
Mobil mewah berhenti di depan gedung tempat PKL Anin. Seorang sopir keluar dari dalam mobil membukakan pintu belakang mobil itu saat Anin berjalan keluar dari dalam gedung. Semua teman-teman Anin satu sekolah melihat mobil mewah itu terkejut kagum.
"Wah, mobilnya bagus sekali?" Guman para siswa-siswa itu.
"Siapa yang dijemput?" Guman siswa lainnya.
"Pasti orang kaya ya?" Guman lagi.
Semua yang mengetahuinya membuat Anin menundukkan kepalanya malu. Padahal dia sudah berpesan pada Daddy nya untuk tidak menjemputnya di tempat mencolok seperti ini. Anin menjadi canggung karena semua temannya satu sekolah menunggu, siapa gerangan yang dijemput dengan mobil mewah tersebut.
Anin yang merasa tak enak karena sopir itu menunggu dirinya untuk masuk mobil, masa bodoh. Dia pun langsung masuk tanpa pamit pada teman yang lainnya yang menatapnya heran dan kagum
"Daddy .." Seru Anin saat melihat Daddy nya juga ada di dalam mobil ikut mengantarkannya kunjungan ke dokter psikolog nya.
"Sstt..." Jo menutup bibirnya dengan satu jari telunjuknya menunjukkan untuk tetap tenang.
Anin pun sontak menutup mulutnya. Sopir pun menutup pintu mobil setelah nona majikannya masuk ke dalam mobil.
"Daddy ikut?" Tanya Anin antusias.
"Yes, princess. Daddy akan selalu mendampingimu jika tidak sibuk." Jawab Jo tersenyum, ikut senang karena reaksi putrinya yang antusias dan senang.
"Terima kasih Daddy." Jawab Anin penuh semangat.
"No problem princess, everything for you." Jawab Jo mengusap rambut putrinya gemas.
Tak jauh dari mobil Jo terparkir, Teddy lagi-lagi mengepal erat jemari tangannya di sisi tubuhnya. Dia mencoba menolak apa yang dilihatnya kemarin, namun sekarang benar-benar menunjukkan kembali. Anin, gadis yang disukainya dijemput lagi oleh mobil yang sama dan orang yang sama.
"Semurahan itukah dirimu hingga mau mencari uang dengan cara yang salah?" Guman Teddy masih menatap mobil mewah itu yang semakin menjauh.
***
Satu bulan sudah PKL yang dilakukan Anin dengan lancar tanpa kendala satu apapun. Bahkan Teddy tak pernah mendekatinya lagi seperti sebelumnya. Entah kenapa Anin merasa kosong saat Teddy mulai menjauhinya. Ataukah tanpa sadar aku terbiasa dengan kehadirannya yang menggangguku? Batin Anin saat melihat Teddy di kejauhan terlihat akrab dengan Ana.
Bahkan yang sebelumnya Teddy selalu menolak dan menepis tangan Ana yang bergelayut padanya kini dia tak menolaknya meski juga tak menunjukkan ketertarikannya.
Bruk..
"Ah, maaf... aku tidak melihat." Teddy membereskan berkas-berkas yang dibawanya untuk dicopy tanpa menjawab permintaan maaf Anin.
Kalau dulu dia akan sangat senang karena bisa berpapasan dengannya. Namun sekarang entah kebetulan atau apa, dia selalu tak sengaja berpapasan dengan Anin. Hati Teddy sebenarnya merasakan bahagia saat seperti itu namun saat ingat setiap pulang sekolah Anin dijemput oleh seorang bule yang mungkin menjadi sugar daddynya membuat Teddy lagi-lagi menepis perasaannya.
__ADS_1
Anin ingin bicara lebih lagi namun sepertinya Teddy tak akan menanggapinya karena sebelum Anin bicara Teddy langsung pergi tanpa mengucapkan apapun. Entah kenapa dia merindukan saat-saat diganggu Teddy. Setelah menemui dokter psikolog nya selama tiga kali dalam seminggu membuat Anin menjadi semakin nyaman dan terbiasa dengan keberadaan pria asing.
Hingga dirinya ingin memberi kesempatan pada Teddy. Namun sepertinya perasaan Teddy sudah berubah padanya tak seperti dulu lagi. Anin menghela nafas panjang, dia pun bertekad untuk melupakan tentang Teddy.
Hingga beberapa hari kemudian, semua orang kasak-kusuk menatap Anin saat dirinya masuk ke dalam ruang loker tempat khusus untuk meletakkan barang-barang para siswa PKL.
Anin menatap semua orang dengan heran. Dia tak tahu ada apa dengan dirinya dan kenapa dia menjadi tatapan aneh dan sinis oleh semua orang.
"Dasar murahan Lo ya!" Teriak Ana mendorong tubuh Anin hingga punggungnya menubruk lokernya yang memang saat itu Anin sedang berbalik dan setelah meletakkan barang pribadinya di loker.
Anin meringis, entah kenapa dia menjadi tatapan sinis Ana dan semua siswa di ruangan loker itu. Bahkan kini Ana mengoloknya dengan sebutan yang sungguh menyakiti hatinya.
"A.. apa maksudmu?" Tanya Anin yang tak tahu apa yang terjadi.
"Kalau mau jual diri, jangan disini deh. Munafik tahu gak Lo." Ana menunjuk-nunjuk bahu Anin masih dengan tatapan menghina.
"Maksud kamu apa Ana?" Tanya Anin semakin membuat Ana emosi dengan menjambak rambutnya yang membuat Anin terkejut dan kesakitan sontak memegang tangan Ana yang menjambak rambutnya.
"Sakit Ana." Rintih Anin meringis merasa sakit.
"Usir saja An, jangan biarkan ja*lang ikutan PKL di sini. Memalukan saja." Kompor teman perempuan lain yang sepertinya sekelas dengan Ana juga.
"Sakit Ana, lepaskan!" Perasaan Anin yang awalnya membaik kini kembali merasakan ketaknyamanan.
Teddy yang baru datang melihat hal itu semua, dia sebenarnya kasihan saat melihat Anin yang kesakitan karena jambakan rambut oleh Ana.
"Denger ya Lo, kalau Lo berani datang lagi kesini mending pergi deh Lo sekarang. Dasar ja*lang. Bisa-bisanya Lo ngeja*lang di tempat PKL memalukan banget sih Lo." Ana berteriak semakin kencang menjambak rambut Anin yang membuat Anin terduduk di lantai karena Ana menariknya ke bawah.
"Sakit Ana, maksudmu apa? Aku gak seperti yang kau tuduhkan?" Bela Anin masih memegang tangan Ana yang menjambaknya.
Teddy mengepalkan tangannya ingin membantu saat tatapan Anin mengarah padanya dengan tatapan memohon agar ditolong olehnya. Namun Teddy malah melengos dan pergi dari ruangan itu tanpa meletakkan barang-barang pribadinya di lokernya.
"Nih, siapa kalau bukan Lo... Dasar murahan. Maunya sama-sama om om ya, sok polos Lo." Anin semakin berderai air matanya karena jambakan Ana yang semakin kencang.
Apalagi ditambah saat melihat dirinya masuk ke dalam mobil dan memeluk tubuh daddynya terlihat jelas di foto itu. Tidak hanya satu atau dua, foto itu ada banyak dan difoto dari beberapa sudut yang memperlihatkan Anin benar-benar seperti wanita murahan saja.
"Kalian salah paham. Sungguh tidak seperti itu.. Auwww...." Semakin Anin menepis prasangka orang-orang, semakin kencang jambakan Ana.
"Gak usah selak deh Lo, ngaku aja kalau semua itu benar. Dan... berapa tarif Lo semalam?" Ujar Ana semakin kencang jambakannya.
"Auww... sakit Ana. Lepaskan!" Namun bukannya dilepas malah semakin kencang saja.
__ADS_1
"Udah Ana, usir aja!"
"Ya betul." Ucap yang lain.
"Laporkan pada pengawas saja!"
"Ya, betul-betul." Suara orang-orang yang memprovokasi Ana.
"Ada apa ini?" Teriak pengawas dari pihak perusahaan hingga membuat Ana sontak melepas jambakannya.
Anin hanya menangis tergugu sambil masih berlutut di lantai. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya difitnah sekejam ini.
"Dia bu, lihatlah!" Seorang teman Ana menyodorkan salah satu foto pada pengawas itu.
"Apa ini benar Anin?" Tanya pengawas wanita itu juga terkejut.
Anin mendongak menggelengkan kepalanya bermaksud mengatakan tidak, karena suaranya sungguh tercekat karena merasa tak nyaman kembali berada di sekitar mereka.
"Gak Bu, semua itu bohong. Itu fitnah." Sangkal Anin.
"Bohong Bu, jelas-jelas dia sering dijemput setiap pulang. Gak mungkin enggak. Mana ada maling ngaku." Sela Ana.
"Ya... betul... kami melihatnya." Seru yang lainnya membernarkan.
Pengawas wanita itu sebenarnya tahu betul Anin karena dia juga bekerja di bagian keuangan. Selama masa PKL Anin selalu menjadi gadis sopan, baik dalam bersikap dan bertutur kata. Dia juga pintar dan selalu terampil dalam mengerjakan setiap tugasnya.
"Itu betul Anin?" Tanya ibu pengawas itu lembut.
"Enggak Bu, sungguh itu salah. Bukan seperti itu." Sangkal Anin.
"Halah bohong itu Bu. Pencitraan aja... Mana ada maling ngaku." Seru Ana dan yang lain.
"Udah bu, usir aja. Larang dia untuk melanjutkan PKL disini. Malu-maluin perusahaan sini aja." Anin terus saja menggeleng sambil menatap ibu pengawas dengan tatapan memohon.
Teddy menghela nafas gusar, ingin dia maju membantu Anin namun takut kalau kenyataan dari semua itu adalah benar pasti akan sangat menyakiti hatinya. Tangannya sejak tadi masih terkepal menahan diri. Teddy memejamkan matanya sejenak.
"Ada apa ini?" Tanya suara bariton membuat semua orang menatap ke arah suara.
Teddy membelalakkan matanya mendengar suara orang asing di tempat itu.
TBC
__ADS_1