Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 115


__ADS_3

"Ada apa ramai-ramai?" Tanya Anin pada salah seorang temannya yang ikut mengerubungi pintu keluar gedung pertemuan.


"Ada perkelahian." Jawab salah seorang teman yang ikut melihat dari pintu masuk gedung aula.


"Pasti memperebutkan seorang gadis." Jawab suara lain.


"Mungkin dendam masa lalu." Jawab suara lainnya lagi.


"Itu lebih masuk akal."


"Bagaimana itu mungkin?"


"Lihatlah! Pria tampan itu memukul pria tegas itu."


"Keduanya sangat tampan."


"Kau benar." Anin hanya menyimak dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah teman-temannya, dia sungguh tidak peduli siapa yang dilihat mereka semua.


"Aww... pria tegas itu berdarah." Seru suara salah satu teman Anin.


"Apa begitu seru melihat perkelahian?" Tanya Anin sambil tersenyum lucu melihat teman-temannya.


"Tentu saja. Keduanya pria tampan. Aku lebih suka pria tegas. Dia seperti mantan tentara."


"Hei, dia seorang pengawal." Anin tersentak mendengarnya.


Zian. Anin langsung beranjak dari duduknya yang sejak tadi acuh tak acuh pada ke-kepoan teman-temannya.


"Yah, sudah selesai." Keluh salah seorang temannya bersamaan saat Anin hendak melihat siapa yang dilihat teman-temannya.


Dia berharap tebakannya salah. Semua temannya masuk ke dalam gedung sedang Anin melihat arah pandangan teman-temannya tadi. Tak ada siapapun. Sepertinya sudah dilerai dan keduanya memilih meninggalkan tempatnya.


Anin menghela nafas kecewa, meski tak sempat melihat siapa yang dilihat teman-temannya tapi dia berharap yang berkelahi bukan seperti yang dipikirkannya.

__ADS_1


***


SAH!!


Suara para saksi yang hanya seberapa yang hadir di KUA membuat pernikahan yang baru saja terjadi bergema memenuhi ruangan. Anin terdiam dalam kebisuannya. Sejak pagi tadi dia dibangunkan oleh Zian, dia masih menatap heran dan bertanya-tanya. Tidak biasanya Zian membangunkannya hanya karena ada sesuatu yang ingin dilakukannya.


Flashback on


"Apa kau serius?" Tanya Anin marah menatap Zian tajam.


Bukan wajah keramahan yang ditampilkan Anin setelah mendengar penjelasan Zian kenapa dia harus berdandan pagi-pagi sekali. Dan gaun kebaya yang dibawakan Zian seperti kebaya untuk mempelai pengantin yang hendak ijab qobul. Dia masih terlihat bingung dan enggan untuk memakainya.


"Ya." Jawab Zian tegas dengan sorot mata tidak terbantahkan.


"Aku istrimu jika kau lupa." Jawab Anin sambil tangannya bersedekap di dada.


"Dan aku yang mengizinkannya." Jawab Zian tegas tanpa memalingkan tatapannya pada istrinya.


Anin menganga tak percaya. Setega itu Zian melakukan hal itu padanya. Memintanya untuk menikahi mantan calon suaminya. Meski dia tidak menampik perasaannya yang masih dirajai oleh mantan calon suaminya itu. Siapa lagi kalau bukan Guntur. Dia masih sangat mencintainya meski harus rela melepaskannya. Bukan setahun dua tahun dia mencintainya. Bahkan saat dirinya baru mengenal cinta, Guntur lah cinta pertamanya setelah daddynya.


"Kenapa kau tidak menceraikan aku saja." Ucap Anin tegas menatap Zian dengan sorot mata penuh kekecewaan.


Zian hampir terpancing dengan kesedihan yang ditunjukkan di mata istrinya. Namun dia harus menahan untuk tidak terbawa emosi dan membentengi dirinya. Karena yang dilakukannya demi kebahagiaan istrinya.


"Tuan besar akan membunuhku." Jawab Zian tegas dan kaku.


Anin terdiam. Zian benar, daddynya akan melakukan yang dikatakannya.


"Apa aku yang harus menuntutmu untuk minta bercerai?" Tanya Anin lagi masih dengan tatapan menusuk.


"Tuan besar tetap akan membunuhku." Jawaban tegas Zian membuat Anin membeku di tempatnya.


"Lalu, jika kau mengizinkan aku menikah dengannya apa Daddy tak akan membunuhmu juga?" Tanya Anin nyalang membuat Zian terdiam.

__ADS_1


"Setidaknya ada yang menjagamu saat tuan besar membunuhku." Jawaban lemah Zian membuat Anin terdiam tergugu tak bisa berkata-kata lagi.


Zian berkorban untuk kami. Batin Anin.


"Apa yang akan aku dapatkan jika aku mengikuti keinginanmu?" Tanya Anin seolah mengajukan negoisasi.


"Apapun."


"Aku punya syarat."


"Katakan!"


"Aku tidak akan bercerai dengan siapapun di masa depan." Ucapan Anin membuat Zian terdiam heran menatap wajah istrinya yang terlihat tenang tidak tegang seperti tadi.


"Itu..."


"Kematian yang akan memisahkan kita bertiga. Meski aku harus rela dianggap wanita murahan yang dianggap serakah memiliki dua suami." Anin membalikkan tubuhnya tanpa menunggu jawaban Zian dan melepaskan jubah mandinya untuk berganti gaun yang sudah disiapkan suaminya untuk menikah lagi dengan mantan calon suaminya. Zian sontak wajahnya memerah melihat istrinya tiba-tiba membuka jubah mandinya tanpa mengatakan apapun padanya.


Zian yang tadinya hendak menjawab ucapan Anin yang sepertinya tidak memerlukan jawabannya sontak membalikkan tubuhnya menghindari punggung polos istrinya yang belum pernah dilihatnya sama sekali selama hampir tiga bulan pernikahan mereka.


"Aku menunggu di luar." Zian segera bergegas meninggalkan kamar Anin setelah merasakan dadanya berdegup kencang tak karuan melihat punggung polos istrinya.


Dan entah kenapa di balik celananya terasa sesak. Zian mendesah merasakan sesaknya.


Anin terdiam tak melanjutkan pergerakannya.


Apa aku terlalu buruk sehingga kau tak menginginkannya. Batin Anin terisak pilu di dalam kamar apartemen itu.


Flashback off


TBC


Terima kasih masih membaca.

__ADS_1


Jangan sangkut pautkan ke-halluan saya dengan kehidupan nyata ya, karena semua ini tidak pernah ada di dunia nyata atau terjadi di dunia nyata...


Happy reading


__ADS_2