
"Saat jam makan siang datanglah ke ruanganku?" ucap Jonathan sembari memakai jasnya dengan dibantu Karina pagi itu.
"Untuk apa?" tanya Karina mengernyit masih terus melanjutkan membantu suaminya memakai pakaian kerjanya.
"Tentu saja makan siang."
"Itu akan membuat semua orang mengetahui hubungan kita. Kau berjanji..."
"Tidak akan ada yang tahu, percayalah!" potong Jonathan sambil mengancingkan kancing jasnya namun langsung diambil alih oleh Karina.
Jonathan hanya tersenyum senang melihat perhatian istrinya, meski ungkapan perasaannya belum dibalasnya namun dia tetap melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
"Jo..." Karina menatap suaminya memelas.
"Kau langsung masuk saja, aku akan memberitahu sekretarisku untuk langsung mengizinkanmu masuk tanpa mengetuk pintu." Jonathan menepuk pipi istrinya lembut setelah memberikan kecupan sekilas di bibir istrinya.
"Kita berangkat bersama." Jonathan menarik pergelangan tangan istrinya untuk turun ke bawah, sarapan bersama.
Ya, sejak Jonathan tinggal di rumah Karina, dia tak pernah melewatkan seharipun untuk sarapan bersama istri dan putri sambungnya dan itu sangat menyenangkan, Jonathan tampak menikmati perannya sebagai seorang suami dan seorang papi.
"Pagi princess.." sapa Jonathan mengecup kedua pipi putri Karina yang hanya tersenyum bahagia.
Karena merasakan bahagia atas kasih sayang dari ayah tirinya yang dipanggilnya papi. Ya, dan Jonathan sudah mengetahui semua hal tentang Karina, dan dia siap menerima putri kecil Karina sebagai putrinya juga.
Meski usia Jonathan terpaut lebih muda dari Karina tapi sikap dewasa Jonathan bisa memberikan pengertian dan perhatian lebih dari usia Karina. Mungkin itulah yang membuat Karina
"Pagi papi..." sapa balik Anin tersenyum menatap sang papi.
Karina tersenyum senang melihat keakraban mereka, saat pertama kali melihat keakraban mereka Karina sempat meneteskan air mata terharu pasalnya sejak putrinya berusia tiga tahun, ayah kandungnya jarang bahkan hampir tak pernah memberikan perhatiannya pada putri kecilnya itu.
"Pagi sayang ..." ganti Karina menyapa putri kecilnya sambil mengecup juga kedua pipinya.
"Pagi mama..." balas Anin tersenyum, perasaan begitu senang karena mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang diinginkan saat ini meski dia dapatkan tidak dari ayah kandungnya.
**
__ADS_1
Setelah dramatisasi perpisahan pasangan itu di dalam mobil tempat parkir Jonathan. Jonathan dengan berat hati melepaskan istrinya untuk masuk lebih dulu ke dalam gedung tempat kerja mereka.
"Jangan menunjukkan wajah seolah-olah kita akan berpisah lama!" ucap Karina memutar bola malas, suaminya terlalu posesif dan overprotektif.
Dia hanya akan bekerja, dan suaminya juga bekerja di tempat yang sama meski bukan di ruangan yang sama.
"Huff... kau tahu aku tak bisa berpisah lama darimu?" ucap Jonathan lebay.
"Oh.. ayolah! Bukannya nanti kita bertemu saat makan siang?" ucap Karina mencoba membujuk suaminya yang terlalu lebay...
"Ah baiklah. Jangan terlambat datang, atau aku akan datang ke ruanganmu langsung." Karina memutar bola matanya jengah.
"Baiklah." jawab Karina mengalah.
***
Karina menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat, agar saat jam makan siang dia sudah menyelesaikan tanpa rasa ingin segera berakhir makan siangnya dengan suaminya. Entah kenapa perasaan Karina begitu senang, dia merasa seperti seorang anak yang akan mendapatkan sesuatu yang selama ini diinginkan.
Ini adalah makan siang pertama mereka setelah mereka menjadi pasangan suami istri. Karina merasakan dadanya berdegup kencang. Berkali-kali dirinya melirik jam tangannya masih satu jam lagi untuk waktunya makan siang, padahal pekerjaannya sudah hampir selesai tinggal membereskannya.
Saat hendak meninggalkan mejanya, atasan di divisinya memanggilnya ke ruangannya. Karina mengernyit heran ada apa gerangan atasan pengganti Indra itu memanggilnya di jam waktu makan siang ini. Ah, aku pasti akan terlambat. keluh Karina sambil melirik jam tangannya kurang lima menit lagi waktu makan siang.
"Ibu memanggil saya?" tanya Karina setelah mendapat izin masuk ruangan setelah mengetuk pintu.
"Masuklah! Tolong bantu saya sebentar!" ucap wanita itu ramah.
"Apa yang bisa saya bantu Bu?" tanya Karina mendekati meja atasannya itu.
Sampai kurang lebih setengah jam Karina membantu atasannya itu. Dia kesulitan menemukan yang dicarinya pada file komputer di ruangannya itu. Dia bingung ingin minta tolong pada siapa.
Saat teringat pesan Indra untuk meminta bantuan apapun pada Karina jika menemukan kesulitan karena hanya dia dan Karina yang mengetahuinya. Itulah pesan yang diingat dari Indra sebelum menggantikan posisi Indra.
"Terima kasih Karina, untung saja ada kamu." ucap atasan Karina itu tersenyum lega sambil mengelus dadanya.
"Ah, ibu bisa saja." jawab Karina merendah.
__ADS_1
"Ayo, saya traktir makan siang!" ajaknya.
"Ah, tidak usah Bu, saya sudah ada janji makan siang. Lain kali saja." jawab Karina cepat, dia tak mau membuat suaminya lama menunggu dan berakhir nekat menghampirinya.
"Ah, sayang sekali dan aku menyita waktumu sudah hampir setengah jam. Bagaimana dengan janjimu?" tanyanya merasa bersalah.
"Ah, dia pasti memakluminya, Ya, sudah Bu, saya makan siang dulu." jawab Karina langsung pamit setelah atasannya mengiyakannya.
Karina berjalan menuju ruangan suaminya yang ada di lantai paling atas gedung ini, tempat dimana ruangan suaminya.
Karina berjalan menuju ruangan yang tepat berada di depan lift, mungkin sekitar lima ratus meter untuk sampai ke pintu ruangan itu. Karina melirik meja kerja sekretaris nampak kosong. Mungkin dia sedang makan siang. batin Karina melirik jam tangannya menunjuk jam makan siang sudah terlewat empat puluh lima menit.
Karina menghela nafas sejenak untuk menyiapkan hatinya, entah kenapa dia sangat gugup untuk hanya sekedar membuka pintu ruangan itu. Jangan katakan aku gugup, kami sudah biasa bertemu di rumah dan baru pagi tadi berpisah di tempat parkir. Jangan berlebihan Karin, batin Karina menyemangati dirinya.
Cklek
Karina membuka pintu ruangan itu perlahan, dan wajahnya mencelos melihat pemandangan yang tak sengaja dilihatnya. Suaminya bercumbu dengan seorang wanita yang dikenalinya sebagai tunangan resmi suaminya itu. Karina langsung mengendalikan perasaannya.
"Maaf, mengganggu." ucap Karina kembali menutup pintu meninggalkan ruangan itu menuju lift untuk membawanya ke bawah.
Ah, kenapa dada ini sakit, ya Tuhan. Apa arti diriku baginya? Apakah hanya pelampiasan nafsu saja. batin Karina menguatkan hatinya.
Mencoba menolak gejolak perasaannya. Dia sudah akan mencoba membuka hatinya untuk suami keduanya itu berharap bisa melupakan suami pertamanya. Karina lupa kalau suaminya itu masih terikat hubungan pertunangan dengan jodoh pilihan orang tuanya.
Meski perjodohan itu diatur oleh orang tua mereka, mereka adalah pasangan serasi. Sama-sama dari status sosial konglomerat. Apalah artinya dirinya hanya butiran debu yang akan dengan mudah diambil dan akan dibuang jika sudah bosan.
Karina merasakan miris dirasakan olehnya. Tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya dan Karina segera mengusapnya. Sudah cukup dirinya merasa tersakiti dan kini tidak akan lagi. Dia kuat, demi putri kecilnya.
Karina masuk ke dalam toilet membasuh mukanya. Selera makannya langsung hilang entah kemana, meski perutnya berteriak minta diisi, dia mengabaikannya.
Sementara itu, Jonathan mendorong tubuh Jane hingga terjerembab ke lantai dengan kasar. Berlari mengikuti langkah Karina yang sudah memasuki lift yang sudah tertutup.
"Karin... Karina..." gedoran tangannya pada pintu lift seolah lupa kalau lift itu takkan terbuka meski dia menggedornya berulang kali.
Jonathan tampak frustasi mengusak rambutnya. Mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Mondar-mandir di depan lift berharap lift segera terbuka dan segera menyusul istrinya.
__ADS_1
"Shit... sialan..." umpat Jonathan kesal.
TBC