Dua Suami/ Kehidupan Baru

Dua Suami/ Kehidupan Baru
Penguntit?


__ADS_3

Disinilah Karina bekerja, di gedung perkantoran yang tidak terlalu besar yang mungkin saja kantor itu merupakan cabang dari perusahaan besar yang katanya berpusat di negara asal Karina. Namun Karina tak terlalu memperhatikan hal itu.


Asal dia diterima bekerja di tempat yang masih asing untuknya dia sudah bersyukur. Karina bekerja sebagai resepsionis kantor itu. Bagian yang tidak terlalu berat baginya, meski hanya berdiri sepanjang hari. Karina tetap bersyukur karena di usia kehamilannya yang sudah memasuki tujuh bulan tak perlu cuti, karena dengan berdiri di meja resepsionis tak akan menyulitkan untuk bekerja.


Meski dia harus berdiri sepanjang hari. Namun untungnya rekan kerjanya sesama resepsionis sangat baik. Dia menyuruh Karina untuk duduk sebentar jika terlihat kelelahan dan tidak terlalu banyak tamu yang datang.


Hingga hari itu, Karina sedang duduk karena merasakan punggungnya nyeri. Atas saran temannya dia duduk sebentar. Dan rekannya izin ke toilet sebentar dan Karina berjaga sendiri.


"Selamat siang pak?" sapa Karina dengan sopan tak lupa senyuman selalu terukir di bibirnya.


"Selamat siang, Dimana ruangan Mr.Alex?" tanya tamu itu sendiri juga tersenyum ramah.


"Dengan bapak siapa ya? Apa anda sudah buat janji?" tanya Karina ramah tetap dengan senyuman ramahnya.


"Ah, saya Mr. Norman saya sudah janji ingin memperkenalkan beliau dengan seseorang." jawab pria itu.


"Sebentar ya pak?" Karina menghubungi bagian sekretaris direktur Mr. Alex yang dimaksud tamunya.


"Maaf Mr.Norman karena lama. Aku harus..." tatapan pria yang baru saja datang beralih pada wanita yang dikenali yang berdiri di balik meja resepsionis hingga pria itu tak melanjutkan ucapannya.


Karina meletakkan gagang telepon itu dan kembali menatap tamu itu ikut tersentak melihat pria yang baru datang adalah pria yang bertemu dengannya kemarin. Bramantyo. Karina segera mengalihkan pandangannya.


"Sudah ditunggu di ruangan Mr. Alex tuan di lantai lima belas." ucap Karina tersenyum ramah dan beralih tersenyum ramah pula pada Bram yang sejak tadi menatap Karina dengan tatapan penuh arti.

__ADS_1


Dia pun mengikuti langkah Mr.Norman dan meninggalkan meja resepsionis setelah Karina membuang pandangannya ke arah lain.


**


Hari berikutnya, Bram datang kembali ke gedung kantor itu dan tak lupa menyapa Karina meski direspon dengan ramah pula hanya sebagai formalitas.


Hingga sudah lebih dari seminggu ini Bram bolak-balik ke gedung kantor itu entah karena urusan apa, sepertinya kantor tempatnya bekerja sedang membutuhkan jasa seorang pengacara terkenal dengan kasusnya yaitu Bramantyo.


Karina merasa jengah, karena sepertinya Bram berusaha akrab dengannya melalui rekan resepsionisnya. Meski Karina tak menanggapi serius setiap Bram menghampiri mejanya setelah bertemu dengan atasannya.


**


Karina terhenti saat merasakan seseorang mengikutinya dan dia sudah menebaknya siapa orang itu. Karina berbalik menatap pria itu dengan tatapan tajam.


"Ehmm..." Bram mengalihkan pandangannya ke arah lain dan kembali menatap Karina "melihat pemandangan." Karina memutar bola matanya jengah melihat alasan yang klise pada Bram.


"Bisakah anda jangan mengikuti saya?" pinta Karina memelas meski sudah tak ketus seperti tadi. Bram terdiam, menatap Karina lekat yang menatapnya dengan sorot mata memohon.


"Aku hanya mencemaskan ibu hamil yang pulang sendiri tanpa teman." jawab Bram terdengar beralasan namun sejatinya dia sungguh cemas melihat Karina atau lebih tepatnya pada ibu hamil yang sudah mendekati masa persalinan namun sendirian.


"Terima kasih atas perhatian anda. Jadi sekarang tolong jangan ikuti saya lagi! Aku akan sangat menghargai anda jika anda tak membuntutiku beberapa hari ini."


Uhuk...uhuk...

__ADS_1


Ucapan telak Karina membuat Bram terkejut meski beberapa hari ini dia mengikuti Karina diam-diam baru hari ini dia terang-terangan menguntitnya.


"Aku hanya penasaran, laki-laki mana yang tega membiarkan istrinya yang sedang hamil pulang malam-malam sendirian dan berjalan kaki." ucap Bram akhirnya mengaku.


"Dan itu bukan urusan anda untuk mencampuri urusan saya." Karina berbalik meninggalkan Bram sendiri terpaku di sana.


'Aku tak mau jika seseorang melalui hal sama seperti istriku.' batin Bram menghela nafas berat, dia menatap punggung Karina yang semakin menjauh. Entah kenapa dia kasihan melihat wanita mantan lawan kliennya itu.


'Dia hamil? Apa dia sudah menikah lagi setelah perceraian itu?' batin Bram meninggalkan tempat itu setelah memastikan Karina masuk ke dalam rumahnya yang diintainya beberapa hari ini.


Flashback on


Bram berlarian di lorong rumah sakit. Saat itu dia sedang berada di tempat persidangan membantu kliennya yang terdesak kalah oleh lawannya. Dan kasus mendadak itu membuat Bram mau tak mau meninggalkan istrinya di rumah sendirian karena dia sudah terlanjur janji dengan kliennya.


Beberapa hari yang lalu dia sudah meminta temannya sesama rekan pengacara untuk menggantikan dirinya sebagai wakil pengacara dari seorang kliennya. Namun dalam dua kali persidangan itu temannya kalah. Dan persidangan terakhir kliennya marah menuduh Bram tidak profesional karena menggantikan dengan pengacara temannya.


Hingga akhirnya mau tak mau Bram mengganti saat persidangan terakhir dan kasus kliennya menang. Dia mendapat pujian yang tak terhingga dari semua yang ada di persidangan namun deringan ponselnya membuat meninggalkan tempat itu dan kabar itu membuatnya shock dan terkejut.


Dan disinilah dia sekarang, berdiri di depan ruang UGD rumah sakit dengan istrinya masih ada di dalam ruangan itu sedang ditangani dokter.


ART nya bilang kalau istrinya pamit untuk ke minimarket di depan rumah namun entah siapa yang salah, sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi menghantam tubuh istrinya yang sedang hamil tua yang hanya beberapa hari lagi istrinya akan melahirkan bayinya.


Sang istri yang hendak menyeberang langsung terpental jauh dengan bersimbah darah dan kehilangan kesadarannya. Sang ART yang sudah berusaha melarang sang nyonya mengikuti nyonya namun saat dia kembali ke depan setelah mematikan setrikanya, dia terlambat. Tubuh sang nyonya sudah berbaring bersimbah darah tak jauh dari rumahnya tak sadarkan diri.

__ADS_1


TBC


__ADS_2