
"Wah... tampan sekali mereka, eh... mereka kembar?". komentar seorang wanita saat melirik ponsel Maya yang menampilkan foto-foto si kembar keponakannya.
"Ah, maaf mbak. Saya baru saja duduk setelah menjuali.."
"Gak usah, aku gak papa kok. Santai aja May..." sahut wanita itu tersenyum tulus.
"Sekali lagi maaf mbak..." jawab Maya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal merasa tak enak hati.
"Siapa mereka?" wanita itu tak menggubris ucapan maaf Maya, malah menanyakan perihal foto bayi kembar di ponsel Maya.
"Ya? Oh... mereka keponakan yang baru lahir mbak, dua bulan lalu." jawab Maya antusias bercerita dan paham arti tatapan mata bosnya yang menatap ponselnya yang digenggamnya.
"Mereka sangat tampan." jawab bos Maya, seorang wanita muda yang masih cantik tampak menawan dan elegan.
"Mbak Jesslin bisa aja." jawab Maya malu-malu yang sebenarnya bangga karena bayi kembar itu sungguh mirip seseorang. Maya selalu menatapnya bayi tampan itu.
"Jadi kemarin kamu cuti mau membantu mengurus bayi kembar itu?" tanya bos Maya yang dipanggil mbak itu.
Itupun Jeslin yang memintanya untuk memanggil seperti itu karena Maya selalu memanggilnya Miss, dan Jeslin tak mau dipanggil seformal itu.
"Iya mbak, ibu mereka sempat koma selama sebulan." jawab Maya dengan tatapan sedih.
"Dan sekarang? Apa sudah sembuh kau tinggal kerja lagi?" tanya Jeslin sambil melihat catatan buku toko bunganya mengecek pekerjaan.
"Ada pengasuh juga mbak, saya gak enak mau cuti terus, apalagi mbak Jeslin tak mengizinkan saya berhenti kerja saja." jawab Maya.
"Aku tak mau mengganti dengan orang baru, harus mulai awal lagi. Makanya mending kamu cuti bisa bekerja kembali sewaktu-waktu. Jadi aku tak mau mencari orang baru." jawab Jeslin tersenyum ramah.
"Terima kasih mbak masih mempertahankan saya." ucap Maya tulus.
"Boleh saya lihat foto mereka?" pinta Jeslin memohon.
"Oh tentu mbak." Maya menyodorkan ponselnya yang berisi foto bayi kembar tampan yang sudah mulai tengkurap.
"Tampan sekali, ada dua kali. Lucu sekali." komentar Jeslin membuat Maya tersenyum bangga.
"Mau deh satu saja yang seperti ini." pinta Jeslin.
__ADS_1
"Maaf mbak kalau boleh tanya?" Jeslin langsung mendongak menatap Maya.
"Ya?"
"Mbak sudah punya seorang putri kan? Cantik juga? Kan bisa nambah lagi." celetuk Maya tersenyum ragu.
Wajah sumringah Jeslin berganti muram, Maya yang merasakan hawa yang berganti suram.
"Maaf mbak, maaf. Saya lancang." ucap Maya lagi menunduk lesu.
"Gak Maya, bukan begitu. Aku memang sudah memiliki seorang putri... tapi... setelah melahirkan, rahimku diangkat. Jadi, aku sudah tak bisa mempunyai anak lagi. Padahal suamiku sangat menginginkan anak laki-laki untuk penerus keluarganya." Maya terdiam mendengar ucapan bosnya itu.
Ternyata tak semua orang kaya yang bergelimang harta tak akan punya masalah seperti dirinya karena keterbatasan ekonomi. Meski harta bukan masalah untuk orang kaya, tapi masalah lain bisa menjadi orang kaya tak bahagia.
"Saya... saya turut bersedih mbak." ucap Maya menunduk merasa bersalah.
"Gak papa May, makasih ya, entah kenapa perasaan saya sedikit lega bisa bercerita padamu." ucap Jeslin tersenyum ramah.
"Sama-sama mbak."
"Oh ya, kapan-kapan bolehkah aku menjenguknya?" tanya Jeslin.
"Makasih." ucap Jeslin menatap lagi foto bayi kembar laki-laki yang tampan itu seolah mengingatkan pada sosok orang yang dikenalnya.
***
"May..." panggil Karina malam itu saat dia tengah menyusui bayinya.
"Iya mbak." jawab Maya yang sedang menimang bayi kembar satunya lagi yang tidak disusui.
"Aku... aku melihatnya, saat tertidur." bisik Karina namun masih didengar Maya.
"Siapa maksud mbak?" tanya Maya menatap Karina sambil memangku bayi yang dengan tenang bermain sesuatu.
"Suamiku." Maya terdiam, menatap Karina lekat.
Karina pun juga menatap Maya sebelum akhirnya memalingkan tatapan menatap ke arah lain.
__ADS_1
"Dia sakit. Dia terbaring di ranjang di sebuah kamar di rumah sakit. Dengan alat-alat kesehatan yang menunjang kehidupannya. Saat itu aku mencoba menyentuhnya tapi tak bisa. Berkali-kali aku mencoba lagi dan lagi. Tapi tetap tak bisa. Aku sempat frustasi dan akhirnya aku berteriak memanggilnya. Hingga akhirnya aku tersadar dari tidur panjangku." jelas Karina membuat Maya bingung mau menjawab apa.
"Mungkin karena mbak merindukannya karena melahirkan anak-anaknya. Dan rasa bersalah juga karena tak bisa memberi tahunya tentang kenyataan ini." jawab Maya tersenyum, sambil mengelus bahu Karina.
"Tapi May, bukannya dia seharusnya bahagia dan menikah dengan perjodohan orang tuanya? Bukannya dia sudah berumah tangga dan memiliki anak-anak yang lucu dengan istrinya yang baru?" tanya Karina.
"Entahlah mbak, berdoa saja semoga mimpi mbak cuma bunga tidur. Dan kenyataannya dia bahagia sekarang." hibur Karina.
"Kuharap juga begitu May..." jawab Karina meski masih ada yang mengganjal dalam benaknya.
"Lalu mbak?" tanya Maya ragu...
"Lalu apa May?" tanya Karina.
"Bagaimana dengan mas Bram?" tanya Maya." Saya bukan menjodohkan dengan mas Bram, semua tetap kembali pada keputusan mbak Karin. Tapi, apa yang akan mbak lakukan pada mas Bram setelah pengorbanannya selama ini." wajah Karina langsung muram, sorot matanya mengatakan dia ingin melupakan Bram untuk sebentar saja.
Namun pengorbanan Bram dan perjuangannya selama ini membuat Karina tak enak hati. Hatinya masih terpaut dengan ayah bayi kembarnya. Dia hanya menganggap Bram tak lebih sebagai seorang kakak yang dengan sigap membantu adiknya.
Namun Karina tak mungkin mengabaikan perasaan Bram yang ditunjukkannya, bahkan sudah berkali-kali pria itu melamarnya. Pasti selalu saja ada hambatan saat dirinya ingin menjawab lamarannya. Tapi setelah sampai sejauh ini Karina akan sangat merasa bersalah jika masih tega menolak lamarannya kali ini.
"Mbak..."
"Mbak..." Maya berkali-kali memanggil Karina yang tengah melamun, padahal si kembar yang disusui sudah tertidur dan pu*ting yang disesap bayi itu telah dilepas sejak tadi.
"Eh iya May..." Karina tersentak dari lamunannya saat Maya menepuk bahunya.
"Ada mas Bram di depan." Karina langsung melotot.
"Yang bener kamu May?" tanya Karina tak percaya, orang yang dilamunkan tiba-tiba muncul. Karina bingung apa yang harus dilakukannya.
"Anak-anak biar aku yang jaga dengan pengasuh mbak. Pergilah! Beri kesempatan padanya mbak." semangat Maya.
"Ya, May..."teriak Karina melihat Maya tertawa.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1
Beri like, rate dan vote nya makasih 🙏