Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 79


__ADS_3

Guntur terdiam di kursi ruang kerjanya. Semangat dan mood nya hancur berantakan setelah bertemu Anin. Dia kembali mencerna semua perkataan Anin kenapa dia ingin mengakhiri hubungan mereka yang baik-baik saja menurutnya. Padahal mereka tak terlihat cek cok atau berdebat.


Bahkan pertemuan mereka jarang terjadi, tak mungkin terjadi perdebatan jika waktu bertemu saja sangat jarang. Berkas-berkas yang ditinggalkan Raka di meja kerjanya tak di sentuhnya sama sekali.


Bersamaan dengan masuknya Wicaksana di ruangannya, Guntur berniat meninggalkan pekerjaannya ingin menenangkan hatinya.


"Kau mau kabur lagi?" Seru Wicaksana melihat Guntur bersiap meninggalkan ruangannya.


Guntur terdiam, moodnya masih buruk untuk menanggapi ucapan ayahnya. Dia sedang malas untuk berdebat dengan ayahnya. Yang bisa ditebaknya tak akan baik jika dia mendebat ayahnya.


"Apa anda memerlukan sesuatu hingga sampai datang sendiri tuan Wicaksana terhormat." Ucap Guntur kembali duduk di kursi kerjanya, pura-pura melihat-lihat berkas-berkasnya. Wicaksana duduk di sofa ruang kerja Guntur.


"Pernikahan kalian akan dilaksanakan sebulan lagi." Guntur meletakkan bolpennya, menghela nafas panjang.


"Tak ada alasan apapun, dan rencana tetap akan berjalan sesuai rencana." Ucap Wicaksana lagi.


Guntur hanya tersenyum miris. Inikah firasat Anin sehingga dia memilih untuk mengakhiri hubungan kami? Batin Guntur tersenyum getir merasakan dadanya sesak. Sebentar lagi, aku harus bertahan sebentar lagi. Kumohon tunggu aku Anin, aku akan menepati janjiku untuk memperjuangkanmu. Batin Guntur lagi tak menjawab ucapan ayahnya.


Dijawab apapun toh percuma, diprotes dan ditolak pun juga percuma. Dia tetap salah di mata Wicaksana.


"Malam ini ada acara makan malam dengan keluarga besar Alea, aku tak ingin dengar alasan apapun kau tak datang. Tinggalkan semua urusanmu dan kau harus datang tepat waktu." Titah Wicaksana tanpa bantahan.


Guntur memilih untuk acuh pada pria paruh baya yang telah tega menelantarkan ibunya itu.


***


Anin duduk merenung di bangku taman kota, dengan Zian berdiri mengawasi tak jauh dari tempatnya duduk. Setelah menangis lama di dalam mobil. Anin meminta diantar pergi ke taman kota. Dia ingin melihat-lihat suasana sore di taman tersebut. Mungkin hatinya akan sedikit lebih baik melihat anak-anak bermain tertawa riang bersama di taman tersebut.


Anin tersenyum melihat anak-anak bermain di arena permainan taman itu. Namun senyumnya lagi-lagi memudar saat melihat sepasang kekasih yang dengan mesra bercanda di bangku lain di taman itu juga. Anin memejamkan matanya menatap langit sore yang begitu cerah itu. Namun tak secerah hatinya yang terasa redup.


"Boleh kau belikan es krim itu Zian?" Pinta Anin masih fokus menatap penjual es krim tak jauh dari tempatnya duduk.


Zian menoleh menatap Anin dan beralih menatap arah pandang tuan putrinya. Es krim yang dijajakan seorang anak kecil. Zian ragu meninggalkan Anin.


"Please!" Pinta Anin memelas menatap Zian penuh harap.


"Nona tunggu sebentar disini!" Jawab Zian menuju penjual es krim itu.

__ADS_1


Anin tersenyum, tatapannya mengikuti langkah Zian menuju penjual es krim itu.


"Ah, apa yang dilakukan seorang ******* disini." Suara seseorang membuyarkan senyum Anin, apalagi mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut seseorang tersebut.


Anin menoleh menatap memicing pada orang itu.


"Kau bicara dengan seseorang kah?" Jawab Anin membuat orang itu kesal karena merasa diacuhkan oleh Anin.


"******* tetap saja *******. Beraninya menggofa pria yang sudah bertunangan." Ucap orang itu kasar.


"Apa yang kau inginkan Lara?" Anin menatap orang itu yang ternyata Lara, adik tiri Guntur.


"Jauhi kakakku! Dia sudah bertunangan, jangan harap kau bisa merebutnya dari tunangannya." Perintah Lara kesal.


"Kau tak usah cemas, kami sudah putus. Hanya saja, kakakmu yang mungkin tak mau putus dariku." Jawab Anin sinis. Dia sudah berdiri di depan Lara dengan berani.


"Kau? Kalau saja kau tak kegatelan pada kakakku, kakakku pasti tak akan tergoda olehmu." Ucap Lara kasar menunjuk-nunjuk wajah Anin.


"Aku hanya cemas, kaulah yang seharusnya sadar diri, kalau kakakmu tidak memperdulikanmu. Bilang saja kalau kau iri karena kakakmu lebih memperhatikanku dari pada kamu."


"Kau..."


Satu tamparan melayang dari tangan Lara, Anin yang sontak tak sempat menghindar hanya memiringkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Bersiap menerima tamparan sekali lagi dari Lara. Namun Anin tak merasakan sakit di pipinya saat terdengar jelas bunyi tamparan itu.


"Kak Ando?" Lara merasa bersalah karena tamparan kerasnya malah mampir ke pipi mulus pria tampan idola seluruh kampus itu.


"Apa yang anda lakukan?" Tanya Zian bersikap formal.


Dia menatap tajam dan dingin pada Lara karena hampir saja dia gagal melindungi tuan putrinya.


"A... aku...tapi, kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Lara tergagap.


"Zian, kau baik-baik saja?" Tanya Anin cemas menyela ucapan Lara.


"Saya tak apa nona, apa nona baik-baik saja? Apa dia melakukan hal buruk pada anda?" Tanya Zian penuh kecemasan.


Dia pasti akan sangat merasa bersalah lagi jika orang yang dilindunginya akan terluka lagi.

__ADS_1


"Tunggu... tunggu..! Apa maksud kak Ando? Zian? Nona?" Tanya Lara penasaran.


Zian dan Anin menatap Lara, namun Zian menggeser tubuh Anin agar tetap berdiri di belakang tubuhnya, mengantisipasi hal-hal yang mungkin saja akan terjadi selanjutnya.


"Apa yang anda inginkan?" Tanya Zian menatap Lara tajam dan dingin lagi setelah dengan lemah lembut bertanya pada Anin.


Dia iri, sungguh sangat iri, melihat Anin selalu saja disukai dan dikasihi oleh pria-pria tampan. Kakaknya juga, sekarang kak Ando, orang yang sempat diidolakannya juga karena keramahannya pada seluruh mahasiswi di kampus. Namun ternyata, apa hubungan mereka berdua. Batin Lara kesal, jemari tangannya mengepal erat di samping badannya.


"Aku hanya memperingati ******* itu agar..."


"Jaga ucapan anda jika anda ingin baik-baik saja!" Potong Zian dengan tampang semakin garang saja karena kata-kata kasar Lara yang semakin berani menghina Anin.


"Tapi itu..."


"Saya tak akan tinggal diam jika anda berani berbuat kasar dan kurang ajar pada nona kami." Sela Zian lagi.


"Huh ... nona? Kau seperti pengawalnya saja?" Zian masih menatap tajam pada Lara.


Lama-lama nyali Lara menciut saat ucapan Zian bukanlah candaan. Dia yakin betul kalau Zian benar-benar pengawal Anin.


"Sial..." Lara meninggalkan mereka dan masuk ke dalam mobilnya yang dikendarai sopir pribadinya.


"Anda tak apa nona?" Tanya Zian sekali lagi memastikan keadaan Anin.


"Tak apa sungguh. Tapi pipimu memerah, aku akan kompres ...."


"Saya baik-baik saja nona, itu tidak seberapa." Sela Zian mundur beberapa langkah saat jemari tangan Anin mengelus pipinya yang ditampar.


Dia tak mau dadanya kembali berdegup kencang karena ketegangan terhadap sentuhan Anin.


"Terima kasih Zian."


"Itu sudah tugas saya nona." Zian mengalihkan pandangannya ke arah lain tak berani menatap langsung Anin.


Anin terdiam, seberapa keras apapun dia bertanya keadaan Zian, pria berpendirian teguh itu pasti akan menjawab baik-baik saja dan tidak ada apa-apa.


"Kita pulang! Kita kompres lukamu di rumah!" Titah Anin menuju mobilnya diparkir.

__ADS_1


TBC


__ADS_2