Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 62


__ADS_3

"Stop!" Anin menghentikan gerakannya yang hendak menyentuh lengan pria yang pingsan di depannya itu. Pria yang baru saja mendekapnya dengan erat tadi. Anin sontak mendongak menatap ke arah suara.


Seorang gadis modis dengan dandanan cantik dan imutnya mampu membuat Anin mengernyit heran melihat gadis itu dengan raut wajah yang menampakkan kesedihannya.


"Pak, bawa mas Guntur masuk ke mobil!" Titah wanita itu pada dua orang pria bertubuh besar yang seperti pengawal itu. Anin langsung berdiri melihat gerakan pria-pria itu dan beralih menatap wanita itu.


"Siapa kamu?" Tanya wanita itu yang memancarkan emosi.


Pasalnya dia tahu saat Guntur mendekapnya dari belakang. Anin menatap lekat wanita itu.


"Anda sendiri siapa?" Jawab Anin balik bertanya.


"Aku Alea, tunangan mas Guntur." Jawab gadis itu santai membuat Anin tersentak kaget. Entah kenapa dadanya terasa sesak.


"Saya Nindi, mantan muridnya pak Guntur." Jawab Anin membuat Alea tambah kesal saat tahu nama gadis di depannya itu.


"Nama lengkap?" Tanya Alea dengan judesnya.


"Anindita..." Jawab Anin ragu. Entah kenapa dia menurut saja saat Alea bertanya nama lengkapnya.


"Jadi kau Anin, kau mantan murid mas Guntur?" Seru Alea tak suka.


Dia mendekati tubuh Anin yang tetap dengan berani menatap Alea.


"Aku heran kenapa mas Guntur selalu nyebut-nyebut nama kamu. Jadi kamu yang namanya Anin. Murid spesialnya...huh.. masih cantikan aku lah kemana-mana. Lagian mas Guntur apa sih yang disukai dari gadis ini. Masih bocah juga." Ucap Alea dengan PD nya sambil menunjuk-nunjuk wajah Anin. Anin hanya terdiam menyimak ucapan Alea.


"A... apa maksud ucapan anda?" Tanya Anin gugup, entah kenapa dadanya yang sesak tadi serasa lega mendengar guru idolanya menyukai, tapi... lagi-lagi wajahnya berubah muram saat tahu status gadis di depannya ini.


"Hei... Jangan ge er dulu ya, sekarang mas Guntur adalah tunangan saya. Jangan kamu berani-beraninya menggodanya, kalau gak mau jadi pelakor." Ucap Alea sedikit sadis namun tak membuat Anin takut sedikitpun.


Alea meninggalkan Anin yang termenung sendirian. Entah kenapa dia terbayang saat pak Guntur mendekapnya tadi. Sisi hatinya menghangat sejenak tadi namun sisi hatinya yang lain terasa sesak dan sakit.


***


Guntur membuka matanya perlahan, menatap sekeliling kamar yang dikenali sebagai kamarnya sendiri. Kepalanya terasa berdenyut saat dirinya hendak bangun dari tidurnya. Entah mimpi atau bukan semalam dia seperti melihat Anin dan tubuh ini mendekapnya. Guntur menatap kedua tangannya yang semalam mendekap tubuh seorang gadis yang disukainya untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Sebelum kelulusan sekolah menengah atas, Guntur dipaksa orang tuanya untuk resign dari sekolah. Dia harus menangani perusahaan orang tuanya yang diambang kebangkrutan. Saat itu kalau bukan karena masalah perusahaan, Guntur tak akan mau mengurus perusahaan. Dia akan lebih memilih tetap menjadi guru daripada seorang pebisnis.


Namun dalam waktu satu tahun tak membuat perusahaan pulih. Malah terlihat semakin terpuruk. Dan mau tak mau orang tuanya menyarankan untuk melakukan kerjasama bisnis dengan salah seorang teman lama ayahnya dengan menikahi putri teman ayahnya.


Awalnya Guntur menolak mentah-mentah perjodohan itu, namun perusahaannya memang sedang membutuhkan asupan dana untuk bertahan. Guntur lagi-lagi tak punya pilihan lain selain menerima perjodohan itu.


"Apa aku harus menerimanya ayah?" Tanya Guntur memelas.


"Itu sudah ditentukan oleh dua keluarga. Meski perusahaan kita tak mengalami masalah. Kami sudah sama-sama berjanji untuk menjodohkan kalian." Jawab ayah Guntur tegas.


"Bagaimana kalau Guntur menolak?" Tanya Guntur dengan berani menatap tatapan ayahnya.


"Siap-siap kau akan melihat ibumu meninggal!" Wicaksana langsung pergi meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu jawaban ataupun protesan dari putranya. Guntur tertawa getir, selalu ibunya yang dijadikan ayahnya untuk mengancamnya.


"Lebih baik jangan melawan ayahmu nak!" Saran seorang wanita paruh baya, istri kedua ayahnya, Sofia.


Guntur tak menjawab wanita yang sudah menjadi ibu tirinya itu. Bukan karena jahat, bahkan wanita itu sangat baik dan tulus padanya meski dia hanyalah anak tirinya.


Ya, orang tua kandung Guntur telah bercerai saat usia dua belas tahun, entah apa yang menjadi perceraian keduanya. Karena belum juga ketuk palu, ayahnya membawa wanita itu masuk ke dalam rumah tangga orang tuanya dan diperkenalkan sebagai ibu tirinya yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Guntur dan memilih ikut ibunya tinggal dengan serba kekurangan.


Ibunya dan dia hidup serba keterbatasan merendahkan harga dirinya memohon pada ayah kandungnya untuk menolong ibunya agar dapat selamat. Ayahnya pun bersedia dengan syarat harus melakukan apapun keinginan ayahnya termasuk perjodohan yang sudah dirancang meski belum dikatakan saat Guntur memohon.


Guntur pun mengiyakan tanpa pikir panjang, asal ibunya selamat apapun akan dilakukannya. Hingga saat ini ibunya sudah sembuh namun masih tergantung dengan jantung buatan yang harus minum obat khusus yang tidak murah. Itulah sebabnya dia harus mempertahankan perusahaan demi membiayai kesehatan ibunya.


Guntur masuk ke kamarnya dengan wajah putus asa. Dia harus rela melupakan perasaannya yang baru disadari telah jatuh cinta pada gadis ansos dan introvert mantan muridnya saat sekolah menengah atas dulu.


"Aku mencintaimu Anin. Kau telah membuatku jatuh terlalu dalam tanpa mampu kuungkapkan." Bisik Guntur sambil menatap foto Anin yang dicurinya diam-diam saat istirahat.


Saat gadis itu mulai tersenyum ceria dengan teman-temannya.


"Ini di kamar, kepalaku..sakit.." Guman Guntur sambil memegangi kepalanya yang berdenyut karena mabuk semalam.


'Semalam aku bermimpi bertemu dengannya. Dan dia semakin cantik saja dan terlihat dewasa. Dia juga sudah tak gemetar lagi saat kupeluk, tunggu.. semalam mimpi kan? Atau ... kenyataan...'


"Kau sudah bangun?" Tanya seorang gadis muda yang sudah muncul di depannya.

__ADS_1


"Kau? Apa yang kau lakukan disini? Aduh..." Seru Guntur menatap gadis itu tak suka.


Bagaimana mungkin gadis itu bisa ada di apartemennya. Guntur menatap pakaiannya yang sudah polos, dia pun langsung mengintip di bawah selimutnya memastikan kalau dia tidak polos juga di bawah sana.


Dia pun bernafas lega saat tahu celananya masih utuh, dan semoga memang tak terjadi apapun pada mereka meski mereka adalah tunangan. Tunangan yang tak dikehendaki Guntur.


"Aku gak seberani itu kok, sama mas Guntur." Ucap Alea lagi melihat reaksi Guntur yang terlihat tak terima dirinya ada di apartemennya.


"Pergilah!" Usir Guntur meski tidak sedingin tadi.


"Aku sudah menyiapkan sarapan untuk mas. Makanlah! Baru berangkat ke kantor. Aku harus ke kampus, untuk menemui pembibingku masalah skripsiku." Guntur hanya diam, dia malah memilih mengabaikan Alea dan masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.


***


Anin berguling-guling di ranjangnya kekanan dan kekiri dengan gelisahnya. Pertemuan tak sengaja dengan mantan guru SMU nya membuatnya sedikit gelisah. Dadanya masih berdegup kencang, ada rasa senang, bahagia dan gelisah.


Guru yang dikagumi juga disukai saat terakhir masa SMU nya kini sudah memiliki tunangan dan itu artinya sebentar lagi mereka akan menikah.


"Belum menyatakan sudah langsung patah hati ya?" Guman Anin tersenyum getir sambil memegang dadanya yang berdebar kencang saat mengingat pertemuan mereka tadi.


"Selamat ya pak... semoga bapak bahagia..." Bisik Anin lagi, tanpa sadar air matanya menetes meski dirinya tak ingin menangis namun ternyata matanya tak bisa dibohongi.


Terdengar isakan di dalam kamar itu yang teredam di bantal.


TBC


Ye....


Akhirnya muncul benih-benih cinta nih...


Beri like, rate dan vote nya


Makasih 🙏


Maafkan typo

__ADS_1


__ADS_2