Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Malam terakhir 2


__ADS_3

Alensio memasuki rumahnya dengan tampang lelah. Setelah pertemuannya dengan'sang menantu' yang tak diinginkannya. Alensio harus menyelesaikan berkas-berkasnya yang menumpuk di kantornya. Sudah hampir setengahnya dia membubuhkan tanda tangannya pada berkas-berkas itu.


Dimulai dari yang bersifat segera, penting dan untuk beberapa hari berikutnya. Diliriknya jam dinding ruangan menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia berencana membereskan mejanya dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Sudah cukup pekerjaannya untuk hari ini. Dia butuh istirahat dan tidur yang cukup. Umurnya sudah bukan waktunya untuk begadang lama-lama.


Apalagi sejak tadi istrinya terus saja mengirimkan pesan padanya untuk segera pulang dan jangan sampai larut malam saat tiba di rumah.


Tak sampai satu jam, mobilnya sudah terparkir di garasi mobil dengan selalu ditemani pria muda sebagai asisten pribadinya merangkap sopir pribadinya juga membukakan pintu mobil bagian penumpang untuknya. Sungguh lelahnya langsung menguap begitu mendapati istri yang dicintainya menyambutnya meski sudah larut malam.


"Kau baru pulang?" sambut nyonya Alensio tersenyum lembut menatap suaminya penuh cinta.


Meski mereka sudah berumah tangga lebih dari seperempat abad, mereka masih mesra-mesra saja. Alensio sangat mencintai istrinya, dia tak akan pernah lupa bagaimana dia dulu memperjuangkan istrinya itu yang sempat terjerat dengan kakak tirinya. Dia kesungguhan dan keyakinannya untuk meluluhkan, akhirnya dia mampu membuktikan perasaannya pada istri tercintanya itu.


"Sudah larut, Kenapa belum tidur?" jawab Alensio balas bertanya sambil mengecup mesra bibir istrinya yang sudah bagai candu untuknya. Meski sudah berumur, istrinya tetap cantik di matanya.


"Aku mencemaskanmu juga merindukanmu." jawab nyonya Alensio. Alensio hanya tersenyum penuh arti.


"Aku selalu mencintaimu." bisik Alensio membuat istrinya tersipu malu mendapat pernyataan cinta dari suaminya meski sudah lanjut usia masih saja membuat pipinya merona.


Keduanya pun menuju kamar mereka, dengan jas Alensio yang sudah dipegang istrinya dengan tas kerjanya. Alensio melepas pakaiannya untuk membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi yang ada di kamarnya.


**

__ADS_1


"Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Istri Alensio yang diangguki oleh Alensio.


Yang saat itu keduanya sudah berbaring di ranjang kamar mereka.


"Dia wanita yang sama." jawab Alensio membuat sang istri sontak menoleh menatap suaminya.


"Wanita yang sama?" tanya sang istri yang masih belum mengerti.


"Wanita yang pernah menemukan ponsel couple kita saat hilang. Yang pernah aku ceritakan dulu." kening sang istri berkerut tampak berpikir mengenang masa lalu.


Mencari-cari di memori yang tersimpan di benaknya. Mengingat-ingat seseorang yang dimaksud suaminya.


"Wanita yang bernama Karina?" tanya sang istri saat mengingatnya. Alensio mengangguk mengiyakan.


"Kau betul."


"Tapi dia sudah bersuami dan punya anak kan?" tanya sang istri keheranan menatap suaminya.


"Ya, dan dia juga masih bersuami saat ini...." Alensio masih terdiam menjeda ucapannya.


"Jadi dia juga menjalin hubungan dengan putra kita? Dia berselingkuh?" tanya sang istri sambil menutup mulutnya tak percaya dengan kenyataan yang baru dipikirkannya.

__ADS_1


"Entahlah. Mereka pun sudah menikah meski hanya secara siri." jawab Alensio semakin membuat sang istri terbelalak.


"Apa itu artinya putra kita seorang pebinor?" sang istri terkejut.


"Entahlah, aku malah berpikir dia hanya mengincar harta putra kita." tuduh Alensio.


"Tidak mungkin. Dulu saat kuberi imbalan dia menolaknya. Bahkan kuajak belanja menolak untuk membeli barang mewah." ucap sang istri masih belum percaya.


"Dia menerima cek yang kuberikan tadi tanpa protes. Dan dia juga bersedia meninggalkan putra kita tanpa banyak alasan." ucap Alensio mematahkan kepercayaan sang istri tentang wanita yang dimaksud.


Sang istri terdiam. Dia tahu betul berapa nominal cek yang diberikan tadi. Itu lebih dari cukup untuk menyekolahkan dua anak sampai jenjang kuliah bahkan jika mengambil fakultas kedokteran.


Keduanya pun terdiam dan kembali berbaring dengan pikiran berkecamuk dalam pikiran masing-masing yang entah apa yang mereka pikirkan.


**


Suasana kamar utama di rumah Karina masih terasa sangat panas karena suami istri itu sedang berusaha mencapai kepuasan yang sudah entah berapa kali mereka dapatkan. Jo sudah mencoba menahan diri namun dirinya tak akan pernah cukup sekali ataupun dua kali untuk tidak menikmati tubuh istrinya.


Hingga pelepasannya. Jo meracau menyebut nama istrinya dengan begitu sensual dan suara parau pertanda pencapaian yang sangat nikmat.


Jo menggulingkan tubuhnya di sisi tubuh istrinya, memasukkan ke dalam pelukannya. Hingga keduanya pun terlelap setelah melewati malam panjang.

__ADS_1


TBC


__ADS_2