Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 24


__ADS_3

Sepuluh hari setelah Anin dibawa pulang oleh papa kandungnya. Karina sedang duduk malas-malasan di gazebo samping mansionnya. Sendirian, anak-anak sudah berangkat sekolah. Suaminya juga sudah mulai aktif ke kantor lagi karena banyak pekerjaan yang terbengkalai karena liburan keluarganya beberapa waktu lalu.


Juga kejadian yang menimpa Anin saat disana. Hanya beberapa asisten rumah tangga yang masih di rumah. Dua orang terlihat berdiri di dekat Karina duduk. Karina terlihat meringis merasakan perutnya terasa mencengkeram. Kontraksi sudah terjadi sejak pagi bangun tidur tadi. Namun Karina menahannya karena hal itu kadang kontraksi palsu.


Sudah lebih dari dua kali dia melahirkan selalu seperti ini. Dia masih setia menahan rasa sakitnya, dia tak mau membuat gempar mansionnya karena kontraksi palsunya itu. Namun kontraksi perutnya semakin sering saja. Saat menoleh tempat asisten rumah tangganya tak ada di tempat, Karina tetap terlihat tenang.


Karena dirinya tadi sedang menyuruh mereka untuk mengambilkan sesuatu atas perintahnya. Sedang asisten satunya membantu asisten lain yang sedang kesulitan. Karina berusaha tenang sambil memegangi perut dan pinggangnya menahan sakit. Dia merasakan sakit yang berbeda untuk kali ini daripada saat hendak melahirkan dari yang sebelum-sebelumnya.


"Ukh .. sakit..." Bisik Karina lirih memegangi perutnya.


Seketika tiba-tiba pandangan matanya berubah gelap. Karina pingsan dengan darah mengalir di pahanya.


"Nyonya." Seru seorang asisten rumah tangga yang tadi disuruh Karina mengambil minuman untuknya.


Asisten itu segera menghampiri tubuh majikannya yang sudah pingsan terbaring di lantai. Asisten rumah tangga itu berteriak memanggil semua orang yang mungkin mendengarnya.


***


Jo langsung meninggalkan meetingnya begitu mendengar istrinya akan melahirkan. Bukan itu yang membuatnya cemas dan panik. Tapi karena kabar terakhir yang disampaikan salah seorang asisten rumah tangganya, kalau istrinya sekarang dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri saat mereka menemukan istrinya tergeletak di lantai dengan darah mengalir di pahanya.


"Bisakah kau lebih cepat!" Teriak Jo dari jok belakang mobil karena merasa Rian mengendarai mobil dengan sangat lelet, padahal Rian sudah berusaha mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi.


Bahkan sempat melanggar lampu lalu lintas yang menyala merah, sehingga umpatan para pengendara lain begitu nyaring saat dia menerobos lampu lalu lintas itu.


"Iya tuan." Jawab Rian singkat di sela kepanikannya yang masih bisa dikendalikan.


Tidak seperti Jo, saat ini dia sungguh sangat gelisah, panik dan cemas. Dia tidak tenang dalam duduknya ingin segera datang ke rumah sakit menemui istrinya. Pantas saja sejak pagi tadi dia sudah gelisah dan perasaannya tak enek, dia juga merasakan firasat buruk. Ternyata inilah yang membuatnya malas untuk berangkat ke kantor pagi tadi.


Seharusnya dia tak meninggalkan istrinya pagi tadi. Namun lagi-lagi panggilan Rian yang sudah entah keberapa kalinya membuat istrinya jengah. Dan segera saja istrinya meminta dirinya untuk segera berangkat ke kantor karena Rian menyampaikan ada sesuatu yang penting. Dengan sangat terpaksa dan langkah yang berat, Jo pun berangkat ke kantor meski harus melalui drama panjang lagi untuk dicegah oleh istrinya pergi ke kantor.


Namun sang istri sekali lagi meyakinkannya kalau dia akan baik-baik saja. Istrinya janji akan menghubunginya sendiri jika terjadi sesuatu padanya. Namun bukan istrinya sendiri yang memberi kabar, tapi asisten rumah tangganya yang mengabarkan kalau istrinya pingsan dengan darah mengalir di pahanya.


Jo sungguh cemas dengan anak juga istrinya, terutama istrinya. Jo tidak ingin terjadi sesuatu pada anak dan istrinya.


Jo berlarian di sepanjang lorong rumah sakit menuju unit gawat darurat. Dia sudah tak memperhatikan jalan hingga tak sengaja menabrak semua orang yang menghalangi jalannya. Bukan Jo yang meminta maaf tapi Rian lah yang meminta maaf pada orang-orang yang tak sengaja ditabrak Jo karena Jo sendiri sedang cemas.


Wajahnya kusut, pakaiannya sudah tidak rapi, dasinya sudah mengendur. Rambutnya yang tertata rapi saat berangkat kerja tadi sudah acak-acakan berantakan. Baru mendengar kabar tentang istrinya pingsan saja sudah membuat Jo seberantakan itu. Harapannya hanya satu, anak istrinya selamat.


"Bagaimana keadaan istriku?" Seru Jo pada asisten rumah tangganya yang menunggui di depan unit gawat darurat.


"Dokter masih belum keluar tuan, nyonya masih diperiksa." Jawab salah seorang asisten rumah tangga yang menelepon Jo tadi.


"Keluarga pasien!" Teriak seorang perawat dari arah pintu ruang unit gawat darurat.


"Saya suaminya dok. Bagaimana keadaan istriku?" Tanya Jo tak sabaran dengan wajah cemas dan panik yang kentara.


"Kita harus segera melakukan Cesar agar segera menyelamatkan keduanya. Sepertinya istri anda sudah mengeluarkan banyak darah, dan kondisi tubuhnya sedang tidak fit." Jelas dokter itu yang langsung disela oleh Jo.

__ADS_1


"Lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka dok!" Jawab Jo lantang dan tegas.


"Tapi..."


"Ada apa dok?" Tanya Jo dengan tatapan intimidasi, karena raut wajah dokter tidak baik-baik saja.


"Kami mungkin hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka."


Bruk..


Jo langsung meraih kerah jas dokter itu karena emosi. Dia tak terima dengan pernyataan dokter itu tentang pilihan yang diberikannya. Para perawat dan pembantu dokter yang melihat kelakuan Jo sedang emosi hingga melakukan kekerasan pada dokter itu membuat semua orang yang ada disitu juga terkejut.


Begitu juga dengan asisten rumah tangga Jo juga Rian yang berusaha melepaskan cengkeraman tangan Jo dari kas dokter itu.


"Kami para dokter hanya berusaha, hanya Tuhan yang bisa menentukan hidup mati seseorang. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan keduanya. Namun jika diantara pilihan itu..." Dokter menjelaskan dengan tenang tanpa rasa takut.


Dia tahu Jo sedang dalam keadaan tidak baik karena mencemaskan pasiennya. Sebisa mungkin dia tidak akan meladeninya dengan emosi pula. Dia berusaha sabar untuk menenangkan keluarga pasien.


"Jangan ucapkan hal menakutkan itu lagi. Aku memberimu perintah untuk menyelamatkan mereka!" Ancam Jo masih mencengkeram kerah jas dokter itu erat.


"Kami akan berusaha. Berdoalah tuan!"" Jawab dokter itu menghela nafas lega.


Perlahan cengkeraman tangannya mengendur saat teringat kembali ucapan istrinya suatu malam.


Flashback on


"I love you baby." Bisik Jo suatu malam setelah mereka menyelesaikan ritual percintaan mereka yang masih saja bergelora pada keduanya.


Matanya sungguh mengantuk setelah entah keberapa kalinya tadi suaminya menggempurnya.


"Tetaplah disisiku apapun yang terjadi. Jangan tinggalkan aku!" Bisik Jo lagi memeluk tubuh istrinya dari belakang sambil sesekali mengelus perut buncit istrinya.


"Hmm... aku tak akan meninggalkanmu. Apapun yang terjadi, sampai kau sendiri yang mengusirku, aku tak akan pergi." Balas Karina masih dengan mata terpejam.


"Terima kasih baby. Aku semakin mencintaimu." Bisik Jo lagi.


"Aku juga. Tapi..." Karina menjeda ucapannya menunggu reaksi suaminya.


"Tapi apa?" Tak seperti biasanya, ucapan istrinya membuat Jo sedikit cemas hingga dia menarik pundak istrinya hingga telentang dan menatapnya.


"Jika terjadi sesuatu denganku..."


"Tidak akan terjadi sesuatu padamu. Aku akan selalu melindungimu disisiku." Sela Jo terlihat murung pada wajahnya.


Karina membuka matanya terpaksa, menatap wajah suaminya yang terlihat cemas. Menangkup kedua pipi suaminya.


"Dengar aku dulu!"

__ADS_1


"Jangan bicara aneh-aneh!" Jo semakin emosi namun masih merendahkan nada bicaranya.


"Honey." Panggil Karina lembut membuat Jo meleleh dan menatap wajah istrinya yang dicintainya itu.


"Jika terjadi sesuatu padaku. Berjanjilah kau akan sabar menungguku kembali!"


"Kau mau pergi kemana? Apa kau berencana pergi meninggalkanku?" Jawab Jo tak suka. Bibirnya mengerucut cemberut.


Karina tersenyum lucu dengan tingkah suaminya itu.


"Berdoalah dan meminta pada- Nya, dan pasrahkan semuanya. Dan Insha Allah aku akan kembali.... mungkin." Bisik Karina di akhir kalimatnya yang tidak terdengar Jo.


Jo menghela nafas berat setelah mendengar ucapan istrinya, apalagi dengan senyum manisnya yang tak mampu ditolak olehnya.


"Aku berjanji."


"Terima kasih." Karina mengecup sekilas bibir suaminya dan langsung terlelap karena kantuknya sudah tak bisa ditahan lagi.


Flashback off


Suara bayi terdengar menangis nyaring di depan pintu ruang operasi. Jo tampak tersenyum bahagia mendengar tangisan bayinya. Jo bersyukur berkali-kali di luar ruangan itu karena itu berarti bayinya selamat.


Namun wajah puasnya berganti pias, saat melihat dokter dan perawat keluar masuk ruang operasi dengan wajah panik, cemas dan gelisah.


"Apa yang terjadi dengan istriku? Bagaimana keadaan istriku?" Seru Jo mencekal salah seorang perawat karena sejak tadi dia bertanya tak ada yang menjawabnya.


"Maaf permisi sebentar tuan, kami sedang menyelamatkan pasien." Elak perawat itu berusaha melepaskan cekalan tangan Jo.


"Aku tanya bagaimana keadaan istriku!" Teriakan Jo sekali lagi membuat semua orang yang ada disitu berhenti aktivitas dan terdiam.


Namun tidak lama karena menyadari semua orang adalah petugas rumah sakit yang sedang dalam keadaan panik dan tergesa-gesa.


"Tuan tenanglah!" Ucap Rian di samping Jo dengan mencoba melepaskan cekalan tangan salah seorang perawat karena sepertinya perawat itu sedang menangani keadaan darurat.


"Kau kira aku bisa tenang!" Jo malah ganti berteriak pada Rian yang melerainya untuk menginterogasi seorang perawat tentang keadaan istrinya.


'Teriaklah padaku saja tuan, itu lebih baik. Daripada anda menghalangi kerja para petugas itu. Yang penting ada puas.' batin Rian tak menjawab ucapan tuanya.


Dia tahu kalau dijawab pasti akan berbuntut panjang. Dan tuannya pasti akan mengamuk.


Pintu ruang operasi terbuka dan dokter yang menangani istrinya muncul. Dan Jo tanpa ba bi bu lagi langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istriku dok?" Tanya Jo berusaha untuk mengendalikan emosinya.


"Maaf, tuan istri anda koma." Suara dokter itu membuat benak Jo seperti tersambar petir.


Jo langsung lemas, tubuhnya terhuyung dan dengan sigap Rian menangkapnya. Tubuh Jo rasanya tak bertenaga lagi. Dia ingin berteriak memaki dokter itu, memukul siapapun untuk menolak berita yang mungkin bohong itu.

__ADS_1


Namun dunianya seakan gelap dan Jo pingsan.


TBC


__ADS_2