Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 107


__ADS_3

Flashback on


Setelah kepergian Karina dan Anin saat mengunjungi Guntur di rumah sakit. Jo tinggal di ruang perawatan kamar Guntur. Dia duduk di sofa tak jauh dari ranjang Guntur.


Setelah memastikan tidak ada orang lain yang akan masuk ke dalam kamar perawatan tersebut untuk menguping pembicaraan mereka. Jo mendekati ranjang Guntur yang terlihat merasa bersalah karena tidak datang di acara pernikahan itu. Dia masih belum mendengar kabar apapun tentang kejadian itu.


Seolah semua orang merahasiakan padanya. Bahkan Anin sendiri tak mengatakan apapun, dia hanya memberikan curahan perhatian padanya.


"Hanya ini yang bisa kuusahakan." Jo memecah keheningan sambil mengulurkan beberapa map yang sepertinya penting.


Guntur tak langsung menerimanya. Dia masih menatap Jo penuh tanya. Dan bergantian menatap map itu.


"Aku sudah mengambil apa yang sudah menjadi hakmu. Aku lebih baik bekerja sama di awah pimpinanmu daripada di bawah pimpinan ayahmu." Jelas Jo langsung dipahami oleh Guntur.


Dia meraih map-map berkas tentang pengalihan pemilik perusahaan yang direbut kembali oleh ayahnya dengan bantuan putrinya Lara yang dia dengar, dialah dalang dari kecelakaan yang dialaminya.


"Terima kasih tuan." Jawab Guntur tak mampu mengatakan apapun lagi.


Jo terlihat menghela nafas panjang ragu untuk menyampaikan suatu hal penting.


"Anin sudah menikah." Ucapan Jo yang mengejutkan Guntur membuat Guntur tercengang tak percaya.


Dia terdiam terpaku menatap Jo.


"Aku terpaksa mencari penggantimu karena tak mau membuat Anin malu dan reputasi keluarga kami hancur karena ketidak datangmu di hari H pernikahan." Ucap Jo meski terasa berat namun dia harus mengatakannya.


Dia yakin melihat keterkejutan Guntur, Anin belum mengatakan kebenaran tersebut pada Guntur. Entah tak mau atau tak mampu mengatakannya.


"Siapa? Siapa pria itu?" Tanya Guntur meski dengan berat dan getir dirasakan di dadanya.

__ADS_1


"Zian. Kau pasti mengenalnya. Hanya pria itu yang mengenal Anin dengan baik. Aku terpaksa sedikit memaksanya untuk menerimanya. Hanya padanya aku percayakan Anin padanya." Jelas Jo lagi membuat Guntur terdiam mencerna ucapan mantan calon mertuanya.


"Apa yang anda inginkan?" Tanya Guntur seolah tahu apa maksud Jo.


"Beri dia waktu untuk mengatakan sendiri padamu. Mungkin?" Jo menjeda ucapannya, dia ragu untuk melanjutkan ucapannya."Mungkin setelah kau pulang dari rumah sakit, dia akan mengatakan yang sebenarnya padamu. Dan kuharap kau bisa dengan ikhlas melepaskannya. Mungkin, jodoh kalian hanya sampai disini." Ucap Jo lemah, terdengar seperti permohonan di telinga Guntur.


"Aku mengerti maksud tuan. Maaf... maafkan aku tidak menepati janjiku." Guntur menundukkan kepalanya merasa bersalah karena dia lah penyebab hal itu.


Tapi siapa yang akan mengira kalau ada orang yang membuatnya celaka menjelang pernikahannya.


"Tabahkan dirimu! Aku tahu sebesar apa cintamu pada putriku." Jo menepuk-nepuk bahu Guntur dan pamit meninggalkan ruang perawatan Guntur.


Guntur terus termenung sepanjang hari setelah mendengar kabar hal itu dari mantan calon ayah mertuanya.


Bahkan dia tidak fokus saat diajak bicara oleh Anin saat dia menyuapinya. Anin tidak menunjukkan gelagat aneh padanya. Namun dia sering melihat Anin melamun dan termenung sendiri. Kadang dia juga sering menghela nafas panjang dan berat. Saat itu Guntur hanya mengira Anin kecapean, sehingga Guntur hanya menyarankan untuk beristirahat.


Tapi Anin selalu menolak. Sebenarnya dia ingin marah pada Anin. Begitu tega dia mengkhianati cintanya. Bahkan dia tak mencari tahu tentang apa yang terjadi pada dirinya. Namun lagi-lagi perasaan itu segera ditepis oleh Guntur. Anin seorang tuan putri dengan kasih sayang orang tuanya.


Apa aku harus melepaskannya? Apa aku sanggup? Apa aku harus berpisah darinya? Anin adalah hidupku, dia adalah nyawaku. Apa semudah itu hatinya berpaling? Batin Guntur dalam lamunannya.


Saat dia sudah diizinkan pulang. Dia membiarkan Anin mengurus segalanya bahkan mengantarkannya pulang ke rumah menggunakan mobil beserta sopir pribadinya. Dalam perjalanan pulang, dia terdiam. Bibirnya kelu untuk sekedar menanyakan tentang pernikahannya.


Kapan dia akan mengatakannya? Apa aku sanggup mendengarnya? Apa aku akan terima tentang pernyataannya? Batin Guntur melamun di dalam perjalanan pulang dengan kedua jemari tangan mereka saling bertautan.


Sesampainya di mansion Guntur menolak digandeng Anin dengan alasan Guntur sudah sembuh. Dan menolak dianggap pria yang pesakitan, namun bukan itu maksud Guntur. Dia takut akan goyah dan mengikat Anin di sisinya. Entah kenapa tatapan matanya membuat Guntur tak tega saat dia menepis tangannya meski masih tidak kasar.


Saat berpelukan dengan ibu Kim, Guntur tahu kalau Anin sempat meneteskan air matanya yang segera diusapnya agar tak ada yang melihat air matanya dengan memaksakan senyumnya.


Di dalam mansion, Guntur tahu Anin ingin mengantarkannya sampai ke kamar, mungkin saat itu Anin akan mengatakan semuanya dan pamit pada Guntur. Namun Guntur tak siap, dia belum bisa. Dia langsung meminta Raka untuk mengantarnya ke kamar secara tidak langsung menolak diantar Anin.

__ADS_1


 


"Kau tak apa?" Tanya Raka ragu menatap Guntur yang terdiam setelah masuk ke dalam kamarnya.


"Ya?" Lamunan Guntur buyar mendengar pertanyaan Raka yang sejak tadi keduanya terdiam.


"Huff... kau tak turun lagi?" Tanya Raka menatap Guntur lekat yang mulai melepaskan kancing kemejanya untuk membersihkan tubuhnya.


"Tidak." Jawab Guntur tegas tanpa menatap wajah Raka.


"Kau yakin?" Guntur menatap tajam Raka yang mulai menggodanya.


"Apa dengan kau lari seperti ini semuanya akan baik-baik saja?" Tebakan telak Raka membuat Guntur terdiam hingga menghentikan gerakannya melepas kancing kemejanya.


Entah dirinya cengeng atau apa, air matanya tiba-tiba menetes di pipinya. Guntur langsung mengusapnya kasar, namun air mata itu terus menetes membasahi pipinya. Raka langsung mendekap tubuh rapuh itu. Dia tahu betul, adik tirinya itu tak akan sanggup berpisah dengan gadis cintanya satu-satunya itu.


Hati Guntur sulit untuk berpaling. Seumur hidup dia hanya merasakan jatuh sejatuh-jatuhnya hanya pada Anin seorang. Apapun akan dilakukannya untuk mendapatkan cintanya selama itu mungkin. Bahkan dia rela berseteru sambil mengambil perusahaan milik ayahnya demi mendapatkan cintanya. Namun apalah daya jika takdir berkata lain.


Jodohnya dengan Anin hanya sampai disini. Mereka tidak ditakdirkan untuk saling memiliki meski mereka saling mencintai. Guntur menangis tersedu-sedu dalam pelukan Raka yang menepuk-nepuk punggungnya pelan.


"Kau harus kuat, dia akan bersedih jika melihatmu rapuh seperti ini. Kau harus menyemangatinya. Kalian belum berjodoh. Dia juga sulit menerima hal ini, aku tahu itu. Lepaskan dia! Biarkan dia bahagia dengan suaminya!" Saran Raka membuat Guntur semakin tersedu-sedu dalam pelukan Raka sebagai seorang kakak yang menyayanginya.


Flashback off


TBC


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2