
"Kita mau kemana mas?" tanya Karina basa-basi karena perjalanan lumayan jauh, sudah hampir satu jam mereka dalam perjalanan meski banyak lampu merah yang mereka lalui.
"Sebentar lagi sampai." jawab Bram singkat, tanpa menatap Karina.
Karina menghela nafas panjang, entah kenapa sepertinya Bram marah padanya. Dan Karina bingung apa salahnya sehingga Bram bersikap dingin padanya. Dia mencoba mengingat apa kesalahannya saat pertemuan dengan keluarga besarnya, seingatnya Karina tak melakukan kesalahan yang membuat Bram tersinggung.
Deg
Dada Karina seketika berdetak.
Gak mungkin, dia melihat kami berduaan kemarin kan? Apa dia sudah mengetahui tentang hubungan kami? batin Karina melirik Bram yang sedang fokus menyetir.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu mas?" tanya Karina ragu melihat wajah Bram masih saja datar dan dingin.
"Katakan saja!" Bram memarkirkan mobilnya di sebuah butik ternama di kota itu.
Bram turun, berjalan memutar membukakan pintu mobil untuk Karina, sebenarnya Karina merasa canggung. Saat diperlakukan dingin tapi entah kenapa tetap manis perlakuannya. Karina sempat heran, bagaimana sih sebenarnya sifat mas Bram ini? batin Karina dongkol, sebentar baik sebentar dingin.
"Aku ingin bicara mas?" ucap Karina masih mencoba meredam emosi.
"Kalian sudah datang? Kenapa lama sekali? Ayo Karin, mama sudah pilihkan gaun pengantin untukmu, kamu coba dulu ya?" ajak mama menarik lengan Karina sedikit memaksa.
"I..iya tante." jawab Karina menunduk sungkan.
"Kok tante sih, mama dong sayang, seperti Bram." ucap mama Bram, Erika.
"Eh, iya ma." jawab Karina.
"Nah, begitu dong." Erika menarik Karina masuk ke dalam dan menjumpai karyawan butik.
"Mbak, ini calon pengantinnya." ucap Erika, dan salah seorang karyawan butik mendekat.
"Ma, aku mau bicara dengan mas Bram sebentar ya?" tawar Karina.
"Nanti saja sayang, Bram kan juga harus mencoba tuxedo nya. Apalagi selama seminggu ke depan dia mau ke luar kota." jelas Erika.
Karina mencari keberadaan Bram sebelum dirinya didorong masuk ke dalam ruang ganti pakaian. Dan ternyata Bram juga sudah masuk ke ruang ganti pakaian pria.
Setelah keduanya mencoba gaun pengantin, keduanya sama-sama keluar dari ruang ganti yang ternyata pintunya berhadapan. Dan otomatis saat keduanya keluar bersamaan, mereka bertemu muka.
Bram tampak terpesona meski wajahnya kembali dingin seperti sebelumnya. Aku tak akan menyerah. batin Bram. Mereka berdiri di depan cermin mematut gaun mereka.
"Wah, kalian sungguh sangat serasi. Cantik dan tampan. Putraku memang pandai memilih istri." komentar Erika membuat keduanya tersipu malu.
Tapi entah kenapa Karina tak suka. Dia ingin segera mengatakan tentang statusnya.
Setelah beberapa gaun dicoba, akhirnya keputusan akhir pada gaun pertama mereka. Karina tampak lelah saat keluar dari ruang ganti, karena lebih dari enam gaun yang dicobanya dan sangat mewah dan glamor.
"Baiklah ma, aku balik ke kantor dulu. Ada yang harus kuselesaikan sebelum pernikahan." pamit Bram meninggalkan Karina dan Erika di butik itu.
"Karin, kamu mau kemana?" cegah Erika saat Karina mengikuti langkah Bram, Bram ikut berbalik saat Erika mencegah Karina.
"Pulang. Kan sudah selesai dan mas Bram juga harus kembali ke kantor." jawab Karina polos.
"Kamu sama mama mengurus kebutuhan lain. Meskipun sudah diserahkan pada WO setidaknya kita harus melihat apakah cocok untuk kalian nanti." jelas Erika memaksa menarik Karina masuk ke dalam mobilnya yang dikendarai sopir keluarga.
Karina menatap mobil Bram sudah menjauh bahkan dia tidak pamit pada Karina hanya pada Erika. Karina menghela nafas panjang dan itu tidak luput dari pandangan sang calon mama mertuanya.
"Kalian bertengkar?" tanya Erika melihat sikap dingin putranya.
__ADS_1
Padahal setahunya kemarin saat mereka memperkenalkan di depan keluarga besarnya Bram tampak antusias dan begitu perhatian pada Karina.
"Eh, kami. Nggak kok ma." jawab Karina ragu, meski begitu tapi mereka terlihat seperti pasangan yang sedang bertengkar.
"Bram itu pendiam dan tertutup. Apalagi kalau sedang ada masalah. Dia jarang curhat, dia lebih memilih diam daripada berteriak marah-marah jika sedang marah pada seseorang. Kalau kau gak merasa bertengkar, coba dekati lebih dalam. Mungkin sedikit rayuan dia akan mengatakan apa yang sedang dicemaskannya." jelas Erika membuat Karina mematung.
Aku harus mempertegas hubungan kami. Aku harus jujur padanya. Setelah aku mengatakan semua padanya. Kita lihat nanti saja. batin Karina terdiam sesaat.
"Ma, bisa ditunda untuk mengurus semua ini?" ucap Karina tersenyum menatap Erika yang juga balas tersenyum.
"Tentu. Pak!" seru Erika memanggil sopirnya.
"Iya nyonya."
"Kita ke kantor Bram ya!" titah Erika tersenyum. Karina pun ikut tersenyum.
***
"Fighting..." ucap Erika memberi semangat pada calon menantunya.
"Makasih ma." jawab Karina tersenyum menatap calon mama mertuanya yang begitu pengertian padanya.
Karina menatap gedung perkantoran firma hukum milik Bram. Karina masuk menjumpai resepsionis disana dan ditunjukkan ruangan milik Bram.
***
"Apa-apaan ini!" bentakan Bram terdengar dari luar pintu ruangannya.
Membuat Karina mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu itu.
"Maaf nona, anda harus mendengarnya." sekretaris Bram tampak merasa bersalah melihat perubahan raut wajah calon istri atasannya yang sedikit takut dan kecewa.
"Gak papa kok. Aku yang salah datang tak janji dulu." jawab Karina tersenyum lembut, merendahkan suaranya agar tak terdengar Bram yang masih setia memaki-maki bawahannya yang terlihat berbuat kesalahan.
"Jarang sekali pak Bram marah-marah bahkan hampir tak pernah. Kalau marah pak Bram sering diam tak pernah melampiaskan pada kami bawahannya. Baru beberapa hari ini pak Bram sering marah sampai membentak-bentak bawahan seperti kami. Dan saya yakin pak Bram sedang ada masalah." ucap sekretaris itu membuat Karina merasa bersalah.
Apa dia marah padaku hingga melampiaskan pada orang lain. Tapi apa kesalahanku? batin Karina.
"Ah, sial. Kena marah lagi deh. Kenapa sih pak Bram itu."
"Iya benar. Baru kali ini kemarahan pak Bram dilampiaskan hingga berteriak dan membentak-bentak seperti itu."
"Iya betul. Seperti bukan pak Bram saja. Gak mungkin kan dia lagi PMS."
Bawahannya yang tadi dibentak di dalam ruangan Bram tampak kusut. Mereka membicarakan tentang Bram begitu keluar dari ruangan mereka, seolah menyesalkan sikap Bram.
Karina semakin merasa bersalah. Karina pun berdiri hendak menuju ruangannya.
Tak lupa karina mengetuk pintu ruangan itu meski tidak tertutup sempurna.
"Masuk!" seru Bram dari dalam terlihat dia duduk di kursi kerjanya dengan lengan tangannya menutupi wajahnya, dia bersandar pada kursi terlihat lelah dan kusut.
"Buatkan aku jadwal ke luar kota selama seminggu meski tidak ada pekerjaan!" titahnya masih setia menutup wajahnya dengan sebelah lengannya.
Karina tersentak. Apakah karena ingin menghindariku sehingga dia melarikan diri ke luar kota dengan alasan pekerjaan? entah kenapa hati Karina sakit dibohongi, tapi mungkin Bram lebih sakit karena dibodohi.
Bram membuka mata perlahan karena tak ada jawaban dari titahnya tadi dari sekretarisnya. Bram sontak terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya.
"Karin..." seru Bram berdiri dari duduknya menatap Karina yang terdiam dengan tatapan tak terbaca.
__ADS_1
Bram menghindar dan berdiri membelakangi Karina dan berdiri menatap ke luar jendela kaca yang menampakkan pemandangan kota.
"Maaf mas jika aku mengganggu." tak ada jawaban dari Bram, masih terdiam.
"Lebih baik kita batalkan pernikahan kita." Bram tampak mengepalkan erat tangannya di dalam kedua saku celananya. Bram memejamkan mata.
"Pernikahan akan tetap berlanjut." jawab Bram masih tetap membelakangi Karina.
"Maaf mas, aku gak bisa."
"Apapun alasannya aku tetap tidak akan membatalkannya." jawab Bram masih tetap keukeuh. Karina menghela nafas panjang.
"Aku... masih terikat dengan pernikahan lamaku." ucapan Karina membuat Bram kembali mengepalkan tangannya meski masih berada di dalam saku celananya.
"Aku akan mengurus perceraianmu." ucap Bram. Karina menatap punggung Bram yang terasa dingin.
"Mas..."
"Bisa tinggalkan aku! Aku ingin sendiri dulu!" titah Bram malah terdengar seperti permohonan.
Karina terdiam, dia bingung akan melakukan apa lagi. Niatnya kemari ingin membatalkan pernikahan ini namun sepertinya Bram tak ingin berlama-lama bicara dengannya.
"Mas, kumohon!"
"Pergilah! Sudah cukup kita bicara." sela Bram cepat.
"Maaf mas tapi aku tetap tak bisa." Karina melangkah meletakkan cincin lamaran yang diberikan di meja kerja Bram namun secepat kilat Bram mengambil cincin itu dan memakaikan lagi secara paksa di jemari Karina semula.
"Mas..." teriak Karina.
"Sampai kapanpun aku tak akan rela melepaskanmu Karin." ucap Bram dengan nada rendah namun ucapannya terdengar tajam didengar Karina. Bram meraih gagang telpon di meja kerjanya.
"Sekuriti, tolong antar calon istri saya ke bawah." titah Bram dalam telponnya.
Bram kembali berbalik menatap jendela kaca membelakangi Karina. Dan secepat itu dua sekuriti mengetuk pintu ruangan Bram.
"Mas, kumohon dengarkan aku!" seru Karina mendekati Bram.
"Cukup Karin, jangan membuatku kehilangan kesabaran." teriak Bram tanpa sadar telah membentak Karina. Karina tersentak terdiam melihat sikap Bram berubah drastis.
"Masuk!" sekuriti itu masuk memberi hormat pada bos tempatnya bekerja.
"Antar nona Karina, sepertinya kami sudah cukup berbicara."
"Mas..." Bram malah melotot pada kedua sekuriti itu yang langsung mendekati tubuh Karina.
"Mari nona!" ajak kedua sekuriti itu sopan.
Semua pekerja di kantor Bram tahu siapa Karina, karena Karina pernah diajak sekali untuk diperkenalkannya pada seluruh karyawannya. Karina mengusap air matanya yang sempat menetes dan mengikuti arahan kedua sekuriti itu.
Bram terduduk lemas di kursi kebesarannya. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Mengusapnya kasar. Dia mengendurkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.
Kau milikku Karin, aku tak akan menyerah untuk mendapatkanmu. Meskipun harus memaksamu. batin Bram menatap datar dan dingin ke sembarang arah.
TBC
Segini cukup, banyak Lo... hampir 1500 kata...
Beri like, rate dan vote nya
__ADS_1
Makasih yang sudah tetap setia mendukung saya 🙏🙏