
Dua minggu setelah pernikahan itu, Jo dikejutkan kedatangan Rian yang terlihat terburu-buru. Keadaan Anin masih tetap sama dan istrinya tetap sama pula. Bahkan Jo sudah memberi penghiburan pada istrinya namun dia tetap melakukannya secara diam-diam, meskipun dipergokinya istrinya langsung mengusap air matanya dan menatapnya seperti tak terjadi apapun padahal matanya terlihat sembab.
Bahkan pagi ini dia bersitegang dengan sang istri yang masih terdiam tak menjawab apapun ucapannya membuat Jo melarikan diri ke kantor pagi-pagi sekali tanpa sarapan.
"Ada apa Rian?" Tanya Jo tanpa semangat karena tak mendapat peluk cium hangat yang sering didapatkannya dari sang istri pagi tadi.
"Ini tuan." Jo menerima berkas laporan yang sedikit berbeda karena tak ada logo perusahaan.
Jo menebak itu memang bukan hal yang berhubungan dengan perusahaan.
"Jadi?" Jo mendongak menatap Rian yang berdiri di depannya terhalang meja kerjanya.
"Kondisinya kritis, bahkan sekarang dia koma sebelum hari H." Jelas Rian, Jo kembali membaca berkas laporan tersebut dengan detail.
Jo terdiam lama memikirkannya. Dia harus segera kesana, tapi tempat itu terlalu jauh. Sungguh seseorang itu melakukannya dengan rapi dan teliti. Seolah memang sudah dipersiapkan sejak lama.
"Selidiki dan awasi terus, setelah pekerjaan yang mendesak selesai kita kesana!" Titah Jo yang langsung diiyakan oleh Rian dan berlalu dari ruangannya.
***
Setelah meminta izin untuk tidak bekerja beberapa hari ke depan, Zian mengajak Anin pergi ke sebuah villa keluarga besar Anin atas saran sang nyonya yang sekarang menjadi ibu mertuanya tersebut. Villa di pinggir pantai yang katanya sangat disukai istri keduanya saat masih kecil demi melihatnya terlihat baik-baik saja dan dapat memulihkan kondisi psikisnya.
__ADS_1
Setelah tiga jam perjalanan, Zian langsung memarkirkan mobilnya di tepi pantai memilih mampir ke villa setelahnya saja.
Zian menatap wajah pulas Anin yang ada di sebelahnya. Wajah polos yang cantik yang sudah dia kagumi sejak dia menjadi pengawal pribadi nonanya. Entah sejak kapan pula hatinya ikut berdetak kencang saat bersama sang nona. Namun hanya dapat disimpannya dalam hati meski sekarang dia sudah menjadi istri keduanya.
Mata itu terlihat membuka perlahan membuat Zian segera mengalihkan pandangannya ke luar jendela seolah tak terjadi apapun.
"Kita sudah sampai?" Tanya Anin menatap sekeliling pesisir pantai yang dikenali.
Lihatlah! Kadang sang nona terlihat normal dengan wajah biasa seperti tak terjadi apapun. Namun jika sesaat terlintas Guntur dalam benaknya. Ketidak warasannya kambuh.
"Mari nona!" Ajak Zian keluar dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil untuk Anin.
Anin keluar dari dalam mobil dan menatap pantai di depannya. Seketika bayangan dirinya dan Guntur terakhir kali mereka datang di tempat itu. Anin berjalan mendekati pantai dengan perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dari arah pantai. Zian hanya diam di tempat tak berniat untuk mengikutinya memberikan ruang untuk sang nona yang mungkin saja dengan mengingat masa lalu bahagianya membuatnya sedikit 'waras.
"Nona! Nona!" Seru Zian berlari kencang menghampiri tubuh sang nona yang mulai mengambang membuat dada Zian berdetak kencang karena cemas dan khawatir.
Zian segera menarik ke daratan, menekan dada Anin setelah membaringkan tubuhnya di tanah. Kecemasan dan kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya.
"Nona buka matamu nona, nona." Seru Zian cemas.
Namun tampaknya Anin enggan membuka matanya. Hingga akhirnya dengan perasaan galau Zian memberikan nafas buatan dari bibir istrinya.
__ADS_1
Namun hasilnya nihil, biasanya dia akan berhasil jika melakukannya, bahkan sang nona baru saja tenggelam dan air pun tidak banyak yang masuk dan Anin pun pandai berenang. Seolah Anin sengaja melakukannya.
"Jangan lakukan nona! Kumohon! Buka matamu!" Seru Zian tak mendapat tanggapan apapun dari Anin yang masih terdiam dalam pingsan atau tidurnya, entahlah!
Zian segera menggendongnya menuju mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi berharap tidak terlambat untuk menyelamatkan sang nona.
***
Zian mondar-mandir kesana-kemari di depan ruang UGD. Menunggu dokter memeriksa tubuh Anin. Dia sungguh merasa bersalah karena kenekatan sang nona.
"Nona, anda harus sadar nona. Kumohon! Akan kulakukan apapun untuk kebahagiaanmu. Walau harus bercerai sekalipun itu yang kau inginkan." Guman Zian dengan tubuh bergetar hebat.
Baru kali ini dia mengalami kejadian itu sejak mendapatkan kabar tentang kematian ayahnya di tempatnya bertugas. Zian shock, Zian cemas, Zian panik membuat tubuhnya bergetar hebat meski dia sudah berusaha mengendalikannya. Trauma kehilangan orang yang disayanginya membuat kecemasannya berlebihan.
Cklek
Suara pintu ruang UGD terbuka membuat Zian sontak bergegas mendekati dokter yang diikuti beberapa perawat.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Zian dengan wajah cemas dan panik.
"Syukurlah anda segera membawanya kemari. Kalau terlambat sedikit saja mungkin nyawanya tidak akan tertolong lagi. Sepertinya kedepresiannya membuatnya mengalami insomnia dan berakhir mengkonsumsi obat tidur yang berlebihan secara rutin. Sehingga membuatnya tanpa sadar, maaf kehilangan kewarasannya dan nekat menenggelamkan diri di air." Jelas dokter itu membuat Zian sedikit lega.
__ADS_1
"Sekarang dia sedang tertidur lelap karena tadi kami sudah menguras isi perutnya." Jelas dokter lagi saat melihat raut wajah kelegaan di mata pria yang mengaku sebagai suaminya itu.
TBC