Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 36


__ADS_3

Anin menatap gedung perkantoran yang berdiri tegak menjulang di depannya itu. Dia ragu ingin masuk ke dalam gedung tersebut atau tidak. Sudah hampir enam bulan dia memilih untuk tinggal bersama papa kandungnya Ken. Dan meninggalkan keluarga sang mommy bersama daddy-nya dan adik-adiknya.


Anin tersenyum kecut mengingat kembali kenangan-kenangan indah bersama keluarga hangat itu. Dia memang sengaja untuk memilih tinggal bersama dengan papa Ken karena memang ingin mengenal lebih dekat dengan pria yang dipanggilnya papa itu. Selain itu Anin juga ingin tahu, sebesar apa perhatian dan kerinduan yang dirasakan keluarga baru mommynya itu.


Di luar dugaan, meski Anin sudah memutuskan untuk tinggal bersama papa Ken, mommynya menghubunginya setiap seminggu sekali meski hanya sebentar. Dia juga melakukan video call dengannya. Dan adik-adiknya selalu ikut antusias saat mommynya melakukan video call padanya. Hingga akhirnya bukan bercakap dengan mommynya, dia malah akan bercerita dengan ketiga adiknya.


Anin sebenarnya ingin kembali lagi tinggal dengan mommy dan Daddy nya, namun karena dia sudah memutuskan. Anin memilih untuk tetap bertahan di rumah papa Ken. Bukan karena dia diperlakukan buruk oleh keluarga papa Ken, bukan karena itu. Namun kasih sayang tak pernah dirasakan sebesar kasih sayang yang sama yang dirasakan dari Daddy nya.


Apalagi Daddy Jo sampai saat ini masih terus mentransfer uang saku seperti biasanya di rekening miliknya. Dan Daddy Jo sering menanyakan kabarnya meski hanya basa-basi, tapi hal itu membuat hati Anin menghangat. Dia sungguh menyesal karena memutuskan untuk keluar dari mansion besar itu.


Tapi dia benar-benar merasa tak enak hati ada di tengah-tengah keluarga yang sudah memiliki empat orang anak. Dan Anin tak mau merepotkan mereka dengan adanya dirinya disana. Meski sebenarnya tak ada rasa keberatan dari Daddy dan mommynya.


Ken, papanya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor perkebunan kakeknya. Dan jarang menghabiskan waktu bersama dirinya. Anin berusaha memakluminya. Bukan itu saja, putri papa Vanya juga lebih sering menghabiskan waktunya dengan teman-temannya bahkan tak jarang Vanya sering mencuri waktu untuk pergi clumbing bersama teman-temannya.


Bahkan tak jarang, Anin sering melihat Vanya pulang malam dengan keadaan mabuk. Dan anehnya, papa Ken tak menegurnya, entah tahu hal itu atau tidak. Anin sering menasehati Vanya yang dipanggilnya adik itu namun bukannya jawaban manis yang didengarnya, melainkan umpatan, ejekan dan bentakan Vanya yang tidak bersahabat sama sekali.


Untuk itulah Anin diam saja saat melihat Vanya setiap hari seperti itu. Toh, dia sudah mencoba untuk menasehatinya. Kadang Anin seperti orang asing saja di rumah itu. Tak ada kumpul keluarga, jarang makan bersama dan itu semakin parah saat 'adiknya' lahir sebulan yang lalu. Dan papa dan mami 'baru'nya sibuk mengurus adik bayinya.


Anin kembali berbalik meninggalkan gedung itu. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk menemui daddy-nya. Karena sejak kecil Anin sering curhat pada Daddy nya itu.


Anin menghela nafas berat, dia pun berbalik, mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam gedung untuk bertemu dengan orang yang menyayanginya.


"Non Anin!" Seru Rian membuat Anin berbalik ke arah suara yang memanggilnya.


"Om Rian." Jawab Anin antusias bertemu dengan orang kepercayaan daddy-nya.


"Apa kabar non?" Tanya Rian sopan.


"Om Rian biasa aja kali. Aku baik kok." Jawab Anin tersenyum tulus.


"Non mau ketemu tuan Jo?" Tanya Rian mengernyitkan dahi, karena setahunya putri sambung bosnya ini tinggal dengan papa kandungnya Ken.


"Ah... enggak...enggak kok.." Jawab Anin gugup seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mengibas-ngibaskan kedua tangannya.


Dia tak mau orang tahu maksud kedatangannya di gedung tersebut.


"Ah, aku tak sengaja lewat sini om, mau mencari tempat praktek kerja lapangan. Tugas dari sekolah?" Jawab Anin tak berbohong.

__ADS_1


Niatnya memang untuk mencari tempat PKL untuk tugas sekolahnya dan berniat untuk bicara pada Jo meminta pertimbangan. Dia ingin bicara dengan Ken, namun melihat kesibukan Ken yang bahkan selalu pulang malam saat sampai di rumah. Membuat Anin urung meminta pendapat padanya.


Hingga entah dapat ide dari mana, dia berinisiatif untuk meminta pendapat Jo. Saat di mansion Karina, tak jarang Anin sering menemui Jo untuk meminta pendapat dan Jo selalu mendapatkan solusi terbaik, mungkin karena Jo seorang CEO dan seorang pebisnis.


Kali ini Anin ragu untuk menemuinya karena dia takut jika Jo sedang sibuk. Bagaimana pun juga mereka sudah tak tinggal satu atap. Dan Anin juga tak tahu tentang situasi dan kondisi saat ini di mansion mereka. Apakah sedang baik atau buruk? Meski saat dirinya dulu tinggal disana tak ada masalah yang berarti yang membuat mereka bertengkar hingga terdengar ke seluruh mansion.


"Bagaimana kalau kita masuk? Aku akan mengantar non Anin." Tawar Rian.


"Tidak perlu om, lain kali saja. Ini sudah hampir sore. Aku harus pulang ke rumah sebelum malam." Anin langsung menggeleng-gelengkan menolak tawaran Rian dan segera lari.


"Kalau begitu biar kuantar!" Seru Rian karena Anin keburu kabur.


"Terima kasih om." Teriak Anin di kejauhan sambil melambaikan tangannya dan segera menaiki taksi yang kebetulan kosong dan lewat di depannya.


Rian hanya tersenyum menyesal merasa gagal melakukan tugasnya. Tapi memang ada hal yang lebih mendesak dari tugasnya sekarang.


***


"Assalamualaikum..." Anin memberi salam saat memasuki rumah Ken.


Namun tak ada jawaban dari dalam rumah yang selalu sepi itu. Anin mengedikkan kedua bahunya.


"Bibi.."


"Maaf non, tadi bibi baru selesai sholat." Jawab bibi merasa bersalah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Anin tersenyum, seharusnya dia tahu, setiap dia pulang ke rumah selalu sepi seperti ini. Tak pernah ada yang menjawab salamnya selain bibi asisten rumah tangga itu.


"Gak papa bi. Anin ke kamar dulu ya." Pamit Anin tersenyum dibuat seceria mungkin sambil berlalu memasuki kamarnya yang berada di lantai dua.


Saat melintasi kamar Vanya yang ada di depan kamarnya tak sengaja Vanya mendengar suara muntah dari dalam kamar Vanya. Anin merasa cemas jika terjadi sesuatu dengan Vanya, dia pun mendekatkan lagi telinganya di pintu kamar Vanya memastikan pendengarannya kalau Vanya adik tirinya baik-baik saja.


Saat berusaha mencuri dengar, kamar Vanya sudah lebih tenang. Anin mengedikkan kedua bahunya acuh, mungkin dia salah dengar tadi. batin Anin langsung menuju kamarnya sendiri.


Dua hari setelah hari itu, saat Anin sedang belajar di kamarnya terdengar kegaduhan di lantai bawah yang bisa terdengar sampai kamarnya. Yang tentu saja terdengar karena kamar Anin tidak kedap suara, hanya kamar papanya yang kedap suara. Anin hanya diam menyimak meski dirinya berusaha acuh namun suara teriakan dan bentakan itu terdengar sampai ke kamar Anin.


"Vanya, kau mabuk lagi!" Bentak Ken yang saat itu dia juga baru pulang kerja dan ganti baju.

__ADS_1


Niat hati ingin mengambil minuman di dapur namun menjumpai putrinya baru pulang hampir larut malam dan dalam keadaan mabuk membuat Ken meradang. Ini sudah kesekian kalinya Ken memarahi, menegur dan menasihatinya.


Namun putrinya Vanya tak pernah sekalipun mendengarnya. Buktinya bukannya dia berubah tapi setiap hari semakin parah. Istri dan bayi kecilnya saat ini sedang berkunjung di rumah orang tuanya untuk menemani mama Ken.


"Oh papa. Papa baru pulang, hik.." Vanya menjawab ucapan papanya dengan asal, dengan tubuhnya yang sempoyongan namun kembali bisa berdiri meski tidak tegak.


"Mau jadi apa kamu nanti. Kamu masih sekolah." Teriak Ken penuh emosi.


Dia menghampiri putrinya yang terlihat sempoyongan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan tingkah putrinya tersebut. Padahal dia tak selalu tidak memperhatikan dan selalu menasehatinya, namun entah kenapa tak mempan pada Vanya.


"Tumben papa perhatian, biasanya juga sibuk kerja dan kerja." Jawab Vanya asal.


"Papa akan membekukan kartu kreditmu kalau kau tidak berubah juga." Seru Ken mencoba membantu putrinya.


Dia ingin menghajar putrinya yang bandel ini, namun dia tak tega jika harus main tangan. Hanya membekukan kartu kredit atau tak memberikan uang jajan yang bisa dilakukan Ken.


"Maksud papa apa? Kalau mau sibuk kerja, kerja terus sana. Gak usah ngurusin aku sekalian, urus istri papa sana!" Teriak Vanya tak terima karena merasa diperlakukan tidak adil.


Plak


Suara tamparan yang dilayangkan Ken pada pipi putrinya tak bisa mengendalikan kemarahan Ken. Selalu berujung seperti ini jika dia berusaha menasehati putrinya itu. Jika kemarin-kemarin selalu ada istrinya yang melerai pertengkaran mereka, namun karena sekarang tak ada yang melerai Ken kehilangan kendali hingga melayangkan tamparan pada pipi putrinya.


"Papa jahat." Teriakan terakhir kali membuat Anin segera menutup panggilan video call nya tanpa pamit.


Dan dia segera keluar dari kamarnya dan melihat ke lantai bawah melihat Vanya yang langsung berlari ke kamarnya dengan memegangi pipinya yang sakit karena tamparan tadi. Dan Ken meremas jemari tangannya yang dipakai untuk menampar tadi dan menatapnya dengan pandangan menyesal.


Brak


Suara pintu kamar dibanting kasar dari dalam dan menguncinya. Anin yang ingin sekali menghiburnya hanya bisa menggantungkan tangannya dan menarik kembali tangannya.


Ken pun berlari ke atas mengejar Vanya, namun saat tiba di tangga paling atas dia tersentak melihat Anin berdiri di dekat pintu kamarnya yang bisa melihat situasi di lantai bawah.


"Kau belum tidur nak?" Basa-basi Ken salah tingkah dan merasa bersalah karena kelakuan buruknya dilihat putrinya yang lain.


Dia pun merasa bersalah pada Anin juga karena tak memperhatikannya, karena kesibukannya. Namun, mungkin karena didikan mantan istrinya yang baik, Anin terlihat baik-baik saja dan tak pernah neko-neko. Anin menjawab hanya dengan gelengan kepalanya.


"Tidurlah! Sudah malam. Maaf, Anin harus melihat kejadian seperti ini." Saran Ken dengan pandangan mata sesal membuat Anin masuk ke dalam kamarnya dan Ken hanya bisa kembali ke kamarnya tanpa bisa membujuk atau minta maaf. Mungkin dia akan menemuinya pagi-pagi sekali besok.

__ADS_1


TBC


__ADS_2