Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 52


__ADS_3

Jo tiba-tiba di mansionnya. Entah kenapa dia sangat gugup hari itu. Padahal biasanya dia akan sangat bahagia jika waktu pulang kerja. Mungkin karena takut istrinya akan sedih dan kecewa dengan berita yang dibawanya hari itu. Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi, padahal dia baru saja pamit berangkat ke kantor lebih dari tiga jam lalu.


Dan sekarang kini dia sudah pulang lagi. Pasti semakin akan membuat kecurigaan istrinya meningkat. Setelah pasca melahirkan si bungsu. Istrinya mendadak jadi istri, wanita dan seorang ibu yang memiliki ketajaman insting lebih besar.


Kondisi baby blues yang dialami pasca melahirkan sungguh membuat Jo kalang kabut karena sering dijadikan pelampiasan kekesalan dan kesensitifan istrinya hingga berujung harus rela tidur di kamar lain tanpa mendekap tubuh istrinya saat tidur. Meski saat pagi hari dia mendapati istrinya memeluk dirinya.


Jo tersenyum tipis saat mengingat hal-hal yang dialami baru-baru ini. Dia juga bahagia bisa berada di sisi keluarganya baik dalam keadaan baik dan terburuknya.


"Apa tuan tidak jadi turun?" Tanya pak sopir membuat lamunan Jo buyar.


Dia masih berada di dalam mobil belum keluar dari dalam mobil setelah sopir memarkirkan mobilnya di halaman mansionnya. Sudah hampir sepuluh menit Jo terlihat melamun membuat sopir berinisiatif menegurnya karena melihat situasi dan kondisinya sedang mendesak.


"Huff... baiklah... aku harus menghadapinya cepat atau lambat." Ucap Jo merapikan jas kantornya dan keluar dari dalam mobil.


***


Ken sungguh terkejut dan shock saat dihubungi pihak sekolah tentang kejadian yang menimpa putrinya. Ken segera meninggalkan pekerjaannya dan bergegas menuju tempat perusahaan putrinya PKL. Dia terlihat tergesa-gesa hingga tak mendengarkan ucapan siapapun yang menegurnya dalam perjalanan menuju parkiran mobilnya.


Guntur yang ikut menyimak interogasi pihak Bram dan timnya meminta pendapat pada Bram perihal dia harus menghubungi papa kandung Anin atau tidak. Setelah lama berpikir, Bram mengangguk mengiyakan Guntur untuk menghubungi papa Anin Ken.


Seketika Bram mendesah kesal, entah kenapa setiap ada kasus dari sepupunya itu selalu saja Ken terlibat. Dia sungguh benar-benar kesal dan jengkel harus berhubungan dengan pria brengsek itu.


"Aku harus menyuruhnya pergi kemana?" Tanya Guntur menatap Bram lekat.


"Entahlah... itu urusan anda sebagai guru wali kelas dengan orang tua murid." Jawab Bram. Guntur sendiri juga bingung saat Ken bertanya dia harus kemana.


Ke sekolah, dialah yang harus ditemuinya sedang dirinya saat ini tidak di sekolah. Di perusahaan ini, kejadian sudah diurus pihak yang terkait. Entahlah... mungkin dia harus menyuruhnya kesini karena dia juga ada di sini. Perihal dia ingin bertemu putrinya biar menghubungi suami mantan istrinya yang membawa Anin. Itulah akhirnya keputusan Guntur.


***


"Papa memanggilku?" Tanya Teddy saat dia sudah sampai di ruangan Wijaya.


"Jadi gadis yang kau rekomendasikan adalah Anin? Putra tuan Jonathan?" Bukan menjawab Wijaya malah memberikan pertanyaan.

__ADS_1


"Iya pa, tapi maksud papa putri tuan Jonathan?" Jawab Teddy.


"Gadis yang kau rekomendasikan itu, gadis yang difitnah itu. Bahkan diperlakukan buruk tadi adalah putri tiri tuan Jonathan." Jelas Wijaya sambil menghela nafas panjang dan berat.


"Apa? Ba... bagaimana mungkin itu?" Teddy terkejut, dia baru tahu Anin adalah putri pria bule yang ada di foto.


Dia juga tahu siapa tuan Jonathan. Papanya selalu mewanti-wantinya agar tidak membuat masalah yang berhubungan dengan tuan Jonathan yang notabene adalah pemegang saham terbesar di perusahaan papanya. Kalau dirinya tahu kenyataan tersebut, pasti dia akan dengan yakin menolong Anin dari serangan teman-temannya yang tidak bertanggung jawab.


Tadi dia seperti seorang pengecut dan seorang pecundang. Tak berani maju membantu dan melindungi gadis yang disukainya. Padahal Anin menatapnya dengan tatapan memohon meminta pertolongan namun dengan acuhnya dia melengos dan pergi dari hadapannya. Sekarang, apakah pantas dirinya dibilang menyukainya jika sudah mengecewakan terlalu dala seperti ini. Teddy terduduk di kursi depan meja kerja papanya.


"Seharusnya kau mencari tahu tentang gadis itu sebelumnya." Kesal Wijaya menunjuk putranya yang begitu bodoh.


"Aku tak tahu pa, setahuku nama papanya Keanu... dan aku juga tak tahu tentang papa tirinya tuan Jonathan." Sangkal Teddy, dia pun juga merasa sangat bersalah.


"Sekarang lakukan bagaimana nanti kau ditanyai, jangan membuat perusahaan yang bisa membuat tuan Jonathan menarik sahamnya dari perusahaan papa." Titah Wijaya kesal.


"Baik pa." Jawab Teddy pasrah.


"Kau sungguh bodoh sekali, seharusnya kau tidak diam saja melihat gadis itu difitnah dan diperlakukan buruk seperti itu." Seru Wijaya terus saja mengomeli Teddy yang bodoh dan pengecut.


Sekarang dia sungguh sangat menyesal, seharusnya dia menyelidiki terlebih dahulu tentang siapa Anin. Dia hanya tahu kalau dirinya sangat menyukainya. Dan selalu berdebar setiap berdekatan dengannya dan menggodanya.


***


"Mas sudah pulang?" Tanya Karina saat mendapati suaminya sudah berdiri di pintu kamar putri bungsunya. Karina meletakkan Joana ke box bayinya setelah tertidur karena disusui. Mendekati suaminya yang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Suaminya hanya diam tak menjawab, membuat Karina yang awalnya biasa sekarang ikutan cemas.


"Ada apa mas?" Tanya Karina lagi dengan raut wajah cemas.


"Ikut aku!" Jo menuju kamar mereka diikuti Karina yang penuh tanda tanya.


"Ada apa mas?" Tanya Karina sekali lagi setelah mereka masuk ke dalam kamar.


"Kita pergi dulu, ikut aku!" Titah Jo menatap istrinya lembut.

__ADS_1


"Kemana mas?" Bukannya mengikuti suaminya tapi Karina tak bergeming di tempatnya berdiri masih menatap suaminya menuntut jawaban.


"Ikut aku dulu! Akan ku ceritakan nanti di dalam mobil. Kau harus tenang dulu!" Ucap Jo lagi-lagi tak memberikan jawaban yang memuaskan untuk istrinya.


"Jawab aku dulu ada apa mas!" Seru Karina mulai berkaca-kaca matanya.


Membuat Jo terenyuh dan ikut sedih. Jo mendekap tubuh istrinya memberikan ketenangan.


"Tenangkan dirimu! Ini... tentang Anin." Jawaban suaminya membuat tubuh Karina menegang.


Baru beberapa hari lalu dia video call dengan putrinya itu, dan kini suaminya datang memberi kabar kalau putrinya....


"Ada apa dengan Anin mas?" Seru Karina melepas dekapan suaminya.


"Tak ada apa-apa, Aku hanya ingin memberi tahumu Anin baik-baik saja. Tapi ada sedikit masalah dengannya saat ini." Jawab Jo mencoba memberikan ketenangan pada istrinya.


"Masalah apa mas? Apa masalah serius? Ada apa?" Desak Karina yang membuat Jo bingung menjelaskannya.


Belum tahu sebenarnya saja sudah sesedih itu istrinya, apalagi jika tahu yang sebenarnya.


"Ikut aku dulu, sekarang!" Titah Jo meninggalkan kamar menuju depan.


Karina mau tak mau ikut, namun melirik pakaiannya yang minta diganti karena sudah terlihat kusut sejak pagi.


Setelah mengganti pakaiannya pun dia ikut suaminya naik mobil menuju ke tempat tujuan. Jo mendekap tubuh istrinya di dalam mobil. Pertanyaan demi pertanyaan yang diucapkan istrinya tak dijawab oleh Jo meski istrinya sudah berderai air mata. Jo menguatkan hatinya karena baginya terlalu sakit saat melihat istrinya menangis.


"Katakan mas, jelaskan! Jangan membuatku semakin cemas dan khawatir!" Seru Karina mengguncang tubuh suaminya yang enggan memberi tahunya.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak


Beri like, rate dan vote nya

__ADS_1


Makasih 🙏


Maafkan typo


__ADS_2