
"Apa kau tak seharusnya kembali padanya?" Saran Alea menatap Anin lekat, dia tak setuju jika Anin pergi darinya Guntur akan baik-baik saja.
Terlalu sulit merubah hati Guntur selain hanya Tuhan. Mungkin malah akan membuat Guntur terpuruk dan bersemangat hidup. Dia tahu sebesar apa perasaan Guntur pada Anin.
Anin menggeleng.
"Pernikahan bukan main-main, pernikahan adalah hal sakral. Bagaimana pun sekarang aku ingin menunjukkan baktiku pada suamiku sekarang." Jawab Anin tersenyum getir.
"Apa Guntur tahu?" Anin kembali menggeleng.
Setelah aku mengantarnya pulang, aku akan mengatakan semuanya padanya nanti dan langsung berpamitan padanya." Jawab Anin memaksakan tersenyum menatap Alea penuh harap.
"Maaf Anin, bukannya aku menolak. Aku akan tetap menjaga Guntur meski kau tak memintanya. Tapi untuk perasaannya, aku tidak janji dapat mengalihkan pandangannya darimu." Tolak halus Alea.
"Begitu saja aku sudah berterima kasih padamu. Jaga dia agar jangan sampai terpuruk, itu saja permintaanku!" Pinta Anin menatap Alea lekat. Alea hanya mengangguk mantap.
Flashback off
"Kita sudah sampai nona." Suara sopir Anin membuyarkan lamunan mereka.
Entah kenapa Anin merasa gugup dan cemas. Apalagi dia harus mengatakan yang sebenarnya pada Guntur tentang dirinya. Bahwa mereka harus saling melupakan setelah ini.
"Iya pak." Anin turun segera menghampiri pintu mobil Guntur namun keburu Guntur keluar sendiri dari dalam mobil.
Guntur pun juga terlihat murung tak bersemangat, seolah dia enggan untuk pulang. Mungkin rumah sakit sudah nyaman untuknya, mungkin?
"Ayo mas!" Ajak Anin beralih menatap sopir pribadinya, dia sempat heran kenapa bukan Zian yang mengantarnya.
"Pak, bawa kopernya ke dalam ya?" Titah Anin lagi menatap sopirnya yang sudah membuka bagasi mobil.
"Baik nona." Jawab sopir itu sambil menundukkan kepalanya mengiyakan.
"Aku sudah tak apa, jangan perlakukan aku seperti orang pesakitan." Ucap Guntur menepis tangan Anin yang hendak meraih lengannya memapahnya.
Anin merasa kosong karena penolakan Guntur meski Guntur menepisnya lembut dan kata-katanya juga tak tidak kasar, bahkan sangat lembut. Anin tersenyum miris, bukan maksudnya untuk memapahnya saat hendak memegang lengan Guntur.
__ADS_1
Tapi benar-benar dia ingin bergandengan tangan untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam mansion Guntur untuk terakhir kalinya, mungkin setelah ini dia tak akan datang ke mansion ini lagi. Anin pun mengikuti langkah Guntur dengan gontai tak bersemangat namun dia tetap memaksakan senyumannya.
"Selamat datang ke rumah nak!" Sambut ibu Kim melihat Guntur muncul di pintu depan mansionnya dengan senyum tampannya meski wajahnya sedikit pucat.
"Aku merindukanmu Bu." Jawab Guntur memeluk tubuh lemah ibunya.
Guntur dapat merasakan keterharuan ibunya melihat semakin kurus tubuh ibunya pasti karena memikirkannya.
"Nak Anin." Sapa ibu Kim pada Anin yang sejak tadi hanya menyimak interaksi ibu anak itu.
Guntur sendiri berganti memeluk tubuh Arman ayah tirinya yang juga ikut menyambutnya di depan pintu. Dan ganti beralih pada kakak tirinya yang juga asisten pribadinya. Anin menyalami satu persatu kecuali ibu Kim. Dia memeluk erat tubuh mantan calon ibu mertuanya itu.
Air matanya sempat menetes di pipinya karena merasa sakit di ulu hatinya. Namun dia segera mengusapnya sambil tersenyum paksa setelah melepas pelukannya.
***
"Raka, bisa antar aku ke kamar?" Pinta Guntur tanpa menatap Anin yang sudah bersiap untuk mengikuti Guntur ke kamarnya.
Tidak hanya sekali dua kali dia datang ke mansion Guntur. Dia tahu betul letak kamar Guntur tapi entah kenapa dia merasa asing setelah mendengar penolakan tidak langsung dari Guntur. Dia tahu betul dia ditolak di tempat itu. Karena semua orang langsung terdiam dan saling menatap mendengar ucapan Guntur secara tidak langsung menolak Anin.
Lagi-lagi hati Anin terasa hampa dan kosong berada di tempat yang sudah tidak seharusnya. Dia ingin menangis namun masih tetap mempertahankan di tempat yang sangat, sangat asing itu.
"Kita makan siang nak!" Ajak ibu Kim menatap Anin di dalam kecanggungan keluarganya.
Anin tersentak ajakan ibu Kim.
"I.. iya Bu..." Jawab Anin terbata.
Arman hanya menghela nafas melihat drama itu. Dia tak bisa mengatakan apapun. Mereka sama-sama dewasa dan sudah bisa mengambil keputusan mana yang terbaik untuk masing-masing.
"Ibu, aku masih ada urusan. Aku tak bisa ikut makan bersama kalian. Aku permisi pulang dan sampaikan salam ku pada mas Guntur untuk menjaga diri baik-baik. Aku mungkin tak bisa datang menemuinya lagi." Pamit Anin tanpa mampu menahan air matanya yang tiba-tiba menetes begitu saja dengan rasa di dadanya yang sesak.
Ibu Kim terdiam melihat Anin yang terlihat menyedihkan itu. Dia ingin merangkulnya namun entah kenapa ada dorongan hati yang mencegahnya untuk melakukan hal itu. Anin segera mengusap air matanya kasar.
"Ah, maaf Bu. Mungkin aku kelilipan, aku..
__ADS_1
aku... pamit bu..hiks...hiks..." Anin segera berlari keluar dari mansion itu.
"Kau tak pamit sendiri padaku?" Seru Guntur dari arah tangga mansionnya membuat Anin terhenti tanpa berani menoleh membalikkan tubuhnya karena tak mau melihat Guntur yang akan membuatnya goyah.
Semua orang melihat drama sinetron itu pasti akan meneteskan air mata. Arman meraih bahu istrinya dan membawanya pergi meninggalkan kedua orang itu begitu juga Raka merasa peka dan meninggalkan keduanya memberi ruang untuk pasangan itu berbincang dari hati. Anin menghentikan tangisannya namun dia tak mampu.
Hanya isakan yang terdengar dengan bahu bergetar naik turun menahan tangis. Guntur tak mampu melihat gadis yang dicintainya bersedih. Dia ingin merengkuhnya tapi dia takut tak mampu melepaskannya lagi. Dia takut akan egois dan menahan Anin di sisinya.
"Kau bisa tenang meninggalkanku. Aku akan baik-baik saja untukmu." Ucapan Guntur mampu membuat tangisan Anin semakin kencang di ruangan itu.
Guntur luluh, Guntur pun mendekati tubuh ringkih itu. Guntur memegangi bahu yang terguncang yang menangis hebat di hadapannya itu.
Bruk
Anin menubrukkan tubuhnya memeluk tubuh Guntur dengan tangisan kencang seperti anak kecil. Dia sungguh sangat sedih.
"Hiks...hiks... maaf mas, maafkan aku.. hiks..
hiks... aku ... aku..."
"Ssttt." Guntur menutup bibir Anin terus mendekap tubuh itu.
Dia memeluk tubuh itu erat. Dia harus merelakan gadis yang dicintainya dengan ikhlas demi mereka berdua. Tak ada yang salah diantara keduanya. Mungkin mereka memang belum berjodoh atau mungkin tidak berjodoh. Mungkin inilah arti dari mencintai tapi tak dapat memiliki. Melihat kebahagiaannya saja sudah cukup bagi diri mereka masing-masing.
Sudah hampir setengah jam Anin menangis dalam dekapan tubuh Guntur. Entah sejak kapan keduanya sudah duduk di sofa ruang tengah mansion Guntur. Anin melepas perlahan dekapannya menatap wajah Guntur untuk terakhir kalinya. Matanya yang sembab dan berair tak mampu membuatnya melihat jelas wajah tampan yang memenuhi ruang hatinya itu.
"Berbahagialah, kau harus bahagia Anin, hmm." Anin hanya mengangguk terisak.
"Kau harus bahagia." Lagi-lagi Anin mengangguk.
"Jika dia menyakitimu, datang padaku! Aku akan menghajarnya untukmu!" Anin semakin menangis sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Pergilah!" Anin berjalan keluar mansion sambil sesekali menoleh ke belakang, masih ada Guntur yang melambaikan tangannya sambil tersenyum manis untuk terakhir kalinya mungkin.
TBC
__ADS_1