
Jo mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan istrinya. Setelah beberapa waktu lalu, Bram memberi tahunya tentang masalahnya sudah selesai. Dan dia bisa meninggalkan kota ini. Jo langsung mengendarai mobilnya sendiri tanpa Rian maupun sopirnya.
Jo masih meminta sopirnya untuk menyelesaikan pekerjaannya disana yang tidak harus membutuhkan dirinya, sehingga Jo bisa kembali ke kotanya dengan tenang.
Sudah hampir lima jam perjalanannya menuju ke rumah istrinya dari kota tempat cabang perusahaannya. Jo memarkir mobilnya di luar gerbang rumah istrinya dengan tidak sabaran. Namun gerbang rumah itu terkunci dari luar. Jo sempat mengernyit heran, menatap sekeliling rumah tersebut seperti tak terurus.
Sampah daun kering berserakan di halaman rumah Karina yang minimalis itu. Jo mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Namun nomer ponselnya tidak aktif. Jo merasa perasaannya tak enak. Entah kenapa sejak beberapa hari lalu dia tak bisa menghubungi ponsel Karina.
Dadanya berdetak lebih cepat karena merasa ada yang salah. Jo menghubungi orang kepercayaannya yang disuruh untuk mengawasi kegiatan Karina setiap saat setiap waktu.
Jo :"Kita bertemu di tempat biasanya." Jo langsung menutup ponselnya tanpa menunggu jawaban dari seberang.
**
Tidak lebih dari lima belas menit, Jo tiba di cafe tempat bertemu dengan orang kepercayaannya itu.
"Selamat siang tuan." sapa pria itu menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Apa yang kau punya?" tanya Jo tak sabaran tanpa membalas salam pria itu.
"Maaf, tuan. Setelah sesaat nona Karina hendak pergi ke desa, tempat mertuanya maksud saya mantan mertuanya. Ada seseorang yang membekap mulut saya dan menculik saya selama beberapa hari. Dan saya dikurung di sebuah rumah kosong selama seminggu. Jadi saya..." ucap pria itu menundukkan kepalanya takut dengan reaksi tuannya karena mendadak pandangan Jo menggelap menahan emosi.
"Apa maksudmu?" seru Jo yang membuat para pengunjung cafe menatap ke arah mereka.
Namun Jo tampak tak peduli masih menunggu ucapan bawahannya itu.
"Saat setelah saya dibebaskan, saya kembali ke sekitar rumah nona Karina namun selama seminggu ini pula, tak ada siapapun yang datang atau pergi yang terlihat dari rumah itu."jelasnya, semakin membuat buku jari tangan Jo memutih karena mengepal erat menahan emosi.
Jo ingin menyalahkan dan melampiaskan kemarahannya pada pria bawahannya ini, namun dia tak bisa melakukannya karena dia juga tak bersalah karena merasa tak berdaya. Dia juga disekap oleh seseorang agar tidak melacak keberadaan Karina dimana dia pergi.
__ADS_1
"Lalu?"
"Saya menyelidiki sampai kantor tempatnya bekerja, katanya nona Karina sudah mengundurkan diri tiga minggu yang lalu tanpa alasan yang jelas." lanjut pria itu menatap Jo takut-takut.
"Oh... shit..." umpat Jonathan mengusap wajahnya kasar.
"Dan semua transaksi bank dan nomer nona Karina yang anda berikan terhenti di kota tempat mantan mertuanya tinggal." jelasnya lagi.
Brak...
"Ah, shit." Jo memukul meja tepat di depannya membuat para pengunjung cafe semakin takut dan menjauh dari meja Jo.
Pria bawahan Jo semakin gemetar takut. Dia tak bisa bicara apapun untuk meredakan amarah tuannya.
"Namun..." suara itu terhenti, Jo menatap pria itu seperti akan memberinya peluang untuk menemukan petunjuk dimana istrinya berada.
"Beberapa hari sebelum nona Karina menghilang..."
"Apa maksudmu menghilang?" potong Jo tak suka.
"Maaf tuan. Maksud saya sebelum nona Karina tak ada kabar. Beberapa hari sebelumnya nona Karina sempat bertemu dengan tuan besar Alensio, ayah tuan." jelas pria itu. Jo melotot.
"Apa maksudmu?"
"Maksud saya. Saat nona Karina pulang kerja, dia dijemput oleh asisten tuan besar untuk menemui tuan besar." jelasnya sambil menyodorkan hasil fotonya saat Karina bertemu dengan asisten papanya dan masuk ke dalam sebuah restoran mewah.
Jo merebut ponsel itu dan menggesernya melihat-lihat foto istrinya dalam beberapa tempat lain bukan hanya di restoran dan bertemu dengan asisten papanya.
"Kenapa kau baru saja memberi tahuku?" kesal Jo masih sibuk menggeser foto dalam ponsel itu.
__ADS_1
"Maaf tuan, saya menghubungi tuan tapi tidak bisa. Saat saya mau memberi tahu tuan, saya keburu diculik oleh seseorang. Dan menurut saya itu adalah orang suruhan tuan besar karena tak mau tuan tahu jika nona Karina tak ada kabar." jelas pria itu membuat Jo semakin lemas.
Sekarang dia tahu penyebab istrinya menghilang tanpa kabar. Papanya pasti melakukan sesuatu pada istrinya. Mengusirnya mungkin. Dan Karina tipe wanita penurut dan akan melakukannya tanpa bantahan. Jo berlari meninggalkan cafe, sebelum akhirnya menyuruh pria suruhannya tadi mengirim foto-foto Karina yang diambilnya.
Mobil Jo melaju di jalanan kota dengan kecepatan tinggi. Dia sungguh tak sabar untuk sampai ke rumahnya untuk menemui papanya. Untung saja dia tak menabrak sesuatu di jalanan dengan kecepatan tingginya itu.
Namun suara klakson berbunyi kencang dari berbagai arah dan dengan sopir-sopir yang tak jarang mengumpat pada Jo karena membuat jalanan kacau dengan keahliannya menyopir seperti pembalap.
"Selamat datang tuan muda." sapa seorang kepala pelayan rumahnya melihat Jo masuk ke dalam rumah mewah dan besarnya itu dengan tergesa-gesa keluar dari mobilnya.
"Dimana papa?" tanya Jo sambil berjalan masuk yang diikuti kepala pelayan rumahnya.
"Tuan besar sedang melakukan perjalanan bisnis dari tiga hari yang lalu tuan muda, dan akan kembali dalam tiga hari ke depan." jelas kepala pelayan.
"Oh .. shit ... dan mama?" tanya Jo setelah mengumpat kesal.
"Nyonya besar ikut tuan besar perjalanan bisnis." jelas kepala pelayan lagi.
"Ah... sial..." umpat Jo lagi mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu dengan pandangan mata kosong.
Seharusnya Jo tahu kalau mamanya selalu ikut papanya kemanapun papanya. Apalagi perjalanan bisnis yang tidak memakan waktu sebentar. Jo mendongak menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dengan kedua tangannya mengusap wajahnya kasar, setelah menyugar rambutnya frustasi.
Jo pun sudah menghubungi ponsel orang tuanya namun tak diangkat seolah tahu maksud Jo menghubungi mereka.
Kau dimana baby, aku merindukanmu. Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Kau berjanji akan selalu berada disisiku. Dan tak akan meninggalkanku apapun yang terjadi. Kau dimana sayang, kembalilah! batin Jo tanpa sadar air matanya menetes, namun Jo tampak cuek malah memejamkan matanya mencoba berpikir, kemana lagi dia harus mencari kabar tentang istrinya.
Jo bergegas meninggalkan mansion orang tuanya dengan perasaan hampa dan kecewa.
TBC
__ADS_1