
Alea langsung berdiri melihat Guntur dan Raka muncul di restoran tempat mereka janji untuk bertemu membahas kerja sama mereka. Alea melebarkan senyumnya menyambut keduanya. Dia tampak tersenyum senang melihat Raka menepati janjinya untuk mengajak serta Guntur dalam penandatanganan kerjasama mereka.
"Apa kabar mas?" Tanya Alea tersenyum senang mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan Guntur.
Guntur menatap uluran tangan Alea, tampak tidak senang dengan panggilan yang bersifat informal. Dan Guntur merasa tak nyaman.
"Ah, tuan Guntur?" Alea meralat ucapannya merasa canggung melihat Guntur terdiam bahkan belum menyambut uluran tangannya.
Guntur pun akhirnya menerima uluran tangan itu setelah Alea meralat ucapannya. Raka sendiri terdiam canggung melihat interaksi keduanya.
"Kita mulai saja, silahkan duduk!" Ucap Alea memecah kecanggungan.
Guntur dan Raka pun duduk di kursi yang ada di meja tempat Alea duduk tadi. Ketiganya mulai membicarakan bisnis mereka. Percakapan sering terjadi antara Raka dan Alea. Guntur sendiri hanya menyahuti seperlunya saat dirinya memang diharuskan bicara. Meski Alea terlihat sedikit kecewa namun itu lebih baik dari pada mereka menjadi canggung.
"Permisi, saya ke toilet sebentar!" Pamit Raka berdiri dari kursinya setelah tanda tangan selesai dilakukan.
Guntur tak menjawab, sedang Alea hanya mengangguk mengiyakan.
"Oh ya, selamat atas pernikahannya. Semoga lancar sampai hari H." Ucap Alea tersenyum meski dadanya terasa sesak.
Guntur menatap Alea lekat, namun tak ada raut wajah merasa bersalah karena telah membatalkan hubungan mereka.
"Terima kasih." Jawab Guntur singkat terdengar enggan untuk menjawab.
Alea pun jadi terdiam canggung. Hingga akhirnya dia bicara tentang rencana kerja samanya yang telah direncanakan ke depannya. Hingga akhirnya Guntur bisa berbaur seperti dengan klien seperti biasanya tanpa melihat hubungan mereka di masa lalu. Guntur mulai sedikit bisa menerima keberadaan Alea.
Di kejauhan, blitz kamera terlihat sedang mengambil foto keduanya tanpa diketahui. Tidak hanya sekali atau dua kali. Entah sudah berapa kali. Bibir orang itu tersenyum seringai tampak puas dengan hasil jepretannya.
***
"Maaf mas, lama menunggu?" Ucap Anin begitu melihat Guntur sudah ada di cafe tempat mereka janji ketemu.
"No sayang." Guntur berdiri dari kursinya tersenyum manis sambil menarik kursi untuk Anin sebelahnya.
"Makasih mas." Jawab Anin duduk di kursinya.
"Aku sudah pesankan makanan yang kau inginkan." Ucap Guntur yang kemudian ada pelayan datang mengantarkan makan siang mereka.
Guntur malah sibuk membelai rambut Anin yang kebetulan sedang digerai terlihat habis dikeramas.
"Kau keramas?" Tanya Guntur mengernyit menatap calon istrinya.
Anin terdiam tak menjawab menunggu pelayan meninggalkan meja mereka.
"Mas kok tanya gituan sih? Kan malu dilihat pelayan tadi. Dikiranya kita sedang apaan." Jawab Anin.
Guntur malah mengecupi rambut Anin.
"Wangi." Wajah Anin memerah karena malu.
"Aku tak sabar ingin memakanmu nanti." Bisik Guntur.
"Mas." Jawab Anin semakin memerah, Guntur malah tertawa puas melihat calon istrinya malu-malu.
__ADS_1
"Kenapa gak mau dijemput?" Tanya Guntur mulai melepaskan belaiannya pada rambut Anin dan mulai makan makanan mereka.
Dengan sigap Guntur menyiapkan makanan Anin. Anin hanya tersenyum senang melihat perhatian kecil dari calon suaminya.
"Jauh mas, lagian juga berlawanan arah! Aku gak mau ngrepotin mas." Jawab Anin sambil menyuapkan satu suapan ke mulutnya.
Guntur meraih tisu dan mengusap di sekitar bibir Anin yang belepotan saat baru suapan pertama.
"Kau makan selalu seperti ini." Ucap Guntur disela usapan itu.
"Gak ya?" Elak Anin.
"Tapi aku suka." Bisik Guntur membuat Anin tersenyum salah tingkah.
"Mas." Guntur tertawa tergelak, dia memang suka sekali menggoda Anin.
"Besok aku harus ke luar kota beberapa hari." Ucap Guntur saat makanan mereka masih setengah porsi.
Anin menghentikan gerakannya terdiam.
"Aku ingin mengajakmu seandainya ayah mertua mengizinkan." Desah Guntur diiringi helaan nafas menyesal.
"Mas sudah minta izin Daddy?" Tanya Anin tak percaya.
Guntur mengangguk sambil meneruskan makannya.
"Daddy gak izinin?" Tanya Anin menatap calon suaminya lekat.
"Kok gak bilang aku dulu sih, siapa tahu aku yang bilang diizini Daddy." Jawab Anin meneruskan makannya.
"Dan mas yakin kamu hanya izin pergi dengan Nara tanpa bicara jujur pada mommy dan Daddy mu." Anin tertawa karena tebakan Guntur benar.
"Mas tahu aja ya?" Anin tertawa lagi.
"Mas gak mau kamu bohong tentang kita. Akan lebih baik kita jujur pada mereka. Karena kalau aku kebablasan, kita bisa secepatnya dinikahin, meski sebelum itu dibuat bonyok dulu." Ucap Guntur membuat Anin lagi-lagi kembali tergelak.
"Mas ya."
"Aku pasti akan merindukanmu." Bisik Guntur sambil menyerukkan wajahnya di leher Anin.
"Mas, dilihat orang." Bisik Anin dengan wajahnya kembali memerah malu.
"Aku antar pulang ya?" Tawar Guntur memelas.
"Aku belum mau pulang setelah ini." Jawab Anin membuat Guntur mengernyit menatap Anin.
"Mau mampir kemana?" Tanya Guntur menatap tajam dan dingin.
Anin malah tertawa melihat keposesifan Guntur.
"Aku mau ikut ke kantor mas. Bolehkah?" Ucap Anin membuat senyum Guntur semakin melebar.
"Sungguh?" Anin mengangguk antusias.
__ADS_1
"Ayo!" Guntur langsung menarik pergelangan tangan Anin setelah memberi kode pada pelayan.
***
"Ah, sial." Umpat Guntur kesal saat mereka tiba di ruangan kerja Guntur.
"Kenapa mas?" Tanya Anin mengernyit heran melihat Guntur terlihat mengumpat.
"Aku harus meeting sebentar sayang, kamu gak papa kalau aku tinggal disini sendiri?" Tanya Guntur merasa bersalah.
Seharusnya dia menyelesaikan pekerjaannya di ruangannya hari ini. Dan Raka baru saja menghubunginya untuk meeting karena dia masih dalam perjalanan dari proyek mereka di kota sebelah.
"Aku tunggu di sini aja gak papa kok." Jawab Anin tersenyum.
"Maaf sayang. Kamu gak papa kutinggal sendiri?" Tanya Guntur sekali lagi.
"Aku gak papa mas, sungguh." Jawab Anin meyakinkan Guntur.
"Okay. Kau bisa istirahat di kamar pribadiku. Kalau butuh sesuatu bisa panggil sekretarisku. Makanan dan minuman ada di kulkas dan..."
"Iya...iya mas, sana! Meeting dulu!" Titah Anin mendorong tubuh Guntur keluar ruangan.
"Aku pasti akan merindukanmu." Bisik Guntur mendorong pelan tubuh Anin menempel di pintu ruangannya.
Guntur melu*at bibir Anin yang disambut dengan luma*an pula oleh Anin.
***
Cklek
Suara pintu ruangan Guntur dibuka membuat Anin yang masih belum ke kamar pribadi Guntur menoleh ke arah pintu.
"Ya?" Tanya Anin menatap seorang wanita menyelonong masuk.
"Anin?" Ucap wanita yang mengenali Anin itu. Anin mengernyit melihat wanita yang mengenali dirinya itu.
Dia juga tampak familiar dengan wanita itu.
"Aku Alea." Jawab Alea mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Ah, Anin." Anin membalas uluran tangan itu berjabat tangan.
"Kita baru kali ini ya bertemu secara langsung seperti ini." Ucap Alea membuat Anin waspada.
"Ah, aku kemari untuk mengambil berkas kerja sama kami. Raka yang memintaku untuk datang langsung ke ruangan Guntur." Jelas Alea mendapat tatapan tanda tanya dari Anin.
"Oh, mas Guntur sedang meeting. Mungkin baru lima belas menit, masih lama kalau menunggunya." Jawab Anin tersenyum lembut meski merasakan hal aneh pada dadanya.
"Nanti saja aku kembali. Aku masih ada urusan. Kalau begitu permisi. Oh ya, selamat atas pernikahan kalian, semoga lancar sampai hari H." Ucap Alea yang mendapat tatapan heran dari Anin.
"Terima kasih." Alea tersenyum sambil berbalik menuju pintu dan meninggalkan ruangan Guntur.
TBC
__ADS_1