
Karina melangkah lunglai saat perjalanan pulang ke rumah. Karena jarak rumahnya dekat dengan cafe tempat pertemuan dengan suaminya, dia memutuskan untuk pulang berjalan kaki, mungkin sekitar lima belas menit jika dia pulang.
Ajakan Keanu untuk mengantarkannya pulang yang belum sempat dijawabnya harus batal, karena istri kedua suaminya sudah menginstruksikan untuk pulang karena sudah menunggunya di rumah sendirian. Keanu memang pamit pada istri keduanya untuk menemui istri pertamanya.
Flashback on
"Kau mau pesan sesuatu?" tanya Keanu saat mereka sudah sampai di salah satu cafe yang dekat dengan rumah Karina dan tepatnya rumah keduanya.
Keanu sengaja memesan ruang privat di salah satu cafe tersebut karena yang mau disampaikannya agak sedikit privasi dan dia tak mau ada yang mendengarnya membicarakan hal pribadi tersebut. Dia akui dia memang salah, telah menikah lagi tanpa berusaha untuk menceraikan istri pertamanya tersebut dengan dalih karena masih memegang amanah dari orang tua Karina untuk selalu menjaganya tetap di sisinya dan membahagiakannya.
Namun karena desakan sang istri kedua yang sedang hamil anak mereka, Keanu mau tak mau menuruti keinginan istri keduanya untuk melepaskan istri pertamanya toh dia tak mencintainya, dia hanya menyayangi sebagai seorang kakak pada adiknya.
"Samakan dengan pesanan mas saja." jawab Karina tersenyum manis.
Dia hanya bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh suaminya ini. Bahkan pikiran buruk sudah terlintas di benaknya. Dan dia merasakan kegelisahan dan kegugupan meski masih bisa ditutupi dengan senyum manisnya. Dia hanya berharap suaminya ini tidak menelantarkan putri mereka hanya karena pernikahan keduanya.
Pelayan datang mengantar pesanan mereka setelah keduanya menunggu kurang lebih sepuluh menit dalam keheningan karena Keanu tampak sibuk dengan tabletnya yang diperhatikan Karina sedang menyelesaikan pekerjaannya karena kabar yang didengar Karina suaminya itu kini sudah naik jabatan menjadi direktur keuangan yang dipercaya atasannya langsung.
"Silahkan!" ucap pelayan itu setelah selesai menata pesanan mereka dan meninggalkan ruangan privat cafe.
"Bagaimana kabar Anin? Aku dengar dia baru selesai ujian kenaikan kelas?" tanya Keanu basa-basi sambil makan pesanannya setelah meletakkan tabletnya.
"Baik. Kabarnya sangat baik. Cukup memuaskan nilainya." jawab Karina gugup sambil makan pula.
"Maaf, aku belum bisa mengunjungi kalian, karena istriku sedang hamil, dia membutuhkan lebih banyak perhatian dariku." ucap Keanu mampu membuat selera makan Karina langsung hilang namun dia memaksakan untuk melanjutkan makan. Meski hatinya mencelos sakit.
"Iya, aku mengerti mas." jawab Karina tersenyum getir hanya sesaat membalas tatapan mata suaminya dan langsung kembali beralih pada makanannya.
__ADS_1
"Terima kasih." jawab Keanu. Semakin sakit saja dada Karina bukannya senang dengan ungkapan itu.
Karina lebih memilih meneruskan makannya daripada basa-basi yang mungkin saja akan lebih menyakiti hatinya meski makanan itu tidak dapat dikunyah dengan benar karena makanan enak itu menjadi hambar saat masuk ke mulutnya karena merasakan dadanya yang berdenyut nyeri.
"Apa... yang mas mau bicarakan?" tanya Karina saat keduanya sudah mengakhiri makannya masing-masing.
Karina sudah tak betah lama-lama berduaan karena air matanya sudah mulai menggenang di ujung matanya yang mungkin saja sebentar lagi akan jatuh. Karina tak mau terlihat lemah di hadapan pria yang dicintainya ini. Dia harus kuat, dia harus tegar demi dirinya dan putrinya.
Dia tak mau menggantungkan hidupnya lagi pada pria di hadapannya ini. Toh dia sudah melupakan mereka untuk istrinya yang lain. Dan perihal suami kedua Karina, dia sedang tak ingin memikirkannya, sejak awal dia tak menginginkan pernikahan keduanya itu akan baik-baik saja. Dia hanyalah pemuas nafsu untuk suami keduanya itu.
Dan entah kenapa Karina suka dan tak keberatan dengan hal itu. Mungkin karena uang yang diberikan Jonathan lebih dari cukup untuk kebutuhannya dan putrinya bahkan melebihi cukup. Sungguh Jonathan berbeda dengan Keanu suaminya ini dalam hal materi, Jonathan sangat royal, bahkan sebelum Karina mengungkapkan keinginannya, pria itu selalu tahu apa yang diinginkannya.
Ah, kenapa aku memikirkan pria itu saat aku tengah bersama dengan pria yang dicintainya ini. Aku seperti seorang ja*lang saja jika dengan Jonathan, setiap saat setiap waktu tiada henti tanpa se*ks. Dan aku menyukai itu. Sudut bibir Karina tampak tersenyum memikirkan pria itu. Dan Keanu sedikit terheran dengan senyuman Karina. Namun dia tak menggubris hal itu.
"Aku mau mengajukan gugatan cerai padamu." cangkir teh yang dipegang Karina tampak bergetar namun secepat mungkin dia menyeruput teh itu dan meletakkannya di tempat semula.
Dadanya yang sejak tadi sudah sakit dan berdenyut nyeri mulai pulih kembali lagi nyeri, bahkan lebih sakit dari tadi. Namun Karina mampu mengendalikan wajahnya yang pucat kembali seperti sedia kala. Agar Keanu tahu bahwa dirinya selama ini baik-baik saja tanpanya.
Keanu merasa tak suka melihat reaksi Karina yang biasa saja. Padahal dulu dirinya akan sangat memohon padanya untuk tidak bercerai meski saat emosi Karina sempat berteriak untuk bercerai namun langsung memohon lagi untuk tidak menceraikannya demi putri mereka yang masih membutuhkan kasih sayang ayahnya.
Namun sekarang Karina malah mengiyakan ajakan bercerai darinya dengan tenang seolah sudah siap dengan perceraian itu. Padahal Keanu berharap Karina memohon padanya untuk tak menceraikannya demi putri mereka.
"Setelah perceraian ini, mungkin aku tak akan pernah pulang ke rumah karena aku ingin menjaga perasaan istriku sekarang." ucap Keanu mencoba mematahkan jawaban Karina.
"Ya, aku mengerti mas." jawab Karina cepat. Dia ingin segera mengakhiri pertemuan mereka yang akan semakin menyakitkan untuknya. Air matanya akan semakin sulit ditahan jika terlalu lama berhadapan dengan Keanu.
"Aku akan segera mengurusnya."
__ADS_1
"Aku akan menunggu di rumah mas."
"Aku akan minta pengacaraku untuk mengurusnya. Mungkin kita hanya akan bertemu di sidang terakhir karena pekerjaanku. Karena beberapa bulan kedepan aku akan dinas keluar kota, mungkin selama setengah tahun untuk pelatihan menjadi direktur utama." jelas Keanu membuat Karina mengangguk-angguk paham.
"Untuk Anin..."
"Kau tak perlu cemas. Anin akan tetap bersamamu. Aku akan memberikan hak asuh penuh padamu. Dan mungkin akan sedikit berkurang jatah bulanannya karena aku sedang mempersiapkan kelahiran bayi kami." jelas Keanu lagi membuat Karina yang sesaat terbang tinggi karena hak asuh putrinya, kini menjatuhkannya ke dasar jurang karena perhatiannya lebih pada bayi mereka ketimbang putrinya.
Bukan jatah bulanan yang Karina keluhkan. Toh uangnya dari suami keduanya cukup menghidupi mereka sampai Anin kuliah. Karina tak mencemaskan hal itu. Dia hanya mencemaskan putrinya jika suatu saat dia bertanya tentang ayah kandungnya.
Ah, bukannya suaminya ini sudah naik jabatan, dan tentunya gajinya juga naik berkali lipat kan? Bahkan dia rela memotong jatah bulanan putrinya yang lain untuk bayinya yang masih dalam kandungan. batin Karina lagi-lagi sesak dan sakit, dia kembali menyeruput tehnya untuk meredakannya.
"Mas, tak mengunjunginya untuk terakhir kalinya sebelum pergi dinas?" tanya Karina berharap meski siap ditolak.
"Sebelum berangkat aku akan menjenguknya." jawab Keanu sedikit melegakan hati Karina meski hanya sebentar.
Ponsel Keanu yang diletakkan di atas meja berdering nyaring. Karina sempat melirik nama yang tertera sambil meletakkan cangkirnya kembali ke tempatnya. Tertera nama my love pada layar ponsel itu. Yang artinya mungkin nama istri keduanya.
Lagi-lagi sakit di dada Karina kembali nyeri. Selama pernikahannya suaminya tak pernah memberi nama yang khusus pada nomor ponselnya. Setahu Karina hanya nama adik yang tersimpan di ponsel Keanu tentang namanya.
"Maaf, aku tak bisa mengantarmu pulang. Istriku membutuhkanku sekarang. Atau kuantar sekarang saja." ucap Keanu setelah sedikit menjauh menerima panggilan telpon itu.
"Aku akan pulang sendiri. Lagipula tidak jauh. Aku masih mau mampir sebentar ke supermarket terdekat." Karina menampakkan senyum termanisnya agar tidak membuat suami yang sebentar lagi akan menjadi mantan merasa bersalah.
"Maaf, aku harus pergi sekarang." Keanu segera meninggalkan cafe itu setelah membayar tagihan mereka.
Isakan tangis pun terdengar di ruangan privat itu. Air mata yang sejak tadi menggenang di ujung matanya tak mampu lagi dibendung Karina. Dan tumpahlah sekarang hingga membuat sesak dada Karina hingga dia memukul-mukulnya berharap tak sesak lagi.
__ADS_1
Flashback off
TBC