Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 98


__ADS_3

Hari H pernikahan, keluarga besar mansion Karina dan Jo disibukkan dengan upacara pernikahan yang akan dilaksanakan di ballroom hotel milik keluarga Alensio. Jo dan Karina sudah berdiri di pintu masuk ballroom hotel untuk menyambut para tamu undangan. Acara ijab qobul akan segera dimulai dua jam lagi. Anin sudah dirias cantik oleh MUA yang disiapkan keluarganya.


Anin berputar di depan cermin seluruh badan di kamarnya setelah selesai dirias dengan gaun kebaya modern bertahtakan berlian yang tidak sedikit. Tentu saja itu semua wujud dari rasa sayangnya Jo pada istrinya yang sangat mencintai putrinya tersebut. Bibir Anin tak henti-hentinya melebarkan senyumnya karena mereka akan sah sebagai pasangan suami istri.


"Nindi ... selamat ya beb." Ucap Nara memeluk tubuh sahabatnya itu.


Nara khusus di undang Anin untuk menjadi bresmidenya. Dan mereka juga akan berangkat bersama menuju ballroom hotel sebagai tempat pernikahan dilangsungkan. Setelah ijab qobul sudah pula disiapkan gaun pengantin pilihan kedua mempelai.


"Nona, waktunya kita berangkat." Seru Zian dari balik pintu setelah mengetuk pintu kamar sang nona.


"Iya Zian sebentar!" Seru Anin dari balik kamarnya karena berbincang dengan Nara dengan serunya.


"Ayo!" Nara menarik pergelangan tangan Anin dan membuka pintu kamarnya.


"Kita berangkat Zian!" Ajak Nara melihat Zian masih berdiri di depan pintu kamar Anin dengan wajah datar.


Meski hatinya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Karena terlalu sakit, sesak dan kecewa melihat gadis yang dikaguminya sebentar lagi akan menikah. Siapa lagi kalau bukan putri majikannya yang lambat-laun mulai merajai hatinya. Namun Zian hanya mampu menatapnya dengan wajah datar agar tidak diketahui perasaannya oleh sang putri.


"Ayo Zian!" Ajak Anin hendak menggandeng tangan Zian yang langsung bergerak mundur menjauhi sang nona.


Entah kenapa senyum antusias Anin langsung luntur melihat penolakan Zian. Biasanya mereka biasa seperti itu karena Anin nyaman dengan Zian seperti dengan seorang kakak saja.


"Saya akan mengikuti nona dari belakang sambil memegang ekor gaun nona." Jelas Zian agar tak membuat sang putri salah paham.


Bahkan saat sang nona keluar kamar, Zian seperti terpesona dengan penampilan sang putri yang sangat berbeda hari ini. Cantik dan mempesona. Namun Zian segera menepis perasaan terpesonanya. Dia tak mau terlalu jatuh dan cinta pada sang nona yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain, milik calon suaminya.


"Oh, baiklah." Anin segera menarik kembali tangannya yang terasa hampa.


Nara segera membukakan pintu mobil dan Anin pun masuk sambil tersenyum dan berterima kasih pada sahabatnya itu.


"Kau tak masuk?" Tanya Anin melihat Nara menutup pintu mobil tanpa dirinya ikut masuk.


"Hei, pengantin itu selalu duduk sendiri di dalam mobil. Aku akan naik mobilku sendiri!" Jawab Nara menatap sahabatnya yang masih mencemaskannya.


"Baiklah. Kita jalan bersama ya?" Jawab Anin yang diangguki Nara yang berlalu masuk ke dalam mobilnya sendiri.


Zian pun ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Meski berat namun dia harus memastikan sang nona sampai di tempat tujuan tepat waktu. Mungkin ini terakhir kalinya dia menjadi pengawal sang nona, karena mungkin setelah ini mereka akan jarang bertemu atau mungkin tak akan pernah bertemu lagi karena sang nona akan tinggal di rumah suaminya. Zian menghela nafas panjang dan berat mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.


"Zian." Zian terlihat tersentak saat namanya dipanggil oleh sang nona, karena tadi dia sempat melamun.


"Iya nona." Jawab Zian sambil terus fokus dengan kemudinya menatap jalanan.


"Terima kasih atas semuanya selama ini." Ucap Anin sambil menatap wajah Zian yang terpantul pada spion di tengah mobil.

__ADS_1


Dan tak sengaja tatapan mereka bertemu di dalam spion itu. Zian refleks memalingkan wajahnya menatap ke arah depan jalanan. Dan entah kenapa Anin melihat Zian tampak berbeda hari itu. Anin ingin bertanya namun tak mau mencampuri urusan pribadi Zian yang mungkin saja sedang ada masalah di kampung. Anin mengurungkan niatnya untuk bicara lagi pada Zian.


Anin mengalihkan pandangannya ke luar jendela ke arah jalanan. Zian kembali melirik lagi ke arah spion, namun Anin tampak menatap arah lain.


Tak sampai satu jam, mobil yang dikendarai Zian tiba di hotel tempat pernikahan sang putri dilangsungkan. Zian segera keluar dari mobil untuk menutup mulut mereka yang menganga tak percaya.


"Terima kasih Zian." Jawab Anin menatap Zian tersenyum manis.


Zian yang ditatap wajah cantik di hadapannya membeku karena lagi-lagi terpesona pada sang putri.


"Sama-sama nona." Anin meraih jemari tangan Zian yang diulurkan padanya dan menuntunnya untuk keluar dari mobil mereka.


Anin menatap gedung hotel dengan tatapan gugup. Masuklah Anin ke dalam ruangan tunggu yang kosong sambil menunggu acara ijab qobul yang dimulai setengah jam lagi. Sedang Zian memutuskan untuk menunggu di luar pintu ruangan untuk memastikan keamanan sang nona.


Anin duduk di dalam ruangan istirahat tersebut dengan gelisah. Pasalnya sudah kurang dari lima menit namun calon suaminya Guntur tak kunjung datang. Para tamu undangan dan penghulu yang sudah bersiap melihat ijab qobul pernikahan tak segera mendapati mempelai pria datang. Seharusnya dia harus tiba di tempat lima belas menit sebelum acara dimulai.


Penghulu dan para tamu mulai gelisah karena terlalu lama menunggu setelah bersiap-siap selama setengah jam. Ya, sudah terlambat hingga tiga puluh menit acara sudah terlewat namun mempelai pria belum datang juga. Jo sudah menyuruh anak buahnya untuk melihat situasi di mansion Guntur.


"Apa bisa dilakukan segera, kita sudah menunggu hampir setengah jam?" Ucap penghulu itu menatap Jo dan Karina yang mulai cemas.


"Bagaimana mas?" Tanya Karina penuh khawatir menatap suaminya yang sudah menghubungi seluruh anak buahnya untuk mencari tahu tentang Guntur dan rombongannya.


"Sebentar baby, ponsel Guntur tidak aktif. Juga ibunya." Jawab Jo masih sibuk dengan ponselnya menebak kemana calon menantunya itu.


"Kenapa belum ada instruksi untuk keluar kamar?" Tanya Anin menatap Zian cemas.


"Sebentar saya akan melihat situasi nona." Jawab Zian berlalu dari hadapan Anin.


Zian agak menjauh berdiri dari Anin menghubungi rekannya yang berada di ballroom hotel tempat acara.


***


Anin gelisah sambil menghubungi calon suaminya. Namun ponselnya tak aktif dan jaringan sibuk. Mencoba menghubungi Raka ataupun sang ibu dan ayah tiri Guntur. Namun juga tidak ada jawaban. Seakan mereka kompak untuk melarikan diri dari pernikahan. Anin terduduk diam merenung.


"Kamu kemana mas?" Guna. Anin mulai berkaca-kaca matanya menahan tangis.


"Kamu gak mungkin lari kan mas? Kamu bilang kamu mencintaiku? Kamu bilang kamu akan segera menikahi ku dan menjadikan aku sebagai milikmu bukan?" Guman Anin yang mulai dilanda kegelisahan.


Anin terduduk di lantai depan pintu tempat Zian berjaga tadi sambil menunggu kabar dari siapapun yang menjelaskan keberadaan calon suaminya.


"Nona!" Seru Zian sendu melihat sang putri terduduk lemas, Zian ikut berlutut di sisi Anin terduduk.


"Bagaimana Zian? Kau dapat kabar apa?" Tanya Anin menatap Zian penuh harap dan kecemasannya.

__ADS_1


"Mereka belum datang nona." Sesal Zian menundukkan kepalanya merasa bersalah dengan pernyataan yang didapatnya dari kabar rekan sesama pengawalnya.


"Tidak, kau bohong kan Zian. Dia akan datang, aku yakin itu. Suruh seseorang mendatangi mansionnya. Apa dia masih bersiap-siap mungkin?" Zian menggelengkan kepalanya menyesal tanda hal yang dikatakan oleh Anin adalah nihil.


Orang suruhan tuan besarnya sudah kembali dan mendapati mansion Guntur kosong tanpa seorang pun bahkan para pelayan tidak ada juga. Pintu mansion juga tergembok rapat. Bahkan tebakan sementara mereka kabur dari pernikahan.


"Gak, gak mungkin Zian. Dia berjanji akan datang. Dia berjanji akan akan menikahiku. Dia sangat mencintaiku Zian, tidak...tidak mungkin..." Rintih Anin sudah mulai air matanya mengalir deras.


Jo dan Karina datang ke ruang mempelai wanita dan melihat putrinya sungguh diluar dugaan. Sangat memprihatinkan. Karina sontak menutup mulutnya tak percaya dan ikut menangis meraih putrinya, mendekapnya memberi penghiburan setelah Zian yang menghiburnya tadi.


"Mommy... Daddy... mas Guntur gak mungkin lari. Pasti sedang terjadi sesuatu padanya. Daddy." Anin mendongak menatap Jo yang tak berani menatap wajah sedih putri dan istrinya.


"Maaf princess. Guntur dan keluarganya tak ada dimanapun." Jawab Jo menyesal.


"No Daddy, Daddy pasti salah. Dia tak mungkin lari Daddy. Tidak mungkin." Anin berdiri dan mendekati Jo yang juga merasa bersalah.


"Maaf princess, maaf." Jawab Jo menyesal.


Tangisan terdengar menyesakkan dadanya, Jo memeluk erat putri sambungnya yang sudah seperti putri kandungnya itu. Matanya berubah kesal dan tajam mengingat Guntur dengan beraninya melarikan diri dari pernikahan yang sudah digelar sangat mewah itu. Bukan uang yang dipikirkan Jo tapi kehormatan putrinya dan keluarga besarnya. Apa kata para tamu dan rekan bisnisnya tentang batalnya pernikahan putrinya.


Kini Jo duduk di ruang istirahat dengan beberapa orang kepercayaannya menatap mereka satu persatu seolah meminta solusi.


"Tuan, bagaimana kalau mengganti mempelai prianya untuk menutupi rasa malu." Usul Rian menatap Jo. Jo langsung menoleh menatap Rian tajam.


"Bagaimana bisa putriku menikahi orang sembarangan?" Marah Jo menatap Rian tajam.


"Tapi itu solusi satu-satunya. Mereka bisa bercerai setelah menikah." Usul Rian langsung mendapat tarikan kerah dari Jo yang murka.


"Brengsek kau, putriku bukan untuk main-main seperti itu." Marah Jo menarik kerah kemeja Rian.


"Tuan bisa mencari orang kita yang bisa dipercaya dan menyimpan rahasia ini. Dan kurasa yang terbiasa dengan nona." Jelas Rian yang membuat tatapan beberapa orang di situ menoleh pada Zian.


"Dia sudah beristri." Jawab Jo menatap Rian lagi.


"Hanya menikah siri tuan. Toh seorang pria boleh menikah lebih dari satu kali." Jo terdiam.


"Aku tak mau membuat putriku bersedih." Bisik Jo terduduk lemah di sofa ruangan itu.


"Saya akan coba bicara dengan nona."


"Jangan!" Zian berseru, dia mulai paham dengan perkataan tangan kanan tuan besarnya itu.


"Apa maksudmu Zian?"

__ADS_1


TBC


__ADS_2