
Setelah wisuda, Ken meneruskan usaha orang tuanya yang ada di desa sementara waktu karena penyakitnya yang sedang kambuh. Dan Lena kembali ke kota mengikuti orang tuanya karena saat di desa dia tinggal bersama dengan paman dan bibinya.
Dan otomatis komunikasi Ken dan Lena terputus begitu saja. Ken dengan kesibukan dan Lena entah dimana. Ponselnya sulit dihubungi dan Ken tak tahu harus menghubungi kemana, ditambah lagi penyakit ayahnya yang kambuh sehingga dia harus menggantikannya mengurus pekerjaan orang tuanya sementara itu.
Bagaimana pun juga Ken masih menyayangi orang tua yang melahirkannya. Hingga sudah lebih dari setahun Ken mengurus pekerjaannya di desa dan ayahnya sudah sehat. Dia pamit pada orang tuanya untuk ke kota mencari Lena. Bahkan permohonan Karina untuk tetap tinggal di desa tak diindahkannya.
Berdasarkan rumor yang beredar Lena sudah menikah dengan orang kaya yang dijodohkan dengannya karena rekan bisnis orang tuanya. Untuk itulah Ken datang ke kota untuk memastikan rumor itu sendiri berbekal alamat rumah Lena yang didapatkan dari seorang teman yang kebetulan sedang berkunjung ke desa untuk berlibur.
Tak butuh waktu lama, setelah perjalanan Ken menempuh jarak hingga lima belas jam dari desanya. Ken sampai di alamat yang dituju.
"Assalamualaikum..." sapa Ken yang langsung didatangi satpam rumah yang terbilang sangat mewah tersebut.
Ken sempat terkejut jika itu adalah rumah orang tua Lena.
"Wa'alaikum salam... nyari siapa mas?" tanya satpam itu ramah.
"Benar ini rumah Magdalena?" tanya Ken yang langsung ditatap oleh satpam itu dari ujung kaki hingga ujung kepala penuh curiga.
"Mas siapa ya?" satpam bertanya sambil melirik mobil Ken yang terparkir di belakangnya sebuah Ferarri merah keluaran terbaru, meski bukan limited edition tapi mobil Ferrari mampu menunjukkan sekaya apa keluarga Ken yang tidak bisa dipandang remeh.
"Saya Keanu teman kuliahnya." kata Ken memperkenalkan diri.
"Maaf mas, mbak Lena di rumah suaminya. Dan orang tua mbak Lena juga sedang berkunjung ke rumahnya untuk merayakan sebulan pernikahan mereka." jelas satpam itu membuat wajah Ken pias, memucat seketika mendengar penjelasan satpam itu.
Dadanya terasa sesak bagai diremas. Sangat sakit. Ken sempat terhuyung ke belakang namun dia masih dapat bersandar dengan baik di mobilnya.
"Oh begitukah..." jawab Ken sarat akan kekecewaan yang mendalam.
__ADS_1
"Kalau mbak Lena pulang nanti biar saya sampaikan." ucap satpam itu yang hanya diangguki oleh Ken yang langsung pamit untuk meninggalkan rumah mewah dan besar itu.
Ken langsung pulang ke desa, dia tak tahu akan kemana jika tetap di kota. Niat hati tidak ingin mempercayai kabar berita rumor yang didengarnya namun kekecewaan yang didapatkannya. Dia sudah begitu mempercayai cinta mereka namun dia merasa dikhianati.
Setibanya di desa, Ken menyibukkan diri dengan ikut mengurus usaha orang tuanya, mulai berangkat pagi dan pulang malam.
Bahkan Karina yang berniat untuk menghiburnya tak pernah berhasil bertatap muka dengan Ken. Hingga siang itu Karina berinisiatif untuk mengantarkan makan siang untuk Ken di kantor tempatnya mengurus pekerjaan atas saran mama Ken.
Dan tentu saja hal itu diiyakan oleh Karina dengan senang hati.
Namun bukan hal baik yang ditemukan di kantor Ken, Karina tanpa sengaja masuk ke kantor Ken tanpa mengetuk pintu terlebih dulu dan ternyata Ken sedang menggoda para pekerja kebun yang masih muda. Terbukti Ken sedang melakukan hal tidak senonoh pada seorang gadis muda pekerja kebun.
Meski belum sampai membuka seluruh pakaiannya si gadis, tapi Ken kepergok sedang menghi*sap salah satu dada kembar gadis itu.
"Astaga..." teriak Karina yang langsung menutup mulutnya dan spontan bekal makanan yang dibawanya jatuh berhamburan. Dan Karina langsung berlari keluar kantor Ken.
"Ah, sial... KARIN." Seru Ken langsung mendorong tubuh gadis itu dan berlari mengejar Karina yang berlari penuh kekecewaan.
"Karin, kumohon dengarkan aku please." pinta Ken memelas meraih lengan Karina hingga Karina mau tak mau berhenti.
Dia berusaha melepaskan cekalan tangan Ken meski Ken tak berusaha untuk melepasnya malah semakin erat Ken mencekalnya.
"Ini tidak seperti yang kau lihat, dia...gadis itu yang merayuku?" mohon Ken dengan wajah memelas.
Ya, gadis itulah yang merayu Ken setiap harinya, meski kemarin-kemarin mereka hanya cukup berciuman saja tidak sampai seperti tadi. Namun baru hari ini dirinya khilaf hingga akan melebihi batas. Untung saja Karina datang di waktu yang tepat.
"Kalau mas tak menginginkan perjodohan kita, bilang saja mas, aku yang akan bilang pada mama." ucap Karina setelah lama diam yang Ken terlihat enggan untuk melepaskannya.
__ADS_1
"Enggak, enggak Karin, aku.. aku menerima perjodohan itu. Aku bersedia menikah denganmu. Aku janji akan berubah, kumohon!" pinta Ken memelas.
Ya, perjodohan yang dilakukan oleh mamanya sedikit mengancam untuknya. Setelah pulang menemui Lena yang berakhir menelan kekecewaan, mama Ken mengutarakan niatnya untuk menjodohkannya dengan Karina. Gadis yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri oleh mamanya.
Mama Ken memberi waktu sebulan untuk Ken berpikir. Hingga akhirnya dia menerima perjodohan itu dan sudah melamar Karina ke rumahnya. Tentu saja hal itu disambut suka cita oleh kedua keluarga. Niat mama Ken untuk menyatukan dua keluarga pun sebentar lagi tercapai.
Begitu juga Karina dia sangat senang sekali perasaan cintanya akhirnya berujung pernikahan keduanya meski dijodohkan kedua orang tuanya. Karina bahkan menutup mata dengan fakta Ken yang begitu mencintai Lena. Dia percaya bahwa kebersamaannya nanti sebagai sepasang suami istri lambat laun akan menumbuhkan cinta diantara mereka.
Namun fakta yang dilihatnya saat ini membuat Karina kecewa dan sakit hati sesakit-sakitnya.
"Kumohon Karin, maafkan aku, aku khilaf. Kumohon lakukan demi orang tua kita yang mengharapkan kita bersatu." Ken bahkan berlutut di hadapan Karina yang masih tetap tak mau menatap Ken.
Dipejamkan matanya mengingat begitu bahagianya kedua orang tua mereka saat lamaran sebulan lalu. Karina mencoba mengendalikan emosinya, menghibur dirinya, mencoba mempercayai ucapan Ken dan memberikannya sekali lagi kesempatan.
Mungkin setelah menikah dia akan berubah, batin karina menghela nafas menatap Ken yang berlutut di hadapannya.
"Kumohon Karin. Maaf... sungguh maafkan aku. Maaf." Ken terus memohon dengan menggenggam erat jemari tangan Karina.
Dia sungguh tak bisa melakukan apapun. Dia begitu luluh pada Ken karena besarnya rasa cintanya pada pria ini. Dia merupakan sosok yang sangat dibanggakannya sejak kecil. Saat dia menolongnya, membantunya dan memberikan apa yang tidak bisa diberikan oleh orang tuanya.
"Mas janji akan berubah?" tanya Karina menatap Ken penuh harap.
"Tentu. Tentu. Aku janji akan berubah." jawab Ken antusias tersenyum menatap Karina berbinar, sambil mengangguk-angguk senang.
"Berdirilah mas!" ucap Karina. Ken dengan hati senang berdiri dan memeluk tubuh Karina erat.
"Maaf... maafkan aku." bisik Ken dalam pelukan Karina.
__ADS_1
"Buktikan mas, jangan hanya janji!" titah Karina.
"Tentu. Akan ku buktikan." jawab Ken.