
Pukul tujuh malam, Indra datang tepat waktu di rumah Karina. Saat itu Karina betul-betul tidak berharap kalau Indra akan benar-benar datang untuk mengajaknya makan malam. Secara dia masih berstatus sebagai suami orang. Tak mungkin dia mengiyakan dengan cepat ajakan makan malam yang selayaknya kencan.
Ting tong ting tong
Bel rumah berbunyi saat Karina sedang membantu putrinya mengerjakan tugas sekolahnya di ruang keluarga. Karina menatap putrinya sekejap dan kembali menatap pintu depan.
Cklek
Pintu depan dibuka. Senyuman di wajah Indra langsung mengembang begitu Karina muncul membukakan pintu.
"Selamat malam." sapa Indra menatap Karina dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dahinya spontan mengernyit.
"Pak Indra...." Karina tersenyum kecut.
"Apa aku yang salah jam? Kurasa tadi aku..." ucap Indra melirik jam tangannya.
"Pak, tunggu!" sela Karina menghela nafas sebentar. Indra hanya tersenyum dan menatap Karina lekat menunggu kalimat Karina berikutnya.
"Kurasa ada yang perlu kita luruskan!" ucap Karina.
"Oh ya?" tanya Indra dengan dahi masih mengernyit.
"Kita duduk sebentar. Maaf, aku tak bisa membawa anda masuk ke dalam karena kami hanya berdua dengan putriku saja." ucap Karina setelah mereka duduk di kursi teras depan rumah.
Indra tak menjawab hanya mengikuti Karina duduk di kursi teras depan rumah Karina.
"Begini... sepertinya kita bukan sedang dalam keadaan punya hubungan lebih dari sekedar atasan dan bawahan. Bapak tahu saya masih berstatus suami orang meski bapak sudah sah bercerai dari istri bapak bukan berarti anda bisa dengan bebas mendekati saya. Saya ...." Karina tampak menghela nafas berat karena tak melihat respon dari Indra malah terkesan cuek dan acuh atas ucapan Karina.
"Saya tidak bisa lebih dekat dengan bapak maaf?" ucap Karina meneruskan kalimatnya.
"Lalu?" Karina melongo dengan reaksi Indra.
__ADS_1
"Apa maksud bapak lalu? Tentu saja ini tidak baik untuk saya." jawab Karina sedikit emosi.
"Aku menyukaimu." ucap Indra langsung." Apa itu masih belum cukup untuk mendekatkan diri padamu Karin?" tanya Indra lagi. Karina memejamkan mata sejenak.
"Tapi saya..."
"Sampai kapan kau akan membohongi dirimu sendiri kalau suamimu telah menikah lagi?" ucap Indra membuat Karina tersentak, terkejut langsung menatap Indra tajam.
"Lebih baik anda tinggalkan rumah saya!" seru Karina sambil berdiri dari kursinya, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Padahal dia ingin menyembunyikan aibnya ini hanya untuk dirinya dan suaminya yang mengetahui hal ini.
"Apa salah dengan perasaanku?" tanya Indra berusaha meraih tangan Karina namun Karina langsung mundur dua langkah dari tempatnya berdiri dan meletakkan kedua tangannya tepat di depan dada seolah menolak untuk disentuh.
Wajah Indra tampak sedih melihat reaksi penolakan Karina lebih ke marah. Melihat matanya yang berkaca-kaca hendak menangis membuat hati Indra teriris karena reaksi penolakan Karina.
"Aku tulus menyukaimu." Karina diam beralih menatap ke arah lain.
"Setahun lalu istriku sudah tak mau disentuh olehku. Aku tetap bersabar. Tiga bulan berikutnya dia menuntut perceraian. Aku tak memberinya keputusan. Hingga tiga bulan berikutnya dia menggugat perceraian dengan alasan dia mencintai pria lain teman masa kuliahnya. Sesaat itu hatiku langsung hancur berkeping-keping. Wanita yang kucintai mencintai pria lain. Kukira karena aku sering lembur bekerja sehingga aku mengurangi waktu kerjaku namun dia tetap menginginkan perceraian bahkan aku minta untuk program anak untuk keluarga kecil kami. Namun kenyataan berikutnya membuatku merelakan perceraian tersebut. Tiga bulan lalu dia mengaku hamil anak dari selingkuhannya." Indra menjeda ucapannya.
"Saat itu juga aku bagai dihantam batu satu ton. Hatiku teriris, dadaku sesak seolah oksigen yang kuhirup di dunia ini telah habis. Air mata tak dapat mengalir. Sehingga mau tak mau aku mengiyakan keinginan untuk bercerai. Dan saat menunggu putusan sidang itu, dia memilih tinggal di apartemen selingkuhannya. Hahaha.... Hidupku hancur, aku dipecat dari pekerjaanku. Hidupku bagai tak ada masa depan lagi, sampai sepupuku memberikanku pekerjaan agar aku bisa melupakan semua masalahku. Dan aku bertemu denganmu. Melihatmu yang begitu tegar meski banyak masalah dalam perusahaan yang menyudutkanmu, aku semakin merasa memiliki motivasi untuk bangkit kembali. Kau memberikan aura positif padaku hingga aku mengagumimu dan entah mulai kapan aku menjadi menyukaimu." curhat Indra yang terduduk lemas di kursi teras depan rumah Karina.
"Saya... turut prihatin dengan kehidupan bapak, namun hormati saya yang masih berstatus suami orang. Saya... mengizinkan suami saya menikah lagi. Karena saya mencintainya dan menyayangi putri saya." Karina mengusap air matanya kasar sambil tersenyum getir.
"Sampai kapan kau akan bertahan?" tanya Indra menatap Karina lekat. Karina menoleh menatap Indra.
"Sampai saya sudah tak sanggup untuk terus mencintainya." jawab Karina.
Indra terdiam, dalam benaknya terdapat banyak macam-macam pikiran. Bagaimana mengatakan yang sebenarnya padanya. batin Indra.
**
Jonathan mengunjungi rumah orang tuanya atas desakan sang kakak yang mengatakan bahwa ada hal penting yang terjadi di rumah utama tersebut. Sepulang kerja, Jo menyempatkan diri untuk pulang.
__ADS_1
Namun perasaannya jadi tak enak saat mendapati Jane juga hadir dalam makan malam keluarga besarnya. Bukan hanya Jane bahkan orang tuanya juga ikut serta. Jo mengumpat dalam hati saat melihat sang kakak nyengir merasa tak bersalah.
"Jo, kau pulang?" tanya sang mama Indira mendekati putranya hendak mengecup pipi putranya namun ditolak Jonathan dengan menyalami sang mama dan mengecup punggung tangan wanita itu.
Indira tersenyum melihat sikap manis putranya itu. Jo juga melakukan hal yang sama pada sang papa juga orang tua Jane sebagai tanda penghormatan pada orang yang lebih tua saja tidak lebih.
"Wah, jeng Indira putramu memang sangat sopan, saya suka." ucap mama Jane tersenyum menatap Jonathan.
"Terima kasih jeng." jawab Indira menoleh menatap putranya yang tak bereaksi apapun, tetap datar dan dingin.
"Duduklah!" pinta Indira hendak membuka kursi untuk putranya namun ditolak karena kesopanan. Indira hanya tersenyum simpul.
"Biarkan aku sendiri ma." ucap Jonathan. Jane tersenyum bahagia melihat Jo juga hadir meski agak terlambat.
"Kami akan mengadakan pertunangan kalian dua minggu lagi." Jonathan langsung menghentikan makannya, menatap sang papa yang tersenyum bahagia melihat Jane serta kedua orang tuanya.
"Aku sudah selesai. Permisi." ucap Jo meninggalkan meja makan tanpa basa-basi.
"Jo." seru sang papa yang sudah tak dihiraukan olehnya. Indira mengelus lengan suaminya menenangkan untuk tidak terbawa emosi.
"Maaf kelakuan putraku, pasti dia lelah sepulang kerja." ucap Indira basa-basi.
Sebenarnya Indira tak menyetujui perjodohan itu. Namun karena keinginan suaminya, Indira menurutinya asal putranya juga setuju. Dan selama perjodohan itu berlangsung Jonathan tak pernah menolak ataupun menerimanya.
**
Jonathan membanting tubuhnya di ranjang kamar yang lama tak ditidurinya karena dia tak pernah pulang ke rumah. Dia lebih sering pulang ke apartemennya.
Tatapannya menerawang ke langit-langit kamarnya, entah kenapa bayangan Karina yang terlintas di benaknya. Tersenyum menawan membuat Jonathan sontak terduduk di ranjang.
"Ah, sial..." umpatnya.
__ADS_1
Dia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya setelah melepas semua pakaiannya.
TBC