Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 19


__ADS_3

"Daddy..." panggil Anin ragu duduk agak jauh dari Jo yang sedang sibuk dengan laptop kerjanya duduk di sofa ruang keluarga.


"Yes, princess Daddy. Kemarilah!" Jo mendongak sebentar mendengar suara putri sambungnya.


Anin tersenyum senang melihat Daddy nya sudah bersikap seperti biasanya padanya. Anin duduk di sofa dekat Jo dimana duduk.


"Itu..." Anin menunjuk pintu depan. Jo mengikuti arah telunjuk Anin.


"Ada apa?" tanya Jo mengernyit karena tak ada apapun di tempat yang Anin tunjuk.


"Papa menunggu Daddy di gazebo untuk bicara dengan Daddy. Apa... Daddy bersedia?" tanya Anin masih agak takut-takut, daddy-nya menolak.


"Papa Anin?" Anin mengangguk antusias.


"Kenapa tak masuk ke dalam?" tanya balik Jo menutup laptopnya dan meletakkan ke meja depannya.


"Papa ingin bicara sesuatu dengan Daddy di sana saja katanya." jawab Anin. Jo menatap Anin sebentar.


"Okay." jawab Jo tersenyum. "Sekarang sudah malam, masuklah ke kamar dan tidurlah! Besok kita harus berangkat pagi." titah Jo menatap Anin lembut.


"Okay Daddy." jawab Anin tersenyum.


Jo mengusap pucuk kepala Anin sebentar yang semakin lebar saja senyum Anin.


Setelah melihat Anin masuk ke kamarnya, Jo berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit acak-acakan karena terlalu lama duduk.


"Apa maumu sekarang, kita lihat saja sekarang?" guman Jo menampilkan wajah datar dan dinginnya.


***


"Kau ingin bicara denganku?" tanya Jo saat melihat Ken berdiri membelakanginya di gazebo sebelah resort.

__ADS_1


Ken sontak menoleh menatap Jo yang sudah berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Selamat malam, maaf mengganggu waktu anda." Ucap Ken menatap Jo merasa tak enak hati, karena Jo menampilkan wajahnya yang dingin dan datar seperti dulu saat masih menjadi atasannya dulu.


"Langsung saja!" titah Jo dengan arogannya. Perdebatannya dengan Bram tadi tentang Ken tiba-tiba terbayang di benaknya karena begitu bencinya Jo pada Ken.


"Ah, aku minta maaf atas kejadian siang tadi. Bukan maksudku untuk membuatmu salah paham." Jelas Ken merasa bersalah, dia terlihat kikuk di hadapan Jo, mantan atasannya.


"Salah paham?"


"Ah, iya. Karin..." pelototan mata Jo membuat nyali Ken menciut saat menyebut mantan istrinya itu. " Maksudku mama Anin sudah tak mengizinkanku masuk karena suaminya tak ada di tempat. Jadi dia tak menyuruhku untuk menunggu Anin di sini. Jadi, tadi aku..."


"Cukup!" potong Jo karena dirinya tak mau mengingat-ingat hal itu lagi.


Mengingat itu membuatnya merasa bersalah telah berlaku kasar pada istri tercintanya. Dan Jo sangat menyesali hal itu. Dia mengutuk dirinya sendiri karena perlakuan kasarnya seperti orang yang kesurupan setan. Dan Jo benci seperti.


"Eh, saya hanya ingin menjelaskan."


"Istri dan putriku.. ehm.. maksudku Anin sudah menjelaskan semuanya. Apa kau memanggilku hanya untuk bicara hal ini?"


"Katakan!"


"Say ingin merawat Anin." mata Jo membelalak menatap Ken jengah.


"Huh, setelah sekian lama dan sudah dewasa, kau baru ingin merawatnya. Apa kau tak salah?" sarkas Jo.


"Meskipun terlambat saya tak mau menyesal." jawab Ken yakin.


"Seharusnya kau tahu. Anak-anak membutuhkan orang tua lengkapnya saat mereka masih kecil untuk masa pertumbuhannya. Lalu dimana kau selama itu." wajah Ken pias mendengar penuturan telak Jo. "Dan untuk seusia Anin sekarang, dia butuh perhatian dan pengertian bukan kasih sayang lagi." Jo menatap Ken dari bawah kaki sampai atas kepala intens. "Dan aku tak yakin kau bisa memberikan itu semua, mengingat kau pernah gagal dua kali dalam membina rumah tangga. Dan aku juga tak yakin istrimu yang sekarang dapat menyayangi dengan tulus putri kandungmu." Kata Jo tajam dan dingin menatap Ken.


"Tapi aku tetap tak akan menyerah untuk mencoba merawat Anin."

__ADS_1


"Huh, mencoba. Kau kira putrimu barang cobaan. Ingat! Aku! Meski aku bukan ayah kandung Anin, aku sudah buktikan aku bisa menyayangi anak-anakku dengan sama rata. Dan tak ada keluhan dari mereka. Dan untuk Anin bukannya kau memberikan hak asuh penuh pada istriku?" ucap Jo hampir saja dia meluapkan emosinya.


"Setelah kejadian itu, aku berpikir..."


"Hei, apa maksudmu kejadian itu? Kejadian itu adalah kecelakaan. Dan Anin juga diselamatkan tepat pada waktunya. Apa maksudmu dengan kejadian itu kau mau menyalahkan istriku tak bisa mengurus anak dan kau mau ganti merawatnya begitu?" ucap Jo sarkas menunjuk-nunjuk dada Ken yang tanpa sadar terpundur beberapa langkah.


"Jangan mencoba mengekang Anin untuk melarang bersama saya!" jawab Ken yang juga terlihat mulai emosi.


"Hei, mengekang? Melarang? Apa maksud kata-katamu itu? Siapa yang melarangmu untuk menemui Anin? Siapa yang tak mengizinkanmu bersamanya? Kalau kami benar-benar melarang dan mengekang Anin, sekarang kau tak ada disini, istriku pun tak sudi memberi kabar padamu jika tak menghargaimu sebagai seorang ayah. Kau tahu, toh sekarang Anin sudah besar, sudah tujuh belas tahun. Dia sudah bisa memilih, dia ingin ikut dengan siapapun itu sudah keputusan Anin sendiri. Aku dan istriku pun tak bisa melarang jika Anin memutuskan untuk bersama keluargamu. Tapi ingat satu hal, jika aku mendengar Anin sampai kenapa-napa karena kamu atau keluarga barumu itu. Aku adalah orang yang akan maju pertama kali untuk mengambil Anin darimu. Namun aku tak akan membiarkan Anin meninggalkan keluarga kami. Ingat itu!" Jo meninggalkan Ken begitu saja.


Tanpa menunggu jawaban dari Ken. Emosinya terasa di puncak ubun-ubunnya yang siap meledak kapan saja jika dia tetap berada di situ. Jo terlihat cemas dan gelisah. Apa yang dikhawatirkan istrinya benar-benar terjadi. Ken menginginkan putrinya untuk dirawatnya.


Huh, kenapa baru sadar sekarang kalau dia punya putri? Kemana saja selama ini saat putrinya membutuhkannya. Benar-benar membuat repot saja. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Istriku adalah hidupku dan hidup istriku sebagian pada putrinya, putrinya juga putriku juga, aku tak akan membiarkan kau mengambil kebahagiaan keluarga kami terutama istriku. Batin Jo masuk ke dapur mengambil minuman dingin air dingin dari lemari es.


Dia butuh air dingin untuk mendinginkan dirinya. Bersama Ken sungguh membuatnya menguras emosi dan tenaganya. Jo duduk sambil meneguk minuman dinginnya di dalam kegelapan meja makan.


"Honey, ada apa kau di kegelapan sendiri?" Karina menghampiri suaminya yang terlihat tidak baik-baik saja. Karina menyentuh kening suaminya dengan punggung tangannya.


"Tidak panas." guman Karina, tangannya ditahan Jo tetap di keningnya untuk mencari ketenangan dalam dekapan tangan istrinya.


Karina meletakkan kepala suaminya di sisi perutnya dengan Karina berdiri miring di depan suaminya. Karina berusaha menghiburnya untuk memberikan ketenangan pada suaminya.


"Aku mencintaimu baby." bisik Jo lirih masih dalam pinggang istrinya manja.


"Aku juga mencintaimu sayang."


"Aku yang lebih mencintaimu." Jawab Jo mendongak menatap istrinya memelas.


Karina pun memutuskan untuk duduk di kursi meja makan sebelah suaminya.


"Ya, kau lah yang mencintaiku lebih banyak." jawab Karina menarik suaminya masuk ke dalam dekapannya.

__ADS_1


Jo menyerukkan wajahnya ke dada lembut istrinya tersenyum puas.


TBC


__ADS_2