
Guntur Wicaksana, seorang guru sekolah menengah atas dengan reputasi keluarga pebisnis yang tidak membuatnya tergoda. Dia lebih memilih mengabdikan dirinya menjadi seorang guru karena mirisnya melihat masa depan anak-anak jaman sekarang.
Meski keluarganya menyayangkan kariernya yang memilih menjadi guru. Kedua orang tuanya terpaksa menyetujuinya.
Guntur adalah guru yang menjadi idola siswa-siswinya di sekolah tempatnya mengajar. Membuat setiap hari dikerubungi para siswi yang entah dengan alasan apa mereka pasti berusaha untuk dekat dengan guru tampan itu. Setiap hari ada saja surat cinta, hadiah, makanan kecil di lokernya saat dirinya tiba di sekolah.
Wajah tampan nan rupawan dengan kulit kuning langsat. Dengan tinggi badan mencapai hampir seratus delapan puluh itu membuatnya semakin digandrungi para siswinya dan tak ketinggalan guru-guru jomblo ikut antri untuk menarik perhatiannya.
Dan itu semua membuat Guntur merasa sudah terbiasa dengan tatapan memuja para gadis yang memujanya. Mata sipit keturunan ti*onghoa dari ibunya membuatnya semakin tampan saja bak idola KPop ko*rea.
Namun bukan berarti Guntur sombong dengan penampilan paripurnanya. Dia tetap ramah pada siapapun yang menyapanya bahkan pada gadis yang terlihat mencari perhatiannya.
Namun belum satu pun gadis ataupun wanita yang mampu memikat hatinya terdalamnya. Guntur memiliki impian menikah dengan wanita yang dicintainya, satu-satunya seumur hidupnya.
Dan kini dia sedang mengajar di sekolah menengah atas swasta milik yayasan yang mendapat donatur langsung dari para pengusaha elite di negara ini. Sekolah yang terkenal dengan sekolah elite itu banyak para siswa dan siswinya berasal dari keluarga kaya dan pintar.
Guntur mendapat tugas sebagai guru wali kelas dua belas D. Sudah mulai senin kemarin dia mengunjungi semua instansi tempat dimana para siswanya sedang melaksanakan PKL. Dan hari ini dia berkesempatan berkunjung di perusahaan tempat siswa berprestasinya berada. Ya, Teddy adalah siswa kelas dua belas D yang menjadi juara satu sekolah berturut-turut mulai kelas sepuluh. Dan urutan kedua selalu ditempati oleh Anindita.
Dia siswa terbaiknya PKL di tempat yang sama.
Guntur pagi itu sudah bersiap untuk berangkat menuju perusahaan yang dimaksud. Dia langsung menuju perusahaan tanpa mampir ke sekolah. Selain sudah mendapat izin dari kepala sekolah, apartemennya pun lebih dekat jika langsung ke tempat tujuannya.
"Permisi pak." Sapa Guntur saat memasuki gedung pagi itu. Bertanya pada bagian informasi yang berjaga.
"Ya, tuan." Sapa balik petugas informasi itu ramah.
"Tempat biasa anak-anak sekolah PKL dimana ya ruangannya?" Tanya Guntur ramah.
Perempuan petugas informasi itu bukannya langsung menjawab pertanyaan Guntur tapi dia malah terpesona dengan penampilan elegan Guntur yang hari itu mengenakan jas resmi seperti pekerja kantoran.
"Nona... hei..." Guntur menjentikkan jarinya di depan wanita petugas informasi tersebut dan diapun langsung tersentak dan tersenyum malu-malu.
"Ah, maaf tuan. Silahkan anda naik lantai lima, belok ke kanan. Ada di pintu tertulis ruang PKL." Jelas wanita itu dengan wajah merona merah.
"Terima kasih." Guntur mengangguk sambil tersenyum ramah.
Guntur melirik jam tangannya masih menunjukkan pukul tujuh pagi lebih dua puluh menit. Dia ingin menemui para siswanya dulu sebelum bertemu penanggung jawabnya. Ada seseorang yang menarik perhatiannya. Hingga dia ingin hanya sekedar melihat wajahnya saja.
Dia ingin memastikan sekali lagi hatinya itu hanya karena kasihan atau karena memang dirinya sudah jatuh cinta dan terpesona oleh sosok tersebut. Entah kenapa saat memikirkan hal itu dadanya berdebar kencang.
"Hei, diamlah hati. Jangan seperti remaja yang baru kasmaran saja!" Guman Guntur saat di dalam lift masih sangat sepi.
Tentu saja karena pekerjaan dimulai pukul delapan pagi. Masih sedikit karyawan yang datang.
Ting
Lift terbuka, Guntur pun berjalan ke arah sesuai yang ditunjukkan oleh wanita petugas informasi tadi. Namun belum sampai di tempat yang dicarinya, terdengar ribut-ribut suara di depan sebuah pintu yang tak jauh dari lift. Entah kenapa Guntur merasa cemas dengan keributan yang terjadi pagi itu. Guntur berjalan perlahan mendekati pintu yang sedang ramai dikerubungi itu.
Dia menatap pintu itu adalah pintu ruang PKL yang dicarinya. Apakah terjadi sesuatu dengan para siswanya? Batin Guntur mendadak cemas. Dia menghela nafas sebentar, mengendalikan perasaannya untuk tidak terbawa emosi.
Bagaimana pun juga perusahaan ini adalah perusahaan yang memberi donatur juga di yayasan milik sekolah tempatnya bekerja. Dia tak mau emosi sesaat karena menyangkut para siswanya. Selain itu dia juga tak bisa pamor baiknya hilang karena emosi sesaat.
Guntur menyibak kerubungan orang-orang disitu. Terdengar suara tangisan juga isakan seorang gadis. Dia hapal suara itu. Juga mendengar suara hinaan dan cacian juga bantahan dari gadis yang menangis tersebut.
__ADS_1
Entah kenapa hatinya terenyuh melihat buliying masih terjadi di kalangan anak sekolah terutama sekolah menengah atas. Badan tinggi Guntur dengan mudahnya melihat siapa gadis yang mendapat bulyan tersebut.
"Anin..." Bisiknya terkejut.
"Ada apa ini?" Suara bariton Guntur menggelegar dalam ruang kecil itu. Semua orang menatap Guntur.
Guntur segera mendekati Anin yang penampilannya sudah sangat hancur dan berantakan. Entah kenapa dadanya terasa sesak, hatinya sakit. Melihat salah seorang siswinya diperlakukan sangat buruk. Dan mirisnya lagi pelakunya juga siswi-siswi dari sekolah yang sama meski bukan satu kelas.
"Apa yang terjadi?" Pertanyaan yang mirip bentakan itu membuat semua orang terdiam.
Guntur yang melepas jasnya dan membungkus punggung kecil Anin dengan jas itu.
"Kenapa bapak melindungi ja*lang itu?" Seru Ana yang berani membantahnya.
"Jaga ucapanmu Ana!" Ana terkejut karena guru baru itu mengenalnya.
"Ta... tapi pak... itu..kan.."
"Kau punya bukti mengatakan hal buruk itu?" Seru Guntur tak bisa lagi mengendalikan emosinya.
"Lihat ini pak!" Salah seorang siswa menyodorkan foto-foto yang sama tadi ke arah Guntur.
Pengawas dari pihak perusahaan hanya terdiam. Guntur menatap satu persatu foto itu, Anin masih saja terisak menuduk tak berani mengangkat kepalanya. Foto itu memang nyata, terlihat nyata. Bukan editan.l, tapi Guntur tak bisa begitu saja percaya. Dia akan menanyakan hal itu langsung pada Anin.
Namun untuk sekarang sepertinya itu tidak mungkin melihat tubuh gemetar Anin yang terlihat ketakutan.
"Bapak akan urus kebenaran dari foto ini, kalau sampai hal ini hanya fitnah. Kalian tunggu hukuman kalian semua!" Ancam Guntur dan membopong tubuh Anin yang sudah lemah itu.
Anin sontak melingkarkan lengannya ke leher Guntur tanpa ragu karena dia butuh kenyamanan. Kepalanya dicerukkan ke dalam leher Guntur.
Semua orang bubar melanjutkan pekerjaan yang tertunda.
Teddy hanya bisa mengepalkan tangannya, merasa bersalah tak mampu membantu gadis yang disukainya.
***
"Tuan, sudah waktunya jadwal anda untuk bertemu dengan klien!" Ucap Rian mengingatkan karena tuannya terlihat ogah-ogahan berdiri dari tempat duduknya.
Sekarang sudah menunjukkan pukul delapan pagi, perjalanan sampai ke tempat meeting setengah jam kurang lebih.
"Iya.. iya..." Seru Jo kesal. Dia meletakkan berkasnya. Sudah lebih dari lima kali Rian memburunya untuk segera.
"Ayo!" Ajak Jo meninggalkan ruangannya.
***
Tak sampai setengah jam, mobil Jo sampai di gedung tempat meeting berlangsung. Jo keluar setelah pintu dibukakan oleh penjaga gedung yang memang bertugas untuk menyambut tamu.
Jo keluar dan masuk ke dalam gedung kantor diikuti Rian dari belakang.
"Apa aku bisa bertemu Anin nanti?" Guman Jo membuat Rian mengernyit.
"Tuan bisa langsung menemuinya." Jawab Rian yang ternyata mendengar gumaman tuannya.
__ADS_1
"Tentu saja!" Jawab Jo yakin.
Keduanya pun masuk ke dalam lift dan menuju lantai lima tempat ruang meeting.
Tring...
Suara dering ponsel Rian membuat Rian berhenti sejenak untuk mengangkatnya setelah keluar dari dalam lift.
"Ya?" Tanya Rian
"Tuan, ada masalah." Jawab yang di seberang gugup dan gelagapan.
"Ada apa? Katakan!" Seru Rian membuat Jo ikut berhenti dan berbalik menatap ke belakang.
Namun suara orang ribut-ribut di depan Jo mengalihkan kembali pandangannya dari Rian yang terlihat serius dengan ponselnya.
"Kasihan gadis itu."
"Iya, masih kecil jual diri."
"Pantas saja pakaiannya dan tasnya branded."
"Masih SMA sudah berani jadi sugar baby."
"Orang tuanya tahu gak ya?"
"Kasihan sekali orang tuanya kalau dengar."
"Iya."
"Gadisnya yang mana sih?"
"Itu si pendiam bagian keuangan."
"Oh yang selalu diam dan makan siang sendiri itu ya?"
Suara kasak-kusuk para karyawan yang terlihat baru buyar dari sebuah pertunjukan membuat Jo merasakan firasat buruk.
Jo mendekati salah seorang karyawan.
"Ada kejadian apa?" Tanya Jo membuat seorang karyawan pria yang menjadi salah tingkah karena seperti kepergok melakukan kesalahan.
Karena dia sejak tadi ikut bergumam-guman tak jelas dengan rekan kerja yang lain.
"Ah, ada anak PKL yang bikin ulah." Jawab karyawan itu ramah dengan penuh hormat karena tampilan Jo yang tidak mirip karyawan, lebih mirip seorang pengusaha bisnis.
"Anak PKL? Bagaimana kejadiannya? Dimana dia sekarang? Anak PKL itu." Tanya Jo memberondongi banyak pertanyaan.
"Dia dibawa ke klinik perusahaan dengan guru wali kelasnya dan beberapa anak dan pengawas perusahaan." Jelas karyawan itu lagi.
"Tuan." Rian menyela pembicaraan keduanya karena kabar yang didapatnya sangat penting dan darurat. Jo langsung menoleh menatap Rian, sedang karyawan tadi menunduk dan pergi meninggalkan Jo dan kembali ke ruang kerjanya.
"Ada apa Rian?" Tanya Jo cemas. Tatapan mata Rian juga panik.
__ADS_1
"Nona Anin..."
TBC