Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 13


__ADS_3

Karina langsung meletakkan ponselnya di meja rias kamarnya. Dia beranjak keluar kamar menuju arah suara orang bercakap-cakap.


"Bagaimana mas?" tanya Karina melihat si kembar dan Bram sudah duduk di sofa ruang keluarga. Ketiganya menoleh bersamaan dari arah suara.


"Tak apa, hanya keseleo. Istirahat beberapa hari pasti sembuh. Tulangnya juga tak masalah." jawab Bram menjelaskan apa yang diucapkan dokter di rumah sakit tadi.


Karina pun menghembuskan nafas lega mendengar penjelasan Bram yang menyatakan putranya baik-baik saja. Tak ada yang fatal terjadi pada kakinya.


"Alhamdulillah... makasih mas." ujar Karina duduk di sebelah John putranya yang terluka.


Dengan Bram duduk di sebelah John lainnya dan Josh duduk di depan mereka.


"Tak masalah, mereka juga keponakanku juga." jawab Bram mengusap rambut John gemas.


"Bilang apa John!" titah Karina menatap John, yang ditatap menciut.


"Thanks uncle." jawab John.


"You're welcome boy... okey, aku sebaiknya pulang. Anak istriku pasti menunggu." pamit Bram.


"Makasih mas." jawab Karina tersenyum lembut.


Bram sempat berdesir namun tak disadari Karina karena langsung beralih menatap John. Bram segera menepis perasaannya itu, beristighfar dalam hati. Menyadari apa yang terjadi pada hatinya suatu kesalahan.


Istriku adalah Katrina, dia sedang hamil putramu saat ini Bram. Kau ini apa-apaan, jangan jadi pria brengsek. batin Bram berlalu pergi meninggalkan resort kakak iparnya. Bram tersenyum lucu, mau tak mau harus menyebut Karina kakak ipar.


***

__ADS_1


"Kapan Daddy akan pulang mommy?" tanya si kecil Hana dalam sela-sela makan mereka.


Karina menoleh menatap si kecil Hana yang dengan lancar makan sendiri.


"Makan dulu, jangan bicara saat makan sayang!" tegur Karina ramah, agar anak-anaknya tak begitu takut dan mendengarkan nasihat-nasihatnya.


"Yes, mom." jawab Hana cemberut meneruskan makannya.


Dia sungguh sangat merindukan Daddy nya karena saat berangkat daddy-nya tak pamit padanya. Meski kemarin baru video call dengan sang Daddy.


**


Karina mengantar putranya ke kamarnya dengan dibantu bibi pengasuh putrinya memapahnya. Karina mewajibkan anak-anaknya untuk beristirahat tidur siang sejenak jika tidak ada hal yang penting untuk dilakukan.


Setelah menyelimuti dan mengecup kening masing-masing si kembar, Karina pamit untuk menuju kamarnya sendiri. Dia juga butuh istirahat. Putrinya Hana sudah tidur sejak tadi sebelum dirinya memapah si kembar ke kamar. Anin, masih pergi jalan-jalan dengan papanya yang katanya menikmati me time mereka. Karina tak pernah memaksa atau mengekang putrinya saat bersama papanya.


Meski Anin tak pernah kurang kasih sayang dari sang Daddy Jo nya, tetap saja Anin adalah seorang anak yang memiliki ayah kandung dan dia juga akan merindukan ayah kandungnya itu juga suatu waktu. Jika tak merindukan papanya, Anin tetap akan berkunjung ke rumah sang papa yaitu di rumah kakek neneknya sebagai penghiburan kakek nenek mereka jika mereka merindukan Karina.


Karina semakin dewasa Anin menjadi semakin mirip Karina. Dan hal itu membuat Ken melupakan kesedihannya akan perceraiannya karena menatap Anin sama saja seperti menatap Karina saat muda dulu sebelum berhijab. Dan kerinduan orang tua Ken pada Karina yang sekarang semakin jarang mengunjungi orang tua Ken karena kehamilannya yang sudah keempat kalinya saat menjadi istri Jo, membuat Jo melarang istrinya itu bepergian jauh tanpa dirinya.


Dan Jo selalu sibuk dengan pekerjaannya meski setiap malam berakhir mendekap tubuh istrinya yang sudah terlelap.


Ponsel Karina berdering menunjukkan tanda ada video call yang masuk, yang ternyata langsung memberinya tatapan cemberut marah. Saat ingat akan apa kesalahan Karina pada suaminya membuat Karina langsung berubah pias, merasa bersalah.


"Maaf.." ucap Karina lirih setelah mendapat jawaban salam dari suaminya.


Dan seketika itu pula, wajah suaminya langsung berubah sumringah seperti mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira entah dari mana.

__ADS_1


***


Jo pagi itu sudah rapi, bersiap untuk bertemu dengan sekretaris kliennya Mr. Alex yaitu Annie. Kini dia harus siap menghadapi si ja*lang Annie yang mungkin saja akan melancarkan serangan rayuan padanya untuk merayunya lagi. Rian bilang, wanita itu sudah menunggunya sejak pagi tadi di ruang kerjanya.


Rian juga mengatakan kalau wanita itu tak akan pergi dari ruangan itu meski sampai sore jika Jo menolak untuk bertemu muka dengannya. Memang Jo sudah mewanti-wanti agar tidak bertemu muka langsung dengan wanita itu demi menghindari segala hal yang mungkin terjadi. Wanita itu licik, gesit, dan ada saja akalnya untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


Dan dia selalu mendapatkan apa yang diinginkan bagaimana pun caranya meski harus menghalalkan segala cara. Dan itu tidak mempan padanya. Karena Jo bukanlah pria yang semurahan itu dengan cepat mengatakan iya pada wanita yang dengan secara terang-terangan menginginkan dirinya.


Jo mungkin pria blasteran dari papanya yang keturunan Inggris tapi mamanya yang dari Indonesia selalu mengajarkan adat ketimuran yang menjunjung tinggi harkat, martabat dan derajat manusia. Wanita akan terlihat cantik jika hatinya juga cantik. Wanita akan terlihat buruk jika hatinya buruk.


Itulah salah satu nasihat yang sudah terukir di benak Jo sejak kecil. Hingga sampai dewasa Jo berhasil mempertahankan keperjakaannya di tengah-tengah ramainya pergaulan bebas di kota London tempat kuliahnya dan neneknya tinggal. Annie memang cantik sangat cantik, Jo mengakui hal itu, tapi hatinya busuk hingga wajah cantiknya juga busuk.


Terlihat seperti itu di mata Jo. Hingga bukannya suka Jo malah jijik melihat wajah cantik Annie yang merayunya terlihat seperti seorang ja*lang.


Tapi saat dulu dirinya kehilangan keperjakaannya karena bercinta dengan Karina yang sekarang menjadi istrinya, entah kenapa Jo tak merasa jijik atau kecewa.


Keperjakaannya harus dibalas dengan istri orang. Saat itu Jo benar-benar sangat kecewa dan harga dirinya terdorong jauh ke dalam jurang. Dia kecewa bukan karena keperjakaannya direnggut istri orang, bukan. Dia hanya kecewa tak bisa memperjuangkan cinta pada pandangan pertamanya pada istri orang.


Mamanya juga menasihatinya untuk jangan sampai merebut istri atau wanita yang sudah menjadi milik orang lain apalagi sudah ada anak di antara pasangan itu. Itu akan terlihat kejam untuk anak mereka. Saat itulah Jo memilih untuk mundur memperjuangkan cintanya dan menyerah kalah. Namun entah kenapa hatinya terasa kosong dan berat.


Kalau saja tak ingat nasihat mamanya, Jo pasti sudah nekat merebut cintanya itu dari suaminya.


Ah, aku jadi merindukan istriku lagi. Kapan aku bisa pulang. Aku ingin pulang. Aku merindukan istriku juga anak-anakku. Baby kecilku dalam perut istriku. Aku ingin mengecup perut istriku. Aku... ingin...ingin.. kenapa saat aku merindukan istriku pikiranku selalu saja mes*m. Uh... istriku memang menggairahkan, apalagi saat hamil seperti ini.


Jo menepis segala pikirannya yang berujung kemes*man pada istrinya itu. Dia memang tak bisa lama-lama berjauhan dengan istrinya. Lain kali aku akan mengajaknya, biarpun dalam keadaan hamil. batin Jo.


TBC

__ADS_1


__ADS_2