
Anin meletakkan belanjaan di kamar dengan malas. Dia sudah tak berminat lagi dengan barang belanjaannya. Moodnya memburuk dan hancur setelah menerima foto calon suaminya dengan mantan tunangannya yang terlihat akrab itu. Bahkan seolah keduanya masih seperti pasangan saja.
Hati siapa yang tak sakit, dada Anin terasa sesak. Namun dia mencoba mempercayai Guntur. Dari yang dia tahu saat bertemu dengan Alea kemarin, mereka memang tengah menjalin kerjasama bisnis meski Guntur tak mengatakan padanya. Mungkin memang belum ada waktu untuk bercerita padanya. Anin mendesah kesal, berkali-kali dia mencoba untuk meredakan rasa sesaknya di dada.
"Ya, aku akan menanyakannya pada mas Guntur saat pulang nanti." Guman Anin menenangkan dirinya.
***
Sudah lima hari berlalu, dia belum mendapat kabar kalau Guntur sudah pulang. Juga sudah dua hari ini dia tak mendapati ponselnya dihubungi calon suaminya itu. Apalagi Anin disibukkan dalam persiapan pernikahan yang dibantu sang mommy. Namun dia tetap berpura-pura tak terjadi apapun di hadapan sang mommy karena tak mau membuatnya cemas.
Anin mencoba menghubungi lebih dulu ponsel kekasihnya. Dan langsung diangkat pada panggilan pertama.
"Maaf nona, tuan muda sedang meeting dengan klien." Jawab Raka membuat Anin mengernyit.
Bukan orang yang diinginkannya yang mengangkat panggilannya namun asisten Guntur yang sekarang sudah menjadi kakak tiri calon suaminya.
"Kak Raka?"
"Iya ini saya nona. Karena klien penting itu datang tiba-tiba, tuan muda melupakan ponselnya di ruangannya." Jelas Raka tak mau mereka salah paham.
"Ah, jadi kalian sudah kembali?" Tanya Anin antusias.
"Ehm, sudah nona. Semalam kami baru sampai dan harus langsung meeting karena klien penting. Mungkin tuan muda lupa memberi kabar pada nona." Jelas Raka merasa bersalah.
"Ah, gak papa kak, aku pesan aja nanti siang aku akan berkunjung ke kantor mas Guntur." Pesan Anin tersenyum antusias meski Raka tak akan melihatnya.
"Baik nona, akan saya sampaikan." Jawab Raka tersenyum ramah.
***
Anin sibuk dengan pekerjaannya di dapur. Dia berniat membawakan bekal makan siang untuk calon suaminya yang ditebaknya akan melupakan makannya. Dia tersenyum antusias saat bekalnya sudah ditata rapi di kotak bekal.
Para asisten rumah tangga yang ingin membantunya langsung diusir oleh Anin dari dapur.
"Yang lagi kasmaran?" Sindir Karina tersenyum lembut melihat putrinya terlihat antusias menyiapkan bekal.
"Eh, mommy." Jawab Anin malu-malu.
"Mau ke kantor Guntur?" Tanya Karina.
"Iya mom, dia baru pulang semalam. Besok Anin akan mengadakan janji temu dengan pihak butik untuk fitting gaun pengantin kami." Jelas Anin tersenyum bahagia.
Dia sudah melupakan perihal foto itu. Kalau Guntur sudah siap dia pasti akan mengatakan semuanya padanya nanti. Anin tak mau ambil pusing dengan foto tak jelas itu. Paling itu kerjaan orang yang tidak suka pada pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.
__ADS_1
Anin percaya mas Guntur. Itulah yang diyakini Anin saat ini. Orang bilang jika menjelang pernikahan, mereka akan mendapat ujian tentang hubungan mereka.
"Kau bahagia nak?" Tanya Karina menatap putrinya sendu.
Putrinya yang sejak kecil sudah dipaksa untuk dewasa sebelum waktunya karena kurangnya perhatian dari sang ayah kandungnya. Beruntung suaminya sekarang sangat menyayangi Anin meski bukan putri kandungnya. Karina takut putrinya yang terlalu mandiri itu memendam kesulitannya seorang diri karena sejak dulu Anin adalah putrinya yang mandiri yang menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa mau mengatakan pada dirinya maupun pada daddynya.
Tapi melihat keantusiasan putrinya saat ini membuat Karina yakin kalau putrinya benar-benar bahagia dan mencintai calon menantunya sekarang.
"Mama kok ngomongnya gitu, tentu saja Anin bahagia mom. Apalagi Anin akan segera menikah dengan pria yang Anin cintai dan mencintai Anin juga." Jawab Anin tersenyum sambil membayangkan bagaimana keduanya saat bertemu.
Karina menghela nafas lega mendengar jawaban yang memuaskannya.
"Semoga kau selalu bahagia nak." Karina memeluk tubuh putrinya yang dibalas pelukan erat juga.
"Terima kasih mom."
***
Anin sedang perjalanan menuju kantor Guntur. Dia tak menghubungi Guntur lagi karena pikirnya Raka pasti sudah memberi tahu kedatangannya. Saat di lampu merah, mobilnya berhenti sejenak.
Dering ponsel tanda pesan masuk kembali membuat Anin cemas. Dia menatap ponselnya, ragu untuk melihat isi pesannya. Karena rasa penasarannya Anin meraih ponselnya dan membuka ponselnya. Lagi-lagi dia dikejutkan dengan kiriman foto mesra Guntur dan Alea yang tidak hanya satu atau dua kali. Lima foto, terlihat Alea sedang membenahi dasi Guntur yang dibiarkan Guntur tanpa melarangnya.
Dan foto itu diambil dari berbagai sudut pandang. Seketika dada Anin terasa sesak dan hatinya sakit. Matanya sudah berkaca-kaca, namun segera diusapnya. Anin melajukan kembali mobilnya menuju kantor Guntur, kali ini dia akan meminta penjelasan tentang foto-foto itu tadi.
Cklek
Anin membuka pintu ruangan dan tersentak saat melihat adegan yang seharusnya tidak dilihatnya. Alea, ya Alea mencium bibir Guntur yang tidak ditolak olehnya. Terbukti Guntur tak mendorong atau menolaknya. Bagaimana Anin tahu mereka berciuman? Karena Anin melihat bibir Alea dan Guntur menempel satu sama lain meski hanya menempel, itu sudah terbukti membuat Anin sakit hati dan merasakan sesak di dadanya.
Anin memilih melangkah mundur sambil menutup mulutnya menahan air mata yang mungkin sebentar lagi akan luruh. Menutup pintu ruangan Guntur perlahan agar tidak meninggalkan suara berisik yang mungkin disadari mereka atau malah akan menganggu mereka. Anin memencet tombol lift menggebu-gebu berharap segera meninggalkan kantor Guntur.
Anin tak akan sanggup lama-lama menahan air matanya yang jatuh itu sebentar saja. Dan dia tak mau terlihat menyedihkan di mata orang-orang yang memperhatikannya aneh. Anin mengusap air matanya yang akhirnya luruh juga di pipi. Untung saja dia sudah berada di dalam mobil.
Anin segera meninggalkan pelataran parkir kantor Guntur sebelum dia terlihat bodoh karena merasa terkhianati. Anin melajukan mobilnya semakin pelan karena matanya tak bisa melihat jelas jalanan karena tertutup air matanya yang luruh semakin deras saja tanpa bisa dibendung.
"Kamu jahat mas .. kamu jahat.... hiks...hiks... kalau kau memang lebih memilih dia, hiks...hiks... seharusnya jangan memberi harapan kosong mas..hiks...hiks..." Tangisan Anin semakin kencang begitu dia berhasil meminggirkan mobilnya ke tepi jalan yang agak sepi meski masih lumayan banyak mobil yang lewat.
Hingga sampai sudah lebih dari setengah jam Anin melampiaskan tangisannya di dalam mobil. Dia terdiam sebentar, merasa sudah lelah karena tangisannya. Anin mengusap air matanya kasar. Dia bingung akan kemana, ke apartemen Nara, kemarin dia tak jujur tentang kiriman foto di ponselnya.
Dan hari ini Nara pulang ke kotanya karena permintaan ibunya sebelum menghadiri pernikahan Anin. Anin semakin galau kemana dirinya akan pergi. Pulang ke mansion malah akan semakin membuat orang tuanya cemas.
Dan tidak menutup kemungkinan sang Daddy akan langsung murka dan mungkin saja akan menghabisi Guntur saat itu juga. Meski Anin merasa dikecewakan namun dia masih memiliki simpati pada pria yang dicintainya itu. Ke apartemennya yang dulu, kuncinya tertinggal di mansion, karena dia tak mempunyai pikiran untuk 'lari'. Anin memutuskan untuk melajukan mobilnya dulu entah ke arah mana.
Setelah berputar-putar lebih dari tiga puluh menit, entah kenapa dia lebih memilih memarkirkan mobilnya di basemen apartemen yang tak terlalu asing di matanya. Tanpa sadar Anin membawa mobilnya menuju apartemen Zian.
__ADS_1
Ya, apartemen Zian, beberapa kali dia mencuri lihat saat Zian menekan tombol password apartemennya saat dirinya mendatangi apartemen Zian saat dirinya sedang galau. Zian lah yang selalu menghiburnya dan menjadi tempat curhatnya saat dirinya bingung hendak kemana. Meski Zian tak memberikan solusi yang diinginkan Anin, namun Zian selalu diam mendengarkan tanpa banyak protes atau mengeluh. Itulah sebabnya dia lebih nyaman jika berbagi sedikit kesedihannya pada Zian.
Namun Anin tahu Zian sedang tak ada di apartemennya. Karena Zian sedang cuti pulang kampung halamannya karena istrinya melahirkan. Malah sekarang dia mendengar kalau Zian memperpanjang cutinya karena ada hal penting yang hendak diurus entah apa itu.
Anin memasuki apartemen Zian yang kosong. Namun tetap terlihat bersih dan rapi meski penghuninya tidak ada di tempat. Anin tahu Zian meminta seseorang untuk merawat apartemennya selama dirinya tidak di tempat. Saat hendak masuk kamar utama di apartemen itu, Anin mengurungkan niatnya.
Dia pun berbalik memilih membuka pintu kamar kedua di apartemen itu yang berada di belakangnya berhadapan dengan kamar utama. Rasanya tak etis dia masuk ke apartemen orang dan masuk ke dalam kamar utama apartemen itu.
Anin membenamkan wajahnya ke bantal yang ada di kamar itu. Anin langsung menumpahkan tangisannya sejadi-jadinya. Meski tak akan ada yang mendengar tangisannya, Anin memilih membenamkan wajahnya ke bantal untuk meredam tangisannya seolah takut terdengar oleh orang lain.
Flashback off
TBC
Epilog
Alea mendatangi kantor Guntur sesuai pesan Raka untuk mengambil berkas yang sudah jadi. Berkas kontrak kerja sama mereka. Sesuai pesan Raka, Guntur tak mau ada hubungan lagi untuk mengurus kerja sama mereka, semua hal itu sudah diserahkan pada Raka untuk mengurusnya.
Meski sebenarnya Alea tak puas jika hanya berhubungan dengan Raka saja. Namun dia bisa apa, dari pada Guntur membatalkan kerja sama mereka. Lebih baik berada dekat dengan Guntur meski hubungan keduanya hanya sebatas bisnis semata.
Alea memasuki ruangan Guntur yang kebetulan sekretarisnya sedang tidak ada di mejanya. Hingga Alea pun menyelonong masuk tanpa mengetuk karena mengira Guntur juga tidak di ruangannya. Namun ternyata Guntur tertidur lelap dengan tubuh bersandar di kursi kerjanya. Terlihat mata sayu karena kelelahan.
Alea menatap wajah Guntur yang memejamkan matanya. Tanpa sadar Alea mendekat, semakin mendekat dan tanpa sadar bibirnya sudah menempel di bibir Guntur. Namun tiba-tiba mata Guntur sontak terbuka saat Anin melihat kejadian itu.
Guntur sontak mendorong tubuh Alea kasar hingga terjerembab di lantai ruangannya.
"Aduh...aww..." Rintih Alea mendapat perlakuan kasar Guntur spontan.
"Dasar wanita brengsek! Keluar! Keluar!" Umpat Guntur dan berteriak dengan kencang tanpa memperdulikan Alea yang meringis kesakitan memegang pantatnya yang jatuh tepat di lantai.
Guntur langsung berlari ke kamar mandi yang ada di dalam ruangannya setelah memastikan Alea meninggalkan ruangannya. Guntur berkumur, mengusap bibirnya kasar, mengelapnya berulang kali hingga bekas bibir Alea yang menempel di bibirnya hilang. Dia sungguh jijik dan kesal karena Alea berani mencuri ciumannya saat dirinya tak sengaja tertidur di kursi kerjanya.
Untung saja dia langsung bangun dan tersentak kaget saat melihat Alea berani menempelkan bibirnya di bibirnya tanpa izin darinya. Sontak refleks tubuh Guntur langsung mendorong kasar spontan membuat Alea langsung jatuh ke belakang.
"Untung saja tidak ada yang memergokiku. Sial. Brengsek!" Umpat Guntur lagi.
Dia menatap cermin kamar mandi merasa bersalah karena merasa mengkhianati cintanya pada calon istrinya.
"Maaf sayang, sungguh aku minta maaf." Guman Guntur dengan kebersalahannya sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kasar.
.
.
__ADS_1
.