
Karina turun dari mobil suaminya langsung masuk mansionnya. Tanpa memperdulikan suaminya yang sengaja berputar untuk membuka pintu mobil untuknya. Kata-kata Annie tadi masih terngiang di telinganya. Meski dia mengatakan tak mempercayai ucapan wanita yang mengaku mantan kekasih suaminya itu, Karina tetap kepikiran juga.
Dia seorang wanita, dia juga hati. Apalagi dirinya pernah dikhianati oleh mantan suaminya hingga dua kali karena bisa dikatakan dia terlalu buta mencintai suaminya.
"Baby." Seru Jo tak digubris istrinya.
Dia mengernyit heran melihat istrinya tak menjawab panggilannya. Biasanya semarah apapun istrinya dia tetap menjawab panggilannya meski dengan malas-malasan. Apa dia secemas itu meninggalkan putri kecilnya? batin Jo mengikuti langkah istrinya.
"Baby." Seru Jo lagi, pelayan yang tersenyum menyambutnya tak dihiraukan sama sekali.
Karina tetap berlalu ke lantai tiga kamar mereka berada.
"Baby " Teriak Jo yang membuat si kembar yang sedang nonton TV menoleh menatap daddy-nya yang berteriak memanggil mommynya.
Jo mempercepat langkahnya hingga berlari meloncati dua tangga sekaligus.
Cklek
Jo membuka pintu kamarnya kasar, mencari sekeliling keberadaan istrinya yang tak ada di dalam kamar. Terdengar suara dari arah walk-in closet, Jo dengan yakin menghampiri dan melihat istrinya sedang mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya.
"Baby." Panggil Jo lembut mendekati istrinya yang tampak dingin dari punggungnya.
Karina berbalik setelah mengusap air matanya yang entah sejak kapan menetes deras di pipinya. Dia melewati suaminya begitu saja. Dia belum siap meminta penjelasan dari suaminya.
Apalagi jika jawaban suaminya mengiyakan pernyataan Annie. Karina belum siap menerima kenyataan yang akan semakin melukainya lebih dalam lagi itu.
"Baby? What happened?" Tanya Jo menarik lengan suaminya.
Karina tetap memalingkan wajahnya tak mau suaminya melihat air mata kecewanya.
"Aku harus menyusui Joana." Karina menghentakkan tangan suaminya yang erat itu.
Jo mencoba tetap bersabar dengan sikap istrinya. Dia juga berusaha mengendalikan emosinya untuk tidak ikut marah pada istrinya itu.
"Baby, listen to me! Ada masalah apa?" Tanya Jo tak sengaja mencekal erat lengan istrinya.
"Ukh..." Rintih Karina menatap lengannya yang kesakitan.
__ADS_1
"Maaf. Sakitkah?" Jo melepaskan lengan istrinya sambil mengelus lengan yang dicekal nya tadi melihat istrinya mengelus juga.
"Aku harus..." Jo mendekap tubuh istrinya yang masih berusaha lepas darinya itu.
"Katakan baby, apa masalahmu? Aku tak akan tahu kalau kau diam saja." Bisik Jo dalam pelukan itu.
"Hiks...hiks...hikss..huhu..huhuhu....huaa..." Tangisan kencang Karina terdengar menyayat hati bagi yang mendengarnya.
Membuat Jo merasa bersalah dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan istrinya.
"Menangislah baby, Jika itu bisa membuatmu lebih baik." Bisik Jo trenyuh.
Dia tak tahu apa yang terjadi pada istrinya.
"Apa yang kurang dariku mas? Apa? Apa aku sudah terlalu tua untukmu? Apa aku sudah tidak menarik lagi di matamu?" Bisik Karina terdengar putus asa.
Jo tersentak melepas pelukannya menatap wajah istrinya yang sembab dengan air mata membasahi seluruh wajahnya.
"Hei, baby. Ada apa? Siapa yang mengatakan itu? Kau masih terlalu cantik untukku. Kau adalah segalanya bagiku. Kenapa kau berpikIr seperti itu? Tak ada yang bisa menggantikanmu di sisiku baby." Jawab Jo sedikit tersulut emosi.
"Lalu... apa tidur denganku tak cukup untuk mas? Apa setiap percintaan kita mas masih belum puas?" Tanya Karina lagi masih belum sepenuhnya reda.
"Kau bohong mas, kau bohong. Bahkan kau mencari kepuasan dari orang lain." Jo tersentak, wajahnya sudah memerah menahan amarahnya.
"Apa yang kau katakan baby? Apa maksudmu? Kau tak percaya padaku?" Bukannya Jo mereda, dia juga malah emosi mendengar tuduhan itu.
"Kalau kau sudah bosan padaku katakan mas! Katakan mas! Jangan bermain di belakangku! Itu sangat menyakitkan." Seru Karina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang semakin berderai.
Deg
Detak di dada Jo berdenyut sakit, dia sungguh sangat mencintai istrinya. Semudah itukah dirinya menuduhnya seperti itu. Apa dia terlalu tak bisa dipercayai. Tidak hanya setahun dua tahun mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak mudah itu. Bahkan sudah ada empat anak dari pernikahannya.
Tapi... apa yang membuat istrinya terlihat begitu kecewa dan hancur seperti itu. Tubuh Karina merosot hingga terkulai di lantai. Pikiran Jo yang tak pada tempatnya cekalannya tiba-tiba mengendur. Dia mencoba mencerna dan berpikir. Apa yang terjadi dengan istrinya hingga berpikir buruk tentang dirinya.
Bahkan saat rumah tangganya sudah berjalan lebih dari sepuluh tahun. Apa yang terjadi dengan istriku? Tunggu! Annie....ya, pasti wanita itu yang meracuni pikiran istrinya. Aku harus membalas wanita itu. Akan ku hancurkan hingga dia mati pun segan. batin Jo.
"Baby, siapa yang mengatakan padamu? Apa wanita itu yang mengatakannya?" Tanya Jo ikut menundukkan tubuhnya menyamai istrinya.
__ADS_1
"Jadi benar mas? Kau benar melakukannya? Kau jahat mas .. kau kejam mas..." Karina sambil terus menangis memukuli dada bidang suaminya yang keras itu.
"Bukan seperti itu baby, dengarkan aku! Hei... listen to me!" Jo berteriak karena istrinya terus menerus histeris.
Jo akhirnya menangkup kedua pipi istrinya hingga mereka saling menatap.
"Kau percaya padaku kan? Kau mencintaiku kan?" Tanya Jo menatap kedua mata istrinya yang sembab.
"Hiks...hiks...hiks..." Bruk.. pandangan mata Karina menggelap, dia pingsan.
Jo terlihat panik dan cemas melihat istrinya tiba-tiba pingsan dalam pelukannya. Dia membopong tubuh istrinya ke ranjang dan menghubungi dokter pribadinya untuk memeriksa istrinya.
***
Sementara dokter memeriksa keadaan istrinya, Jo menghubungi Rian yang masih berada di luar kota itu untuk membereskan Annie.
"Ya, tuan."
"Lakukan sesuatu pada wanita murahan itu Rian!" Titah Jo yang tak bisa ditawar lagi.
"Siapa maksud anda tuan?" Tanya Rian mengernyitkan keningnya bertanya-tanya.
"Siapa lagi? Wanita murahan itu. Dia sudah meracuni pikiran istriku tentang yang buruk-buruk tentang diriku. Dan sekarang istrinya sampai shock dan pingsan." Jelas Jo dengan nada kesal dan amarah yang meluap.
"Baik tuan. Akan saya urus segera." Jawab Rian tegas.
Rian selain menghormati Jo sebagai atasannya. Dia juga menghormati istrinya atasannya itu. Bagaimana pun juga nyonya mudanya yang berjasa dengan hubungannya dengan istrinya berjalan lancar sekarang. Nyonya muda ikut menyelesaikan kesalah pahamannya dengan istrinya sebelum pernikahan mereka.
Dan istrinya pun juga sudah menganggap nyonya mudanya seperti kakak kandungnya sendiri. Rian mengusap layar ponselnya yang sudah mati dari panggilan tuannya.
"I love you, Maya." Bisik Rian lirih mengusap layar ponselnya yang ber wallpaper wajah tersenyum istrinya setelah melahirkan putra pertamanya.
Ah iya, akhirnya Rian dan Maya jadi menikah. Sekarang rumah tangga mereka memasuki usia delapan tahun. Itupun berkat bantuan nyonya mudanya yang menjodohkan kami, hingga akhirnya Rian merasa yakin dan melamar untuk dijadikannya istri.
Namun pernikahan yang tinggal lima hari itu harus mendapatkan cobaan yang membuat pernikahan mereka nyaris batal. Dan dengan bantuan nyonya mudanya keduanya pun akhirnya dapat menyelesaikan kesalah pahaman yang terjadi diantara keduanya dan menikah.
Hingga sekarang mereka sudah memiliki dua orang anak, yang pertama seorang putra berumur enam tahun dan seorang putri kecil masih berumur satu tahun.
__ADS_1
TBC