Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 10


__ADS_3

"Papa." sapa Anin melihat punggung Ken yang sedang berdiri di gazebo samping resort itu. Ken langsung menoleh ke arah suara.


"Anin." sapa balik Ken memeluk tubuh putrinya yang terlihat lebih segar daripada seminggu lalu saat dia video call putrinya itu setelah kejadian buruk kemarin.


Ya, Karina menghubunginya tentang kejadian yang menimpanya pada sang papa dengan mendetail. Lagi-lagi Ken memeluk tubuh putrinya dengan perasaan bersalah. Dia sebagai seorang ayah tak mampu melindungi putri kandungnya sendiri.


Malah Jo suami baru Karina yang hanya ayah tiri Anin menyelamatkan tepat waktu sebelum sempat para pemuda itu berhasil merenggut kehormatan putrinya.


"Maaf... maafkan papa. Papa tak ada bersamamu saat kejadian buruk itu. Maaf." bisik Ken dalam pelukan itu.


Merasa bersalah karena tidak disaat-saat putrinya mengalami hal buruk. Anin membalas pelukan sang papa, menikmati kasih sayang papanya pada dirinya yang telah lama tak dirasakannya. Bahkan sejak kecil Ken terkesan menelantarkan putrinya itu yang akhirnya saat sudah besar terlihat mandiri.


"Sudahlah pa! Anin sekarang baik-baik saja. Daddy Jo menyayangiku seperti pada putrinya sendiri." ucap Anin dalam pelukan sang papa.


"Kau bahagia bersama mereka?" Anin mengangguk mengiyakan pertanyaan sang papa.


Sebagian besar anak pasti akan bahagia jika bersama dengan kedua orang tua kandungnya yang bersatu. Tapi karena kasih sayang Jo yang diberikan pada Anin sejak kecil dulu. Membuat Anin terbiasa dengan kasih sayang Jo yang tulus padanya. Sejak kecil sebelum dia memiliki adik-adiknya, Jo selalu menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri.


Dan saat itu Anin cemas jika suatu saat mamanya melahirkan anak mereka Anin pasti akan tersisihkan bagai orang asing di keluarga itu. Namun yang dicemaskannya tak beralasan karena daddy-nya Jo masih tetap memperlakukannya sama seperti sebelumnya.


Anin sangat bahagia merasakan itu bahkan dia tak kekurangan kasih sayang meski sekarang ada tiga adik-adiknya bahkan akan bertambah satu lagi pun Daddy Jo tetap memperlakukan kami sama rata dan sama seperti yang dulu-dulu dan sekarang juga sama. Anin sungguh bersyukur memiliki orang tua mereka meski hanya ayah sambungnya.


"Ya, papa. Daddy Jo sangat baik pada kami. Beliau tak pernah membeda-bedakan kami sejak dulu." jawab Anin tegas.


Membuat Ken meringis nyeri di dadanya. Seharusnya dia, papa kandungnya yang membuat putrinya bangga memiliki papa sepertinya namun ternyata putrinya justru bangga memiliki ayah tiri yang lebih menyayangi dan memperhatikannya sejak kecil.


"Maafkan papa, sejak kecil menelantarkanmu nak." bisik Ken lirih masih mendekap erat tubuh putrinya itu.


"Anin tetap sayang papa, papa kan papa kandung Anin." ucap Anin setelah melepas dekapan sang papa menatap Ken lekat.

__ADS_1


Ken terharu, Ken merasa bersalah. Mantan istrinya mengajari putri mereka dengan sangat baik. Selalu menunjukkan sisi baiknya pada putrinya tersebut agar tak begitu membenci dirinya. Pria yang gagal menjadi kepala keluarga, suami dan seorang ayah. Ken benar-benar menyesal dengan kejadian masa lalu.


Seandainya... seandainya dia tak menelantarkan anak dan istrinya demi wanita yang dicintainya di mas lalu mungkinkah keluarga kecilnya akan tetap bahagia sampai saat ini? Itulah hal yang selalu direnungkan Ken setiap dia merasa bersalah. Seharusnya dia berusaha lebih keras lagi untuk mencintai istrinya dulu daripada memaksakan diri untuk menepis rasa itu.


Mungkin... mungkin saja mereka akan bersama keluarga kecilnya sekarang. Namun semua hal itu hanyalah tinggal masa lalu, menyesal pun tak ada gunanya. Kini dia pun sudah punya istri yang sedang hamil muda. Dia tak ingin meratapi masa lalu yang sudah berlalu.


Dia akan memperbaiki masa depannya dan mencoba belajar menerima dan mencintai istrinya yang sekarang. Dia tak mau menyesal lagi, hanya karena nafsu semata.


"Kau baik sekali nak." ucap Ken terharu tanpa sadar air matanya menetes di pipi. Anin yang melihat itu langsung mengusapnya.


"Mommy yang mengajarkan pada Anin untuk berdamai dengan masa lalu. Terutama memaafkan papa. Semoga papa segera berubah tidak seperti dulu lagi." ucap Anin menirukan ucapan mommy nya saat itu. Ken membelai rambut putrinya lembut.


"Tutup auratmu nak, turuti kata-kata Daddy Jo dan mommy mu. Selama itu untuk kebaikanmu. Kau lihat mamamu, dia wanita yang mulia."


"Ya papa." Ken kembali mendekap erat tubuh putrinya.


"Anin mau jalan-jalan dengan papa?" ajak Ken setelah keduanya sedikit tenang setelah curhat panjang mereka.


"Dengan mommy juga?" jawab Anin balik bertanya.


Senyum Ken perlahan surut tak berbinar seperti tadi. Anin pun sama, namun Ken langsung menampilkan senyumannya lagi.


"Ini me time kita saja, bagaimana?" ucap Ken lagi. Anin mengangguk.


***


Jo masuk ke dalam kamar hotelnya, saat-saat bad mood seperti ini memang menghubungi istrinya untuk menghilangkan bad mood nya. Namun panggilannya yang berdering ketiga kalinya tak mendapat jawaban dari istrinya. Pikiran Jo semakin cemas, kemana gerangan istrinya? Jo kembali menghubungi, namun tetap tak diangkat.


Jo menghubungi ponsel si kembar juga tak diangkat. Jo menatap layar ponselnya yang berbunyi operator yang menjawabnya. Jo ganti menghubungi Bram sepupunya, mungkin saja dia tahu apa yang terjadi dengan keluarganya.

__ADS_1


Namun lagi-lagi panggilan berdering tapi diangkat. Jo mengusak rambutnya kasar merasa cemas dan panik. Dia berpikir siapa lagi yang harus dihubungi saat keluarganya tak ada yang menjawab panggilannya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu kamar hotel mengurungkan niatnya untuk menghubungi seseorang dengan ponselnya. Jo meletakkan ponselnya di meja rias melangkah ke arah pintu kamar hotelnya.


"Ada apa?" tanya Jo saat melihat sosok Rian muncul di balik pintu.


Bukankah dia menyuruhnya untuk mengantar Annie tadi untuk kunjungan proyek? Namun kalimat itu tidak keluar dari bibir Jo.


"Mr. Alex menunggu anda di tempat istirahat tuan." jawab Rian menunjukkan wajah sarat akan kegelisahan.


"Bukannya dia ada urusan tadi?" tanya Jo lagi mengernyit heran.


"Sepertinya Mr. Alex akan kembali ke Sing*pur*." Jo tersenyum lega.


"Baguslah, aku mengharapkan dia segera kembali." jawab Jo tersenyum senang.


"Tapi tuan..." Rian tak menyelesaikan kalimatnya, kembali menatap Jo yang hendak berbalik masuk entah mengambil apa.


"Apa?" tanya Jo dengan wajah galak tapi itu sudah menjadi hal biasa untuk Rian. Karena dia melayani Jo tidak hanya satu atau dua tahun, tapi hampir lima belas tahun.


"Beliau akan kembali sendiri, sementara sekertarisnya akan tetap tinggal untuk mengawasi proyek. Mungkin seminggu atau... lebih." ucapan terakhir Rian membuat Jo melotot pada Rian.


Rian hanya memutar bola mata jengah. Rian tahu betul tuannya tidak begitu menyukai Annie, sekretaris Mr. Alex juga temannya di kampus dulu. Rian sendiri juga benci melihat Annie yang terlihat murahan.


"Apa maksudmu?" teriak Jo, yang ditanggapi dengan tenang oleh Rian.


TBC

__ADS_1


__ADS_2