
Jo memaksa masuk ke dalam rumah Karina yang terkunci rapat. Dan gerbang rumahnya juga tergembok. Jo memanggil ahli kunci untuk membuka pintu-pintu itu agar dapat masuk ke dalam rumah penuh kenangannya dan istrinya.
Jo memasuki kamar utama yang sudah mulai berdebu karena ditinggalkan pemiliknya hampir sebulan lebih.
Jo membuka lemari pakaian Karina, masih terdapat pakaiannya yang ditinggalkannya. Juga beberapa pakaian yang ditinggal Karina. Sepertinya dia tak membawa seluruh pakaiannya, itulah yang dipikirkan Jo. Jo berbaring di ranjang kamar itu dengan perasaan campur aduk. Dia mengingat bagaimana setiap malam mereka menghabiskan waktu di kamar itu.
Tidak hanya tidur, malam panas yang dihabiskan mereka dengan berbagai gaya dan tempat telah mereka lakukan. Dan itu tentu saja membuat Jo merasa dadanya berdenyut nyeri mengingat hal itu tak mungkin terjadi lagi.
Jo sudah mengutus Rian untuk melacak keberadaan Karina meski dengan perasaan ngedumel karena pekerjaan yang sebelumnya belum selesai, bosnya sudah memberi pekerjaan lain lagi.
Tanpa sadar semakin malam, Jo tertidur pulas di ranjang kamar mereka.
**
Suara pintu kunci dibuka oleh seseorang yang baru saja datang di rumah Karina. Jo yang mendengar pintu rumah terbuka bergegas keluar tanpa memakai pakaiannya karena dirinya selalu bertelanjang dada jika sedang tidur dan hanya mengenakan boxer.
Semalam setelah membersihkan tubuhnya tanpa sengaja dia sudah terlelap di ranjang kamarnya. Kelelahan karena mencari keberadaan Karina selama dua hari berturut-turut membuatnya terlelap.
"Karin..." seru Jo melihat pintu depan terbuka.
"Eh, tuan. Maaf. Pantas saja pintu gerbang depan terbuka." jawab bi Ani yang diberi tanggung jawab untuk mengurus rumah Karina setelah pamit sebulan lalu.
"Bi Ani punya kunci rumah ini?" tanya Jo keheranan tak menghiraukan dirinya yang half naked, padahal bi Ani sudah berusaha mengalihkan pandangannya karena malu melihat Jo tanpa pakaian atas.
"Ah, maaf tuan. Sebulan yang lalu Bu Karin memberi saya kunci rumahnya untuk mengurusnya dan membersihkannya selama seminggu sekali. Dan Bu Karin juga sudah memberi upah saya yang tidak sedikit karena sudah bersedia menjaga dan merawat rumahnya." jelas Bi Ani yang langsung didekati Jo yang awalnya hanya berdiri di tangga kedua hendak turun.
"Apa bi Ani tahu kemana Karina pergi?" tanya Jo antusias.
"Maaf, tuan. Bibi gak tau kalau Bu Karin akan pergi. Bibi hanya menerima pesan sebulan yang lalu. Bu Karin pamit dan memintanya untuk merawat rumahnya. Dan maaf baru hari ini saya bisa membersihkannya karena cucu saya sedang sakit." jelas bi Ani merasa bersalah.
Jo langsung lemas terduduk di sofa ruang tamu yang sudah dibersihkan oleh orang suruhannya beberapa hari yang lalu setelah dirinya memutuskan untuk pulang kemari setelah Karina menghilang.
__ADS_1
"Gak papa bi." jawab Jo lemah.
"Karena sepertinya sudah ada tuan, saya kembalikan saja kuncinya. Dan untuk uang yang diberikan Bu Karin akan saya kembalikan jika saya kesini lagi."
"Gak usah bi, uangnya untuk bibi aja. Kunci rumah saja yang saya ambil." Jo pergi ke lantai atas masuk ke dalam kamar dengan wajah putus asa.
Dikiranya tadi adalah Karina yang tiba-tiba pulang. Namun ternyata tak sesuai apa yang diharapkannya. Kini dirinya kehilangan semangat lagi. Hanya papanya dia akan mendapatkan informasi tentang kemana perginya Karina.
***
"Apa yang kita lakukan ini benar pa?" tanya wanita paruh baya itu lembut saat makan malam bersama dengan suaminya.
"Kita tak mungkin membatalkan pernikahan itu. Kau tahu sendiri kita sudah setuju untuk perjodohan mereka. Pantang bagi kita untuk menarik kembali hal yang sudah terlanjur terjadi." jelas pria paruh baya itu sambil melanjutkan makannya.
Dan istrinya tersenyum getir tak mampu melakukan apapun untuk putra bungsunya.
"Tapi mereka saling mencintai." ucap wanita itu lagi.
"Dia akan mencintai Jane setelah menjadi istrinya dan melupakan wanita itu."
"Mereka hanya menikah siri, mereka tak punya ikatan kuat. Jika sudah sendiri artinya mereka sudah tak punya hubungan apapun."
"Meski tak ada bukti atas pernikahan mereka, tapi Tuhan menjadi saksi pernikahan mereka."
"Sudahlah. Besok kita akan kembali dan seminggu lagi pernikahannya. Jangan membahas hal ini lagi." ucap Alensio meninggalkan meja makan masuk ke dalam ruang kerjanya.
Kini mereka sedang berlibur ke luar negeri demi menghindari Jonathan yang akan mengamuk tentang rencananya telah memisahkannya dengan wanita yang sudah dinikahi siri oleh putranya.
Dia tak menyetujui wanita itu menjadi menantunya. Apa yang akan dikatakan rekan bisnisnya jika putra semata wayangnya menikah dengan seorang janda.
***
__ADS_1
Di apartemen milik seorang wanita, wanita itu sudah mulai berpeluh keringat membasahi tubuhnya. Sentakan demi sentakan membuatnya mendesah tiada henti. Pria yang lebih muda darinya itu telah mengukungnya di ranjang apartemennya memacunya tanpa henti.
"Faster.. boy...ah..." racau wanita itu semakin kencang saja pria muda itu menghentakkan pinggulnya dengan cepat.
Desahan-desahan memenuhi kamar apartemennya. Sudah lama dia bermain gila dengan pemuda yang ditemukannya saat dia sedang bertransaksi dengan gengster untuk melancarkan perjodohannya. Saat itu pemuda itu sungguh sangat kotor dan dekil, wanita itu menatap pemuda kumal itu dengan tatapan kasihan.
Setelah diperhatikan lebih dalam, jika dia didandani sedikit pasti akan terlihat menarik. Wanita itu pun menawarinya untuk ikut dengannya sebagai bawahannya dan dengan antusias pemuda itu menerimanya dengan senang hati. Karena merasa diperhatikan.
Sejak saat itu keduanya selalu bersama dengan pemuda itu sebagai pengawalnya dan untungnya pemuda itu sedikit tahu ilmu bela diri. Dan mulai saat itu juga wanita itu tertarik pada pemuda itu yang semakin lama tubuhnya sangat menarik. Dan secara khusus wanita itu memberikan pemuda itu sebuah apartemen untuk tempat tinggalnya jika dia meminta untuk dipuaskan hasratnya.
Dan pemuda itu mampu mengimbanginya. Dia melampiaskan semua itu karena kekecewaannya yang harus menunda pernikahannya atas permintaan calon mertuanya karena ingin memisahkan calon suaminya dengan ja*lang peliharaan calon suaminya.
Dan wanita itu mau tak mau harus mengiyakan permintaan calon mertuanya itu agar dia mendapatkan apa yang diinginkannya dan juga yang diinginkan orang tuanya.
"Oh...i'm cumming boy..."
"Bersama baby..." bisik pria muda itu dan menghentak kencang dan bersamaan mendapat pelepasan masing-masing.
Pria muda itu tergeletak di samping wanita itu yang langsung menarik selimut untuk keduanya. Jane, wanita itu membuka matanya dan berdiri masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.
"Ini untukmu. Aku harus pulang." ucap Jane sambil melempar segepok uang untuk pria nya itu.
Pria itu membuka matanya perlahan menatap uang yang dilemparkan tadi.
"Kau tak mau tinggal?" tanya pemuda itu serak menyimpan uang itu di bawah bantal.
"Minggu depan pernikahanku, setelah ini jangan hubungi aku dulu. Gunakan uang itu untuk hidupmu " jawab Jane sambil menyalakan rokoknya.
Pemuda itu berdiri dengan tubuh masih telanjang mendekati wanita yang mulai merajai hatinya itu.
"Kalau kau tak mencintainya, kenapa kau harus menikahinya?" pemuda itu memeluk Jane dari belakang mulai menelusuri leher Jane dengan intens.
__ADS_1
"Perusahaan orang tuaku diambang kehancuran, aku harus memanfaatkan keluarga itu agar kami tidak bankrut dan jatuh miskin." jawab Jane melepaskan belitan tangan pemudanya dan pergi dari apartemen itu. Pemuda itu hanya menatap nanar punggung Jane yang menghilang di balik pintu.
TBC