
"Kau baru pulang?" tanya Jo saat melihat istrinya masuk ke dalam rumah.
Jo berdiri di tangga menuju kamar mereka, tinggal dua anak tangga untuk sampai di bawah. Tatapannya meneliti tubuh istrinya, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Tak ada yang salah tapi menurut Jo ada sesuatu yang terjadi pada istrinya itu. Jo hanya bisa menebaknya semoga bukan hal yang buruk, harap Jo dalam hati.
"Hmm." jawab Karina tak bersemangat, masuk ke dalam rumah melepas sepatunya berganti sandal rumah naik ke lantai atas kamarnya berada.
Dan tak lupa mengecup punggung tangan suaminya dan mengecup bibirnya sekilas. Lalu berlalu ke kamarnya. Jo yang sudah berpikiran buruk tentang hal yang mungkin terjadi pada istrinya tersenyum lebar, karena masih merasakan perlakuan manis dan hangat istrinya seperti biasa. Ya, mereka pernah bersepakat untuk berperilaku manis agar hubungan mereka semakin dekat.
Namun hari itu Karina akan setiap hari dan sering melakukannya karena baginya dia ingin menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan suami manisnya ini sebelum dia benar-benar 'lari'.
Karina menatap cermin di kamar mandi kamarnya menatap lurus ke dalam cermin. Perlahan senyumnya luntur berganti kesedihan yang berusaha ditahannya tadi setelah bertemu ayah mertuanya. Namun segera ditepisnya perasaan itu. Dirinya bukan seseorang yang pantas mendampingi pria seperti Jo. Seorang pria dengan segala kelebihannya.
Tampan, kaya, mapan dan diatas segalanya dibandingkan dengannya. Apalagi statusnya yang masih punya suami sah membuat Karina semakin merasa seperti perempuan sangat buruk di mata orang lain yang tidak mengetahui kebenaran tentang dirinya.
**
Tok tok tok
"Baby, are you okay?" tanya Jo mengetuk pintu kamar mandi merasa Karina terlalu lama di dalam kamar mandi hingga hampir satu jam lamanya. Karena dia juga tak mendengar suara cucuran air.
__ADS_1
"Sebentar mas!" seru Karina yang ternyata terlelap di bathtub kamar mandi.
Setelah kesedihannya tadi, Karina mencoba berendam dalam bathtub mencoba melupakan segala masalah yang menghampirinya. Jo menghela nafas lega setelah mendengar suara istrinya yang bersemangat meski hatinya tidak.
Cklek
"Kau terlalu lama di dalam." ucap Jo tak senang menatap Karina intens.
"Maaf, aku ketiduran. Mungkin terlalu lelah dengan pekerjaanku." jawab Karina menuju lemari pakaiannya.
"Kau sakit?" tanya Jo cemas sambil meletakkan punggung tangannya ke dahinya terasa hangat karena wajah Karina semakin pucat saat muncul di hadapannya.
"Istirahatlah sebentar. Duduklah!" titah Jo memapah tubuh Karin yang bahkan sudah tak apa-apa.
"Terima kasih." jawab Karina begitu suaminya mendudukkan dirinya dengan lembut.
Jo mendudukkan istrinya di sofa kamarnya dan berlari ke lemari mengambil baju ganti. Jo langsung memakaikannya dengan lembut.
"Berbaringlah!" titah Jo lagi setelah istrinya berpakaian lebih tertutup.
__ADS_1
"Aku tak apa. Hanya demam, mungkin besok sembuh." jawab Karina menatap suaminya yang dengan telaten merawatnya.
"Jangan membantah, kau pasti kecapean!" titah Jo tak mau ditolak.
"Aku sedang tak mau tidur. Belum mengantuk." ucap Karina masih ditahan Jo untuk tidak bangun.
"Istri harus menuruti suaminya apalagi jika berhubungan dengan kesehatan." jelas Jo tersenyum hangat pada istrinya.
"Aku ingin yang lain... " ucap Karina ambigu.
"Katakan! Apa yang kau butuhkan?" tanya Jo.
"Aku...ingin..." Karina mendekati suaminya intens, mengelus rahang Jo lembut dan sedikit kasar karena ada bulu-bulu halus.
Belaian tangan Karin merambat ke hidung, bibir dan semua yang ada di wajah suaminya.
"Aku menginginkanmu." bisik Karina sensual tak mengindahkan rasa pusing dan hangat di kepalanya.
Dia hanya berpikir untuk memberikan kepuasan dengan dirinya yang memimpin permainan sebelum dia benar-benar akan meninggalkannya. Karina ingin meninggalkan kesan yang baik di mata suaminya itu.
__ADS_1
TBC