Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 75


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan Anin?" Tanya Karina saat melintas di ruang kerja suaminya melihat putrinya menguping di pintu.


Anin tersentak sontak menoleh menatap mommynya dengan pura-pura tak terjadi apapun.


"A... aku .. bukan apa-apa mom." Jawab Anin ragu.


"Apa yang coba kau sembunyikan dari mommy?" Tanya Karina menatap Anin penuh intimidasi.


"Ah... itu..."


"Aku membayarmu untuk melindungi putriku, tapi nyatanya apa?" Teriakan Jo terdengar hingga keluar ruangan karena tadi Anin sedikit mengganjal pintu itu berniat menguping pembicaraan di dalam.


Anin meringis aksi mengupingnya ketahuan mommynya.


"Kau menguping?" Tebak Karina membuat Anin sontak menangkupkan kedua tangannya di dada memohon pada sang mommy untuk minta bantuannya.


Karina hanya menghela nafas panjang.


"Seharusnya kau tahu, kesalahan yang kau lakukan bukan kau yang menerima hukuman tapi mereka yang bekerja untukmu." Nasehat Karina membuat Anin terdiam menyesal karena mempersulit orang-orang suruhan Daddynya.


"Tapi ingin sedikit kebebasan mommy?" Tawar Anin memohon.


"Situasi tidak mengizinkanmu untuk hanya kebebasan sayang. Daddy melakukan hal itu untuk melindungimu. Daddy tak mau dianggap sebagai ayah yang gagal dalam melindungi putrinya. Kau harusnya tahu itu." Nasehat Karina lagi membuat Anin semakin terpojok merasa bersalah.


"Maaf mommy. Aku akan menuruti apa kata Daddy dan mommy, tapi tolong satu hal saja. Aku tak mau para pengawal terlihat mencolok saat mengawasi ku." Karina mengernyit, tahu apa keinginan putrinya.


"Kau bisa katakan hal itu pada daddymu." Anin tersenyum sumringah mendengar ucapan terakhir mommynya.


"Thanks mommy. I love you so much." Anin memeluk tubuh Karina erat, Karina hanya tersenyum melihat tingkah laku kekanakan putrinya.


***


"Mulai besok kau tetap menjaga putriku, kali ini kau harus selalu ada di sampingnya. Dan apapun yang diinginkannya lakukanlah, selama itu tak membahayakannya." Titah Jo menatap Zian tajam.


Zian tersentak mendongak menatap majikannya.


"Siap laksanakan tuan!" Spontan ucapan Zian dengan tegas diucapkan see seperti dulu saat di ketentaraan yang pernah diikutinya.


Setahunya setiap pengawal yang melakukan kesalahan akan dihukum skors dengan gaji dipotong setengah gaji. Itu masih dalam hukuman ringan. Hukuman terberat adalah dipecat dengan tidak hormat dengan tak akan bisa bekerja di manapun karena koneksi majikannya tidak main-main.


"Lakukan!" Titah Jo lagi.


"Terima kasih tuan." Jawab Anin tegas.


***


Anin segera menjauhi pintu begitu selesai menguping dan ikut tersenyum bahagia dengan keputusan daddynya memenuhi keinginannya. Selain membantu meringankan kecemasan mommy dan Daddynya, Anin juga membantu Zian agar tidak dipecat.


Cklek

__ADS_1


"Apa Daddy memukulmu lagi?" Tanya Anin antusias menggoda Zian setelah keluar dari ruang kerja daddynya ikut tersenyum tipis meski tak terlihat, namun Anin dapat melihatnya dengan melihat antusiasme sorot mata Zian.


Zian yang ditodong pertanyaan setelah keluar dari ruang kerja majikannya tersentak kaget melihat tuan putri majikannya memberondongi pertanyaan.


"Tidak nona." Anin mengangguk-anggukan mengerti.


"Jadi?" Anin bicara ambigu yang membuat Zian menatap putri majikannya dengan sorot penasaran.


"Besok kita ke kampus lagi?" Tanya Anin antusias.


"Siap nona." Jawab Zian tegas.


"Kali ini kau akan benar-benar melindungiku kan?" Tanya Anin serius.


"Siap laksanakan nona!" Jawab Zian tegas.


"Oh iya, apa kau punya pacar Zian?" Tanya Anin tiba-tiba.


Zian tersentak dengan pertanyaan tuan putrinya yang terakhir. Seolah dia terjatuh ke bawah dengan dalam setelah merasakan terbang tinggi di angkasa.


"Hei, kok melamun? Kau sudah punya pacar?" Tanya Anin lagi.


"Saya sudah menikah nona." Jawaban Anin membuatnya terkejut, sontak menutup mulutnya tak percaya.


"Sungguh? Benarkah? Bohong." Ucap Anin terdiam di tempatnya dengan kedua tangannya berkacak pinggang.


Zian menunjukkan cincin nikahnya di jemari manis tangan kirinya.


"Maaf nona, saya tidak menjawab pertanyaan tentang pribadi saya." Zian menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Pelit sekali kau, nyawamu saja sudah menjadi milikku. Kau bahkan tak bisa menjawab pertanyaanku." Zian terdiam tetap tak menjawab.


"Maaf nona." Jawab Zian sekali lagi menundukkan kepalanya semakin dalam karena rasa bersalahnya.


"Baiklah... baiklah... aku tak akan memaksamu, aku bisa bertanya pada daddyku. Apa sih yang tidak diketahui Daddy." Anin tersenyum manis setelah itu pergi meninggalkan Zian yang terpaku dengan senyuman tuan putrinya.


***


Esok hari Anin benar-benar satu mobil dengan Zian. Anin memaksa untuk duduk di samping kursi kemudi daripada harus duduk di kursi belakang seperti penumpang. Dan hari ini, Anin juga memaksa Zian untuk memakai pakaian casual. Awalnya Zian menolak karena pakaian resmi kerjanya adalah jas formal, namun Anin memerintahkan untuk berganti pakaian dengan pakaian informal.


Tapi memang dasar Zian yang tak mau tidak mematuhi aturan dari daddynya, dia tetap memakai jasnya malah dipakai. Jadinya pakaian Zian sekarang setengah formal.


"Bisakah kau bersikap seperti seorang mahasiswa?" Tanya Anin jengah karena Zian bersikap sangat kaku bagai seorang tentara saja.


"Saya akan berusaha nona." Jawab Zian sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Nindi, panggil aku Nindi. Mereka akan tahu jika kau adalah pengawalku?" Ucap Anin berkali-kali memperingatkan pada Zian sepanjang perjalanan menuju kampus tadi.


"Ando!" Seru beberapa gadis dari fakultas lain. Anin melongo melihat gadis itu sangat antusias pada Zian.

__ADS_1


What's the hell? Ando? Sejak kapan mereka mengenal Zian? Dan ... Ando? Dia memperkenalkan diri dengan nama itu. Cih... Batin Anin menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.


Anin pun melarikan diri dari kerubungan gadis-gadis yang mengerubungi Zian dan tertawa tergelak melihat Zian kualahan menanggapi para gadis itu.


"Nindi." Panggil Nara melihat Anin tergelak melihat kerumunan gadis-gadis di halaman kampus.


"Pagi." Sapa Nindi melambai pada Nara.


"Siapa?" Tanya Nara sambil menatap halaman kampus.


"Oh, pria beristri yang populer." Jawab Anin tergelak lagi.


"Siapa maksudmu?" Tanya Nara kebingungan.


"Kau seperti tak tahu saja." Jawab Anin yang diangguki Nara mengerti dengan kata-kata Anin. Memang sudah tidak ada rahasia diantara mereka.


Keduanya masuk ke dalam kelas.


Bruk ..


Tepung menjatuhi wajah keduanya yang terjatuh dari pintu kelas. Semua teman-teman yang ada di kelas tertawa terbahak-bahak melihat hal itu terjadi. Anin dan Nara terdiam mengusap wajahnya yang sudah bertaburan tepung. Anin segera mencekal pergelangan tangan Nara saat Nara hendak memaki berteriak ke semua kelas.


"Nona!" Seru Zian terkejut melihat tuan putri yang harus dijaganya mengalami musibah lagi.


Saat melihat sebuah tali tipis transparan membuat Zian spontan menarik tubuh Anin dan Nara dalam dekapannya hingga air pun tumpah tak mengenai mereka. Kali ini Nara menjadi geram namun Zian mampu mencegahnya.


Zian menatap satu persatu semua mahasiswa dan mahasiswi di kelas tersebut dan matanya memindai satu persatu orang yang ada di dalam kelas. Matanya berhenti di satu titik, pria berkacamata yang pura-pura mengerjakan tugas sambil memegang sesuatu.


"Tunggu sebentar nona!" Zian berlari langsung membekuk pria berkacamata yang langsung mengunci pergerakan pria itu.


"Auww...ampun.. ampun..." Rintih mahasiswa itu. Anin dan Nara segera menghampiri pria itu.


"Besar juga ya nyalimu main-main dengan kami!" Seru Nara, Anin hanya diam menatap pria pendiam itu tak percaya.


"Ampun... ampun... saya hanya melakukan perintah seseorang." Bisik mahasiswa itu ketakutan. Keringat dingin mengalir di keningnya dengan gugup.


"Lepaskan Zian!" Titah Anin duduk di kursi depan bangku mahasiswa itu.


"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Anin menatap mahasiswa itu tajam.


Pria berkacamata itu bercerita kalau ada sebuah memo di lokernya tadi pagi karena dia yang selalu datang lebih awal dari pada yang lain. Jika dia tak menuruti perintah memo itu, dia diancam akan di DO dari kampus dan beasiswanya akan dicabut.


Pria itu terpaksa melakukannya karena tak mau hal itu terjadi. Dia berkali-kali minta maaf dan memohon pada Anin dan Nara karena hanya menuruti perintah seseorang.


"Lepaskan dia Zian! Kurasa dia jujur."


"Tapi ..."


"Zian?" Anin memicing pada Zian dan terpaksa melepaskan pria yang dikunci kedua tangannya ke belakang tubuhnya.

__ADS_1


"Siapa kira-kira dia Nin?" Guman Nara menatap kesal pada pria tadi yang nyalinya semakin menciut.


TBC


__ADS_2