
"Ma, kok papi gak pulang ya?" tanya Anin saat Karina sedang menyuapi si kembar.
Karina langsung menoleh menatap Anin yang menunggu jawabannya penuh harap.
"Papi? Maksud Anin?" meski sebenarnya Karina paham maksud Anin siapa, Karina mencoba bertanya apa sama dengan yang dipikirkannya.
"Iya ma, papi Jo, katanya dia mau pulang kalau mama yang nyuruh papi pulang." jelas Anin polos.
"Anin ketemu sama papi dimana?" Karina tidak tahu kalau Anin sudah bertemu Jo pagi-pagi saat dirinya kabur dengan si kembar. Dan Maya tak menceritakan apapun.
"Waktu itu ma, pagi-pagi saat mama pergi sama adik-adik dan bi Ijah." ucap Anin dengan jelasnya.
"Oh ya, kok mbak Maya gak cerita ya?" tanya Karina lagi belum memberikan jawaban yang pasti.
"May..." seru Karina saat melihat Maya melintasi kamar si kembar.
"Ya mbak?" Maya menoleh menatap Karina.
"Amin ketemu Jo?" tanya Karina, dan sontak menepuk jidatnya teringat sesuatu.
"Aku lupa bilang mbak. Mbak sibuk sih."Maya mendekati Karina dan menceritakan semuanya yang didengarnya saat itu tanpa kurang satu apapun.
Karina hanya mengangguk-angguk mengiyakan cerita Maya.
"Saat itu sebelum dia pergi dia hanya berpesan untuk menjaga mbak."
"Dia belum begitu sama kamu?" Maya mengangguk.
"Aku titip anak-anak ya May?" Karina langsung ke kamar, mengambil jaket, ponsel dan dompetnya.
Karina menghubungi ponsel Jonathan namun tak segera diangkat. Dia kembali menghubungi Rian, asisten pribadinya. Untungnya dia diberi kartu namanya saat Farida meminta bertemu untuk terakhir kalinya dengannya.
Dalam percakapan ponsel :
Rian :"Halo.."
Karina :"Dimana Jo?" tanya Karina langsung, Rian melihat layar ponselnya kembali.
Rian :"Siapa?"
Karina : Karina tampak menghela nafas, dia memberhentikan sebuah taxi yang lewat. "Aku Karina. Dimana Jo?" Rian mengernyit di seberang telpon.
Rian :"Dia di kantor. Di ruangannya." Karina langsung menutup ponselnya tanpa permisi.
***
Karina berdiri di depan kantor tempatnya bekerja dulu. Masih tetap sama, tak ada yang berubah. Dia harus menemui Jo.
"Mbak Karin?" sapa seorang resepsionis saat Karina memasuki gedung kantor.
__ADS_1
Karina menoleh merasa ada yang memanggilnya.
"Ira." sapa balik Karina.
"Mbak Karin apa kabar? Sekarang sudah beda ya, tambah cantik aja." ucap petugas resepsionis bernama Seira Kinanti. Yang lebih suka dipanggil Ira.
"Terima kasih. Oh ya, pak Jonathan ada?"
"Eh, buat apa mbak nyari bos yang galak itu." bisik Ira sambil menoleh ke kanan dan ke kiri takut ada yang mendengar suaranya.
"Galak? Bukannya sejak dulu sudah galak?" Karina tersenyum.
"Dulu gak galak-galak amat mbak, tapi setelah dia bangun dari koma jadi tambah galak." senyum Karina langsung luntur.
"Koma?"
"Iya mbak, bos Jo pernah koma karena kecelakaan di depan bandara karena mencari entah istri atau kekasihnya, entahlah." jelas Ira membuat Karina semakin penasaran.
"Kapan itu?"
"Ehm... sekitar enam atau tujuh bulan lalu kalau gak salah."
"Tapi dia ada di ruangannya kan?" tanya Karina lagi.
"Langsung kesana saja mbak? Ada urusan apa mbak sama bos Jo?"
"Ada deh." Karina pun pergi menuju lift untuk menemui Jo di ruangannya.
***
Jo yang sedang sibuk dengan laptopnya tak memperhatikan siapa yang masuk ruangannya.
"Apa aku mengganggumu?" suara yang dikenal Jo langsung membuatnya menoleh menatap Karina. Jo langsung berdiri menatap Karina.
**
"Minumlah!" Jo memberikan secangkir teh hangat untuk Karina setelah menyuruhnya duduk di sofa ruang kerjanya.
"Terima kasih." keduanya terdiam canggung, Karina menyeruput teh nya sedikit dan meletakkan kembali ke tempatnya.
"Jo.."
"Aku.."
Suara mereka keluar bersamaan dan saling menatap.
"Apa kau ingin minta perceraian dariku?" Jo memulai pembicaraan, membuat Karina tersentak menatap Jo lekat. Jo malah membuang pandangannya ke arah lain.
"A... apa maksudmu?" jawab Karina gugup, dia masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
__ADS_1
"Bram sudah kemari memintaku untuk menceraikanmu agar pernikahan kalian bisa dilaksanakan." meski dadanya berdenyut nyeri Jo tetap mengatakan meski harus menahan rasa sakitnya.
"Apa akhirnya kau akan menyerah tentang kita?" tanya Karina merasakan juga ulu hatinya sakit. Sangat sakit sekali.
"Maaf... lebih baik aku mundur. Aku doakan semoga kau bahagia dengan..."
"Cukup!" Karina menyela ucapan Jo. Jo terdiam.
"Kukira saat kau mengatakan mencintaiku itu adalah benar. Kukira saat kau tak bisa hidup tanpa diriku itu juga adalah benar. Kukira saat aku melihatmu terbaring di ranjang rumah sakit dalam mimpiku itu adalah benar. Dan sekarang aku tahu... aku tak lebih berharga dari sebuah barang yang bisa diambil dan dibuang sembarangan." Karina tertawa getir mengalihkan pandangan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Jo terdiam tak mampu bicara. Meski dirinya bertanya-tanya bagaimana Karina tahu saat dirinya koma dulu.
"Maaf..." jawaban singkat Jo membuat Karina lemas.
Percuma berjuang sendiri kalau yang diperjuangkan sudah menyerah.
"Kurasa janji yang kau ucapkan pada putriku semuanya hanya untuk membuat putriku tenangkah?" tanya Karina yang tak meminta jawaban.
"Maaf..." Jo tetap menundukkan kepalanya.
"Apa kau mencintaiku?" Jo mendongak menatap Karina.
Dia tak memungkiri jika masih sangat mencintai Karina. Dadanya yang selalu berdebar-debar tak karuan jika sedang bersamanya tak bisa ditolak kalau dirinya memang tak bisa hidup tanpa wanita pertamanya ini dan mungkin menjadi wanita terakhirnya juga.
"Entahlah..." Karina mengaga tak percaya, semudah itukah cinta dilupakan. Dia mengusap air matanya yang menetes, sebelum Jo melihatnya.
"Baiklah. Aku hanya ingin mengatakan, kau pun berhak tahu yang sebenarnya. Aku akan menunggumu di apartemen mas Bram setelah pulang kerja janti. Dan setelah itu, kita akan saling mengikhlaskan cinta kita." Jo mendongak menatap Karina lekat.
Ingin dia mengatakan bahwa dia sangat mencintainya namun dia takut goyah. Asalkan wanita yang dicintainya bahagia, Jo pasti akan bahagia juga. Bahagia? Benarkah? Jo terlihat tersenyum getir.
"Maaf..."
"Aku pergi. Kuharap setelah ini, Kau tak akan menyesali keputusanmu." Karina meninggalkan ruangan Jonathan dengan hati yang sakit.
Sangat sangat sakit. Air matanya terus mengalir dengan sendirinya meski sudah diusapnya berkali-kali. Jo menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tangisan terdengar di ruangan yang kedap suara itu.
***
"Mbak kenapa?" tanya Maya melihat Karina datang dengan muka sembab dan wajah yang kusut.
"Aku mau tidur sebentar May." Karina langsung menuju ke kamarnya dan menjatuhkan dirinya di ranjang dan melanjutkan tangisannya yang teredam di bantalnya. Maya hanya bisa diam.
TBC
Bonus ...
Tinggalkan jejaknya ya untuk bonusnya..
Beri like, rate dan vote nya...
__ADS_1
Makasih 🙏🙏