
Karina sampai di rumah pukul sembilan malam. Putrinya tumben sekali sudah tidur jam segini. Hanya Maya yang terlihat menyambutnya tapi tak digubris olehnya. Karina juga tak bertanya tentang kegiatan putrinya hari ini, seperti kemarin-kemarin sebelumnya.
Dia langsung masuk ke kamarnya, pertanyaan tentang makan malam tak dijawab. Hatinya sedang tak mau apapun sekarang. Dia butuh waktu sendiri untuk menata hatinya yang sudah hancur berantakan. Tatapan kosong terpancar di mata Karina. Maya sempat terheran dan bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang sedang terjadi dengan majikannya ini.
"Nyonya mau makan malam apa?" tanya Maya memecah keheningan malam saat Karina turun untuk mengambil air minum setelah selesai mandi di dapur.
Karina hanya menggeleng langsung meneguk air putih yang sudah dituangkan ke dalam gelas itu. Dia kembali ke kamarnya yang kosong. Entah siapa yang ditunggunya malah membuat hati Karina semakin merasakan sakit dan getir di ulu hatinya. Karina merebahkan tubuhnya di ranjang king size nya.
Setelah pernikahan keduanya, Jonathan mengganti ranjang di kamar Karina karena mengeluh kesakitan saat tidur karena terlalu sempit ranjangnya. Padahal itu hanya alasan Jonathan untuk tidak mencumbui istrinya di bekas ranjang istrinya dengan suami pertamanya.
Lagi-lagi Karina hanya menurut tak banyak protes. Toh, suaminya Keanu tak akan pulang lagi karena menemani istrinya yang sedang hamil.
Mata Karina perlahan terpejam, bukan tidur, tapi isakan tangisnya terdengar lagi begitu menyayat hati. Maya yang hendak mengetuk pintu kamar majikannya itu memberitahukan kalau dirinya besok mau cuti diurungkannya. Entah kenapa dia merasa kasihan pada majikan barunya itu.
**
"Selamat malam ma, pa." sapa Jonathan saat tiba di rumah orang tua malam itu.
Saat Jonathan ingin membututi istrinya tadi, deringan ponselnya terdengar. Mamanya menghubunginya dan Jonathan tahu dirinya tak bisa menolak panggilan ponselnya jika itu dari sang mama. Sesibuk dan serepot apapun dirinya pasti akan menerima panggilan sang mama.
__ADS_1
Terpaksa dirinya menerima undangan makan malam orang tuanya karena ada hal penting yang mau dibahas. Terpaksa Jonathan merelakan kepergian istrinya dengan suami pertamanya yang entah akan membahas apa.
"Malam sayang." jawab mama Jonathan balas memeluk dan mengecup pipi putra tersayangnya itu.
Papanya hanya diam tak menjawab salam putranya namun tak menolak salaman tangan Jonathan yang juga mengecup punggung tangannya.
Jonathan duduk di kursi makan yang biasa didudukinya.
"Tunggu tamu kita datang dulu ya nak? Baru kita makan bersama." hibur mama Jonathan tersenyum manis menatap putranya.
Perasaan tak enak Jonathan akhirnya terjawab sudah, ternyata bertemu dengan kedua orang tua tunangannya inilah yang membuat sang mama yang mengundangnya makan malam ke rumah. Padahal mamanya tadi bilang merindukan putranya ini sehingga memintanya untuk pulang sebentar.
Makan malam selesai, semua berkumpul di ruang keluarga, Jonathan yang hendak pamit ditahan sang mama untuk sebentar saja ikut bergabung karena papanya mengancam sang mama akan mengirim putranya kembali ke luar negeri. Dan sang mama tak mau lagi terpisah dengan putra kesayangannya.
Jonathan sibuk dengan ponselnya sementara para orang tua ngobrol kesana-kemari bicara tentang bisnis. Jonathan tampak tak tertarik sama sekali. Jane mencoba mengajak ngobrol Jonathan meski hanya ditanggapi dengan dingin.
"Oh ya Jo, rencana kami hari ini akan mempercepat pernikahanmu dengan Jane dua minggu lagi." suara sang papa membuat Jonathan tersentak.
Dia tak mampu mengiyakan atau menolaknya namun perubahan mimik wajahnya membuat sang mama tampak cemas. Akhir-akhir ini Jonathan tampak bahagia dan berubah sedikit ceria. Entah karena apa, mamanya hanya menebak mungkin karena pertunangan mereka.
__ADS_1
Namun raut wajah Jonathan sekarang memberikan penilaian lain kebahagiaan Jonathan. Dan sang mama menyadari hal itu. Begitu juga Jane juga melihat raut wajah tak suka calon suaminya. Namun Jane mencoba menepis perasaannya. Mungkin calon suaminya belum siap menikah. Dan Jane akan membuatnya tergila-gila padanya sebelum pernikahan dilangsungkan.
"Aku pamit pulang. Masih ada banyak hal yang harus kuselesaikan." pamit Jonathan setelah papanya mengutarakan niatnya.
Tanpa mengurangi sopan santun, Jonathan meninggalkan rumah orang tuanya. Wajah kecewanya masih tergambar jelas di wajahnya. Hanya sang mama yang menyadari hal itu. Jonathan pandai menyembunyikan ekspresi wajahnya. Meski sang mama tak bisa tertipu.
**
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Jonathan lebih memilih untuk pulang ke apartemennya. Dia masih belum bisa mengendalikan kekecewaan dan kemarahannya pasca berita sang papa dan melihat istrinya yang bertemu dengan suami pertamanya.
Direbahkan tubuhnya di ranjang kamar apartemennya yang sudah lama tak disinggahinya meski layanan kamar tetap membersihkan beberapa hari sekali sesuai intruksi Jonathan setelah dirinya baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya.
Namun sampai lebih dari setengah jam, matanya enggan tertutup. Dia merindukan tubuh istrinya yang setiap malam didekapnya, namun kecemburuan menutup hatinya untuk tidak mendekati istrinya itu dulu. Karena dirinya tak akan mampu mengendalikan kecemburuannya pada istrinya nanti.
Ya, Jonathan sangat marah, dan kemarahannya itu pasti akan menyakiti istrinya jika dia tak segera mengendalikannya apalagi siang tadi dia sudah mengecewakan istrinya juga.
"Ah, sial..." umpat Jonathan beranjak dari ranjang mendekati balkon kamar tidurnya menatap keluar, memandang gedung-gedung pencakar langit yang berdiri megah di depannya dengan lampu kerlap kerlip malam yang sedikit membuat hati Jonathan sedikit tenang.
TBC
__ADS_1