Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 76


__ADS_3

'Sedang apa?' Isi pesan masuk di ponsel Anin.


Anin yang sedang serius mendengarkan penjelasan dosennya melirik ponselnya yang menunjukkan notifikasi.


'Sedang kelas.' Jawab Anin singkat langsung menatap dosennya lagi.


'Hubungi aku jika sudah selesai!' Titah Guntur pada pesannya. Namun tak segera dijawab oleh Anin.


"Tuan .. tuan Guntur!" Panggil Raka berbisik karena Guntur tak mendengarkan apa yang dijelaskan dalam meeting mereka pagi menjelang siang itu.


"Ya?" Tanya Guntur menatap Raka tajam karena mengganggu kesenangannya.


Namun Raka tak merasa bersalah, dia malah menatap semua orang yang ada di ruang meeting itu. Seketika Guntur sadar kalau saat ini dia sedang ada di ruang meeting dengan para bawahannya.


"Ehm... kita akhiri meeting hari ini." Raka melongo mendengar tuannya langsung berdiri meninggalkan ruangan itu tanpa rasa bersalah.


Raka pun membereskan barang-barangnya dan mengikuti langkah tuannya. Semua orang saling menatap penasaran ada apa dengan tuannya.


***


"Tuan, bukannya meeting tadi..."


"Aku lelah Raka. Bisakah aku istirahat?" Pinta Guntur menatap Raka penuh permohonan. Raka hanya berdehem.


"Sebentar lagi waktu makan siang tuan." Jelas Raka.


"Bisa aku istirahat lebih awal?"


"Tuan... bukannya..."


"Pokoknya aku pergi sekarang, aku ada perlu." Guntur langsung pergi meninggalkan ruangannya tak peduli rengekan Raka karena jadwalnya hari ini sangat padat.


Guntur merindukan kekasih hatinya, dia akan mengajaknya makan siang bersama.


***


"Dimana dia?" Tanya Wicaksana siang itu yang datang bersama Alea, dia berencana akan pergi makan siang dengan pasangan tunangan itu untuk membahas lebih lanjut rencana pernikahan.


Raka terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa.


"Apa dia tak ada?" Tebak Wicaksana membuat Raka semakin menunduk tak berani menjawab apapun.


"Kemana dia?" Tanya Wicaksana menatap Raka tajam.


"Tuan muda pergi ke kampus nona." Jawab Raka akhirnya.


"Ke kampus Lara? Untuk menemui siapa?" Raka kembali terdiam.


Oh, Tuhan, jangan tanya padaku, inisiatiflah sendiri untuk menghubungi salah satunya. Batin Raka menjerit.


"Om, mungkin dia sedang ada perlu. Aku akan kesana!" Tawar Alea, Wicaksana langsung mengangguk antusias tersenyum ramah pada calon menantunya.


***


Guntur memarkir mobilnya tak jauh dari gerbang kampus, dia menatap ke arah kelas yang diduganya Anin akan keluar kelas. Matanya memicing saat melihat Anin keluar dengan yang dikenalnya sebagai sahabat Anin.


Namun Guntur lagi-lagi mengernyit tak suka saat ada seorang pria yang mengikuti keduanya dari belakang. Apalagi pria itu menatap Anin dari belakang dengan intens.


"Kakak.." Sapa Lara tiba-tiba muncul di hadapan Guntur.


Guntur yang sedang fokus menatap Anin di kejauhan terkejut sontak melotot pada orang yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Guntur dingin, tatapan matanya masih menatap ke arah Anin.


"Kakak menjemputku?" Tanya Lara tersenyum senang, merasa bahagia karena kakaknya menjemputnya.


"Maaf." Guntur menggeser bahu Lara dan berjalan menuju arah Anin yang masih belum menyadari kedatangan Guntur.


"Sayang..." Panggil Guntur membuat keduanya berhenti menatap kedatangan Guntur.


"Mas Guntur?" Bisik Anin menatap Guntur yang menatapnya tajam dan sesekali melirik Zian yang ada di belakang Anin dengan tatapan tak suka.


"Ayo!" Guntur sontak menarik pergelangan tangan Anin yang langsung ditolak Zian hingga perkelahian tak terhindarkan.


Zian yang tidak mengetahui hubungannya keduanya langsung pasang badan berdiri di depan Anin.


"Sayang, apa-apaan ini?" Guntur melirik Anin yang hanya sebahunya di belakang Zian.


"Aku mengenalnya Zian." Ucap Zian menyingkirkan bahu Zian yang langsung membuat Zian menatap Anin lekat.


"Benar... sungguh aku tak apa." Ucap Anin menenangkan Zian.


Zian terpaksa minggir untuk memberi jalan pada Anin.


"Ikut aku!" Guntur menarik pergelangan tangan Anin yang hendak ditepis Zian namun Anin mencegahnya.


Guntur membuka pintu mobil depan sebelah kemudi. Dan Anin pun masuk.


"Ra, maaf ya kita gak jadi makan siang bareng." Ucap Anin menyesal menatap Nara.


"Okay." Jawab Nara berdiri tak jauh dari mobil diparkir.


Para mahasiswa di kampus yang masih ada di kampus memperhatikan interaksi mereka segera buyar begitu mobil Guntur bergerak pergi meninggalkan kampus. Zian juga ikut naik ke mobil Anin dan mengikuti dari belakang.


***


Mobil berhenti di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota itu. Setelah memarkirkan mobilnya, Guntur membuka pintu mobil untuk Anin. Anin pun turun menurut begitu saja. Belum juga Guntur dan Anin masuk ke dalam restoran, Zian datang memarkirkan mobilnya tepat di sebelah mobil Guntur.


Guntur malah menarik pergelangan tangan Anin mengajaknya masuk ke dalam restoran menuju meja yang dipesannya di ruang VIP dengan pelayan yang menunjukkan ruangannya.


Bruk ..


Guntur memepet tubuh Anin di pintu ruang VIP begitu ditutup pelayan.


"Siapa?" Tanya Guntur menatap penuh tanda tanya dan sorot mata yang penuh kecemburuan.


"Siapa?" Anin bukannya menjawab malah balik bertanya.


"Pria tadi?" Tanya Guntur masih dengan sorot mata penuh keposesifan.


Jemarinya membelai pipi Anin lembut yang terus turun ke ke bibirnya yang mungil.


"Dia sepupuku." Jawab Anin beralasan.


Cup


"Jangan membohongiku sayang!" Satu kecupan di layangkan pada bibir Anin.


Anin hanya tersenyum geli.


"Katakan!" Bisik Guntur ganti mengecup pipi Anin.


"Kau ingin aku mengatakan apa?" Goda Anin menatap Guntur dengan senyum nakalnya.

__ADS_1


"Aku tak suka melihatmu dengannya." Bisik Guntur sensual sambil menggigit cuping telinga Anin. Anin kegelian dan tertawa.


"Kau cemburu?" Goda Anin ganti mengecup leher Guntur yang malah membuat sesuatu menggeliat di bawah tubuh Guntur.


"Jangan menggodaku sayang!" Bisik Guntur ganti menjilat leher jenjang Anin.


"Mas, geli..." Bukannya berhenti, Guntur semakin kerap menjelajahi leher jenjang Anin semakin intens.


"Aahh..." ******* lolos dari bibir mungil Anin membuat Guntur semakin bersemangat memenuhi leher kekasihnya dengan intens.


Guntur mulai melum*at bibir itu, menghis*apnya, memagut bibirnya dengan penuh hasrat. Lengan Anin dituntunnya hingga melingkar di lehernya. Keduanya berciuman intens saling menikmati.


"Makanan datang tuan." Suara pelayan dari luar pintu saat mencoba membuka hendel pintu yang sulit dibuka.


Anin langsung melepas tautan bibir mereka dengan muka yang memerah bak tomat.


"Aku tak suka kau dengan pria lain meski itu sepupumu." Bisik Guntur menarik pergelangan tangan Anin untuk duduk di kursi restoran.


Guntur membuka pintu, terlihat dua orang pelayan sambil mendorong meja pengantar makanan. Dan... tiba-tiba Zian ikut masuk pelayan yang masuk.


"Keluar!" Seru Guntur menghadang tubuh Zian yang hendak masuk.


Anin yang sedang membalas pesan Nara sontak mendongak melihat ada sedikit perdebatan diantara keduanya.


"Zian." Panggil Anin berdiri mendekati keduanya.


"Maafkan saya yang mengganggu nona, tapi saya harus berada di dekat anda." Ucap Zian mempertahankan untuk berada di sisi Anin.


Zian menatap Anin penuh makna, dia masih belum yakin betul apakah pria yang bersama tuan putrinya ini baik atau tidak.


"Apa maksudmu?" Seru Guntur tak suka mulai menarik kerah kaos Zian yang bertinggi badan hampir sama, hanya Zian lebih kekar berotot karena bekas latihannya dulu di militer.


"Mas...please..!" Anin menarik pergelangan tangan Guntur yang mulai kasar pada Zian.


Zian hanya berdiri tegak menatap Guntur penuh permusuhan. Bahkan jika mata mereka mengeluarkan sinar, mungkin sinar itu akan saling memercik di antara keduanya. Guntur terpaksa melepaskannya karena permohonan kekasihnya.


"Kau hutang penjelasan padaku sayang?" Ucap Guntur sambil duduk di kursi meja makannya.


Anin mengikuti duduk di sebelahnya tempat yang dituntun Guntur padanya tadi.


"Kita makan dulu!" Hibur Anin mengambilkan makanan untuk kekasihnya.


***


"Kenapa kau tak mengatakan padaku?" Tanya Guntur menahan amarahnya setelah Anin menjelaskan tentang keberadaan Zian di sisinya.


"Kau terlalu sibuk, aku tak mau merepotkanmu. Toh Daddy pasti tak akan tinggal diam." Jawab Anin tenang.


"Kau membuatku sebagai seorang pria yang tidak berguna, aku akan membantumu apapun itu. Dan siapa orang brengsek yang berani lagi merundungmu?" Tanya Guntur menatap Anin kasihan.


"Jangan menatapku seperti itu! Aku sudah lebih baik dari yang dulu, setidaknya aku sudah sembuh dari rasa traumaku." Jawab Anin.


Zian yang sudah diusir Anin dan Guntur tetap berdiri kukuh di sisi Anin yang bahkan tetap berdiri tegak dengan wajah datar, sebenarnya Anin tak tega. Namun Guntur tampaknya tak akan suka jika dia terlalu memperhatikan pengawalnya.


"Aku akan bantu menyelidiki, siapa dalang dari kejadian itu." Tawar Guntur menggenggam jemari tangan Anin.


"Terima kasih mas." Jawab Anin tersenyum lembut menatap kekasihnya.


Saat Guntur hendak menciumnya, Anin menghindar sambil melirik Zian yang tetap berdiri tegak dengan pandangan tetap datar. Guntur kesal karena aksi ciumannya ditolak karena kehadiran makhluk yang mengaku sebagai pengawal Anin itu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2