
"Apa yang nona lakukan disini?" Tanya Zian saat keduanya sudah masuk ke dalam kamar pribadinya.
Sebelum mulai bicara Zian sempat menatap sekeliling kamarnya yang sudah sedikit rapi dan bersih. Entah sejak kapan nona majikannya itu masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan semuanya seolah dia sudah terbiasa dengan membersihkan bagai seorang asisten rumah tangga. Zian merasa bersalah jika membayangkan seorang tuan putri melakukan pekerjaan yang seharusnya tidak dilakukan.
Dia tidak bisa membayangkan jika tuan putri yang selama ini hidup di mansion besar dengan dilayani begitu banyak pelayan harus menjadi ibu rumah tangga mengurus dirinya tanpa bantuan pelayan. Zian semakin merasa bersalah.
"Eh? Ah, a.. aku mengikuti suamiku." Zian tersentak menatap Anin lekat.
Tubuhnya membeku dan menegang. 'Suami?' Kata yang entah kenapa membuat Zian merasa bahagia. Namun segera dia mengendalikan perasaannya, dia tak mau besar kepala karena sebutan 'suami' dari kedoknya yang hanya sebagai suami pengganti.
"Saya hanya pengganti, tidak seharusnya nona melakukan hal ini. Nona bebas melakukan apa yang ingin nona lakukan." Zian mencoba mengelak karena kege er annya tak mau berharap lebih.
Anin terdiam menundukkan kepalanya, merasa ditolak. Padahal sudah berusaha untuk menerima takdirnya sebagai istri kedua seorang Zian meski tak ada cinta yang dirasakan untuk Zian sekarang. Dia hanya ingin berbakti pada suaminya meski belum mencintainya sekarang.
"Jadi, apa aku tidak seharusnya ada disini?" Tanya Anin mendongak menatap Zian dengan tatapan sendu sarat akan kekecewaan.
Zian menatap mata itu, mata yang penuh kesedihan dan kekecewaan. Sesaat Zian merasa bersalah karena mengucapkan kata-kata yang mungkin menyakiti hati istrinya sekarang.
Tapi dia harus melakukannya agar sang nona menyerah dan lebih baik tidak bersamanya yang mungkin saja membuat istrinya menderita karena harus hidup tanpa dilayani oleh pelayan seperti di mansion tuan besarnya.
__ADS_1
"Pernikahan itu bertujuan hanya untuk menjaga nama baik keluarga. Jadi, nona tak perlu menganggap serius semua itu." Anin terdiam menatap Zian muak.
Huh, tidak menganggap serius pernikahan itu? Ah, jadi dia menganggap pernikahan itu hanya main-main? Entah kenapa ucapan Zian membuat Anin marah.
Meskipun pernikahan mereka hanya siri dan tidak bisa didaftarkan secara hukum karena Zian masih berstatus suami orang, tapi bagi Anin pernikahan bukanlah main-main. Dia sangat menjunjung tinggi apa itu pernikahan, bagaimana pun juga ijab qobul mereka dilakukan di depan orang banyak dan dihadapan Tuhan.
Dan semudah itu Zian, yang sekarang suami sirinya begitu mudahnya mengucapkan pernikahan mereka bukanlah apa-apa dan tidak ada artinya.
"Kok aku kesal ya?" Ucap Anin mulai berani, dia mendongak menatap wajah Zian.
"A.. apa maksud nona?" Zian malah gugup melihat wajah marah Anin yang terlihat murka di sorot matanya.
Apalagi sekilas Anin melihat telinga Zian memerah entah kenapa.
Zian sendiri sudah merasa gugup, malu dan bahagia, lagi-lagi dengan panggilan 'mas' yang disebutkan Anin padanya terasa berbeda saat Rima yang memanggilnya. Zian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kalau mas menganggap pernikahan kita hanya main-main itu terserah mas, aku hanya tak mau merasa berdosa lebih jauh lagi karena tidak melakukan kewajibanku sebagai istri pada suamiku. Bagiku pernikahan adalah sesuatu yang sakral yang harus dihormati meski itu hanya siri. Aku tak akan memaksa mas untuk tanggung jawab padaku jika ini hanya sebuah mainan bagi mas." Anin segera meninggalkan kamar itu tanpa menunggu jawaban Zian yang sudah mengulurkan jemari tangannya hendak menyentuh bahu istrinya.
Sungguh bukan itu maksudnya. Bahkan niatnya untuk mempercepat pengurusan surat perceraiannya hanyalah semata-mata untuk bisa menjadikan Anin sebagai istrinya satu-satunya. Meski nanti Anin meminta perceraian setelah merawat mantan calon suaminya. Zian rela jika mereka akan bercerai.
__ADS_1
Namun bukan ini yang diinginkannya. Menganggap pernikahan mereka tidak ada apa-apanya. Bukan itu,
Ah, sepertinya aku salah mengatakan maksudku. Aku senang, sungguh senang sekali melihatnya ternyata lebih memilihku meski dia tak mencintaiku. Namun karena aku terlalu mencintainya, aku tak akan sanggup membuatnya menderita di sisiku. Batin Zian berkecamuk menggenggam erat jemari tangannya yang gagal meraih bahu Anin untuk meluruskan kesalahpahaman.
***
"Ada apa nak?" Tanya Maria melihat Anin keluar dari dalam kamar dengan sorot mata yang tidak baik-baik saja.
"Tidak ada apa-apa bu. Mas Zian mau istirahat, jadi saya lebih baik tidak mengganggunya. Mungkin dia capek." Jawab Anin mencoba menutupi kenyataan getir tentang pernikahan mereka.
Entah kenapa Maria merasa ada yang disembunyikan. Dan Maria hanya mengangguk mengiyakan penjelasan Anin yang memilih menuju ke kamar mandi yang berada di belakang sebelah dapur.
Anin mencuci muka di wastafel kamar mandi dan entah kenapa dadanya terasa sesak dan air mata meluncur tanpa dikehendakinya. Anin sesenggukan di dalam kamar mandi merasakan sesak di dadanya mengingat dirinya ditolak berada disini. Namun Anin segera mengusapnya kasar air mata itu berkali-kali karena lelehan air matanya juga berkali-kali meleleh tanpa dikehendakinya.
'Kamu kuat Anin, kamu harus kuat. Kau sudah menetapkan pilihanmu. Kamu harus belajar mencintai suaminya, meski belum mampu kau harus belajar menghormatinya.' Batin Anin menyemangati dirinya sendiri.
Dia merasa mendapat karma dari apa yang di lakukannya beberapa waktu lalu karena mengacuhkan suaminya itu. Dia sadar kalau Zian melakukannya mungkin tak mau merasakan lagi kekecewaan karena sempat dicampakkan olehnya.
TBC
__ADS_1