
Belum sampai Jo kembali ke kamarnya, bel pintu depan berbunyi. Sambil berteriak menyebut-nyebut nama Karina. Jo yang penasaran menuju pintu depan dan dibukanya kembali pintu itu.
Cklek
"Karin..." belum selesai tamu itu bicara, dia tersentak melihat orang yang dikenalnya muncul di rumahnya.
"Tu.. an... Jonathan?" bisik pria itu. Jo mencoba menatap dalam pria itu, seperti pernah melihatnya. Lampu dalam otak Jo bekerja dan mengenali siapa pria ini.
"Ya saya Jonathan. Kau... mengenalku tuan Keanu?" jawab Jo dengan nada sinis saat mendapati mantan suami istrinya ada di hadapannya kini.
Pria yang membuatnya tak bisa memiliki Karina sepenuhnya karena status yang digantung pria ini.
"Ah, maaf. Kita pernah bertemu saat meeting pembahasan proyek pembangunan finishing. Apa... yang anda.. lakukan..disini?" tanya Ken gugup.
"Ah, kau benar, saat itu ya? Saya? Di rumah ini?"
"Apa rumah ini sudah dijual pada anda? Apa anda sudah membeli rumah ini? Pada siapa anda membelinya?" berondong Ken dengan banyak pertanyaan.
Jo awalnya ingin mengatakan siapa dirinya sebenarnya pada pria brengsek ini, namun mengingat Jo belum mengetahui status Karina yang sudah sah bercerai dengan pria ini, membuat Jo ingin bermain-main sebentar dengan pria ini.
"Kenapa? Apa ada masalah untuk anda?" tanya Jo.
Memang Ken pernah bertemu dengan Jo saat meeting besar perusahaan di pusat saat pembahasan proyek pembangunan finishing dan itulah yang membuat Ken diangkat menjadi direktur proyek pembangunan. Jo yang dikenalkan sebagai putra Presdir yang mewakili Presdir yang saat itu berhalangan hadir.
Meski Jo tak bisa mengingat begitu banyak karyawannya. Jo hanya mengingat bahwa pria brengsek ini yang telah menghalanginya memiliki Karina seutuhnya. Dan Jo benci padanya.
"Ah, tidak. Wanita yang tinggal disini adalah istri saya dan putri saya. Apakah...?"
"Ah, mantan istri tepatnya. Dia bilang suaminya telah menikah kembali?" sela Jo menyindir Ken telak.
__ADS_1
Ken tampak terkejut dengan ucapan Jo, karena seolah-olah dia mengetahui tentang rumah tangga mereka.
"Apa dia menceritakan semuanya pada anda?" tanya Ken menatap Jo menyelidik.
"Tidak. Tapi... saya tahu anda juga merebut istri sepupu saya." bisik Jo mendekati telinga Ken.
"Eh?" Ken mundur menatap Jo penasaran, Bagaimana dia bisa tahu, tapi... Lena mengatakan dalam proses bercerai meski belum sah secara hukum karena dia sedang diproses. batin Ken.
"Ah, apa anda juga sedang bertanya-tanya dari mana saya tahu?" tanya Jo tersenyum seringai membuat Ken kembali bergidik ngeri dengan seringaian Jo.
"Kalau kau lupa akan kuingatkan, Indrapura Pamungkas adalah sepupuku. Putra dari adik ibuku, tepatnya putra bibiku." terang Jo membuat Ken kembali tersentak.
"Itu tidak seperti yang anda kira." bantah Ken menatap Jo lekat.
"Aku tak peduli dengan hubungan kalian. Aku hanya tak percaya, pria seperti bisa melakukan hal buruk seperti itu." cuek Jo masa bodoh.
"Kalaupun itu benar, anda juga telah menyia-nyiakan istri dan putrimu yang tak bersalah. Apa itu bisa disebut dengan baik pula?" ucap Jo sinis dengan mata penuh amarah.
Ingin sekali Jo memukul pria brengsek ini jika saat ini dia sedang pura-pura tidak mengenal Karina. Bahkan Jo tak mempersilahkan tamunya masuk. Jo tak mau rumah mereka terkontaminasi oleh mantan.
"Ah, anda benar. Sekarang saya menyesal." Ken menunduk merasa bersalah menyadari kesalahannya terhadap Karina.
"Huh...menyesal? Kau bilang menyesal? Enak sekali bicaramu. Hanya dengan mengatakan kau menyesal masalah selesai? Ha... Tidak semudah itu bung, apakah kau pernah berpikir bagaimana dia menjalani hidup selama ini setelah kau meninggalkan mereka? Apakah kau pernah berpikir bagaimana keadaan mereka? Apakah kau pernah berpikir bagaimana seorang wanita menjalani hidup yang digantung dengan status sebagai seorang istri namun tak pernah suaminya sekalipun mengunjungi, memberi nafkah atau kasih sayang. Pernahkah kau memikirkan hal itu? Ha." teriak Jo menunjuk-nunjuk dada Ken hingga terpundur beberapa langkah ke belakang.
Meski usia Jo lebih muda jauh dengan Ken, namun fisik Jo yang lebih atletis dan tinggi membuatnya tak kesulitan membully Ken yang bertubuh se leher Jo. Apalagi dengan status mereka sebagai atasan dan bawahan secara tidak langsung membuat Jo semakin berani dengan ucapannya. Membuat Ken terdiam merasa tertohok.
"Maaf... maaf.." bisik Ken.
"Bukan padaku kau harusnya minta maaf. Tapi pada orang yang telah membuatmu merasa bersalah." tunjuk Jo sekali lagi jarinya pada bahu Ken.
__ADS_1
"Itulah sebabnya saya disini, ingin mencari Karina. Meski kami sudah bercerai secara sah, saya ingin menebus kesalahan saya selama ini. Tolong katakan dimana Karina jika anda mengetahuinya. Saya mohon." pinta Ken memelas, tanpa sadar air matanya menetes meski tak bersuara.
"Apa? Apa yang kau katakan? Coba katakan sekali lagi!" tanya Jo menarik kerah kemeja Ken yang tak mengerti dengan maksud Jo.
"Maksud kamu tadi, kalian sudah bercerai secara sah dengannya, dengan Karina?" tanya Jo antusias, kini dirinya tersenyum senang.
Ken yang melihat pergantian wajah Jo yang berubah-ubah membuat Ken bergidik. Tapi dia tak mungkin bersikap buruk pada atasannya. Ken hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan Jo. Jo langsung tersenyum gembira bahkan dia pun memeluk tubuh Ken tanpa sadar. Ken semakin bingung dengan perubahan sikap Jo.
"Lebih baik saya pulang!" pamit Ken hati-hati meninggalkan rumah Karina yang masih melihat Jo antusias entah karena apa.
TBC
Segini cukup ya...
Sabar semuanya, ada saatnya tiba...
Saya juga sedang bingung memilih kata-kata...
Dan mau sad end atau happy end...
Semoga happy ending...
Makasih saran dan kritiknya, maaf tidak bisa membalas satu persatu.. 🙏
Makasih semua sudah membaca 🙏
Makasih sudah mendukung juga 🙏
Beri like, rate dan vote nya
__ADS_1