Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Perlakuan buruk


__ADS_3

Setelah kejadian malam itu, Karina menghindari Indra sebisa mungkin. Bahkan saat meeting, Karina menolak dengan tegas jika dirinya diajak Indra secara pribadi ke ruang meeting karena hal itu bukan bagian dari tugasnya. Karina sudah tak peduli jika Indra memecatnya, dia sudah siap. Namun diluar dugaan, Indra bisa memakluminya.


Tak banyak paksaan yang dilakukan Indra pada Karina kini. Indra memberi ruang untuk Karina berpikir. Meski Karina sebenarnya memilih menghindar dari Indra.


Dua minggu kemudian, berita pertunangan sang CEO Jonathan terdengar memenuhi ruang gosip para karyawan di perusahaan. Begitu juga Karina mendengar kabar itu. Entah kenapa di dadanya sedikit berdenyut nyeri, hanya sedikit. Dan itu tak membuat Karina berpikir lebih lama. Dia segera menepis perasaan-perasaan itu.


"Semua lelaki sama saja hanya membual di mulut saja. Pintar gombal dan ngrayu." guman Karina sambil terus berkonsentrasi pada laptopnya.


"Kenapa mbak?" tanya Bella yang saat itu sudah mendekati meja Karina karena mau mengajaknya makan siang.


"Eh, Bella..." jawab Karina nyengir tanpa dosa.


***


Acara pertunangan diadakan di ballroom hotel mewah milik keluarga Jonathan. Semua karyawan di perusahaan milik keluarga Jonathan menerima undangan. Tak terkecuali Karina, jika bukan karena menghormati tempatnya mencari nafkah bertahun-tahun, Karina sebenarnya ingin memilih pulang ke rumah saja menemani putrinya.


Namun desakan rombongan karyawan pada divisinya membuatnya mau tak mau menghubungi bi Ani, ART yang sering menemani putrinya untuk menemani kembali malam itu. Yang bisa diperkirakan kalau Karina akan pulang terlambat malam ini. Gaun rekan kerja Karina yang sudah disiapkan jauh-jauh hari sudah dibawa sekalian saat berangkat kerja tadi.


Namun hanya Karina yang terlihat tak membawa gaun pesta karena dirinya memang sudah enggan untuk datang. Biarpun harus datang, toh setelan formal pakaian kerjanya terlihat cukup pantas untuk menghadiri pertunangan bos besarnya.


"Mbak, gak bawa gaun pesta ya?" tanya Bella yang melihat Karina hanya menambah riasan saja tanpa mengganti pakaian kerjanya.


"Gini aja udah cukup kok. Lagian rencanamu langsung pulang setelah memberi selamat. Putriku di rumah hanya dengan bibi ART." jawab Karina tersenyum lembut.


"Yah, kan sayang mbak, acara besar-besaran gini gak sering-sering Lo. Apalagi banyak makanan enak dan gratis... hihi...." bisik Bella di akhir kalimatnya tersenyum senang.


"Kamu tu tahu makanan saja." jawab Karina tersenyum simpul.


"Ayo, berangkat sama-sama semua!" ajak seseorang yang terdiri dari semua rombongan dari divisi keuangan yang berjumlah sekitar tujuh orang wanita termasuk Karina belum termasuk para karyawan laki-laki dari divisi tersebut yang sudah menunggu di tempat parkir.


Karina berjalan agak belakangan dengan Bella, sesampainya di tempat parkir Bella langsung menghampiri Theo sang kekasih yang sudah janjian untuk berangkat bersama. Karina hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Bella. Dia pun hendak menuju mobilnya, namun pergelangan tangannya ditarik Indra yang tanpa banyak bicara langsung mengajaknya masuk ke dalam mobilnya.


"Pak..."


"Pakai setbelt nya Karina!" titah Indra tanpa menunggu protes Karina.


"Pak, saya..."


"Kamu gak mau ditilang polisi kan? Atau saya yang pakaikan!" ucap Indra menatap Karina intens.

__ADS_1


"Tidak. Akan saya pakai." jawab Karina sambil memakai setbelt nya dengan terpaksa tanpa bisa protes lagi.


Apalagi melihat semua rekannya berpasang-pasangan entah kenapa pas sekali pasangannya masing-masing. Karina terlihat menghela nafas panjang. Indra mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


***


Di ballroom hotel tempat pertunangan, sudah banyak tamu undangan yang hadir. Dan tentu saja banyak rekan bisnis dan relasi keluarga besar tersebut. Juga hampir seluruh karyawan perusahaan turut hadir dalam acara pertunangan tersebut. Tentu saja tak mungkin tak hadir semua.


Pemilik perusahaan sang Presdir terkenal sangat dermawan dan baik hati. Acara pertunangan tersebut selain untuk menggabungkan kedua perusahaan milik orang tua mempelai juga acara open house, membuka pintu untuk semua kalangan dengan makan gratis meski acara tersebut besok pagi dilaksanakan. Untuk sekarang cukup tamu undangan spesial dan khusus karyawan perusahaan.


Karina masuk dengan bergandengan tangan dengan Indra meski dengan sedikit paksaan dari Indra. Entah kenapa Karina menurut terhadap ucapan Indra. Dengan berjalan seperti pasangan. Tangan Karina masuk menggandeng lengan Indra seperti pasangan pada umumnya. Banyak tamu undangan yang melihat kearah kedatangan Indra dan Karina membuat Karina risih.


Inilah yang tidak disukainya jika dia datang bersama Indra pasti akan sangat menarik perhatian orang-orang karena Indra masih sepupu dari keluarga besar mempelai pria. Karina banyak menundukkan kepalanya malu. Banyak wanita yang iri ada pula yang mengagumi Karina.


Ada pula yang bisik-bisik mengatakan bahwa Karina seorang pelakor yang menyebabkan perceraian Indra. Karina semakin menundukkan kepalanya. Ucapan bisikan yang menyudutkannya membuatnya semakin sesak di dadanya.


Indra malah semakin mengeratkan gandengannya memberi semangat pada Karina untuk tidak mengambil hati ucapan-ucapan di pesta itu. Karina mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Indra namun Indra semakin erat saja menggenggamnya.


Akhirnya mereka sampai di tempat yang punya acara tunangan. Mereka mendekat untuk memberi ucapan selamat. Genggaman tangan Indra mengendur, membuat Karina mengambil kesempatan tersebut untuk melepas gandengan tangan mereka.


"Selamat pak..." ucapan demi ucapan untuk yang bertunangan satu persatu semuanya mengucapkan dengan cara mereka masing-masing.


Karina juga ikut menatap mata yang seolah memancarkan kerinduan padanya itu. Namun Karina tak mau berbesar kepala. Toh, pria itu bertunangan dan akan segera menikah, dan seolah Karina merasa lega dan entah kenapa juga sedih mengingat bahwa atasannya tak akan berani mengganggunya lagi.


Setelah semua selesai menyalami bos mereka yang punya acara, para karyawan berburu makanan. Sedang Karina hanya mengambil minuman jus jeruk. Dia tak mau membuat kesalahan lagi dengan minum minuman alkohol yang akan membuatnya nanti dalam masalah. Mata Jonathan memicing menatap Karina yang terlihat sedang berbincang dengan rekan kerjanya.


Karina beralih dari tempat itu. Dia tidak buta dengan sorotan mata menghunus yang diberikan padanya. Sebisa mungkin dia menghindari tatapan mata orang itu. Bukannya Jonathan terus berhenti menatapnya namun dirinya malah semakin mengikuti kemanapun Karina pergi. Hingga Karina merasa risih.


"Permisi..." sapa seseorang yang tidak dikenal Karina.


Karina yang merasa bukan dirinya yang dipanggil hanya diam tak memperdulikan orang itu. Sedang Indra sibuk ditahan oleh keluarga besarnya tanpa mampu melarikan diri. Sebenarnya dia mau menghabiskan waktunya bersama Karina tapi apalah daya, keluarga besarnya menahannya.


"Permisi,nona." sapa pria itu lagi menepuk pundak Karina. Seketika Karina menoleh menatap pria asing itu.


"Ya?" tanya Karina membalikkan tubuhnya menghadap pria yang tidak dikenalnya itu.


"Berapa anda dibayar oleh tuan Indra, saya bisa memberikan lebih." bisik pria itu tepat di telinga Karina.


Karina ingin melayangkan tamparan pada pipi pria yang menatapnya dari bawah hingga ke atas tubuh Karina dengan tatapan menggoda. Karina masih memiliki kesadaran diri dimana tempatnya berada kini. Dia tak mau mempermalukan dirinya sendiri maupun atasan yang mempunyai hajat.

__ADS_1


Terlihat pria yang menggodanya tersebut menatapnya dengan sorot mata mesum. Dengan tampilan parlente jas mahal yang pas di tubuhnya. Ditebaknya pria itu bukan orang sembarangan. Bisa gawat jika Karina memperlakukan seenaknya. Meski dadanya sangat sesak dan sakit melihat dirinya dianggap murahan oleh pria tersebut.


"Maaf, permisi." tangan Karina langsung ditarik pria itu saat Karina hendak pergi meninggalkan tempat itu. Karina tersentak karena tubuhnya menabrak dada bidang pria itu.


"Jangan sok jual mahal. Karena aku tahu wanita seperti kalian hanya menjual tubuh untuk kesenangan kalian saja. Katakan! Berapa hargamu!" sarkas pria itu meraih pinggang Karina kasar.


Mata Karina mulai berkaca-kaca diperlakukan seperti itu. Dia sudah menduga hal ini lambat laun akan terjadi jika dirinya terlalu akrab dengan Indra.


"Maaf, tuan. Aku tak mengerti maksud anda. Lepas!" hentak Karina mencoba melepaskan pelukan tangan pria itu yang semakin berani mulai menelusuri tubuhnya.


Karina mencoba mendorong tubuh pria itu namun tetap tak bergeming karena tenaganya yang tidak seberapa. Pria itu malah semakin tersenyum mesum melihat Karina tak bisa berkutik. Sedang tatapan orang-orang teralihkan karena tempat Karina berdiri jauh dari keramaian pesta. Karina hampir menyerah, air matanya hampir tak bisa dibendungnya.


Namun..


Byur...


"Maaf tuan, maafkan saya tidak sengaja." ucap pelayan yang baru saja melewati keduanya.


Spontan pria mesum itu melepas pelukannya karena merasa basah dipunggungnya karena pelayan tadi tersandung saat membawa nampan yang berisi minuman.


"Ah, sial..." umpat pria mesum itu.


Hal itu dimanfaatkan Karina untuk pergi dari pria itu, namun sebuah tangan lain menariknya meninggalkan ballroom hotel itu.


"Hei, lepaskan aku!" Karina menjerit berusaha melepaskan cekalan erat tangan itu meski sulit. Karina ingin menangis saja. Dia bagai keluar dari kandang buaya masuk ke kandang harimau.


********


Epilog


Jonathan pura-pura mengambil minuman dari seorang pelayan yang lewat, dia semakin mendekati Karina yang tampak tak nyaman dalam pelukan seorang pria yang mungkin asing baginya.


Dari arah kanan pria mesum itu, Jonathan memanggil pelayan lain yang sedang membawa nampan minuman. Jonathan memberikan minumannya yang belum diminumnya itu ke atas nampan.


"Jalan lurus saja!" titahnya sambil berbisik di telinga pelayan itu.


"Ya?" pelayan itu sempat bertanya-tanya maksud Jonathan, mengikuti arah pandang Jonathan pada Karina, dan begitu melihat sakunya disisipi beberapa lembar uang merah, pelayan itu langsung paham maksud Jonathan.


Pelayan itu dengan sengaja menumpahkan minuman itu di punggung pria itu, dengan berpura-pura tak sengaja sambil melirik Jonathan yang mengacungkan jempolnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2