
Anin menaiki taksi yang kebetulan lewat. Dia langsung masuk tanpa menghiraukan Zian yang memanggil-manggilnya. Anin meminta sopir untuk mempercepat taksi agar tidak tersusul oleh Zian. Dia marah, dia kesal, dia ingin melarikan diri, dia ingin pergi dengan kesendiriannya terlebih dulu.
Hingga setelah lebih dari satu jam berputar-putar membuat sopir itu bertanya kemana tujuannya. Anin menyebutkan sala satu hotel yang bukan milik keluarganya, namun masih milik anak perusahaan keluarganya. Panggilan telepon dari Zian tak dihiraukannya entah sudah ke berapa kalinya dia menghubunginya.
Setelah check in, Anin menuju kamar yang disewanya. Dia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket. Deringan ponsel berulang kali dicoba untuk tak dihiraukannya.
Anin sudah bisa menebaknya kalau itu adalah panggilan telepon dari Zian. Anin lebih memilih untuk menghabiskan waktunya untuk berendam di bathtub kamar mandi di hotel tersebut.
Tak terasa sudah lebih dari setengah jam dirinya berendam. Suara pesan masuk membuat Anin penasaran, apa yang dikirim oleh Zian padanya. Dia sudah menebak kalau pria itu pasti panik dan mencemaskannya. Lima pesan masuk yang mirip hanya dibaca oleh Anin. Anin memakai bath rope kamar mandi hotel dan meletakkan ponselnya di meja nakas.
Anin memilih untuk mengeringkan rambutnya sebentar. Namun lagi-lagi ponselnya berdering tanda pesan masuk. Anin hanya melirik, namun lagi-lagi dia membayangkan kepanikan Zian. Anin pun meraih ponselnya dan membaca pesan terakhir dengan membayangkan wajah memelas Zian.
'Kau tak usah cemas, aku di tempat yang aman! Kau kembalilah!' satu pesan dikirim Anin untuk menenangkan Zian.
Namun bukannya ketenangan yang didapatkan pria itu. Panggilan telepon kembali masuk ke ponsel Anin namun tak diangkatnya hingga sudah beberapa kali.
Pesan pun masuk lagi.
'Nona, kumohon! Dimana anda saat ini?' Isi pesan Zian.
'Kembalilah!' Jawaban pesan singkat Anin membuat Zian putus asa.
Anin menatap ponselnya, setelah menunggu setengah jam lebih tak ada panggilan lagi ataupun pesan lagi.
"Apa dia sudah menyerah?" Guman Anin sambil melirik ponselnya yang tak bergeming.
"Baguslah! Toh aku hanya ingin sendiri." Guman Anin lagi, entah kenapa dia malah merasa kecewa karena tak ada balasan lagi dari pria itu.
Anin memutuskan untuk berbaring karena merasakan tubuhnya lelah, lelah hati dan juga pikirannya.
***
__ADS_1
Zian berlari mencegat taksi untuk kembali ke taman kota mengambil mobil yang ditinggalkannya tadi disana. Dia pun beranjak pulang ke apartemennya.
Diraihnya laptop kerjanya di ruang kerja. Berusaha melacak keberadaan nonanya melalui ponselnya yang aktif. Ya, setelah mendapat kabar untuk kembali dari nonanya, Zian menemukan ide untuk melacak keberadaan nonanya. Sialnya di ponselnya belum terhubung dengan ponsel nonanya. Dia berjanji setelah ini akan menyambungkan ponselnya dengan ponsel nonanya agar mudah mencari keberadaannya.
Dia sendiri tak mengira nonanya akan merajuk seperti ini. Nonanya biasanya terlihat dewasa dan bijak. Tapi hari ini... namun dia tak menyalahkannya, bagaimana pun juga siapa yang tak ingin sendiri jika suasana hatinya sedang buruk. Apalagi tadi dia menangis sampai seperti itu.
"Apa kubiarkan dia sendiri dulu?" Guman Zian menghentikan pelacakannya.
"Tidak. Setidaknya aku harus tahu dimana dia tidur sekarang." Guman Zian lagi melanjutkan pelacakan ponsel nonanya.
"Binggo." Zian sudah menemukan lokasi nonanya setelah setengah jam mengutak-atik laptopnya.
Di hotel AA, milik anak perusahaan tuan besarnya. Zian bergegas menuju lokasi. Setelah menunjukkan identitasnya sebagai orang kepercayaan pimpinan pemilik utama perusahaan, penjaga resepsionis tersebut memanggil manager hotel.
Zian menjelaskan maksud kedatangannya, dia minta izin melihat cctv sebelum menerobos kamar sang tuan putrinya. Manager tersebut mengizinkannya dan menunjukkan letak ruangan cctv. Zian mulai mengutak-atik komputer sebagai pengendali cctv tersebut. Setelah memastikan sang nona benar-benar berada di hotel tersebut.
Zian kembali minta izin untuk minta kunci cadangan kamar sang nona untuk menerobos masuk jika sang nona tak membuka pintu jika dia mengetuknya. Manager itu juga mengizinkannya.
Ting tong ting tong
Zian menekan bel pintu kamar hotel. Masih belum dibuka. Zian mencoba lagi, hingga ketiga kalinya tidak dibuka juga. Bahkan tak ada jawaban dari dalam. Zian menatap kunci cadangan kamar hotel yang diterimanya tadi.
"Maaf nona." Guman Zian membuka pintu kamar dengan kunci cadangan tersebut.
Cklek
Pintu terbuka, Zian masuk ke dalam sambil mulutnya komat-kamit bergumam minta maaf menyebut nama nonanya karena telah lancang masuk ke dalam kamar tanpa permisi. Ini lebih penting daripada terjadi sesuatu yang fatal lagi pada nonanya. Agar tuan besarnya tidak marah lebih besar padanya nanti saat dia melaporkan kegiatan nona sepanjang seminggu kedepan.
Zian bernafas lega saat melihat sang nona tertidur pulas di ranjang kamar hotel. Terlihat lelah dan letih dengan mata sembabnya setelah menangis tadi. Zian menatap sekeliling ruangan tak ada sesuatu yang membuatnya cemas. Namun pandangannya sontak berhenti pada bath rope nonanya yang tersingkap di bagian pahanya, hingga terlihat jelas paha mulus putih bersihnya.
Zian meneguk ludahnya kasar melihat pemandangan yang indah itu. Entah kenapa adik kecilnya menggeliat di bawah sana setelah sekian lama. Zian sontak mendekapnya berusaha untuk menenangkannya. Wajahnya berbalik menatap ke segala arah berharap menghilangkan pikiran kotornya. Namun paha mulus itu terus terbayang di benaknya.
__ADS_1
Hingga suara deringan ponsel pribadinya mengagetkannya. Dan sontak Zian membalikkan tubuhnya membelakangi tubuh sang nona yang masih terbaring pulas.
"Iya ibu." Jawab Zian menerima panggilan telepon yang ternyata dari ibunya di kampung.
"Kau sedang apa nak?" Tanya ibu Zian di seberang telpon.
"Aku sedang bekerja ibu." Jawab Zian mencoba mengendalikan nafsunya.
"Kau belum selesai dari pekerjaanmu ya?" Tanya ibunya terdengar cemas.
"Pekerjaanku memang tidak banyak istirahat ibu. Ibu kan tahu bagaimana menjadi seorang pengawal?" Jawab Zian menenangkan kecemasan ibunya.
"Kau bisa mengajukan cuti?" Tanya ibunya ragu.
"Ada apa Bu? Ibu baik-baik saja kan?" Tanya Zian cemas jika terjadi sesuatu dengan ibunya.
"Ibu tidak apa-apa. Sudah hampir setengah tahun kau tidak pulang. Kau hanya memberikan kabarmu lewat telepon dan video call. Apa kau lupa mengunjungi kami?" Tanya ibu Zian membuat Zian terdiam.
Pekerjaannya memang dituntut untuk jarang beristirahat. Dia bahkan tidak seenaknya mengajukan cuti, jikalau bisa dia harus punya pengganti untuk pekerjaannya.
"Entahlah ibu, aku tidak bisa janji." Jawab Zian penuh penyesalan.
"Istrimu melahirkan nak, kau tak mau mengunjungi anak dan istrimu?" Ucapan ibunya membuat Zian tersadar siapa dirinya, adik kecilnya kembali lemas saat ingat siapa dirinya.
Dia adalah seorang suami yang harus bertanggung jawab. Meski bukan dia yang seharusnya bertanggung jawab. Zian mendesah pelan.
"Aku akan usahakan cuti secepatnya Bu." Jawab Zian akhirnya.
"Terima kasih nak." Zian menatap ponselnya yang sudah ditutup panggilannya.
Dia menerawang jauh ke belakang. Dia terpaksa menikahi wanita pilihan ayahnya sebelum beliau meninggal.
__ADS_1
TBC