Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Part 6


__ADS_3

"Assalamualaikum..." sapa Karina saat melihat panggilan video call dari suaminya di layar ponselnya malam itu.


"Wa'alaikum salam..." jawab Jo ogah-ogahan namun kembali bersemangat melihat wajah istrinya di seberang sana.


"Kenapa?" tanya Karina mendengar jawaban suaminya yang terdengar tak bersemangat.


Jo masih menatap datar wajah istrinya meski itu sungguh tak membuatnya puas kalau tidak langsung berhadapan langsung dengannya.


"Mungkin terlalu capek dengan pertemuan tadi." jawab Jo asal.


Saat terlintas ingatan tentang Annie tadi membuat wajah Jo murung lagi.


"Istirahatlah, kau pasti capek!" hibur Karina tersenyum manis menunjukkan wajah cantiknya yang sudah membuka hijabnya di kamar.


Tentu saja, disana sudah malam, selisih satu jam dengan ibukota. Namun karena gangguan wanita murahan itu membuat Jo terpaksa menghubungi istrinya yang sepertinya hendak berangkat tidur.


"Maaf, menghubungimu malam-malam begini." ucap Jo cemas.


"Honey, tentu saja tak apa. Aku malah akan semakin marah jika kau tak menghubungiku segera. Kau sudah melewatkan lima jam untuk mengabariku." canda Karina langsung terduduk menatap suaminya yang sepertinya butuh dihibur.


"Hehehe... kau selalu mengerti diriku baby." ucap Jo tersenyum senang merasa mendapat penghiburan dari istrinya.


Memang hanya istrinya yang membuatnya marahnya reda. Memang hanya istrinya yang membuatnya luluh lantak sejak dulu. Dia sungguh tak sanggup berjauhan seperti ini. Kalau saja tidak sedang hamil besar. Dia pasti akan selalu membawa istrinya kemanapun dia pergi dalam setiap perjalanan bisnisnya.


Apalagi kasus yang tengah dihadapi putrinya kini. Dan sekarang entah kenapa adik kecilnya di bawah sana semakin sesak saja minta dibebaskan, padahal dia hanya mengenakan boxer celana saja. Karena itulah kebiasaannya saat tidur, namun dengan mendekap tubuh istrinya.


Tapi sekarang, oh dia sungguh sangat tersiksa berjauhan dengan istrinya kini. Padahal baru beberapa jam lalu bersama istrinya. Jo sungguh tersiksa.


"Baby..." bisik Jo lirih tapi masih bisa didengar istrinya.


"Ya?"


"Aku menginginkanmu." Karina terdiam menatap suaminya sejenak disana.


"Please baby." bisik Jo lagi yang tak mendengar istrinya menjawab.


"Kau yakin?" jawab Karina mengernyit.


"Tentu baby. Aku sudah tak tahan lagi."


"Apa ada seseorang yang mengganggumu?" tanya Karina dengan tatapan curiga meski sebenarnya dia benar-benar curiga.


Dia percaya suaminya bukan seperti mantan suaminya. Suaminya mencintainya tulus.


"Jangan sekarang baby, aku akan menceritakan semuanya saat pulang. Sekarang dia butuh dirimu." pinta Jo dengan wajah yang semakin tersiksa menahan hasratnya.


Karina mengangguk membuat senyum Jo terbit, dia bersiap untuk melakukannya. Yah, memuaskan dirinya dengan bantuan istrinya melalui video call. Bayangkan sendiri, Jo harus cukup puas dengan pelayanan istrinya lewat ponselnya. Terpaksa karena jarak yang memisahkan mereka. Jo akan menghabisi istrinya nanti saat dia pulang.


***

__ADS_1


Cklek...


"Kau dari mana saja?" suara di dalam kamar membuat Annie tersentak.


Dia mencari-cari sumber suara meski tahu suara siapa itu. Mr. Alex keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya berbalut handuk di pinggangnya. Annie mendekat dan duduk di meja rias membersihkan make up-nya.


"Aku mencari udara segar dan menikmati pemandangan disini." jawab Annie meredam kegugupannya masih terus sibuk dengan kegiatannya.


"Aku tak suka tatapanmu padanya." bisik Mr. Alex di dekat telinga Annie sambil mendekap tubuh Annie dari belakang menyerukkan wajahnya ke leher jenjang itu meninggalkan jejak disana.


Annie terdiam sambil menggigit bibir bawahnya menahan hasratnya. Dia tampak berpikir siapa yang dimaksud pria paruh baya itu.


"Kau adalah istriku, ingat itu. Meski hanya siri." bisik Mr. Alex lagi.


"Ka...kami tak ada hubungan apapun. Kalau pun ada itu sudah lama saat kuliah dulu." jawab Annie menahan kegugupannya.


"Kuharap cinta lama tidak bersemi kembali." bisik Mr. Alex lagi mulai mencumbui leher istri sirinya itu.


Annie membalasnya dengan sama hasratnya, dia sudah basah sejak tadi saat mulai mendekati Jo. Sungguh miliknya berdenyut semakin basah saat bertemu Jo lagi. Keinginannya dulu untuk bercinta dengan Jonathan ditanggapi kasar dan dingin oleh Jo. Dan dia marah, sangat marah saat ditolaknya.


Dan karena kemarahannya itu Annie menyebarkan rumor yang tidak benar di kampus dan dia menjadi orang yang sangat dibenci oleh Jo.


'Kalau bukan karena uangmu, aku tak sudi menikah denganmu tua bangka, apalagi sudah ada dua istri di rumahmu. Ah, Jo.'batin Annie di sela-sela cumbuan Mr. Alex padanya.


Dia akan membayangkan seseorang yang gagah dan tampan jika bercinta dengan Mr. Alex dan untuk saat ini dia akan membayangkan Jo dalam percintaannya dengan suami sirinya ini.


TBC


Asal mula anak-anak Jo dan Karina memanggil Daddy dan mommy...


"Dimana anak-anak? Kenapa belum muncul?" tanya Jo saat dirinya mendudukkan diri di kursi meja makan yang hanya ada istrinya.


"Mereka masih bersiap, mungkin..." belum selesai Karina menyelesaikan kalimatnya.


"Good morning Daddy, good morning mommy..." sapa si kembar John dan Josh mengecup kedua pipi Jo dan Karina bergantian, diikuti juga si kecil Hanaya, yang sering dipanggil Hana.


"Daddy? Mommy?" Jo mengernyit mendengar nama panggilannya berubah menatap kedua putranya bergantian.


Begitu juga Karina menatap si kembar dengan heran. Si kembar saling bersikutan untuk menyuruh siapa yang akan menjelaskan pada Jo.


"Teman kami ada yang bule, dia selalu memanggilnya Daddy dan mommy pada kedua orang tuanya dan kurasa kami menyukai panggilan itu." jelas Josh ragu menatap Jo dan Karina gugup.


"Selamat pagi papi, mama." sapa Anin mulai duduk juga di kursi meja makan tempat biasanya.


"Pagi princess.." balas balik Jo.


"Pagi sayang.." balas balik Karina.


"Tapi itu untuk mereka sayang." jawab Jo.

__ADS_1


"Kami suka Daddy." jawab keduanya bersamaan.


"Itu..."


"Mbak Anin pun tak sama memanggil Daddy? Bahkan memanggil papi. Padahal kita memanggil papa?" Anin yang disebut namanya tampak menatap adik kembarnya dan ganti menatap orang tuanya.


Jo dan Karina terkejut sontak menatap Anin yang juga kebingungan, mereka memang belum menjelaskan hubungan antara Anin, Jo dan Karina. Yang mereka tahu Anin adalah kakaknya, tapi entah kenapa wajahnya jauh dari kata mirip Jo, lebih mirip sang mama, Karina.


"Baiklah. Mulai hari ini kalian semua akan memanggil papa Daddy dan mommy. Okey?" putus Jo akhirnya tak mau membuat anak-anaknya bingung.


Bukan niat Jo ingin menyembunyikan kebenaran mereka namun belum saatnya untuk anak-anaknya karena mereka masih kecil. Hanya Anin yang sudah mengerti tentang keluarganya. Dan dia bersyukur memiliki keluarga seperti mereka yang menganggapnya sama dengan adik-adiknya yang lain.


"Yes, Daddy, mommy." ucap mereka bertiga kompak.


Anin yang tak menjawab sontak membuat semua orang yang ada di meja makan menatapnya menunggu jawabannya.


"Yes, Daddy, mommy." jawab Anin lirih.


Semuanya pun tersenyum.


"Baiklah. Lanjutkan sarapan kalian, sudah hampir mendekati jam masuk sekolah." titah Jo mulai makan sarapannya diikuti anak-anak dan Karina yang saat itu sudah hamil tiga bulanan.


"Yes, Daddy." jawab mereka kompak.


**


"Sudah sampai. Belajar yang rajin. Okay?" ucap Jo saat tiba di sekolah Anin.


"Thanks.... Daddy."


"No problem." Anin hendak keluar dari pintu mobil penumpang. Namun diurungkannya tampak ragu ingin bicara pada Jo.


"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Jo lembut.


"Sepertinya aku akan pulang terlambat. Ada bimbel setelah pulang sekolah." ucap Anin.


"Tak masalah. Daddy akan menjemputmu. Hubungi jam berapa kau pulang!"


"Aku bisa pulang dengan sopir Daddy." jawab Anin cepat.


"Tidak. Daddy yang akan menjemputmu. Hari ini sopir akan mengantar mommy untuk ke rumah grandma." jelas Jo tersenyum lembut. Anin ragu menarik sudut bibirnya, dia merasa bahagia dan senang mendengar dirinya juga diprioritaskan oleh sang Daddy sambungnya.


"Thanks, Daddy. Aku menyayangimu." ucap Anin sambil mengecup pipi Jo.


"Aku juga princessku." jawab Jo tersenyum sambil mengusap puncak kepala putri sambungnya lembut dan Anin tersenyum senang menikmati usapan tulus dari daddy-nya.


Dia pun keluar dari mobil setelah melambai pada daddy-nya yang dibalas lambaian tangan juga.


"Dia sungguh menggemaskan. Dia seperti Karina saat seperti itu. Ah, aku jadi merindukan istriku." guman Jo sambil melajukan mobilnya menuju kantor.

__ADS_1


***


__ADS_2