
Anin membuka matanya perlahan saat matahari masuk ke dalam jendela kamar apartemen Zian. Dia terlihat malas untuk bangun, menatap sekeliling bukan kamarnya.
"Dia .. berbohong?" Guman Anin berdecak kesal.
Matanya sipit karena sembab dan terlalu banyak menangis semalaman. Melirik ponselnya saat nada pesan masuk. Anin ogah-ogahan meraih ponselnya.
'Morning sayang? Bagaimana kabarmu hari ini?' Isi pesan Guntur masuk ke ponselnya membuat Anin seketika merengut cemberut karena lagaknya seolah tak terjadi apa-apa.
Setiap pagi Guntur selalu mengiriminya pesan setelah sampai di kantor. Biasanya Anin antusias akan membalas pesan itu. Namun hari ini dia malas untuk membalasnya. Masih terlalu sakit hatinya setelah melihat hal itu kemarin.
'Kenapa hanya di read sayang?' Pesan kembali masuk ke dalam ponsel Anin karena tak kunjung mendapat balasan dari pemilik ponsel yang dihubunginya.
Anin mengacuhkannya, hanya menatap ponselnya. Anin memilih berbaring kembali karena memang sedang libur semester dan sekaligus cuti menikah yang hanya tinggal seminggu lagi. Anin menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang entah tidak bisa dijelaskannya.
Cklek
Suara pintu kamar yang terbuka spontan membuat Anin melonjak terbangun langsung terduduk salah tingkah melihat pemilik apartemen pulang.
"Nona sudah bangun?" Tanya Zian sopan seperti biasanya seperti melupakan apa yang terjadi semalam.
"Zian?" Tanya Anin keningnya berkerut. Zian ada di apartemennya, bukannya... Anin spontan menutup mulutnya terkejut.
"Kau... benar-benar datang semalam?" Tanya Anin tak percaya.
Zian menepati janjinya untuk datang saat dia membutuhkannya.
"Saya datang saat nona sudah terlelap." Jelas Zian.
"Maaf." Sesal Anin menunduk menyesal.
"Sudah tugas saya untuk segera datang saat anda membutuhkan saya." Jawab Zian tegas. Anin spontan mendongak.
"Tapi kau kan sedang cuti?" Ucap Anin lemah, merasa bersalah.
"Saya memang berniat kembali hari ini." Bohong Zian demi tidak membuat nonanya merasa bersalah.
"Benarkah?" Tanya Anin spontan mendongak antusias.
"Benar nona."
"Terima kasih Zian." Jawab Anin tersenyum sumringah.
Namun dering ponsel Anin membuyarkan keduanya. Anin hanya melirik kearah ponselnya tanpa berniat mengangkatnya. Zian menatap Anin dan ponselnya bergantian yang terus berdering.
"Saya akan menyiapkan sarapan untuk nona." Pamit Zian sopan.
__ADS_1
"Aku akan membersihkan diri dulu. Eh..." Anin terhenti membuat Zian ikut berhenti dan berbalik kembali.
"Ada apa nona?" Tanya Zian mengernyit penuh tanya.
"A... aku tak bawa baju ganti." Jawab Anin menggaruk hidungnya yang tidak gatal dengan wajah memerah karena malu.
Zian berdehem menetralkan suasana.
"Saya akan minta bi Ani untuk mengantar baju nona..."
"Jangan!" Seru Anin spontan berteriak sambil mengulurkan tangannya spontan.
"Aku tak pamit mommy semalam. Aku bohong pergi menginap ke apartemen Nara." Jawab Anin menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Zian diam salah tingkah. Dia juga tak punya solusi yang terbaik.
"Ehm..." Anin menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Boleh aku pinjam bajumu? A... aku akan memesan ke butik langganan mommy. Aku tak nyaman dengan pakaianku semalaman." Pinta Anin menatap Zian penuh harap.
Zian terdiam tergugu, bukannya dia tak boleh. Tapi pakaiannya pasti tampak sangat kebesaran untuk sang nona yang mungil dan itu akan membuat Zian ... entahlah..
"Pasti akan sangat kebesaran." Jawab Zian menunduk menyesal.
"Kalau begitu aku akan pakai baju ini lagi saja sampai bajuku datang..."
"Akan saya ambilkan kemeja saya. Pakaian saya banyak yang kemeja dan celana bahan. Untuk kaos dan celana pendek, maaf... semalam saya tidak sempat membawa pakaian dari rumah di kampung." Jelas Zian merasa bersalah. Anin terdiam.
Tidak sampai lima menit, Zian menyodorkan kemeja putih yang bersetrika rapi dan wangi khas Zian. Celana yang mungkin muat untuk Anin, mungkin?
Anin segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia kembali teringat tentang panggilan yang diliriknya dari tunangannya Guntur. Dia rindu namun rasa rindunya pupus saat mengingat kejadian kemarin. Dia memang tak meminta penjelasan apapun dari tunangannya untuk menjelaskan apa yang dilihatnya benar atau tidak.
Atau hanya akal-akalan gadis itu demi merusak hubungannya dengan tunangannya apalagi pernikahan mereka tinggal seminggu lagi.
Cklek
"Sarapan sudah siap nona." Tawar Zian saat melihat Anin memunculkan hanya kepalanya saja.
"Zian?" Ucap Anin ragu untuk keluar kamar karena melihat keadaannya lagi.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" Tanya Zian mendekati sang nona yang sepertinya enggan untuk keluar kamar.
"Itu...ehm.. Tak apa-apa." Anin menutup kembali pintu kamar. Memegang dadanya yang berdetak kencang karena gugup.
"Nona, apa terjadi sesuatu?" Tanya Zian cemas sambil mengetuk pintu kamar.
Ucapan tak jadi Anin malah semakin dinilai lain oleh Zian.
__ADS_1
"Tidak. Tak apa Zian." Teriak Anin membuat Zian masih belum lega karena teriakkan Anin.
***
Keduanya sarapan sambil menundukkan kepalanya. Anin tak berani mengangkat kepalanya karena malu. Begitu juga Zian dia tampak salah tingkah karena kecerobohannya tadi.
Flashback on
"Iya sebentar." Seru Zian berlari ke pintu apartemennya saat bel berbunyi.
Cklek
"Paket untuk Anindita..." Pria pengantar paket itu mengernyitkan keningnya heran melihat yang muncul bukan seorang wanita.
"Benar. Kemarikan!" Jawab Zian tak menggubris kernyitan heran pengantar paket itu.
Dan langsung meraihnya paper bag yang dibawa pria asing itu. Pria itu hanya mengangkat kedua bahunya acuh dan meminta tanda tangan sebagai paket telah diterima.
Blam
Zian menutup pintu apartemen dengan kasar dan kesal karena mendapat tatapan heran dari pria asing itu.
Tok tok tok
"Nona, Pakaian anda sudah tiba." Seru Zian setelah mengetuk pintu kamar tamu apartemennya.
"Aku... disini... awas!!" Teriak Anin saat dirinya tersandung karpet di ruang TV dan sontak Zian refleks mendekap tubuh sang nona agar tidak jatuh ke lantai.
Namun naas, tangan Zian tidak pada tempat yang pantas. Entah bagaimana, kedua tangannya tepat meremas kedua dada kembar milik sang nona dan sontak Zian melepaskan tangannya dan...
Bruak....
Anin memejamkan matanya setelah berteriak karena dadanya tanpa sengaja diremas kencang oleh Zian sontak kedua tangannya menutupi dadanya yang memang tak memakai dalaman. Anin tak merasakan sakit di tubuhnya karena jatuh ke lantai. Malam terasa empuk dan saat membuka matanya, wajahnya sangat dekat dengan wajah Zian yang juga sama-sama baru membuka matanya.
Keduanya pun saling menatap intens. Dan lagi-lagi, niat hati tangan Zian berpindah tempat agar tidak kembali tidak sengaja meremas dada Anin kini malah tanpa sengaja dan tanpa sadar meremas bok*ng Anin yang tidak memakai celana karena kemeja Zian sudah menutupi hampir ke lututnya.
Anin memerah karena malu dan merasakan rabaan itu dan sontak membuat Zian merentangkan kedua tangannya ke lantai saja daripada salah sasaran lagi. Anin segera bangun namun sedikit kesulitan dan Zian terpaksa menyentuh Anin lagi membantunya duduk dan berdiri.
"Maaf nona, sungguh saya sangat minta maaf." Sesal Zian menundukkan kepalanya sampai sembilan puluh derajat.
Anin bukannya malu malah merasa lucu melihat Zian sangat merasa bersalah hingga menundukkan kepalanya sampai seperti itu. Namun saat teringat apa yang dilakukan Zian, Anin kembali tersipu malu.
Dan sontak langsung masuk ke dalam kamar sambil membawa paper bag. Wajahnya bagai kepiting rebus, merah sekali.
Flashback off
__ADS_1
TBC