Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 82


__ADS_3

Wicaksana berjalan cepat menuju ruang meeting di perusahaan yang sudah dikelola putranya. Wajahnya terlihat memerah menahan amarahnya. Setelah mendapat kabar dari salah satu pemegang sahamnya yang dengan senang hati bercerita kalau perusahaan yang hanya diturunkan pada Guntur.


Namun sekarang katanya perusahaannya sudah beralih nama menjadi kepemilikan Guntur Wicaksana sebagai pemilik sah dan utama perusahaannya.


"Apa kau tidak tahu mengenai hal ini?" Tanya Wicaksana pada Arman sang asisten pribadinya yang mengikuti langkahnya dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Maaf tuan." Jawab Arman menyesal.


"Dimana dia?" Tanya Wicaksana dengan wajah memerah amarahnya menatap sekretaris Guntur yang terdiam ketakutan melihat Presdir perusahaan tempatnya bekerja.


"Tuan sedang meeting di dalam tuan." Jawab sekretarisnya.


Bruak


Wicaksana langsung mendobrak pintu ruang meeting kasar. Wajahnya yang memerah marah langsung melangkah cepat menuju ke arah Guntur dan spontan langsung menarik kerah kemeja Guntur yang masih berbalut jas kantornya.


"Dasar anak kurang ajar. Anak brengsek. Berani sekali kau melakukannya!" Teriak Guntur spontan membuat para pemegang saham berdiri terkejut melihat reaksi Presdir lama perusahaan tersebut.


Mereka mengira Wicaksana lah yang menunjuk langsung Guntur untuk mengelola perusahaannya sekarang hingga lebih maju. Toh dia adalah putra kandungnya juga.


"Ada apa ini?" Tanya salah seorang pemegang saham pemilik saham nomer dua di perusahaan tersebut.


Arman mendekati tuan besarnya membujuknya untuk menahan emosinya, apalagi mereka berada di hadapan para pemegang saham. Bukan rasa prihatin yang diberikan tapi akan malah mendapat pandangan buruk di mata para pemegang saham. Karena selama ini para pemegang saham tak tahu, hanya rasa permusuhan yang diberikan Wicaksana pada putranya satu-satunya tersebut.


Apalagi dulu Wicaksana pernah terjadi skandal tentang perselingkuhannya dengan istrinya yang sekarang. Padahal dulu masih menjalin hubungan suami istri dengan ibu Guntur. Image Wicaksana benar-benar akan hancur jika tidak dapat mengendalikan amarahnya di depan para pemegang saham.


"Tuan, tenanglah! Banyak yang melihat." Cegah Arman membuat Wicaksana menatap sekeliling ruang meeting yang menatapnya penuh kekecewaan.


Wicaksana sontak melepas cengkeraman pada kerah kemeja Guntur. Yang ditanggapi Guntur dengan senyum mengejek dan seringainya pada yang sayangnya ayah kandungnya itu.


"Aku ingin menjelaskan kalau pengalihan Presdir dan saham di perusahaan ini. Tidak sah. Karena saya tidak merasa mengalihkannya." Ucap Wicaksana.


"Hahaha..." Tawa Guntur menggelegar di dalam ruangan meeting itu.


Hingga semua orang bergidik mendengarnya.


"Kurasa anda keliru tuan Wicaksana yang terhormat. Saya bisa tunjukkan pernyataan bahwa anda sudah menyerahkan seluruh aset pada satu satunya putra tunggal anda yaitu Guntur Wicaksana yang sekarang sudah menjabat sebagai CEO di perusahaan ini." Jawab Guntur tegas.

__ADS_1


Membuat Wicaksana semakin meradang. Wicaksana hendak melampiaskan kekesalannya lagi namun pengacara terpercaya Guntur segera mendekat.


"Anda akan dikenakan pasal penganiayaan dan sanksi jika berani membuat klien saya terancam." Ucap pengacara tersebut bernada ancaman membuat Wicaksana mengurungkan niatnya untuk meraih kerah kemeja Guntur kembali.


Guntur sendiri hanya tersenyum mengejek dengan seringainya.


"Kau... kau... anak tak tahu diuntung." Umpat Wicaksana.


"Kami malah setuju jika perusahaan dikelola sepenuhnya oleh putra anda pak Guntur." Ucap salah seorang pemegang saham.


"Ya, itu benar. Skandal yang terjadi pada putri anda sungguh sangat mencoreng nama kami sebagai penanam saham disini." Ucap yang lain.


"Saya juga setuju."


"Kalau sampai kembali pada anda, saya akan kembali menarik saham ku." Jawab yang lain lagi.


Yang lainnya ikut menimpali mengiyakan pendapat mereka satu persatu. Wicaksana semakin terlihat marah dengan tangan mengepal erat yang tak bisa dilampiaskannya. Dia pun akhirnya meninggalkan ruang meeting dengan masih diselimuti amarah yang menyelimuti dirinya.


***


Kini keduanya sedang duduk di meja cafe dekat perusahaan.


"Ayah yang bilang kalau aku boleh melakukannya." Jawab Raka tenang sambil menyeruput kopi yang dipesannya tadi.


"Baguslah! Ayah bangga padamu. Tuan besar sudah terlalu kejam pada anak dan mantan istrinya. Dia harus diberi pelajaran." Jawab Arman juga ikut menyeruput kopinya.


"Ayah tidak marah?" Arman tersenyum miris.


"Sudah sejak dulu tuan besar sudah melakukan kesalahan di batas wajar. Aku sudah lama ingin menghentikannya namun tuan besar terlalu keras kepala dan serakah. Syukurlah sekarang putranya yang justru menghentikannya." Arman tersenyum.


"Setelah ini ayah harus menganggur." Ucap Raka menatap ayahnya penuh rasa bersalah.


"Kau tak mau terbebani ayahmu ini?" Tanya Arman tersenyum menggoda.


"Bukan seperti itu ayah."


"Ayah sudah tua. Sudah seharusnya ayah pensiun dan menikmati gaji ayah saat masih bekerja." Jawab Arman tertawa getir.

__ADS_1


Dia sedih karena bangkrutnya tuan besarnya, dia juga bahagia karena tuan besarnya akan mengakhiri kekejamannya terutama pada mantan istri dan putra satu-satunya.


Arman sedih melihat orang yang pernah merajai di hatinya menderita. Misal dulu dia punya kekuatan, dia pasti tak akan membiarkan tuan besarnya merebut cinta pertamanya.


"Maafkan aku ayah." Ucap Raka menyesal, dia menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Tidak. Aku hanya ingin menasehatimu. Kau harus setia pada tuanmu sekarang. Kau harus rela mengorbankan nyawamu kalau perlu. Nasehati dia jika melakukan kesalahan yang sudah dibatas normal." Nasehat Arman.


"Aku akan mengikuti apa yang ayah sarankan." Jawab Raka.


***


Guntur tersenyum lebar di ruang kerjanya. Setelah diputuskan dirinya pemilik tunggal perusahaan tersebut, dia segera berlari menuju rumah sederhana ibunya.


"Ibu...ibu..." Seru Guntur memasuki rumah ibunya dengan langkah berlari-lari kecil dengan senyum terus menghiasi bibirnya.


"Ada apa nak?" Jawab ibu Kim, ibunya Guntur melihat putranya bahagia.


"Ibu aku sudah mendapatkan semuanya. Sekarang kita tidak perlu cemas jika pria tua itu menghentikan pengobatan ibu." Jelas Guntur memeluk ibunya bahagia.


"Apa... maksudmu?" Tanya ibu Kim sedikit cemas.


"Eh itu ... Maksudku... Aku akan melamarnya ibu. Aku akan menikahinya dan menjadikannya milikku satu-satunya." Jelas Guntur mengalihkan pembicaraannya.


"Oh ya, baguslah. Bagaimana dengan pertunanganmu?" Guntur terdiam namun senyumnya kembali melebar.


"Aku akan membatalkannya. Aku tidak mencintainya ibu. Aku tak mungkin menikah dengan gadis yang tidak kucintai. Aku hanya akan menikah dengannya ibu. Dialah gadis yang membuatku bergetar selama ini ibu." Cerita Guntur antusias sambil memenggam erat jemari tangan ibunya tak lupa sesekali mengecupi punggung tangannya.


Ibu Kim hanya tersenyum bahagia melihat kebahagiaan terpancar di mata putranya.


"Bahagiakan dia agar selalu setia mendampingimu nak!" Saran ibu Kim.


"Iya Bu." Guntur meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya dengan manja.


Dan senyuman tak pernah luntur dari bibirnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2