
Sudah genap lima hari Anin menemani Guntur yang sedang dirawat di rumah sakit dengan selalu menemani, menyuapi dan menyiapkan segala kebutuhannya. Keduanya entah kenapa menjadi agak canggung setelah kedatangan kedua orang tua Anin. Anin mencoba bersikap biasa. Bahkan dia belum menemui Zian sama sekali setelah merawat Guntur.
Dia tak tahu keadaan dan kabar Zian sama sekali setelah terakhir kali melihatnya ikut berjaga bersama pengawal mommynya. Mereka juga tidak saling bertegur sapa menanyakan kabar atau apapun. Keduanya memilih bungkam.
Dan hari ini Anin membantu Guntur berkemas. Dan orang tua Guntur menunggunya di rumah saja.
"Mas, sungguh sudah tak apa meminta dokter pulang?" Tanya Anin sekali lagi memastikan kalau Guntur baik-baik saja.
Sambil terus sibuk membereskan barang-barangnya ke dalam koper yang diantar ibu Kim kemarin.
"Sungguh aku sudah sembuh. Dokter juga bilang aku sudah sehat. Aku hanya perlu kontrol seminggu lagi untuk memastikan kalau aku sudah sehat total." Jelas Guntur tersenyum lembut menatap Anin dengan merapikan kemejanya yang tinggal mengancingkan bagian atas.
"Aku akan membawa koper ini ke mobil dulu mas." Pamit Anin tersenyum lembut menatap Guntur yang ternyata memperhatikannya sejak tadi.
"Biar aku yang bawa!" Tawar Guntur merebut koper di tangan Anin namun ditolak oleh Anin segera menariknya ke belakang tubuhnya.
"Aku minta bantuan pengawal di luar kok." Anin tersenyum menggoda.
"Kau mau menggodaku ya?" Ucap Guntur mencubit kedua pipi Anin manja.
"Aku juga ingin memastikan kalau mobilnya sudah siap." Pamit Anin berlalu meninggalkan ruang perawatan Guntur.
***
"Hiks...hiks...hiks..." Anin tak mampu lagi menahan tangisannya.
Dia segera berlari menuju toilet terdekat untuk menumpahkan tangisannya. Dia ingin menahannya lebih lama di rumah sakit agar kebersamaan mereka lebih lama. Namun dokter sudah menyatakan kesembuhannya dan itu artinya, sebentar lagi mereka akan berpisah.
Harus, karena bagaimanapun juga dia sudah menjadi istri orang lain dan tak pantas baginya bersama pria lain saat dirinya berstatus istri orang. Dan dia juga harus menepati janjinya untuk pergi setelah melihat kesembuhan Guntur.
Sudah hampir setengah jam Anin menumpahkan tangisannya, dia segera mencuci muka membersihkan wajahnya agar tak terlalu terlihat air matanya dan matanya yang sembab. Untuk saja tasnya dibawa yang berisi make up sedikit banyak dapat mengelabui mata sembabnya.
***
Dalam perjalanan menuju mansion Guntur, tak ada pembicaraan apapun di antara keduanya. Keduanya memilih bungkam sambil Anin menautkan jemari tangannya yang dibalas pula genggaman erat jemari tangan Guntur. Anin tersenyum simpul, menatap tautan jemari mereka dengan getir.
Mungkin ini terakhir kalinya aku menggenggam jemari tanganmu mas, semoga kau bisa berbahagia dengannya yang sangat mencintaimu. Aku mencintaimu selamanya. Dan sekarang aku akan menyingkirkan dirimu dari hatiku dan menyembunyikan seluruh perasaanku padamu. Dan sudah saatnya aku berbakti pada suamiku. Meski sebagai istri kedua. Doakan aku agar aku bisa mencintainya seperti aku mencintaimu mas. Batin Anin tersenyum lembut menatap Guntur yang juga menatapnya.
"Kenapa? Apa aku setampan itu?" Goda Guntur tersenyum lembut menatap Anin penuh cinta.
"Mas selalu tampan, sangat tampan. Mas kurusan karena kecelakaan itu. Setelah ini mas harus selalu menjaga kesehatan dan mengembalikan..." Anin menunjuk perut Guntur yang sixpack nya sudah menghilang karena koma lebih dari satu bulan.
"Jadi aku sudah tak menarik lagi begitu?" Canda Guntur menatap Anin lekat.
"Bagaimana pun bentuk tubuh mas, mas tetap tampan dan menarik." Jawab Anin tidak berbohong.
Guntur memang tampan, sangat tampan malahan. Wajah exotik nya turunan dari gen ibunya membuatnya mirip idol K-Pop. Bahkan wajahnya kalah cantik dari Guntur.
***
__ADS_1
Flashback on
Anin menyiapkan pakaian Guntur setelah mandi meski tetap memakai pakaian rumah sakit. Tapi setidaknya pakaian itu bersih. Saat menunggu di ruang perawatan, ada seseorang masuk ke dalam ruang perawatan Guntur. Seorang wanita yang dikenali Anin adalah mantan tunangan Guntur yaitu Alea.
Alea terpaku melihat Anin ada di ruangan itu juga. Tak ada yang memberi tahunya tentang keberadaan Anin yang merawat Guntur setelah siuman. Kesibukannya mengurus pekerjaan membuatnya semakin jarang mengunjungi Guntur atau sekedar bertanya kabar. Keduanya sama-sama terdiam dalam keheningan kamar.
"Boleh kita bicara berdua?" Pinta Anin memecah keheningan diantara keduanya.
"Denganku?" Tanya Alea meyakinkan pendengarannya tidak salah sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Bagaimana kalau kita bicara di bangku taman depan?" Saran Anin tersenyum tulus tanpa permusuhan.
Anin sudah banyak mendengar dari orang tua Guntur, siapa yang tulus dan tidaknya saat merawat Guntur di rumah sakit. Dan salah satunya adalah Alea, dia benar-benar sangat mencintai Guntur.
----
Setelah pamit sebentar beralasan ada yang dikerjakannya, Guntur pun mengiyakan Anin.
Anin segera pergi menuju tempat janjiannya dengan Alea. Dan Alea terlihat gugup saat dirinya datang.
"Duduklah!" Anin menyodorkan segelas kopi yang dibelinya tadi di kantin rumah sakit.
"Terima kasih." Jawab Alea sambil menerima uluran gelas kopi dari Anin.
Keduanya sama-sama meneguk minuman itu setelah duduk bersisian di bangku taman tersebut.
"Jujurlah! Aku ingin tahu sebesar apa dan setulus apa perasaanmu padanya." Ucap Anin lagi masih menatap ke arah depan tanpa menoleh pada Alea.
"Aku mencintainya, sangat mencintainya. Lebih dari nyawaku. Asal dia bahagia bagiku itu sudah lebih dari cukup. Dulu aku sempat terobsesi padanya dan kukira begitulah caranya aku mencintainya. Namun semakin dia menolakku aku sadar, bukan itu yang kuinginkan. Aku ingin bersamanya karena aku ingin kami bahagia. Namun bukan kebahagiaan yang didapatnya namun perasaan tertekan dan terpaksa membuatnya semakin membenciku. Bahkan saat aku mencuri ciumannya dia semakin membenciku. Namun saat aku mendengar dia kecelakaan dan terbaring koma seharusnya aku bersyukur karena itu adalah karma dari dia menyakitiku selama ini. Namun bukannya rasa puas yang kudapatkan, melainkan perasaan sakit melihat orang yang kita cintai kesakitan. Saat itu aku sadar, aku akan membuatnya bahagia meski tidak denganku." Jujur Alea panjang lebar menceritakan perasaannya.
"Terima kasih. Terima kasih sudah mencintainya. Dan tetaplah cintai dia seperti itu. Lama-lama dia pasti akan luluh dengan perasaanmu." Jawab Anin tersenyum miris sambil menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin.
"Kurasa akan sulit. Dia sangat mencintaimu." Jawab Alea menggelengkan kepalanya ikut tersenyum miris juga.
"Setelah dia sembuh dan pulang dari rumah sakit, bisa aku minta sesuatu darimu?" Pinta Anin menatap Alea lekat dengan sorot mata penuh permohonan.
Alea sontak menoleh menatap Anin juga.
"Apa aku bisa melakukannya?" Bukan menjawab, Alea malah balik bertanya karena tak tahu apa yang diminta Anin.
"Jaga dia, cintai dia. Perhatikan dia! Dan pastikan dia baik-baik saja setelah aku pergi." Alea membelalakkan matanya masih belum paham maksud Anin.
"Aku sudah menikah," Sambil menunjukkan cincin kawin yang dijadikan liontin kalungnya karena tak ingin Guntur tahu sebelum benar-benar sembuh.
Alea sudah tahu kalau Anin menikah. Dia mengira hal itu hanya sandiwara demi menutupi reputasi keluarga besarnya sehingga membuat drama atas pernikahan yang tidak didatangi oleh calon pengantin pria yang tidak datang saat hari H pernikahan. Alea terkejut mendengar kenyataan bahwa Guntur tak datang di pernikahannya, bukannya dia sangat mencintai Anin?
Itulah yang menjadi pertanyaan di benak Alea saat mendengar kabar hal itu. Namun pernikahan berakhir lancar meski sedikit terlambat dan yang dia tahu dari papanya yang juga hadir dalam pesta. Bukan Guntur mempelai prianya tapi orang lain entah siapa dia, papanya pun tak tahu. Dan dua hari setelah mendengar kabar pernikahan itu, Alea mendapat kabar yang lebih mencengangkan lagi. Kalau Guntur sedang opname dalam keadaan koma di rumah sakit di kota sebelah sudah tiga hari yang lalu.
Lalu siapa yang menikah dengan Anin? Itulah pertanyaan yang ada di benaknya saat itu. Raka yang mengabarinya saat itu langsung membuat Alea berinisiatif ikut untuk memastikan bahwa kabar yang dibawa Raka benar-benar adalah Guntur.
__ADS_1
Dia langsung terduduk lemas begitu melihat ke arah ruang ICU, Guntur benar-benar berbaring di ranjang rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri dengan alat-alat medis rumah sakit sebagai penunjang kehidupannya. Dan lebih shock lagi, kecelakaan itu karena seseorang membuat rem mobil Guntur sengaja dipotong agar Guntur tak bisa hadir dalam pernikahannya.
Dan semakin shock lagi, pelakunya adalah Lara, adik tiri Guntur yang sakit hati pada Anin dan Guntur sehingga berusaha memisahkan mereka. Dan dia pun juga dikait-kaitkan dalam rencana Lara agar berjalan mulus. Gadis yang sempat hampir menjadi calon adik iparnya itu adalah gadis pendiam dan tak banyak bicara jika tidak perlu.
Tak disangkanya dia ternyata sangat kejam hingga bermain-main dengan nyawa manusia yang notabene adalah kakaknya tiri yang selalu dicari perhatiannya oleh Lara namun tak pernah berhasil.
Alea ingin sekali membalas pada gadis itu dan menjebloskannya ke dalam penjara namun dia tak punya bukti bahwa Lara lah pelaku kecelakaan Guntur. Dan Lara mengancam akan mengatakan pada polisi jika dia dilaporkan. Dan dialah yang akan dituduh sebagai dalang dengan meminjam tangan Lara untuk mencelakai Guntur.
Ancaman Lara bukan main-main ternyata, dia memang punya motif untuk melakukan hal itu semua. Hingga akhirnya dia hanya diam tak bisa melakukan apapun. Dan hanya bisa mendampingi Guntur disamping orang tuanya mengusahakan kesembuhannya.
TBC
Hai-hai pembacaku yang budiman
Masih setia membaca karyaku kah?
Semoga masih bertahan ya
Jangan lupa tinggalkan jejak
Beri rate, like dan vote nya, makasih
Oh ya, aku juga galau nih, mau melabuhkan Anin pada siapa.
Coba dong kasih saran kalian
Pada Guntur apa pada Zian...
Atau dua-duanya...
😁😁
Aku maunya dua-duanya...🤭🤭
Oh ya, Meski aku tak membalas satu persatu komentar kalian, aku baca semuanya Lo..
Terima kasih atas saran dan kritik kalian.
Jangan terlalu baper ya, ini semua hanya ke-halluan saya saja.
Anggap hiburan semata, jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati..
Makasih sudah setia menyimak karya saya..
.
.
.
__ADS_1