Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 68


__ADS_3

Anin tersenyum bahagia saat berada di dalam kamarnya. Dia bahkan melupakan tugas kuliahnya karena sejak tadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan kejadian siang tadi. Ciuman pertamanya dari pria yang dicintainya. Saat terlintas wajah tunangan Guntur, senyum Anin tiba-tiba luntur.


Dia menghela nafas sejenak, meletakkan dagunya di meja belajarnya dengan malas. Memiringkan kepalanya hingga pipinya menempel di meja.


'Bolehkah aku berharap lebih? Apa aku salah jika menginginkan tunangan orang lain meski dia bertunangan bukan karena keinginannya? Seharusnya aku lebih cepat bertemu dengannya dan mengungkapkan perasaanku, dengan begitu kami bisa lebih cepat menjadi pasangan. Apa aku akan menjadi pelakor jika mendapatkannya? Tapi, mereka mas bertunangan belum menikah secara resmi, pasti tak apa kan?' Batin Anin berkecamuk, dia memejamkan matanya sejenak, dia tak ingin memikirkan hal yang belum pasti terjadi.


Dia lebih baik mengenang ciuman panas tadi. Anin mengusap bibirnya, berpikir kapan ciuman mereka akan terjadi lagi. Tiba-tiba wajahnya memerah merona karena pikiran mes*umnya.


"Kenapa aku jadi mes*um." Guman Anin memukul kedua pipinya untuk menyadarkan dirinya dari lamunan joroknya.


***


"Teman-teman, datang ya ke pesta ulang tahunku." Suara teriakan teman sekelasnya berdiri di depan kelas.


Anin dan Nara tak menghiraukannya, keduanya lebih fokus pada percakapan mereka saja.


"Besok malam ya jam 7 malam." Teriakkan temannya itu tetap tak dihiraukan Anin dan Nara.


Hingga undangan dibagikan oleh salah satu geng temannya yang ulang tahun.


"Nindi.." Panggil gadis yang mengumumkan ulang tahunnya tadi.


"Ya?" Tanya Anin menoleh menatap gadis yang tersenyum ramah itu.


"Ini undangan untukmu, kuharap kau bisa datang besok malam." Pinta gadis cantik itu.


Anin memang membatasi pertemanan dengan siapapun. Namun dia tak menolak berkenalan dengan seseorang, namun hanya sebatas kenal saja. Gadis itu memang tak akrab dengannya, tapi juga bukan tak kenal.


Anin membaca undangan itu dengan teliti, mengenai alamat dan tempat ulang tahun itu dirayakan. Dia tak mau tertipu lagi dengan ulang tahun yang dirayakan di klub malam.


"Aku usahakan datang ya?" Jawab Anin tersenyum ramah.


"Makasih ya Nindi, dan ini untuk Nara." Gadis itu mengulurkan undangan pada Nara juga sambil tersenyum ramah.


"Kalau nindi okay aku juga okay." Jawab Nara membuat Anin tersenyum menatap sahabatnya itu.


***


Lara tiba di gedung kantor kakaknya Guntur. Dia masuk menemui resepsionis dan bertanya ruangan kakaknya berada. Meskipun tadi sudah diberi tahu ibunya namun Lara ingin basa-basi sambil menghilangkan kegugupannya. Kakaknya yang beda ibu itu sangat dingin dan datar. Namun juga tidak jahat padanya.


Lara anak tunggal dari ayah dan ibunya. Dia mempunyai kakak laki-laki yang satu ini dengannya tapi sekarang dia tidak disini. Ayahnya mengirim kakaknya untuk mengurus usaha ayahnya di kota lain. Alhasil dirinya hanya bersama Guntur sejak kecil di rumah. Namun kakaknya itu begitu sulit didekati.

__ADS_1


Bukan sulit tapi Lara ragu untuk akrab-akraban dengan kakaknya, takut ditolak. Sehingga sejak kecil dia hanya menatap kakaknya satu ayah itu dari jauh.


"Dek Lara mau ketemu tuan Guntur?" Tanya resepsionis itu yang mengenali siapa Lara.


Karena pimpinan mereka yang terdahulu sering mengajaknya ke kantor saat masih menjabat. Sehingga para karyawan yang mengenalinya menyambutnya dengan ramah.


"I.. iya mbak." Jawab Lara mengangguk mengiyakan dengan malu-malu.


"Langsung ke lantai atas saja dek, mungkin sekarang sudah hampir jam makan siang." Saran resepsionis itu setelah menghubungi sekretaris pimpinannya.


"Terima kasih mbak." Pamit Lara menuju lift yang membawanya ke lantai atas tempat ruangan kakaknya.


***


"Waktunya makan siang tuan." Ucap Raka setelah merapikan pekerjaannya setelah meeting.


Guntur mendongak menatap Raka. Namun tatapannya tidak melihat pada Raka, entah melamunkan apa sejak tadi. Dia terlihat berkali-kali menghela nafas berat.


"Nanti saja, aku mau menyelesaikan pekerjaanku." Tolak Guntur sibuk kembali dengan berkas-berkasnya.


Sejak kemarin mood Guntur tidak begitu baik. Setelah beberapa hari yang lalu dia sempat curhat pada ibunya tentang kekasih hatinya. Singgungan tentang status pertunangannya membuat Guntur kembali kehilangan mood dan semangatnya.


'Tapi aku kan sudah lapar tuan, biarkan aku sendiri yang makan siang kalau begitu.' batin Raka menjerit yang hanya bisa diungkapkan dalam hati.


"Tuan ingin dibawakan sesuatu?" Tawar Raka sebelum meninggalkan ruangan bosnya.


"Tidak." Jawab Guntur tegas masih terus sibuk mengerjakan pekerjaannya.


Dia bahkan tak menatap Raka saat menjawab pertanyaannya.


"Saya permisi tuan." Pamit Raka dengan tergesa-gesa, dia takut bosnya berubah pikiran hingga memberikannya banyak pekerjaan lagi di saat dirinya kelaparan.


Tok tok tok


"Masuk!" Titah Guntur saat pintunya diketuk setelah tidak lama ditutup Raka.


Cklek


Pintu terbuka memunculkan sosok Lara yang membuka pintu itu.


"Kau tak makan siang? Ada perlu apa?" Tanya Guntur tanpa menoleh menatap ke arah pintu.

__ADS_1


Lara masih terdiam belum mulai berbicara. Kakaknya terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Lara sedikit ragu untuk bicara mengenai niatnya untuk datang kesitu. Guntur yang sibuk dengan berkas-berkasnya terdiam saat orang yang mengetuk pintu ruangannya tadi tak menjawab pertanyaannya.


Guntur menghentikan pekerjaannya dan mendongak menatap siapa yang diizinkannya masuk ruangannya tadi.


"Maaf mengganggu kakak." Lara menundukkan kepalanya hendak berbalik menuju pintu berniat untuk keluar ruangan itu.


Guntur menghela nafasnya sejenak.


"Ada apa?" Tanya Guntur ramah membuat Lara tersenyum karena kakaknya tidak marah dengan kedatangannya.


Lara kembali berbalik menatap kakaknya yang tetap menunjukkan wajah datarnya meski tak sedingin biasanya.


"A... aku ... ah, ini.... untuk kakak." Ucap Lara ragu dan dia pun mengulurkan undangan ulang tahunnya untuk Guntur.


Guntur menatap undangan itu, ulang tahun besok malam di rumahnya. Guntur menghela nafas panjang, dia paling malas jika harus pulang ke rumah besar itu. Apalagi jika harus bertemu dengan orang tuanya terutama ayahnya. Dia bukannya tidak mau datang tapi karena tempatnya di rumah ayahnya, entahlah...


"Akan aku usahakan. Tapi aku tidak janji akan datang." Jawab Guntur dingin meneruskan pekerjaannya.


Namun jawaban Guntur yang ambigu sudah membuat Lara tersenyum senang, kalau kakaknya bilang akan diusahakan, itu artinya dia pasti akan datang meski di detik-detik terakhir acara. Itu sudah lebih baik daripada kakaknya tidak datang sama sekali.


"Terima kasih kak." Jawab Lara tersenyum bahagia, tampak di matanya berbinar bahagia.


Dia sadar kakaknya itu semakin sibuk setelah menggantikan posisi ayahnya di perusahaan.


"Jangan terlalu berharap!" Suara terakhir kakaknya membuat senyum Lara sedikit memudar, namun dia yakin kakaknya pasti akan datang.


"Kalau begitu aku pamit dulu. Selamat siang." Guntur menghela nafas.


"Tunggu!" Lara terhenti sambil memegang hendel pintu.


"Ya?" Lara berbalik menatap Guntur.


"Kau sudah makan siang?" Tanya Guntur. Lara menggeleng, dia berniat untuk makan siang di rumah saja.


Setelah ini tidak ada yang hendak dilakukan, dia berniat untuk pulang beristirahat sebelum besok sibuk mengurus pesta ulang tahunnya.


"Ayo!" Guntur berdiri dari kursinya memakai jas kantornya yang diletakkan di tempat penyimpanan jas kantornya.


"Ya?" Lara ragu dengan pendengarannya. Guntur keluar dari ruangan menuju lift.


Lara hanya mengekor mengikuti langkah kakaknya yang ditafsirkan kalau kakaknya mengajaknya makan siang. Bolehkah aku bahagia? Batin Lara tersenyum bahagia saat di dalam lift.

__ADS_1


TBC


__ADS_2