
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Jo sore itu setelah menghadiri jadwal meetingnya.
Jo terlihat tenang menunggu hasil kerja orang-orangnya.
"Semua sesuai perintah anda tuan." Jawab Rian sopan.
"Kerja bagus." Jo tersenyum senang karena rencananya berjalan sempurna.
Orang-orang itu memang pantas mendapatkan apa yang sudah mereka lakukan. Jo menyuruh orang-orangnya untuk mencari kelemahan fatal pada gadis yang terkenal pendiam dan lemah lembut itu. Dia sudah berkali-kali menyakiti putrinya. Bahkan hampir saja membangkitkan traumatik pada putrinya setelah sekian lama.
"Apa putriku baik-baik saja?" Tanya Jo lagi.
"Nona baik-baik saja tuan, dia tidak curiga sejauh ini." Jelas Rian.
"Jangan sampai putriku mengetahuinya! Tapi... aku bisa mengatakan kalau itu kulakukan untuknya." Jo tampak berpikir.
Dia tak mau putrinya itu berpikir kalau dia seorang yang kejam. Masih banyak orang yang lebih kejam di luar sana. Dia hanya berusaha melindungi orang-orang tersayangnya. Dia tak mau kejadian dulu terjadi lagi hingga membuat putrinya tak berani keluar rumah hingga sebulan lamanya karena takut bertemu orang asing.
Dia ingin semua anak-anaknya bisa bergaul sebagai mana mestinya anak-anak normal lainnya meski keluarganya memang bukan orang biasa saja.
"Mereka perlu mendapatkan pembalasan yang setimpal. Agar mereka tak lagi main-main dengan keluarga kami." Ucap Jo tersenyum senang. Rian ikut tersenyum menatap tuannya.
***
"Kau sudah mengatasi para pemegang saham?" Tanya Wicaksana cemas melihat para pemegang saham satu persatu hendak menarik saham mereka dari kerjasama karena kasus skandal putrinya.
"Semua sudah diselesaikan tuan muda tuan." Jawab Raka yang saat itu mendapat panggilan untuk menemui tuan besarnya.
"Bagus. Dia memang bisa diandalkan." Jawab Wicaksana tersenyum senang.
Ponselnya dimatikan untuk menghindari panggilan telepon dari para pemegang saham.
"Baiklah. Kau boleh kembali!" Ucap Wicaksana yang langsung diangguki sopan oleh Raka dan berlalu meninggalkan ruang kerja tuan besarnya.
"Kau melakukannya dengan baik, son." Ucap Arman saat melihat Raka keluar dari ruang kerja majikannya.
Raka menatap pria paruh baya di depannya itu.
"Sampai kapan kita akan setia pada tuan besar ayah?" Tanya Raka menatap asisten tuan besarnya yang adalah ayah kandungnya.
"Tuan besar sangat berjasa pada keluarga kita nak, kita harus selalu mendukungnya." Jawab Arman sambil menghela nafas panjang.
"Meski perbuatannya itu buruk?" Tanya Raka lagi. Arman terdiam dan menatap putranya lagi.
"Itu hanya ayah yang perlu melakukannya. Kau... terserah kau akan melakukannya atau tidak. Kau punya kebebasan untuk tidak melakukannya." Jawab Arman tersenyum membuat Raka menatap tak percaya.
"Apa itu artinya termasuk bermusuhan dengan tuan besar dan ayah?" Tanya Raka lagi.
__ADS_1
"Jika yang dilakukan ayah salah, kau boleh melawanku." Arman langsung masuk ke dalam ruang kerja Wicaksana tanpa menunggu lagi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin diajukan lagi oleh putranya.
Dia sudah terikat sumpah dengan tuan besar Wicaksana saat istrinya sedang sekarat saat melahirkan putra semata wayangnya itu. Kalau saja saat itu tidak Wicaksana, mungkin dia harus kehilangan keduanya, istri dan putranya.
***
"Kita kemana lagi nona?" Tanya Zian pada Anin yang terlihat melamun di kursi penumpang sebelah kemudi.
Namun Anin tetap saja terdiam sambil menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Zian terdiam lagi, sudah hampir satu jam dia mengelilingi kota karena tuan putrinya belum menjawab apa yang ditanyakannya. Saat dia menghentikan mobilnya tadi, tuan putrinya langsung menyuruhnya terus jalan. Dan Zian bingung harus kemana.
"Nona .." Panggil Zian lagi.
"Nona Anin..." Panggil Zian tetap tak dijawab Anin. Anin masih sibuk melamun.
Zian terpaksa menyentuh bahu nonanya dengan lembut.
"Nona." Sontak membuat Anin menoleh menatap Zian.
"Ya?" Jawab Anin tak merasa bersalah.
"Kita akan kemana lagi?" Tanya Zian.
"Ah, kita sampai mana?" Jawab Anin balik bertanya membuat Zian menghela nafas berat.
"Apa nona ingin makan sesuatu dulu?" Saran Zian, karena sejak tadi siang nonanya belum terlihat makan apapun.
"Entahlah, aku sedang tidak berselera makan." Jawab Anin malas, dia memilih untuk memejamkan mata dan bersandar di dalam mobil.
"Nona sejak siang tadi belum terlihat makan sesuatu. Bagaimana kalau nona sakit? Bagaimana kalau kita pulang saja dan makan di rumah?" Saran Zian lagi seperti mencemaskan adiknya yang sulit makan.
"Kau ini cerewet sekali sih." Kesal Anin semakin memejamkan mata.
Entahlah, sejak kejadian beberapa hari lalu saat di kampus. Anin menjadi canggung dan sedikit gugup saat menatap wajah Zian. Saat Zian menolongnya bagai seorang pahlawan dari siraman air kotor itu. Namun sepertinya hanya dirinya yang terlihat gugup dan canggung.
Dan Zian, jangan ditanya, dia tetap menunjukkan wajah dingin dan datarnya. Zian pun memilih diam juga di tempat itu. Membuat Anin membuka matanya karena tak merasakan pergerakan di sampingnya.
"Ada apa?" Tanya Anin menegakkan punggungnya menatap Zian sambil melihat arah lain.
"Saya menunggu perintah anda nona?" Jawab Zian membuat Anin melongo.
Jadi, sejak tadi terdiam karena dia sendiri tak tahu harus kemana? Batin Anin.
"Kita... ke cafe xxx!" Putus Anin akhirnya setelah lama berpikir dan menimbang-nimbang.
"Baik nona." Zian langsung tancap gas menuju tempat tujuan.
**
__ADS_1
Tak sampai setengah jam, mobil sudah sampai. Dan Anin langsung turun tanpa menunggu pintu dibukakan oleh Zian. Zian bergegas mengikuti langkah tuan putrinya.
"Nindi." Panggil seseorang saat Anin hendak masuk ke dalam cafe.
"Kak Dimas." Guman Anin tak suka.
Dimas mendekat setelah yakin yang dilihatnya adalah Anin.
"Kau dengar siapa?" Tanya Dimas sambil melirik Zian yang berdiri di belakang tubuh Anin dengan tegak, menatapnya menilai.
"Kau ganti pacar? Dimana pria yang mengaku pacarmu waktu itu? Tunggu! Atau kau berbohong padaku saat itu?" Tanya Dimas tersenyum menggoda.
"Itu bukan urusan kakak." Anin segera mencari jalan lain di sebelah Dimas dan hendak masuk ke dalam cafe namun dihadang lagi oleh Dimas.
"Kau tahu bagaimana perasaanku bukan? Aku masih tetap tak menyerah meski kau sudah punya pacar." Ucap Dimas lagi tersenyum menggoda sambil mendekati tubuh Anin yang terpaksa mundur ke belakang hingga membentur tubuh Zian yang sejak tadi menatap tajam penuh emosi pada Dimas.
Saat Zian hendak maju untuk membela tuan putrinya, Anin mencegahnya.
"Tapi aku tetap tak bisa membalas perasaan kakak." Jawab Anin tegas menatap tajam wajah Dimas.
Dimas malah tertawa mendengar gertakan Anin.
"Kau semakin cantik saja kalau marah." Goda Dimas tersenyum menggoda.
"Jaga bicara anda!" Bukan Anin yang menjawab, Zian yang memaksa berdiri di depan Anin karena ucapan Dimas yang semakin menyebalkan didengar Zian.
"Hei, siapa kau? Pacar barunya? Huh?" Tanya Dimas menunjuk-nunjuk dada Zian yang ditatap Xian tajam saat dadanya ditunjuk-tunjuk oleh Dimas sambil tertawa dengan nada mengejek.
"Saya peringatkan anda sekali lagi. Jaga bicara anda!" Ucap Zian lagi dengan nada dingin.
Anin memejamkan matanya jengah, melihat keduanya, Anin yakin sebentar lagi akan ada saling adu hantam.
"Zian, kita duduk saja, jangan pedulikan dia!" Saran Anin bicara pada Zian namun segera Dimas tidak terima karena diacuhkan Anin.
"Kita duduk bersama saja bagaimana, sayang?" Goda Dimas menatap Anin lalu beralih menatap Zian untuk melihat apa hubungan keduanya.
Zian meraih kerah baju Dimas yang semakin terlihat berani dan menunjukkan wajah menantangnya padanya. Anin segera memegangi tangan Zian mencegah untuk tidak emosi.
"Zian, cukup! Lepaskan!" Zian tetap tak melepaskannya.
"Ini perintah!" Anin menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
Zian menatap Anin spontan melepas cekalan kerahnya. Entah kenapa dia sungguh tak suka mendengar Anin mencegah dirinya untuk memberi pelajaran pada pria kurang ajar di dekatnya ini. Sejak dulu dia sudah curiga pada pria ini yang berpura-pura menjadi kekasih sahabat nonanya.
Dimas semakin tertawa mengejek menatap Zian yang terpaksa menahan diri. Tangannya sudah terkepal menahan untuk tidak memukul wajah Dimas. Wajahnya yang tadinya memerah karena emosi harus dikendalikannya.
TBC
__ADS_1