
Ting tong ting tong
Suara bel pintu apartemen Bram berbunyi. Maya yang sedang bersama anak-anak dan bi Ijah menebak kalau tamu itu adalah Bram. Padahal pria itu bisa saja langsung masuk ke dalam karena password pintu tak pernah diganti. Namun Maya tetap saja menuju pintu depan.
Cklek...
"Password nya masih sama mas..." Maya tak melanjutkan ucapannya melihat pria asing yang berdiri tegak di depan pintu.
Maya menatap dengan intens dari atas hingga bawah. Menilai pria yang pendiam itu. Matanya tajam dan datar, tapi tidak dingin. Wajahnya tampan sebelas dua belas dengan Bram tapi lebih tampan Bram. Tampan lagi Jo, ah mantan tuanku itu memang paling tampan. batin Maya tersenyum sendiri dengan mata tidak fokus pada pria di hadapannya itu.
"Maaf nona, nyonya Karina ada?" tanya pria itu membuat lamunan Maya buyar.
"Eh, ah.. iya?" jawab Maya gelagapan karena malu kepergok menatap pria itu yang terlihat tersenyum tipis melihat reaksi yang sama setiap gadis yang menatapnya. Namun wajahnya kembali datar dan tajam.
"Nyonya Karin, ada?" tanya pria itu lagi, bukannya marah Maya malah semakin menggoda pria tampan di hadapannya itu.
"Hai tampan... kau sudah punya istri?" tanya Maya yang malah tak menjawab pertanyaan pria itu.
Pria itu malah melongo mendengar pertanyaan yang tidak pada tempatnya.
"Siapa mbak?" Anin tiba-tiba nyelonong ikut bicara melihat Maya yang kegenitan.
"Eh, anak kecil minggir sana!" usir Maya pada Anin yang mendumel kesal namun ikut menatap pria tampan itu.
"Eh om Rian." panggil Anin yang ternyata kenal dengan pria itu.
"Hai Anin." sapa pria yang disapa Rian yang ternyata asisten pribadi Jo sambil melambaikan tangannya pada Anin tersenyum ramah.
Maya sontak menoleh menatap Anin sekaligus terkejut dengan senyum langka Rian.
__ADS_1
"Anin kenal?" Anin mengangguk-anggukan kepala tersenyum menatap Rian yang juga tersenyum padanya.
"Dia kan asisten papi." Anin mendongak menunjuk Rian.
Yang ditunjuk bangga karena putri sambung bosnya masih mengenalnya karena dulu sering mengantar jemputnya sekolah. Maya manggut-manggut sambil menoleh menatap Rian lagi. Rian pun kembali berwajah datar saat Maya menatapnya.
"Bisakah saya bertemu nyonya Karina?" tanya Rian menahan kesabaran karena merasa tidak dipedulikan Maya.
"Mama kan..." belum selesai Anin bicara, bibirnya langsung disumbat oleh tangan Maya.
"Anin masuk ya, biar mbak yang bicara dengannya." ucap Maya berkedip-kedip matanya pada Anin mencoba memberi pengertian pada Anin bahwa dirinya masih ingin berduaan dengan Rian.
"Kau belum jawab pertanyaanku?" tuntut Maya menatap Rian tajam.
Bahkan sejak tadi, Rian tidak dipersilahkan masuk. Mereka tetap berdiri di depan pintu apartemen. Maya pun tak berniat mempersilahkan masuk juga.
"Maksud nona?"
"Sepertinya anda tidak perlu mencampuri urusan pribadi saya." jawab Rian datar.
"Hah... aku akan tanya pada tuan Jonathan saja."
"Hei.." Rian secepat kilat merebut ponsel Maya yang hendak menghubungi bosnya itu.
Akan panjang urusannya kalau bosnya ikut nimbrung. Apalagi tadi dia berpesan kalau pesannya harus diucapkan langsung pada istri bosnya itu.
"Kembalikan ponselku!" seru Maya tak terima ponselnya direbut.
"Saya akan jawab pertanyaan anda. Jadi jangan menghubungi tuan saya." seru Rian.
__ADS_1
Mata tersenyum simpul, akhirnya berhasil, batin Maya. Padahal niatnya tadi cuma ingin menggoda Rian dengan pura-pura menghubungi tuan Jo.
"Baik. Sekarang jawab semua pertanyaanku." tuding Maya.
"Huff... saya tidak beristri dan saya pun juga tidak punya pacar. Bukan karena jomblo. Tapi saya berniat untuk konsentrasi pada karier saya." jawab Rian panjang lebar yang membuat Maya semakin terpesona pada Rian.
"Maukah kau jadi pacarku?" pinta Maya tanpa sadar mengulurkan jemari tangannya untuk menerima uluran tangan Rian jika diiyakannya.
"Lebih baik segera panggilkan nyonya, karena saya tak mau membuat tuan saya menunggu terlalu lama karena anda menahannya?" ucap Rian tanpa merespon tingkah Maya.
"Hei... kau tak percaya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama?"
"Huff... sepertinya anda keliru mengenai perasaan anda pada saya."
"Tidak. Aku percaya itu perasaan lain padamu."
"Terserah dengan penilaian anda. Yang jelas terima kasih atas perasaan anda tapi maaf.. saya tak percaya hal itu." jawab Rian dingin.
"Aku tetap tak akan menyerah."
"Terserah."
"Asal jangan menghalangi saya membuat anda jatuh cinta pada saya." tantang Maya.
"Akan saya tunggu!" jawab Rian meremehkan.
"Tunggu saja nanti!" Sumbar Maya.
"Tentu." Rian tersenyum tipis.
__ADS_1
Maya tersenyum yakin yang dibalas tatapan Rian jengah. Dia yakin tak akan semudah itu jatuh cinta apalagi sampai dirayu. Rian termasuk pria yang sulit jatuh cinta. Apalagi dengan kesibukannya melayani tuannya.