupunya bersama dengan wanita one night stand. Jo menatap keduanya bergantian.
"Ah, kami sedang makan siang. Aku menukarkan voucher makanku yang kupunya. Voucher itu hanya bisa dipakai untuk pasangan." jelas Indra membuat Jo memicingkan mata tak suka.
Entah kenapa tangannya terkepal kuat namun di dalam saku celananya. Jo sedikit banyak mendengar tentang rumah tangga Indra yang dalam proses perceraian. Tapi dia tak menyangka Indra akan senekat itu berhubungan dengan wanita lain sebelum ketuk palu.
"Lalu?" Jo menunggu penjelasan lebih lanjut sambil menatap Karina tajam yang masih menundukkan kepalanya merasa tak enak.
"Ah, Karina adalah bawahanku di kantor. Karena pekerjaannya bagus. Sekali-kali aku ingin mentraktirnya sekaligus menukarkan voucherku." jawab Indra beralasan melihat arah pandang Jo menatap Karina penuh intimidasi, mungkin karena kasus mereka kemarin saat Jo sambutan dan Karina datang terlambat.
Dan tadi sepertinya Jo melampiaskan kemarahannya pada Karina saat menyuruhnya masuk ke ruangannya.
"Kami sudah selesai dan akan segera kembali ke kantor." pamit Indra melirik jam tangannya menunjuk jam makan siang hendak berakhir.
"Tentu." jawab Jo dengan tatapan mata masih tajam tertuju pada Karina.
Mereka menuju tempat parkir mobil.
"Pak, saya ke toilet sebentar." pamit Karina yang diangguki Indra.
Karina masuk ke dalam toilet restoran yang terletak di sebelah restoran. Dia masuk ke dalam namun seseorang ikut menerobos masuk ke dalam toilet dan menguncinya. Karina tersentak saat tubuh itu menghimpitnya ke tembok.
"Kau..." ucap Karina tergagap karena wajah mereka sangat dekat.
"Kenapa? Apa kau juga merayu sepupuku?"
"A.. apa maksud anda?" teriak Karina, wajahnya memerah karena amarah.
"Kenapa? Bukankah tujuanmu adalah uang? Sekali ja*lang tetaplah ja*lang." bisik Ji di telinga Karina.
Wajah Karina semakin memerah, tangannya ingin bergerak memukul Jo, namun cengkeraman erat Jo pada kedua tangan Karina yang dicekal di atas kepalanya membuat Karina tak bisa bergerak.
"Breng*sek.." umpat Karina tanpa sadar air matanya mengalir.
Hatinya sakit mendengar kata-kata buruk itu. Apa yang dilakukannya hingga dirinya dianggap serendah itu. Mungkin keadaan rumah tangganya tidak baik. Namun Karina tidak akan serendah itu untuk melakukan perbuatan bejat itu. Dia masih takut dosa. Tapi memang kejadian one night stand yang terjadi diantara mereka adalah ketidaksengajaan karena dirinya saat itu sedang mabuk.
Jo mendadak luluh melihat air mata itu. Bibirnya menempel pada bibir Karina lembut namun Karina yang sudah tidak bisa berontak hanya diam tak menanggapi ciuman itu.
TBC
__ADS_1