Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Lamaran


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian malam itu, Karina hanya pasrah dengan perhatian Bram. Dia sudah lelah menolaknya dan mencegahnya. Namun setiap berangkat kerja, makan siang dan pulang kerja dia selalu mampir ke rumah Karina. Bahkan Anin merasa senang karena selalu dibawakan sesuatu oleh Bram, entah makanan, mainan atau peralatan sekolah.


Setiap hari selalu membawakan sesuatu. Karina selalu mengatakan untuk tidak terlalu memanjakan putrinya karena tak mau ketergantungan padanya. Namun dijawab santai oleh Bram.


"Bram, bisakah kau hentikan membawakan sesuatu untuk Anin?" pinta Karina malam itu saat Bram hendak pamit pulang dan mengantar Bram sampai ke mobilnya.


"Anak-anak memang selalu seperti itu Karin, dia akan senang dapat perhatian. Apalagi anak perempuan." jawab Bram enteng.


"Aku tak mau dia jadi tergantung sama kamu. Sedang kamu bukan siapa-siapanya. Dia akan kecewa jika suatu hari kamu gak ada di sini." elak Karina lagi.


Bram menghela nafas panjang menatap Karina lekat. Dia mendekati Karina dan memegang jemari tangannya.


"Kalau begitu bagaimana jika kubuat dia agar menjadi siapa-siapa aku?" tanya Bram ambigu yang membuat Karina bingung.


"Maksudnya?" tanya Karina mengernyit menatap Bram.


"Karin..." Bram menggenggam jemari tangannya erat karena Karina berusaha berontak.


"Maukah kau menikah denganku?" tanya Bram langsung membuat Karina menghempas jemari tangan Bram yang menggenggamnya, dia pun mundur dua langkah dari Bram. Bram hanya menghela nafas.


"Aku mencintaimu juga anak-anak kamu. Kamu gak perlu jawab sekarang. Kamu pikirkan lagi. Demi Anin, demi bayi dalam kandungan kamu." Karina diam.


"Sudah lama aku pengen ngomong sama kamu. Anin selalu dirundung di sekolahnya. Karena tidak punya papa." Karina langsung menutup mulutnya tak percaya.

__ADS_1


Selama ini putrinya tak pernah bilang apa-apa padanya. Begitu juga Maya. Dia selalu sibuk kerja. Saat pulang, putrinya sudah tidur atau terlihat baik-baik saja. Air mata Karina menetes. Dia tak percaya bisa mengalami hal itu. Bagaimana dengan anak-anaknya jika lahir nanti?


Apa mereka juga akan mendapat perlakuan yang sama karena tak memiliki ayah. Bram mendekat, mendekap tubuh Karina menghiburnya karena terlihat shock dengan kenyataan yang menamparnya. Dia rela dihina, dia rela dipandang buruk siapapun, asal jangan putrinya atau anak-anaknya yang bahkan belum lahir.


"Anin tak mau mengatakan padamu karena tak mau membuatmu kepikiran, apalagi sekarang kau sedang hamil. Dia tak mau membuatmu stres berlebihan, Maya juga. Baru sebulan lalu aku mengetahui Anin di sekolah saat menjemputnya. Dan aku pun terpaksa mengaku sebagai ayah Anin meski bukan ayah kandungnya." jelas Bram lirih semakin membuat Karina menangis tanpa suara di dalam pelukan Bram.


"Aku gak maksa kamu, tapi percayalah cintaku tulus padamu dan anak-anakmu." bisik Bram lirih.


***


Karina terduduk lemas di ranjang kamarnya. Setelah Bram pamit pulang dia memikirkan lagi perkataannya. Karina tak mau mengambil keputusan terburu-buru. Apalagi hatinya masih tertaut pada ayah dari anak-anaknya yang masih dalam kandungan. Karina merindukannya.


Karina menginginkannya. Kalau saja dia tak mencintainya, dia pasti akan nekat pulang dan datang untuk menuntut pertanggungjawaban dari keluarga Alensio atas bayi yang sekarang di kandungannya. Tapi Karina terlalu mencintainya hingga tak mampu mengusik kebahagiaannya. Baginya cukup melihat orang yang kita sayangi bahagia dirinya akan bahagia.


Tapi dia juga tak akan menyesal telah mengandung anak dari pria yang masih merajai hatinya sampai saat ini. Dia berjanji akan melahirkan dan merawat anak-anaknya, karena mereka adalah buah cintanya dengan suami sirinya, Jonathan Alensio.


***


Pagi hari, setelah Bram mengantar Anin ke sekolah. Karina menahan Maya untuk duduk sebentar. Maya yang tak tahu apapun menurut dan duduk di hadapan Karina.


"Maya..."


"Ya, mbak?"

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku menerima lamaran Bram?" tanya Karina ragu menatap Maya intens.


"Ya syukur mbak. Selama ini mas Bram sudah baik banget pada kita. Terutama pada mbak, aku sih setuju aja. Tapi... semua tergantung mbak juga sih." jawab Maya antusias.


Setelah beberapa waktu kebersamaan mereka, Maya mengganti nama panggilan pada Bram menjadi mas dari sebelumnya yang memanggilnya pak. Karina hanya tersenyum getir.


"Begitukah? Pantaskah aku bersamanya dengan statusku seperti sekarang?" tanya Karina.


"Pantas saja mbak. Mbak berhak mendapat kebahagiaan dari orang yang mencintai mbak." jawab Maya tersenyum senang.


"Tapi aku gak mencintainya May?" curhat Karina.


"Ya, itu kan tergantung mbak. Tapi kalau perasaan cinta bisa tumbuh seiring kebersamaan kalian. Aku tahu mbak masih mencintainya. Yang jelas apapun keputusan mbak aku dukung kok." jawab Maya membuat Karina tersenyum lega.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak


Beri like, rate dan vote nya


Oh, ya. Jo bentar lagi nongol kok, sabar ya...☺️☺️


Salam semuanya. Makasih sudah membaca πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2