
Jo berdiri di depan pintu kamar Anin setelah membersihkan tubuhnya terlebih dulu karena habis berkeringat saat berolahraga, menatap pintu itu seolah dapat melihat Anin yang berada di dalam kamarnya. Jo ragu untuk masuk tapi dia harus tetap masuk untuk melihat keadaan putri sambungnya.
Meski Jo marah, Jo tak mau melampiaskan pada anak-anak. Sebisa mungkin Jo akan mengendalikan rasa marahnya agar anak-anaknya tak terkena imbasnya. Jo selalu menyendiri jika dirasakan dirinya hendak marah. Dia tak akan menunjukkan wajahnya di depan anak-anak sebelum amarahnya reda.
Tok tok tok
Diketuknya pintu kamar Anin.
"Princess... ini Daddy..." seru Jo dengan nada dibuat selembut mungkin agar Anin tahu bahwa dirinya tidak benar-benar marah..Tak ada jawaban dari dalam.
Tok tok tok
"Princess Daddy... boleh Daddy masuk?" seru Jo lagi masih hening.
"Daddy ingin bicara denganmu princess... bolehkah...?"
Cklek
Suara pintu kamar dibuka dari dalam. Muncullah sosok Anin di balik pintu terlihat sembab dan kusut wajahnya, yang dibersihkan mendadak karena ingin menyembunyikannya dari Jo. Anin berusaha agar sang Daddy tak salah paham padanya. Jo terdiam agak lama menatap wajah Anin.
Hatinya trenyuh dan merasa bersalah, putri sambungnya berusaha menyembunyikan kesedihannya karena tak mau dirinya marah. Ah, wajahnya, mengingatkanku pada istriku jika sedang berusaha tegar.
"Boleh Daddy masuk ke dalam?" pinta Jo penuh harap dengan mata yang dibuat berbinar-binar.
Anin terdiam tak menjawab, namun dia membuka pintu kamarnya lebar seperti memberi jalan pada Jo untuk ke dalam. Anin masuk terlebih dahulu diikuti Jo melangkah di belakangnya.
Anin duduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai ke lantai menundukkan kepalanya. Jo masih diam menatap sekeliling kamar, kamar yang rapi, bersih dan semua terlihat nyaman. Jo beralih menatap Anin yang masih terdiam menunduk yang Jo ketahui tubuhnya bergetar, ketakutan.
Jo semakin meringis melihat putrinya kembali takut. Dan sekarang karena takut dirinya yang tanpa sengaja berteriak spontan di depannya. Padahal dia tidak marah padanya, lebih tepatnya marah dengan keberadaan pria brengsek itu. Jo mengumpati dalam hati.
"Princess... I am sorry. Daddy tak sengaja menyakitimu. Maaf... maafkan Daddy... " Jo berlutut di depan Anin duduk sambil memegang tangan Anin dan menatapnya penuh permohonan.
Anin tersentak sontak bangun melihat Jo yang tiba-tiba berlutut di hadapannya.
"Daddy... apa yang Daddy lakukan. Berdirilah Daddy... Daddy tak bersalah. Ini salah Anin Daddy karena tak memikirkan Daddy." Jawab Anin ikut berlutut di samping Jo.
Dia merasa bersalah dan tak enak hati membuat Daddy yang menjadi kebanggaannya kini berlutut minta maaf padanya. Padahal seandainya Jo marah padanya pun Jo memang benar. Dia lah awal kesalahan dan kemarahan Jo. Karena dia lah yang memaksa orang tua kandungnya untuk menemaninya saat duduk bersisian berdua.
Anin tak berniat melakukan hal lain. Dia hanya ingin sesekali bersama dengan orang tua kandungnya. Namun dia keliru karena melakukannya saat sang Daddy tidak ada di tempat. Seharusnya Anin tahu kalau kedua orang tuanya tak akan pernah bersama lagi. Entah kenapa Anin sedikit kecewa dan sedih di dalam hati terkecilnya.
Namun hal itu langsung ditepisnya. Kenapa dia harus bersedih? Dia memiliki seorang Daddy sambung yang begitu tulus mencintainya. Bahkan sosok papa yang diinginkan selalu berada di sisinya malah diisi dengan keberadaan Daddy Jo yang menyayangi tanpa membeda-bedakan dengan anak kandungnya. Lalu, apa yang diinginkannya lagi?
__ADS_1
"No, princess. Maafkan Daddy yang langsung berteriak di depan Anin yang Daddy yakin princess Daddy akan salah paham. No, Daddy tak marah padamu princess... Daddy juga tak marah pada mommy, Daddy hanya merasa cemburu. Tapi itu semua karena Daddy mencintai kalian. Daddy berteriak spontan karena Daddy takut kehilangan kalian. Daddy takut kalian akan meninggalkan Daddy lagi." ucap Jo panjang lebar membuat Anin terdiam.
Seketika dia teringat cerita dirinya saat masih kecil, yang pergi jauh dengan sang mommy tanpa daddy-nya. Dan sang nenek Farida bercerita bagaimana rasa sayangnya Daddy Jo pada mommy dan dirinya serta bagaimana putus asanya sang Daddy hingga mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit hingga koma beberapa bulan. Sebesar itu rasa cinta sang Daddy pada mereka.
"Anin juga minta maaf Daddy, maaf... maaf jika Anin salah juga." Jo tersenyum bahagia melihat raut wajah takut putrinya pada dirinya sudah hilang berganti rasa bersalah dan rasa sayang padanya.
Raut wajahnya sudah kembali seperti semula, meski berderai air mata. Jo segera mengusap air mata itu lembut.
"Jangan menangis princess! Terima kasih sudah memaafkan Daddy, kau tahu kan Daddy sangat menyayangimu tanpa membeda-bedakan kalian anak-anak Daddy?" Anin hanya mengangguk-angguk antusias tanpa mampu menjawab karena air matanya terus saja mengalir namun hatinya bahagia.
"Terima kasih princess Daddy." Jo memeluk tubuh Anin membawanya ke dalam dadanya sambil mengusap rambut putrinya, tak lupa kecupan di kening sebagai tanda rasa sayang.
"Sekarang Anin mandi, kita makan malam bersama. Okay?" ucap Jo yang diangguki Anin yang masih berada dalam pelukannya.
***
"Daddy..." seru Hana melihat Jo muncul di ruang makan.
Hana berlari ke arah Jo yang daddy-nya sudah merentangkan kedua tangannya.
Bruk
"Ukh... princess kecil Daddy..." jawab Jo yang sedikit meringis menerima pelukan Hana yang dengan kuatnya menghambur ke dalam pelukannya.
"Daddy, Daddy kenapa lama pulang. Daddy tak pamit juga pada Hana. Daddy juga tak mengangkat panggilanku. Daddy jahat... Daddy jahat..." teriak Hana sambil memukul dada bidang Daddy nya.
"Ukh... ukh... sakit Hana. Maafkan Daddy, Daddy sibuk kerja." jawab Jo tersenyum meringis merasakan pukulan kuat putrinya.
"Hana... Jangan seperti itu pada Daddy. Turunlah!" tegur Karina melihat suaminya kesakitan saat dipukuli putrinya meski itu hanya bercanda, Karina tahu pukulan Hana memang sangat kuat.
"No. Hana masih kangen sama Daddy. Hana mau terus bersama Daddy." seru Hana memeluk erat leher Jo.
"Hana.."
"No problem baby." jawab Jo sambil tersenyum manis pada istrinya.
"Daddy.."
"Daddy.." teriakan si kembar membuat Daddy menoleh ke arah suara.
"Hai boys... " sapa balik si kembar.
__ADS_1
Keduanya cepat-cepat mendekati sang Daddy namun John lebih lambat karena kakinya yang masih sakit. Karina membantu putranya agar tak kesakitan, karena seharusnya putranya masih harus beristirahat beberapa hari sampai kakinya sembuh.
"Kenapa kaki John?" tanya Jo mengernyit heran melihat kaki putranya diperban.
Dia sungguh tak diberitahu dan tak tahu apa yang terjadi dengan anaknya itu. Jo menurunkan Hana dan menghampiri John dan menggendong tubuh putranya itu mendudukkannya di sofa dekat meja makan.
"Ah, itu keseleo honey." jawab Karina ragu, dia lupa memberi tahu suaminya tentang luka putranya itu.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Jo mengamati balutan perban itu sangat rapi dan pasti dilakukan oleh orang yang profesional.
Jo ganti menatap wajah John yang ragu untuk menjawab.
"A... aku terjatuh tadi pagi saat belajar berselancar." jawab John ragu.
"Kau belajar berselancar? Sendiri?" tanya Jo mulai merasakan emosi karena peringatannya tak didengar.
Putranya boleh belajar berselancar namun jangan sendiri, harus ada orang dewasa yang bersama mereka.
"John!" seru Jo menatap putranya itu memperingatkan.
"Tidak sendirian Daddy, kami belajar bersama dengan uncle." jawab John.
"Uncle? Who?" Jo menatap istrinya, dia akan marah lagi jika uncle yang dimaksud adalah pria brengsek Ken.
"Aku. Ada masalah memangnya?" sela suara seseorang yang muncul dari arah pintu. Semua orang menoleh menatap ke arah suara.
"Hai mbak.." sapa Katrina bercipika dan cipiki.
"Apa keahlianmu mulai berkurang?" ejek Jo pada sepupunya itu.
"Hei... apa maksudmu? Putramu terluka bukan karena keahlianku yang berkurang kan?" jawab Bram tak terima.
"Huh... kau juga selalu kalah saat kita berlomba dulu." ejek Jo.
"Aku tak selalu kalah."
"Huh... oh ya..." Jo sudah melupakan kemarahannya tentang kaki putranya yang terluka setelah tahu putranya belajar berselancar dengan sepupunya.
"Makan malam sudah siap. Apa kalian akan terus berdebat?" sela Karina mencoba melerai keduanya.
"Ayo boy!" jawab Jo sambil menggendong John putranya ke kursi meja makan.
__ADS_1
TBC