
"Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya Bram sore itu saat tiba di kantor polisi tempat para pelaku dibui.
Jo menoleh menatap sepupunya Bram yang baru saja tiba dari ibukota langsung menuju kantor polisi setelah semalam Jo menghubunginya dan menceritakan semuanya yang terjadi pada Anin, putri sambung Jo yang dulu juga sempat hendak menjadi putri sambung Bram juga. Jo berdiri dan mereka saling berpelukan ala lelaki.
"Kau sudah datang?" tanya Jo basa-basi.
"Perkenalkan saya pengacara untuk gadis bernama Anindita Darma." ucap Bram mengulurkan kartu namanya pada pihak kepolisian dan juga disitu sudah ada kuasa hukum dari pihak tersangka.
Semua berjabat tangan saling memperkenalkan diri masing-masing. Jo hanya diam menyerahkan semuanya pada pengacaranya yang tak lain juga sepupunya sendiri.
Kini mereka membahas tentang kasus itu. Jo hanya mmeyimak sedikit menambahkan dan mengurangi cerita yang benar-benar tak muncul sama sekali. Berdasarkan pernyataan Anin pagi tadi, hal itu terjadi saat Anin hendak ke minimarket dekat gudang kosong tempat penyekapan Anin.
Ada dua pemuda yang mendekatinya mengajak berkenalan dan Anin menyambutnya dengan baik mengingat dirinya disapa dengan ramah. Anin tak punya pikiran buruk pada kedua pemuda itu. Karena Anin sendiri sebenarnya sudah punya kekasih namun di ibukota. Dan hal itu sungguh mengejutkan Jo saat putrinya itu mengakuinya.
Jo menahan diri untuk tidak menginterogasi siapa pemuda yang sudah menjadi kekasih putri sambungnya itu. Bukan Jo tak mengizinkan mengingat usia Anin sudah melewati tujuh belas tahun.
Yang disayangkan Jo, kenapa putrinya yang selalu diperhatikan setiap detailnya bukan hanya Anin tapi semua anak-anaknya yang lain diperhatikan dengan detailnya juga. Selain tak mau melakukan kesalahan suatu saat nanti. Jo tak mau mereka salah langkah hingga menyesali kemudian hari.
***
"Sepertinya kasusnya akan berat dan panjang." oceh Bram saat keduanya pulang menuju resort tempat Jo menginap.
Karena hari sudah mulai larut malam. Pembahasan akan berlanjut keesokan harinya.
"Kenapa? Kau takut?" ucap Jo sedikit emosi memicing menatap Bram.
Bram merasa tersinggung dengan ucapan Jo beralih menatap Jo dengan pandangan tak suka karena sepupunya ini sejak dulu sama saja, meremehkannya.
"Kau meremehkanku?" ucap Bram ganti memicingkan mata menatap Jo kesal.
"Kau yang meragukan kemampuanmu sendiri." jawab Jo kembali fokus menyetir lagi.
"Aku tak bilang tak mampu."
"Sudahlah!"
"Hei..." Jo hanya tertawa.
"Brengsek kau!" Bram mengumpat kesal, ternyata sepupunya itu menggodanya.
Tahu menggoda, dia sedang kesal dan capek. Sepupu laknatnya itu malah menggodanya dan dia selalu berhasil digodanya.
__ADS_1
**
Setelah hampir satu jam perjalanan, mobil diparkir di halaman resort tempat Jo menginap.
"Aku akan menginap di hotel." ucap Bram tanpa turun dari mobil.
"Kenapa? Kau belum move on dengan istriku?" jawab Jo memicing.
"Yaa..." Bram mengumpat kesal.
"Istriku menunggu di hotel, aku tak mungkin menginap disini sementara istriku di hotel kan?" jawab Bram tak mau kalah.
"Kenapa tak mengajak menginap disini?" jawab Jo melirik ke dalam mobil.
"Aku..."
"Kenapa kalian tak segera masuk?" suara seseorang menginterupsi keduanya, membuat Bram spontan turun dari mobil.
"Sayang..." seru Bram menatap wanita yang baru muncul dari dalam resort.
"Maaf, aku mengabaikan pesanmu untuk menginap di hotel. Kami tak mau kesepian di dalam kamar hotel." jawab wanita itu dengan perut buncitnya.
"Baby.." seru Jo melihat wanita yang sama dengan hijabnya muncul dari rumah.
Jo dan Bram saling pandang, Jo pun tertawa terbahak-bahak. Membuat Bram kesal karena mendengar tawa mengejek dari Jo. Jo mendekati istrinya yang berwajah sama namun berbeda.
Cup
"Assalamualaikum.. my wife." Jo mengecup bibir Karina sekilas, membuat Bram berdecak melihat kemesraan pasutri itu seolah mengejeknya.
"Wa'alaikum salam my hubby..." jawab Karina tersenyum lembut.
"Kau ingin? cup..." wanita berwajah sama yang mirip Karina itu juga mengecup bibir suaminya yang tampak malu-malu.
"Thanks sayangku..." Bram balas mengecup bibir istrinya sekilas dan mereka pun masuk ke dalam resort dengan menggandeng pinggang pasangan masing-masing.
***
Karina mengambilkan makan malam untuk suaminya beserta sayur dan lauknya setelah menyiapkan untuk anak-anaknya. Baru kemudian untuk dirinya sendiri. Anin, sudah tidur setelah Karina mengantarkan makan malamnya.
Katrina, kakak kembar Karina yang sekarang sudah menjadi istri Bram juga menyiapkan makan malam untuk Bram. Setelah putra sulungnya juga sudah disiapkan makannya.
__ADS_1
"Makanlah dulu, Bob!" ucap Katrina sambil mengusap rambut putranya.
"Aku bukan anak kecil mom." jawab Bobby kesal membuat semua orang disana tertawa.
Bobby kini sudah berusia lima belas tahun, setelah dua tahun lalu Bram dan Katrina memutuskan menikah secara diam-diam di Kanada, kini Katrina sedang hamil anak Bram yang berusia sekitar enam bulan kandungannya. Selisih sebulan dengan perut Karina.
"Kalian tak mengatakan jika menikah diam-diam?" tanya Karina menatap Bram meminta penjelasan.
"Maaf, semua terjadi begitu saja." jawab Bram sambil menyantap makan malamnya.
Begitu juga dengan semua orang yang ada di meja makan.
"Kukira kau belum move on." ejek Jo.
"Jo..." Bram memicing tak suka menatap Jo yang ditatap hanya tersenyum simpul.
"Kurasa anak kita bisa berteman nanti." canda Jo.
"Kurasa tidak." jawab Bram acuh.
"Brother..."
"Kami akan pulang ke Kanada setelah urusan disini selesai." Jo dan Karina saling pandang.
"Kau bilang kasus ini tidak akan berakhir cepat? Kau yakin istrimu tak melahirkan disini?" ucap Jo menatap Bram.
Bram melirik perut istrinya yang mungkin dalam dua bulan ke depan akan melahirkan.
"Kita lihat saja nanti." jawab Bram. Karina melirik kakaknya dan saling tersenyum.
**
Jo memeluk tubuh istrinya dari belakang. Setelah makan malam, semua orang kembali ke kamarnya masing-masing. Begitu juga anak-anak, pelayan mengantar ke kamarnya masing-masing.
"Mana upahku? Aku sudah membantu kalian." bisik Jo sambil mengecupi tengkuk leher istrinya mesra.
"Geli honey ..." bisik Karina merasakan tengkuknya merinding karena kecupan suaminya.
"Aku menginginkanmu." bisik Jo pada daun telinga istrinya, tak lupa meninggalkan jejak di sekitar leher jenjang istrinya.
Apalagi hijab istrinya sudah dilepas setelah masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya. Jo tak mau diganggu oleh anak-anaknya. Setelah kesibukan mengurus kasus putri sambungnya. Jo harus menahan untuk tidak bermesraan dengan istrinya. Padahal niat mereka datang ke Bali adalah untuk babymoon selain untuk bulan madu mereka.
__ADS_1
TBC