Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 103


__ADS_3

Anin membuka matanya perlahan menatap sekeliling ruangan berwarna putih. Tak ditemukannya jendela atau pun pintu. Ruang itu sangat luas seperti tak berujung. Anin menelusuri cahaya menyilaukan dari arah kanannya. Dia terus berjalan menuju arah cahaya itu. Entah kenapa cahaya itu seolah menuntunnya untuk mengikutinya.


Di ujung cahaya itu terlihat seseorang berbaring di ranjang dengan mata masih memejamkan mata dengan alat medis penopang kehidupannya. Mata Anin terbelalak mengenali pria yang berbaring tersebut sebagai orang yang ditunggunya itu.


"Mas Guntur? Mas kenapa? Buka matamu mas, kamu kenapa mas? Jangan lakukan hal ini padaku mas, buka matamu mas! Kau berjanji akan menikahiku dan menjadikanku milikmu seutuhnya kan, buka matamu mas!" Seru Anin berteriak di sisi pria yang terbaring itu adalah Guntur.


Anin tak henti-hentinya menggoyang-goyangkannya tubuh tidur Guntur. Namun sepertinya Guntur tetap mempertahankan dalam tidur panjangnya.


Hingga air mata pun tumpah membasahi pipi Anin sambil sesenggukan yang terdengar menyayat hati.


***


Zian tersentak merasakan jemari tangan istrinya bergerak-gerak karena sejak semalam dia terus menggenggam jemari tangan itu. Mata Anin juga terbuka namun tatapan matanya kosong menatap langit-langit kamar ruang VIP tersebut.


"Nona, anda sudah sadar?" Suara Zian membuat Anin menoleh menatap Zian yang menatapnya dengan tatapan cemas dan penuh kekhawatiran.


Anin kembali menatap sekeliling kamar tanpa mengeluarkan suara apapun dan bahkan tak menjawab pertanyaan Zian. Zian segera menekan tombol 'nurse call' agar dokter segera datang ke kamar ruang perawatan Anin. Dan Zian tak mungkin meninggalkannya sendiri karena terlihat linglung dan pandangan matanya kosong.


"Nona, anda tak apa?" Tanya Zian ragu melihat Anin tiba-tiba mencabut selang infusnya hendak keluar dari ruang perawatannya.


"Nona, apa yang anda lakukan? Anda mau kemana?" Cegah Zian memegangi lengan Anin yang langsung ditepis Anin dan berjalan keluar dari ruang perawatan menatap sekeliling lorong rumah sakit seolah sedang mencari seseorang.


Zian menatap cemas dan khawatir melihat kondisi istrinya pasca pernikahan yang lebih banyak melamun. *Seb*egitu besarkah perasaan anda padanya nona? Tak adakah sedikit ruang sedikit saja di hati kecilmu untukku nona? Batin Zian menatap nanar putri majikannya yang sudah menjadi istrinya sekarang, istri keduanya.


Zian terus mengikuti langkah Anin yang masih setia menelusuri lorong rumah sakit merasa belum menemukan apa yang kira-kira dicarinya.


Brak


Anin membuka pintu ruang perawatan itu dengan kasar, perawat yang hendak mencegahnya tak berhasil mencegahnya.

__ADS_1


Pasien yang baru bangun dari tidur panjangnya itu terbelalak kaget, begitu juga dengan semua orang yang ada disitu.


"Mas Guntur?" Bisik Anin sambil menangis menatap Guntur dengan wajah pucatnya tersentak kaget.


"Sayang." Anin menghambur memeluk tubuh Guntur.


Keduanya saling memeluk erat seolah melepas rindu yang telah lama terpendam dari keduanya. Kedua orang tua Guntur memilih meninggalkan keduanya memberikan privasi pasangan itu. Keduanya juga tak mengira kalau Guntur akhirnya membuka matanya pagi tadi. Dan mereka sangat bersyukur karena hal itu.


Zian terdiam tergugu menatap kedua manusia itu saling berpelukan erat melepas rindu. Zian menghela nafas panjang dan berat, memilih mundur dari tempatnya berdiri tepat di tengah-tengah pintu ruang perawatan Guntur yang sudah dipindahkan dari ruang ICU.


***


"Apa yang terjadi padamu mas?" Tanya Anin memecah keheningan setelah keduanya terdiam lama berbaring di ranjang ruang perawatan Guntur.


Tangan Guntur yang dijadikan bantalan tidur Anin bergerak memasukkan tubuh Anin semakin masuk ke dalam pelukannya seolah enggan untuk melepaskannya. Dia tak mau kehilangan lagi untuk kedua kalinya. Bukannya dia lari dari pernikahan mereka. Insiden itu, kecelakaan itu telah merenggut kesadarannya sampai lebih dari satu bulan dia terbaring koma tak sadarkan diri.


Tadi, sebelum dia membuka matanya, Guntur merasa tubuhnya diguncang hebat oleh seseorang dengan sangat kuat. Orang itu terus berteriak di dekatnya dan memaksanya untuk membuka matanya. Dan dikenalinya seperti suara gadis yang akan dinikahinya beberapa waktu lalu.


Dia juga ingin diam menikmati kebersamaan yang ditunggunya itu.


***


"Ada apa?" Tanya Lara dalam ponselnya.


"Mereka sudah bertemu di rumah sakit nona. Dan kami tak bisa melawan mereka karena tim keamanan dari Alensio grup menghalangi kami dan menjaga mereka di luar ruang perawatan tuan muda." Jelas salah seorang pengawal Lara yang ditugaskan untuk mengawasi Guntur di rumah sakit.


"Brengsek, bagaimana mungkin?" Seru Lara mengumpat kesal di seberang sana.


Dan menutup ponselnya asal dan segera melarikan diri dari tempat persembunyiannya selama ini. Dia tak mau tim keamanan menangkapnya karena semua yang terjadi pada pasangan itu adalah karena kesalahannya.

__ADS_1


"Sial. Aku harus melarikan diri." Lara bergegas keluar dari rumah kontrakannya selama ini.


Cklek


Beberapa orang pria sudah berdiri di depan pintu rumah kontrakannya seolah sedang menunggu dirinya untuk keluar dari dalam rumah tersebut.


"Si...siapa kalian?" Tanya Lara gugup mundur beberapa langkah ke belakang dan langsung diringkus para pria berbadan kekar itu yang lebih mirip seperti pengawal.


***


Cklek


Pintu ruang perawatan Guntur terbuka, muncul sosok dua orang masuk ke dalam ruang perawatan itu. Anin yang sejak kemarin tak meninggalkan Guntur sedikitpun dari ruangan perawatannya menoleh menatap ke arah pintu bersamaan dengan Guntur juga. Saat itu Anin sedang menyuapi sarapan untuk Guntur.


"Daddy? Mommy?" Seru Anin langsung berdiri dari duduknya.


Karina langsung memeluk tubuh putrinya yang terlihat semakin kurus itu setelah tertidur koma seminggu yang lalu. Ya, Jonathan marah langsung menghajar Zian yang menyembunyikan keadaan koma Anin selama seminggu. Dan meski sekarang sudah tak apa-apa, Jo sebagai seorang daddynya merasa marah karena Zian tak langsung mengabarinya saat itu juga.


"Apa maksudmu?" Bisik Jo di dekat telinga Zian beberapa waktu sebelum masuk ke dalam ruang perawatan Guntur.


"Sekarang nona adalah istri saya dan menjadi tanggung jawab saya tuan. Tuan yang mengatakan hal itu pada saya." Jawab Zian tegas masih dalam keadaan tenang meski sudah mendapatkan bogeman mentah dari sang mertua dan sekarang bahkan kerahnya sedang dicengkeram Jo yang menatapnya penuh amarah.


Jo menunduk terdiam mencerna ucapan Zian. Benar, bagaimana pun juga, Anin sudah menjadi istri Zian meski masih secara siri. Dan Anin sudah menjadi tanggung jawabnya. Zian berhak memberikan kabar tentang istrinya pada mereka atau tidak itu adalah keputusan Zian. Tapi, bukankah seharusnya dia menghubungi kedua orang tua Anin jika keadaannya sampai terbaring koma selama seminggu.


Walaupun sekarang sudah tak apa-apa, tapi orang tua mana yang tidak akan cemas dan khawatir melihat putrinya hingga terbaring koma. Jo menghentak cengkeraman tangannya dari kerah baju Zian. Dia pun berlalu meninggalkan Zian di lorong menuju toilet umum rumah sakit. Zian terkulai lemas merosotkan tubuhnya hingga terduduk di lantai.


Entah kenapa dia tertawa getir merasakan nasibnya yang sungguh sangat mengenaskan. Apalagi saat melihat istrinya memeluk pria lain di depan matanya. Meskipun pernikahan hanya karena menggantikan posisi pria tersebut demi nama baik tuan besarnya.


Haruskah aku pergi! Batin Zian tertawa miris.

__ADS_1


TBC


__ADS_2